Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

17 Apr 2014

Kinilah Mereka Yang Sesungguhnya



Masih inget dengan tingkah laku para caleg menjelang pemilu kemarin? Meski tidak semua, tapi ada beberapa caleg yang terlihat serba mendadak ‘merasa’. Merasa baik, merasa mampu, merasa amanah, alim, santun, merasa kenal dan dekat bahkan merasa saudara dengan banyak orang.

Tapi bandingkan semua itu dengan sekarang, setelah pemilu legislatif dilaksanakan dan hasilnya mulai kelihatan. Apakah mereka tetap baik, tetap santun, tetap kenal dan dekat, atau tetap menganggap kita saudaranya? Jika, kemarin kita bingung menilai mereka, apakah pada saat kampanye mereka hanya sedang ‘acting’ atau sungguhan? Kini satu persatu mulai terjawab. Dan saat sekaranglah, mereka berperilaku yang sesungguhnya, karena acting mereka sudah selesai, bersamaan dengan selesainya pemilu legislatif kemarin.

14 Apr 2014

Akhirnya Bangsal Itu Terisi Juga

Pemilu legislatif telah ‘sukses’ dijalankan. Hasilnya pun sudah mulai kelihatan. Siapa yang menang dan siapa yang kurang mendapat dukungan. Bagi yang menang, sudah tentu pemilu ini terasa sangat manis dan memuaskan. Tapi bagi yang kalah, ini adalah hal yang menyakitkan. Lebih dari itu, para caleg yang tidak memperoleh banyak dukungan pada pemilu kemarin, ternyata banyak yang tidak bisa menerima kenyataan. Sering diberitakan di tv bahwa ada beberapa caleg yang gagal dalam pemilu kemarin kemudian stress, depresi, bahkan ada yang meninggal dunia akibat shock atau sengaja mengakhiri hidupnya lantaran tak kuasa menanggung ‘derita’.

Sayang, sungguh sangat disayangkan, karena pada kenyataannya bangsal-bangsal yang sudah disediakan rumah sakit khusus untuk para caleg yang gagal benar-benar terisi. Mengapa ini harus terjadi? Bukankah mereka sudah tahu resiko dari pencalonan mereka sebagai anggota legislatif. Bukankah tenaga dan harta yang mereka habiskan sudah mereka niatkan? Bukankah mereka sadar bahwa pencalonan mereka tidak sendiri, banyak calon-calon lain yang juga berkeinginan sama padahal jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit? 

Sudahlah, tenaga sudah terlanjur dihabiskan. Harta sudah terlanjur di’hambur-hamburkan’, dan masyarakatpun sudah menentukan pilihan. Jangan sesali diri, bagaimanapun itu adalah perjuangan. Dan sebuah perjuangan memang seringkali dibarengi pengorbanan. Jangan pula salahkan masyarakat yang tidak memberikan dukungan. Justru, mari interospeksi diri, mengapa masyarakat tidak mendukung kita? Apa yang kurang dengan diri kita? Apa yang salah dengan program-program kita?. Hal ini lebih baik ketimbang ‘mencari-cari’ alasan, menyalahkan masyarakat yang tak memberi dukungan.

11 Apr 2014

Penipu Yang Tertipu

Pemilu telah berlalu, namun beberapa tetanggaku masih saja demen membicarakannya, khususnya soal ‘tipuan’ mereka yang justru berakhir dengan ‘penipuan’ pula.

Semua berawal ketika tim sukses dari salah seorang caleg, mendatangi warga beberapa hari sebelum pemilu kemarin. Tim sukses dari caleg tersebut menjanjikan akan memberikan pulsa gratis kepada warga yang bersedia memberi dukungan ( mencoblos ) sang caleg. Untuk itu warga diminta untuk mendaftarkan nomor hp masing-masing. Nantinya pulsa tersebut akan ditransfer paling lambat pada hari H sebelum jam pencontrengan dimulai.


Singkat kata, banyak warga yang mendaftarkan nomor hp nya kepada tim sukses caleg tersebut.


“Lumayan, dapet pulsa gratis, soal milih mah gimana nanti, toh sang caleg atau tim suksesnya ga bakal tahu” begitu yang ada dalam benak warga.

Dan mungkin dalam pikiran caleg juga tim suksesnya, dengan cara ini diharapkan bisa menarik simpati warga sekaligus bisa menghindar dari panwaslu jika hal ini dikaitkan dengan politik uang, toh bukti nyatanya bisa mereka sembunyikan. Dan soal jadi nggaknya transfer, gimana nanti! Mereka tentunya juga sudah menyiapkan banyak alasan seandainya warga menanyakan kembali perihal pulsa gratis tersebut.

Hari pencoblosan telah berlalu, tapi pulsa gratis yang ditunggu-tunggu tak jua masuk. Hal ini sebenernya sudah diprediksi oleh warga, bahwa janji transfer pulsa hanyalah dusta belaka. Warga pun sudah mengantisipasi hal ini dengan tidak mencoblos nama sang caleg. Aneh tapi nyata, lucu tapi fakta, bahwa meski sudah tahu akal-akalan sang caleg dan tim suksesnya, masih saja beberapa warga berharap pulsa gratisan itu akan ditransfer. Sementara, nun jauh disana, sang caleg dan tim suksesnya, tidak mau begitu saja di ‘tipu’ oleh warga. Sebenernya merekapun tahu bahwa tidak semua warga akan mencoblos namanya, meski pulsa tersebut benar-benar di transfer. Mereka hanya berharap bahwa ‘tipuan’ mereka tak dibalas warga dengan tipuan pula.

Oalah….wong niatnya nipu, malah tertipu. Yo wis lah, impas. Sama-sama penipu tapi sama-sama tertipu.

“ Belum apa-apa sudah mau mbohongin warga, gimana nanti kalau sudah jadi pejabat? Untung kemarin aku nda milih dia. Biarin dah, ga dapet pulsa juga ga apa-apa, ga rugi!”. 

Begitu kurang lebih ekpresi warga, dengan raut muka yang kesel tapi bibir tersenyum puas. Mereka merasa bisa menipu sang penipu, meskipun sebenarnya merakapun telah tertipu. Aneh!

9 Apr 2014

Tak Ada 'Caleg/Partai' Yang Sempurna

Hari pelaksanaan pemilu legislatif telah tiba. Bagimana, sudah mantep mau pilih siapa / partai yang mana? Atau masih 'keukeuh' untuk tidak menggunakan hak pilihnya alias golput atawa golongan putih? Buat aku sih, itu ‘monggo kerso’ sampeyan semua. Lah wong milih nda milih kan hak masing-masing, mau digunakan silahkan nda ya nda boleh dipaksa-paksa.

Hanya saja, sekedar mengingatkan bahwa kalau alasan Anda tidak ikut berpartisipasi dalam pemilu ( yang konon disebut-sebut sebagai pesta demokrasinya rakyat itu ), lantaran tidak adanya para caleg atau partai yang ‘sreg’, perlu diingat bahwa tak ada makhluk yang sempurna, begitupun caleg ataupun partai. Juga kalau sekedar ‘sreg’ dan nggaknya, semua menjadi subjektif, dan mereka ( para caleg/partai ) memang bukan hanya untuk Anda sendiri, jadi rasanya jika tidak bisa memenuhi semua ‘angan-angan’ Anda adalah hal yang mungkin, bahkan pasti!.


Jika keputusan Anda untuk golput benar-benar sudah harga bandrol alias tak bisa ditawar-tawar lagi, maka siapkan hati anda jika akhirnya nanti mereka yang terpilih justru mereka yang sama sekali nda memiliki kategori di hati anda. Bukan salah mereka, itu semua karena para caleg/partai yang ‘agak sreg’ tak juga mendapat dukungan suara dari anda. Dan kalau sudah menjadi keputusan, bahwa mereka ‘yang tak anda harapkan’ kemudian benar-benar menjadi wakil / pemimpin negeri ini, maka yang bisa Anda lakukan tinggalan menerimanya. Kemungkinan yang terjadi berikutnya adalah sebuah penyesalan, dan satu lagi tambahan bahwa anda sudah tak bisa protes. Lah, suruh siapa waktu disuruh milih, malah milih diem, sekarang giliran udah ada yang terpilih otomatis mau nda mau yang kudu nrimo. Maka dari itu, mari saudaraku kita gunakan hak kita dengan bijak.

8 Apr 2014

Biarkan Saja Bangsal Itu Tetap Kosong

Pemilu segera tiba. Hari pencoblosan tinggal sehari lagi. Berbagai persiapanpun makin di matangkan, agar pelaksanaan pencoblosan esok hari berjalan sesuai dengan rencana dan harapan. Di antara yang ikut ‘menyiapkan diri’ menjelang pemilu adalah rumah-rumah sakit jiwa yang dengan sengaja menambah fasilitas mereka, guna mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien, khususnya dari para caleg yang stress akibat tidak terpilih dalam pemilu legislatif nanti.

Meski sekilas terkesan lucu, namun alasan pihak rumah sakit jiwa menambah kamar atau bangsal mereka tentunya bukan mengada-ada. Pengalaman pada pemilu sebelumnya, ditambah dengan banyaknya jumlah caleg yang berani maju disaat krisis global seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin para caleg yang gagal dalam pemilu nanti akan mengalami stress dan depresi. 


Namun bagi para caleg, Anda sudah mengambil keputusan untuk maju. Dari awal, Anda sudah tahu semua kemungkinan yang terjadi jika anda memutuskan untuk ikut menjadi caleg dalam pemilu kali ini, termasuk jika kenyataannya nanti anda tidak terpilih. Maka, ketika beberapa rumah sakit telah menyiapkan fasilitas khusus terkait pemilu tersebut, anda tidaklah perlu khawatir. Toh Anda tidak diwajibkan untuk mengisi bangsal-bangsal mereka. Anda juga tidak perlu merasa perlu mendaftarkan diri di sana ( dari sekarang ). 

Pemilu sudah di depan mata, Anda sudah melakukan banyak hal untuk sampai ke jenjang ini, maka lillahita’ala saja! Yakinlah bahwa segala usaha anda, akan membawa hasil yang terbaik. Dipilih atau tidak, serahkan hanya pada Allah SWT dan biarkan bangsal-bangsal itu tetap kosong…..


6 Apr 2014

Jangan Anggap Diam Selamanya Emas

Masa kampanye bagi para caleg berakhir sudah. Semua kegiatan kampanye sudah tidak diperbolehkan lagi. Konon, hari-hari yang tersisa sampai dengan hari pelaksanaan pemilu biasa disebut hari tenang. Hari tenang, itu mungkin bagi kita, tapi tidak bagi para caleg itu sendiri. Karena ibarat sebuah audisi, mereka justru sedang resah dan gelisah, menunggu keputusan ‘dewan juri’. Tak ubahnya pula seperti sedang melamar pekerjaan, mereka para caleg ‘harap-harap cemas’, menunggu hasil keputusan sang ‘manager hrd’, apakah dirinya yang terpilih, diterima sebagai ‘karyawan’ atau harus tersingkir oleh caleg lainnya.

Sesungguhnya, ibarat audisi, kitalah sang juri. Ibarat dunia kerja, kitalah manager HRD nya. Sedang para caleg, merekalah peserta atau para pelamar, yang berharap kita mau menerimanya sebagai ‘karyawan’. Maka sudah semestinyalah, kita harus membuat satu keputusan tepat.

Mereka ( caleg ) yang ‘melamar pekerjaan’ pada kita, tak cuma satu, masing-masing berusaha meyakinkan kepada kita, bahwa mereka pantas, layak bahkan merasa sanggup mengemban amanah yang bakal kita percayakan padanya. Terkadang kita menjadi ‘bosan’ dengan cara mereka berpropaganda, risih dengan ‘ke pede an’ mereka, lalu kita menyamaratakan bahwa kebaikan yang mereka tawarkan terlalu dipaksakan. Tapi, yakinlah, diantara mereka ada yang baik. Di antara yang baik ada yang terbaik. Maka, yang terbaik itulah yang semestinya kita putuskan menjadi ‘karyawan’ kita, karena merekalah yang nantinya bekerja untuk kita. Merekalah nantinya yang akan kita ‘gaji’ atas tenaga dan pikiran mereka menjalankanl amanah kita. Jangan pertaruhkan masa depan kita, dengan sikap pasif atau ‘asal-asalan’.

Tak selamanya diam itu emas, karena ‘diam’ dalam pemilu bisa menjadi sebaliknya. Bungkamnya kita bisa saja menimbulkan peluang besar bagi mereka yang ‘kurang memenuhi syarat’ menjadi terangkat karena mereka yang layak dan memenuhi syarat tak mendapat dukungan dari kita.

4 Apr 2014

Siapa yang Menipu, Siapa Yang Tertipu?

Masa kampanye bagi para caleg sudah memasuki babak akhir. Namun saya sendiri sampai hari ini ( mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi) belum pernah sekalipun turun ke jalan atau lapangan untuk terlibat langsung dalam kampanye caleg atau partai manapun. Cukuplah melalui kampanye dan pemberitaan di tv, saya ikut merasakan hebohnya propaganda para caleg dan kader-kader partai. Beginilah gaya saya ikut ‘berkampanye’, cukup duduk manis di depan tv malah terkadang sambil rebahan atau ngemil gorengan. Boleh kan?.

Dari sekian kali mengikuti pemberitaan di tv ditambah sesekali memperhatikan tingkah polah para kader partai ataupun caleg di sekitar tempat tinggal, menurutku ada banyak hal yang menarik. Di antara mereka ada yang aneh, lucu bahkan ada yang terkesan ‘maksa. Ada yang mendadak alim, SKSD ( sok kenal sok dekat ), ada yang terlalu pede tebar pesona, bahkan ada yang dengan lantang sibuk membeberkan kelemahan pihak lain sampai lupa prestasi sendiri sudah sampai dimana. Padahal kalau memang dirinya baik, bisa saja menjadi yang terbaik diantara yang baik, nda perlu menjelek-jelekkan pihak lain agar dirinya ‘terkesan’ baik.

Meski kadang atau bahkan seringkali mengganjal dihati, menurutku itu semua sah dan boleh-boleh saja, wong namanya lagi promo atau istilah halusnya sosialisasi. Hanya ada hal yang seharusnya tidak dilupakan oleh para kader atau caleg, bahwa sasaran pemilu adalah mereka yang sudah berumur di atas 17 tahun. Artinya mereka yang diperbolehkan untuk menyumbangkan suaranya ( bisa diarepin dukungannya ), adalah mereka yang sudah ‘dewasa’. Artinya juga, mereka para calon pemilih ( kalau mereka nantinya mau milih ) bukan lagi anak kecil yang gampang di iming-imingi atau di nina boboin dengan janji-janji tanpa kepastian bukti. Masyarakat memang menyukai yang instan, tapi itu untuk beberapa jenis makanan dan minuman, bukan untuk para caleg.
Kalau ada caleg atau kader yang berpikiran ‘instan’, yang penting dapat dukungan, soal bukti mah gimanan nanti, menurutku perlu dipertimbangkan lagi. Masyarakat bisa saja ‘dianggap’ bodoh,tapi belum tentu bisa dibodohin. Pada saatnya nanti akan terlihat siapa yang sebenarnya ‘menipu’ dan siapa yang ‘ditipu’.


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri