4 Apr 2014

Siapa yang Menipu, Siapa Yang Tertipu?

Masa kampanye bagi para caleg sudah memasuki babak akhir. Namun saya sendiri sampai hari ini ( mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi) belum pernah sekalipun turun ke jalan atau lapangan untuk terlibat langsung dalam kampanye caleg atau partai manapun. Cukuplah melalui kampanye dan pemberitaan di tv, saya ikut merasakan hebohnya propaganda para caleg dan kader-kader partai. Beginilah gaya saya ikut ‘berkampanye’, cukup duduk manis di depan tv malah terkadang sambil rebahan atau ngemil gorengan. Boleh kan?.

Dari sekian kali mengikuti pemberitaan di tv ditambah sesekali memperhatikan tingkah polah para kader partai ataupun caleg di sekitar tempat tinggal, menurutku ada banyak hal yang menarik. Di antara mereka ada yang aneh, lucu bahkan ada yang terkesan ‘maksa. Ada yang mendadak alim, SKSD ( sok kenal sok dekat ), ada yang terlalu pede tebar pesona, bahkan ada yang dengan lantang sibuk membeberkan kelemahan pihak lain sampai lupa prestasi sendiri sudah sampai dimana. Padahal kalau memang dirinya baik, bisa saja menjadi yang terbaik diantara yang baik, nda perlu menjelek-jelekkan pihak lain agar dirinya ‘terkesan’ baik.

Meski kadang atau bahkan seringkali mengganjal dihati, menurutku itu semua sah dan boleh-boleh saja, wong namanya lagi promo atau istilah halusnya sosialisasi. Hanya ada hal yang seharusnya tidak dilupakan oleh para kader atau caleg, bahwa sasaran pemilu adalah mereka yang sudah berumur di atas 17 tahun. Artinya mereka yang diperbolehkan untuk menyumbangkan suaranya ( bisa diarepin dukungannya ), adalah mereka yang sudah ‘dewasa’. Artinya juga, mereka para calon pemilih ( kalau mereka nantinya mau milih ) bukan lagi anak kecil yang gampang di iming-imingi atau di nina boboin dengan janji-janji tanpa kepastian bukti. Masyarakat memang menyukai yang instan, tapi itu untuk beberapa jenis makanan dan minuman, bukan untuk para caleg.
Kalau ada caleg atau kader yang berpikiran ‘instan’, yang penting dapat dukungan, soal bukti mah gimanan nanti, menurutku perlu dipertimbangkan lagi. Masyarakat bisa saja ‘dianggap’ bodoh,tapi belum tentu bisa dibodohin. Pada saatnya nanti akan terlihat siapa yang sebenarnya ‘menipu’ dan siapa yang ‘ditipu’.


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri