Dari sekian kali mengikuti pemberitaan di tv ditambah sesekali memperhatikan tingkah polah para kader partai ataupun caleg di sekitar tempat tinggal, menurutku ada banyak hal yang menarik. Di antara mereka ada yang aneh, lucu bahkan ada yang terkesan ‘maksa. Ada yang mendadak alim, SKSD ( sok kenal sok dekat ), ada yang terlalu pede tebar pesona, bahkan ada yang dengan lantang sibuk membeberkan kelemahan pihak lain sampai lupa prestasi sendiri sudah sampai dimana. Padahal kalau memang dirinya baik, bisa saja menjadi yang terbaik diantara yang baik, nda perlu menjelek-jelekkan pihak lain agar dirinya ‘terkesan’ baik.
Meski kadang atau bahkan seringkali mengganjal dihati, menurutku itu semua sah dan boleh-boleh saja, wong namanya lagi promo atau istilah halusnya sosialisasi. Hanya ada hal yang seharusnya tidak dilupakan oleh para kader atau caleg, bahwa sasaran pemilu adalah mereka yang sudah berumur di atas 17 tahun. Artinya mereka yang diperbolehkan untuk menyumbangkan suaranya ( bisa diarepin dukungannya ), adalah mereka yang sudah ‘dewasa’. Artinya juga, mereka para calon pemilih ( kalau mereka nantinya mau milih ) bukan lagi anak kecil yang gampang di iming-imingi atau di nina boboin dengan janji-janji tanpa kepastian bukti. Masyarakat memang menyukai yang instan, tapi itu untuk beberapa jenis makanan dan minuman, bukan untuk para caleg.
Kalau ada caleg atau kader yang berpikiran ‘instan’, yang penting dapat dukungan, soal bukti mah gimanan nanti, menurutku perlu dipertimbangkan lagi. Masyarakat bisa saja ‘dianggap’ bodoh,tapi belum tentu bisa dibodohin. Pada saatnya nanti akan terlihat siapa yang sebenarnya ‘menipu’ dan siapa yang ‘ditipu’.