28 May 2009

Kalau Menang, Judi Tidak Dosa?

Sebenernya tanpa harus bertanyapun, saya sudah tahu mengapa rekan kerja di seberang mejaku ini wajahnya murung, tak secerah kemarin. Saya tahu, saat ini dia sedang kecewa karena tim sepak bola yang ia jagokan di final piala Champions kalah. Tapi, sebenarnya dia kecewa bukan sekedar karena tim jagoannya kalah, lebih pastinya karena dia kalah dalam taruhan.

Bisa saja aku pura-pura tak melihat ‘penderitaan’ yang disengajanya itu, tapi karena setiap hari dia duduk manis di seberang mejaku, saya tidak enak juga kalau benar-benar menutup mata terhadapnya. Sekedar biar dia tahu kalau saya ada ( mengatahui keberadaanya juga kekecewaannya ) saya mencoba berbasa basi dengannya. Dan pertanyaanku yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban, dia jawab dengan suara yang lemah, selemah benang yang sudah semalaman terendam air.

Saya kalah taruhan. Uang yang saya pakai taruhan, seharusnya untuk membayar cicilan rumah bulan ini. Istri saya tidak tahu, kalau dia tahu, pasti dia marah. Saya terpaksa membohonginya. Saya menyesal. Saya merasa berdosa sama istri saya” begitu dia bercerita dengan suara yang lebih mirip gaya bicara para caleg yang tidak lolos kemarin.

Aneh
! Tiba-tiba saya jadi merasa aneh, mendengar ‘curhat’ nya.

Pertama, saya merasa aneh, mengapa melihat penderitaannya ( menderita?, paling tidak itu menurutnya ) hati saya sama sekali tidak merasa iba. Padahal biasanya hati ini paling gampang tersentuh dengan hal-hal yang menyedihkan semacam itu. Tapi untuk hal yang satu ini, sepertinya saya tidak merasakan keprihatinan sedikitpun akan nasibnya. Mungkin karena ‘penderitaan’ yang dia rasakan adalah hasil dari perbuatannya sendiri, sehingga hati saya seolah-olah menjadi batu.

Kedua, saya merasa aneh dengan ucapan dia yang merasa berdosa sama istri lantaran uang yang seharusnya untuk membayar cicilan rumah dia pakai untuk taruhan, dan akhirnya kalah. Yang menarik perhatianku adalah kalimat ‘saya merasa berdosa sama istri saya”.

Berdosa?! Mengapa dia merasa berdosa setelah dia kalah taruhan. Mengapa dari awal dia tidak merasa bahwa taruhan yang dia lakukan adalah sebuah dosa. Apakah dia pikir kalau menang taruhan kemudian judi tidak berdosa?.


Sama istri ?! Mengapa dia merasa berdosa hanya kepada istrinya? Apakah dia pikir, perbuatan haramnya itu tidak berdosa kepada Allah? Mengapa hanya yang terlihat mata saja yang ada dalam benaknya. Apakah Allah yang tak terlihat mata, dianggapnya tak melihat perbuatannya? Astaghfirulloh….. 

Semula saya berharap, bahwa penyesalan yang dia ungkapkan itu merupakan awal baginya untuk bertobat dari segala bentuk perjudian. Tapi rupanya, rasa sesalnya itu hanya sesal sepedas sambal. 

26 May 2009

Di Sana Sehat, Di Sini Maksiat

Apakah anda terbiasa bangun tengah malam? Apa yang biasanya anda lakukan?

Sebuah pertanyaan dengan jawaban yang berbeda-beda. Mungkin anda termasuk orang yang pernah atau terbiasa bangun tengah malam saat tidur sedang lelap-lelapnya. Tapi apa yang kemudian dilakukan, tentulah berbeda. Ada yang terbangun dari tidur lelapnya karena tuntutan kebutuhan hidupnya ( para pedagang sayur biasanya akan bangun tengah malam untuk segera berbelanja ke pasar ), karena kebutuhan biologisnya ( buang air kecil misalnya ), dan ada juga yang terbangun karena kebutuhan ruhaninya ( melakukan sholat malam ). Mereka yang terbangun karena kebutuhan biologisnya akan segera kembali terlelap setelah hasratnya terpenuhi. Tapi mereka yang terbangun karena kebutuhan batinnya, tidak akan segera terlelap sebelum ‘puas’ bersujud dan bermunajat kepada Allah, karena saat-saat itulah saat yang paling istimewa untuk ‘berdialog’ dengan sang Maha Pencipta.

Malam atau dini hari nanti, sepertinya bakal banyak orang-orang yang bangun tengah malam atau sengaja tidak tidur sejak sore harinya. Apa yang akan mereka lakukan?

Sebagian dari mereka tentunya akan melakukan kebiasaan tengah malamnya, mengambil wudlu, sholat beberapa rokaat, bersujud, berdoa dengan linangan air mata. Sebagian lainnya, mereka rela bangun tengah malam nanti karena harus buru-buru ke pasar induk kalau tidak ingin mendapatkan sayuran sisa pilhan pedagang lain. Dan sebagian lainnya ingin menyaksikan secara langsung pertandingan final liga champions. Hanya untuk itu? Bisa iya bisa juga tidak!

Sebagian mungkin memang bangun tengah malam semata-mata hanya ingin menyaksikan pertandingan itu, artinya mereka akan bangun sesaat sebelum pertandingan mulai dan akan kembali tidur setelah pertandingan selesai. Sebagian mungkin akan memanfaatkan moment bangun tengah malam nanti, untuk ‘sekali-kali’ sholat malam, mencoba ‘berdialog’ kepada Allah sebelum pertandingan mulai, waktu jeda pertandingan atau setelah pertandingan selesai, kalau masih kuat menahan kantuk. Untuk yang seperti ini, masih dibilang mending ketimbang mereka yang biasanya tak pernah bangun malam ( boro-boro untuk sholat malam ), tiba-tiba nanti malam mereka merasa wajib bangun karena sekedar mau melihat pertandingan sepak bola dengan mata kepala sendiri secara langsung, menunggu dengan harap-harap cemas apakah tim yang mereka jagokan menang atau kalah. Kenapa harus cemas, apakah yang akan bertanding nanti tim dari Indonesia? Ya, bukan lah! Mereka sebenernya cemas, karena jika tim jagoannya kalah, secara otomatis mereka juga akan kalah taruhan. Astaghfirulloh….! Bangun tengah malam, hanya untuk melihat pertandingan sepak bola dan berjudi?! Sungguh sangat-sangat sia-sia bahkan celaka! Kalau mereka yang main jadi sehat, kenapa yang nonton jadi maksiat?


Jadi, apakah anda akan bangun tengah malam nanti? Apa yang akan anda lakukan, jika terbangun nanti?

18 May 2009

Susahnya Mendapatkan Pertolongan

Apa yang anda lakukan setiap hari Senin – Rabu, pukul 16.30 – 17.00 WIB? Jawabannya pasti berbeda-beda. Mungkin masih ada yang di kantor, di pasar, di pusat perbelanjaan, di ruang kuliah, atau sedang terjebak kemacetan di jalan. Tapi kalau saya bisa dipastikan saat itu sedang ‘duduk manis’ di depan tv bersama keluarga. Bukan untuk melihat berita apalagi acara gossip. Jam-jam itu menjadi favorit kami untuk nonton tv karena ada satu acara yang mampu membuat hati ini tersentuh dan air mata ini meleleh. Sedih memang, namun begitu kami menyenangi acara ini, karena pesan yang ingin disampaikan sungguh menggugah perasaan dan kesadaran. Acara tv tersebut adalah ‘Minta Tolong’ yang ditayangkan di salah satu tv nasional kita.

Sesuai dengan nama acaranya, reality show ini memang menceritakan bagaimana susahnya mencari pertolongan di jaman sekarang. Pertolongan yang tulus ikhlas menjadi mahal di jaman yang cenderung memikirkan diri sendiri seperti sekarang ini. Meski sebuah acara televisi ( yang tentunya sudah di poles dan dikemas agar lebih menarik ) tapi acara ini memang tidak mengada-ada dan tidak jauh berbeda dengan kenyataan di masyarakat yang sebenarnya. Apa yang ditayangkan dalam acara ini memang ingin menyadarkan kita, membuka mata dan hati kita bahwa ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kesusahan. Dan seolah tamparan bagi kita, yang nyatanya masih kurang peduli dengan penderitaan orang lain, padahal mereka ada di sekitar kita, dan kita ada diantara mereka.

Dalam acara ini, digambarkan seseorang harus berjalan berjam-jam, dan menemui puluhan orang untuk bisa mendapatkan pertolongan yang tulus ikhlas. Kepada orang yang mau memberikan pertolongan dengan tulus ikhlas tim acara ini nantinya akan memberikan sejumlah uang sebagai hadiah meskipun hal itu tak mereka harapkan. Tapi memang sudah selayaknya, mereka yang sudah mau meringankan beban orang lain, mendapatkan imbalan tanpa mengurangi sedikitpun nilai ketulusan dan keikhlasan.

Tim acara ini memang cukup kreatif, dalam setiap penayangan alasan yang ditampilkan selalu berbeda. Terkadang digambarkan seseorang menjual barang-barang bekas atau barang remeh dengan harga yang sekilas kurang masuk akal. Misalnya saja pernah seorang ibu muda menjual botol-botol bekas dengan harga Rp 26.000 untuk membeli susu formula bagi balitanya. Seorang ibu menjual baju bekas untuk membeli beras, atau seorang anak yang menjual abu untuk membeli buku, menjual radio rusak untuk membeli obat, menjual ubi kayu ( singkong ) untuk membeli sepatu. Tidak selalu dengan cara ‘pura-pura’ menjual sesuatu, terkadang juga digambarkan seseorang minta tolong untuk dibawakan barang ke satu tempat, minta diantarkan kepada keluarganya, atau dicarikan anggota keluarganya yang terpisah.

Lalu mudahkah mereka mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan? Tidak! Mereka harus berjalan berjam-jam, menemui puluhan orang yang terkadang bukan hanya cuek tapi malah marah-marah dan mengusirnya dengan kasar. Bukan hanya satu dua orang yang sama sekali tidak merespon permintaan tolong yang seringnya dilakukan oleh anak kecil atau seorang nenek yang renta. Tapi ini masih lebih baik, karena ternyata tak sedikit yang merasa risih dengan kehadiran mereka, sehingga kemudian mereka di usir dan terkadang di caci maki.

Jika ada sebagian yang cuek, risih dan marah denan kehadiran mereka yang minta tolong, ada juga yang dengan semangat langsung memberikan pertolongan. Tapi untuk hal yang seperti ini, tim ini rupanya cukup jeli, karena kenyataannya mereka yang dengan ‘gampangnya’ memberikan pertolongan adalah mereka yang sudah mengetahui acara ini dan keberadaan tim di lokasi sekitar. Hal ini mereka lakukan bukan lantaran belas kasihan, tapi karena hadiah yang akan mereka dapatkan. Gerak-gerik mereka yang ‘seolah menolong’ memang terlihat jelas. Yang lucu justru, ada yang awalnya menolak menolong, tiba-tiba memaksa untuk menolong setelah menyadari keberadaan tim acara ini. Bukan satu dua yang awalnya cuek, kemudian berbalik ‘merengek-rengek’ untuk bisa menolong.

Sebelum acara berakhir, setelah menemui puluhan orang yang menolak memberikan pertolongan, akhirnya ada juga orang yang mau menolong dengan tulus ikhlas. Dan yang mencengangkan adalah rata-rata mereka yang mau memberikan pertolongan adalah mereka yang juga sebenarnya membutuhkan pertolongan. Mereka kebanyakan juga berasal dari golongan yang kurang mampu.

Mereka yang mau membeli barang-barang ‘tak berharga’ itu adalah mereka yang juga kekurangan uang. Mereka yang mau membawakan barang dan mengantar adalah mereka yang juga hidupnya serba seadanya. Mereka melakukan semua itu bukan karena mereka membutuhkan barang-barang itu. Mereka yang mengantar, membawakan barang bukan karena mereka mengenalnya. Tapi mereka melakukan semua itu karena tulus ikhlas yang dilandaskan oleh perasaan senasib. Hati mereka tersentuh dengan kesusahan orang lain yang mungkin pernah mereka alami. Ini berbeda dengan mereka yang hidup serba kecukupan, dimana terkadang ( tidak semua ) sama sekali tidak menerima sinyal atas penderitaan orang lain meskipun sudah dipaparkan didepan mata, namun seakan-akan mata mereka buta.

Secara keseluruhan acara ini banyak memberikan pesan kepada kita yang menontonnya. Tinggal sejauh mana kita menerima pesan yang coba disampaikan melalui sebuah tontonan ini. Dan, bisa saja ketika kita menganggap bahwa itu semua adalah sekedar acara tv, dan terjadi jauh diluar sana, sebenarnya di sekitar kita, dekat dengan kita banyak sekali orang-orang yang membutuhkan pertolongan tapi tak pernah kita perhatikan. Ingat, jika hari ini mereka yang minta tolong, maka dilain waktu, di lain kesempatan dan di lain hal, bisa saja kita membutuhkan mereka, kita meminta tolong kepada mereka.

Mari, buka mata kita, buka hati kita. Lihatlah mereka di sekitar kita, apapun bentuknya, sudah seharusnya kita membantu mereka semampu kita, yang terpenting dilandasi keikhlasan untuk meringankan beban mereka, bukan untuk mendapatkan sebuah imbalan. 

15 May 2009

Berjilbab Jangan Setengah-Setengah!

Dulu, setiap kita melihat atau berjumpa dengan muslimah yang berjilbab, maka hati akan merasa sejuk, tentram dan nyaman, tapi belakangan bukan perasaan itu yang muncul, melainkan rasa prihatin yang meresahkan. Betapa tidak, masih banyak muslimah yang sepertinya belum ‘paham’ dan belum ‘sadar’ dengan cara ‘berjilbab’ mereka.

Seringkali kita dapati muslimah-muslimah yang pakaiannya sih jilbab, tapi tingkah lakunya sama sekali ngga ngelink dengan pakaian yang dikenakannya. Atau mereka seolah-olah berjilbab, tapi tutur sapanya bukan tutur kata seorang muslimah.

Beberapa kali ( sering malah ), saat berangkat kerja aku bertemu atau melihat para siswi sekolah yang ‘terpaksa berseragam ala jilbab’ membonceng motor teman laki-lakinya dengan posisi menghadap ke depan ( seperti laki-laki ). Saya katakan terpaksa, sebab seandainya mereka mengenakan jilbab itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan, maka tidak mungkin mereka bertindak seperti itu.

Juga pakaian-pakaian ‘seperti’ jilbab yang ketika dipakai maka warna kulit pemakainya akan terlihat, kini banyak digemari kaum hawa hanya karena alasan modis. Atau juga pakaian-pakain ‘menyerupai’ jilbab yang malah lebih menunjukan lekuk tubuh ketimbang pakaian biasa yang nyata-nyata tidak mengaku sebagai jilbab.

Lalu, haruskah jilbab itu ditanggalkan, dan lebih baik sama sekali tidak memakai pakaian yang bisa dikatakan jilbab? Bukan, bukan itu yang diinginkan. Berjilbab cara ini ( seolah jilbab ) boleh saja, jika itu dijadikan masa transisi ( karena untuk sebagian muslimah masih merasa malu dan tidak pede untuk merubah penampilannya secara total dan drastis ). Lebih baik memakai pakain ‘ala jilbab’ jika itu dijadikan penghantar untuk membiasakan diri memakai jilbab yang syari. Tapi jangan keterusan dong…. Yang dikhawatirkan ( dan sepertinya memang mengarah kesana ) bahwa makna jilbab itu akan berubah. Yang ditakutkan adalah bahwa kerudung ( jilbab ) tak lebih dari variasi tutup kepala, dimana atas di tutup tapi tengah ke bawah dibiarkan terbuka.
Jadi, jika berjilbab sudah menjadi kewajiban muslimah, mengapa masih saja ragu untuk menjalankannya. Tak takutkah dengan resiko jika kewajiban itu sengaja dilanggar? Dan jika sudah menyadari kewajiban, mengapa masih setengah-setengah, bukankah berjilbab membawa kebaikan? Lalu alasan apa lagi untuk tidak mengenakan pakaian jilbab yang sebenarnya sesuai tuntunan agama?

14 May 2009

Setengah Atau Sudah Mendekati Akhir Perjalanan?

Alhamdulillah, puji syukur kembali kupanjatkan pada Allah SWT karena di 13 Mei ini tepat 31 tahun usiaku. Usia yang seharusnya sudah membuatku matang dan dewasa dalam berpikir, bertindak maupun berperilaku. Namun sepertinya angka 31 masihlah hanya menunjukan tuanya raga ini sekaligus berkurangnya jatah hidupku di dunia ini. 

Di usia yang mungkin sudah mencapai setengah dari perjalanan atau bahkan sudah mendekati batas akhir, aku masih merasa belum melakukan segala sesuatunya dengan yang terbaik. Kenyataanya kini, aku belumlah bisa menjadi pemimpin keluarga yang bisa ‘menjamin’ keluarga yang diamanahkan kepadaku. Aku belumlah bisa menjadi sosok seorang bapak yang bisa dibanggakan oleh anak-anakku. Aku belumlah bisa membalas budi kedua orang tuaku. Aku belumlah………ah rasanya terlalu banyak hal yang harus aku lakukan.

Ya Allah…..berapapun sisa usia yang Kau berikan kepadaku, aku mohon berilah aku kesempatan, kekuatan dan kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi keluargaku, pekerjaanku dan sesamaku. Bimbinglah senantiasa agar aku tetap berada di jalan yang benar, menuju tujuan yang benar dan kutempuh dengan cara yang benar. Amin.

( Sebuah perenungan tentang semua yang sudah kujalani, kulewati dan ingin kutempuh di kemudian hari )

8 May 2009

Petaka Cinta Harta, Tahta, dan Wanita

Harta, tahta, dan wanita. Konon ketiga hal tersebut menjadi tolak ukur kesuksesan hidup seseorang ( laki-laki ). Bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai satu-satunya orientasi hidup, akan melakukan ‘apa saja’ demi meraih harta, tahta dan wanita yang diimpikannya. Padahal selain memberikan manfaat, harta, tahta dan juga wanita adalah amanah, dimana jika kita tidak mampu menjaganya, semua akan berbalik arah, merongrong hidup bahkan menghancurkannya hingga binasa.

Betapa tidak, gara-gara harta dua orang sedarah daging bisa saling bunuh lantaran berebut warisan. Demi harta, perampokan, pembunuhan terjadi dimana-mana, nyawa manusia seakan tak ada artinya. Untuk memperoleh harta, manusia seakan tak kenal dengan yang namanya dosa.

Begitupun tahta. Demi tahta kawan bisa seketika berubah menjadi lawan. Jalan yang dilarang oleh agama, tak jarang ditempuh juga demi menduduki tahta. Begitu banyak caleg yang depresi, stress, bahkan nekad mengakhiri hidup, lantaran telah menghambur-hamburkan harta namun akhirnya gagal mendapatkan tahta.

Dan tanpa maksud menyalahkan wanita, kerap kali gara-gara wanita, laki-laki harus kehilangan tahta sekaligus harta. Demi wanita, karir yang sudah dirintis dengan susah payah, bisa hancur seketika. Banyak bukti tahta yang runtuh dan kehilangan harta yang tak terhitung, semua lantaran dimabuk wanita.

Lalu bagaimana seharusnya kita, apakah kita harus mengabaikan harta, tahta dan juga wanita?. Sudah kodrat, bahwa manusia membutuhkan , bahkan menyenangi tiga hal tersebut. Hanya saja, semua akan berbeda akhirnya dan itu tergantung bagaimana kita menempatkan harta, tahta dan wanita. Ada satu nasihat bijak bahwa jika ingin hidup selamat, tempatkanlah harta, tahta dan wanita di tanganmu, jangan di hatimu. Sebab jika harta, tahta dan juga wanita telah menduduki hati, maka kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman hidup akan berganti dengan keserakahan, kesengsaraan dan kebinasaan akibat nafsu yang tak terkendali.

4 May 2009

Hanya Salah Satu Jalan Kematian

Masih lekat dalam ingatan kita, ganasnya flu burung yang telah merenggut ratusan nyawa manusia di seluruh dunia termasuk Indonesia. Flu burung pula yang menyebabkan ribuan unggas mati atau sengaja dimusnahkan, karena memang dari sanalah sumber virus ini berasal. Awalnya virus ini menular dengan cara kontak langsung antara manusia dengan unggas, mengkonsumsi daging atau telurnya. Namun dalam waktu yang singkat, virus ini semakin ganas, sehingga penularannya tidak hanya melalui kontak manusia dengan unggas atau mengkonsumsinya, tapi menular antar manusia.

Kini, setelah beberapa waktu kabar flu burung tidak terdengar lagi, tiba-tiba muncul kabar yang tak kalah menghebohkan yaitu berkembangnya virus flu babi yang dalam waktu singkat sudah memakan korban ratusan jiwa manusia. Virus flu babi ini pertama kali diketahui menyebar di negara Mexico. Dalam waktu singkat, virus ini telah menyebar ke negara-negara lain melalui orang-orang yang diketahui sebelumnya telah berkunjung dari Mexico. Sama seperti flu burung, flu babi semula juga menular melalui kontak langsung atau dengan mengkonsumsi dagingnya. Tapi belakangan tersiar kabar bahwa flu babi juga bisa menular dari manusia ke manusia.

Bagi seorang muslim, penularan flu babi melalui kontak atau mengkonsumsi daging babi bisa saja tidak begitu mengkhawatirkan, karena larangan untuk kontak ataupun mengkonsumsi daging babi sudah ada sejak 14 abad silam, jauh sebelum issu flu babi ini muncul. Islam mengharamkan kita untuk mengkonsumsi daging babi dan olahannya, salah satu hikmahnya adalah seperti yang sekarang terjadi.

Lalu ketika virus ini mulai mengganas, sehingga penularannya bisa melalui manusia, apa yang mesti kita lakukan. Waspada itu sudah jadi hal yang mutlak. Selain itu ada hal yang lebih utama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah dan doa. Kita boleh saja cemas dengan flu babi atau flu burung sekalipun, tapi bagaimanapun harus kita sadari dan kita yakini bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi bagi setiap makhluk hidup, dan flu babi atau flu burung hanyalah salah satu jalan menuju kematian tersebut. Yang harus lebih ditakutkan adalah bagaimana seandainya virus flu babi tersebut masuk ke negara kita, menyerang kita atau keluarga kita sementara perbekalan kita menuju akhirat belum memadai. Jadi, ketika takut flu babi menyerang kita, maka lebih takutlah bahwa ketika kematian datang ( dengan jalannya tersendiri, salah satunya melalui penyakit seperti flu burung, flu babi ), kita belum memiliki perbekalan untuk hidup dan kehidupan selanjutnya.



Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri