Showing posts with label true story. Show all posts
Showing posts with label true story. Show all posts

20 Jan 2012

Saweran Kecebong 3 Warna: Pelaminan Kosong

Dalam kisah ini, aku memang bukan tokoh sentral, tapi aku tahu secara detail karena aku hampir selalu ada di setiap bagian penting dari kisah mengharukan ini.

Adalah Putra dan Putri, sebut saja demikian, tokoh utama dalam kisah ini. Keduanya masih ada hubungan kerabat denganku. Meski kutahu mereka tak keberatan bila kutuliskan kisahnya, namun aku harus menghormati mereka dan keluarga besarnya dengan tidak menyebutkan nama asli, semoga tidak mengurangi hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian yang menguras air mata ini.

Bagai buah simalakama, ujian yang datang memberikan pilihan yang tidak mudah bagi Putra maupun Putri. Sepuluh hari menjelang pernikahan mereka, tiba-tiba Putra dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani operasi karena batu ginjal yang menyumbat saluran kemihnya. Dokter  yang diberitahu perihal rencana pernikahan Putra, mengingatkan bahwa butuh waktu  cukup lama, hingga berbulan-bulan untuk mengembalikan kondisi kesehatan Putra seperti sedia kala.


2 Dec 2010

Sebab Cinta Tak Harus Menangis


“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms masuk ke hp ku, dari salah satu teman sekolahku. Kalian yang ia maksudkan adalah aku dan putriku. Sedang hal yang membanggakannya adalah bahwa kami - aku dan putriku - bisa mengikuti prosesi pemandian hingga pemakaman jenazah tanpa tetesan air mata.

Beberapa orang kerabat sempat melarangku untuk ikut memikul jenazah ke pemakaman. Mereka khawatir aku tak mampu menguasai diri. Tapi aku bersikeras. Kuyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya meminta pada salah satu kakak ipar untuk mengawalku, berjaga-jaga apabila ternyata keyakinanku keliru.

Juga ketika sampai di pemakaman, beberapa kerabat kembali melarangku turun ke liang lahat. Kekhawatiran yang sama, bahwa aku tak akan mampu menahan diri saat jenazah diturunkan. Kembali kuyakinkan pada mereka, bahwa aku baik-baik saja dan dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Aku jamin tidak akan ada air mata apalagi pingsan segala.

Aku sepakat dengan dua kakak iparku yang ikut turun ke liang lahat. Aku mengambil posisi di sebelah utara. Aku ingin membuka sendiri kain kafan yang menutupi wajah almarhumah. Kuakui, bergetar juga hatiku saat itu. Ini adalah pengalaman pertamaku turun ke liang lahat, dan itu terjadi pada pemakaman istriku sendiri. Bismillahirrohmanirrohim, aku kuatkan hati untuk tidak menuruti perasaanku. Kupusatkan perhatian pada arahan yang diberikan ustadz yang memimpin acara pemakaman.

Perlahan kubuka tali pengikat kain kafan jenazah istriku. Ada rasa yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata saat mulai membuka kain yang menutupi bagian wajahnya. Subhanallah! Allahu akbar! Seraut wajah yang sangat tenang dan damai terlihat di sana. Bahkan, senyum di wajahnya adalah senyum yang pertama kali membuat aku jatuh cinta padanya.

Aku berikan kesempatan pada putriku yang berdiri di pinggir liang lahat untuk melihat wajah sang ibu terakhir kalinya. Ada mendung menggantung di kedua matanya, namun kupastikan tak ada air mata yang menetes darinya. Meski kenyataan ini begitu berat ia terima, namun ia bisa membuktikan bahwa ia bisa tegar dan tabah.

Kuhadapkan wajah istriku ke arah kiblat, kupastikan wajahnya menyentuh dinding kubur yang basah. Kuganjal bagian belakang jenazahnya dengan bantal bulat yang terbuat dari tanah. Setelah jenazah berada pada posisi yang baik dan benar, barulah kutinggalkan jenazah istriku. “ Selamat tinggal sayang, beristirahatlah dengan tenang. Semoga keikhlasanku, keridhoanku akan memudahkan langkahmu menghadap Sang Pemilik Cinta Sejati. Insya Allah, di dalam syurga kelak kita kan bersama lagi. Amin “

Hanya sampai di sinilah kewajiban fisik yang bisa kupenuhi pada orang yang sangat kami cintai dan sayangi. Proses selanjutnya kuserahkan pada mereka yang sudah biasa memakamkan. Satu persatu bambu dipasang di atas jenazah, memberikan ruang agar jenazah tak tertimbun tanah secara langsung. Dalam hitungan menit, jenazah istriku tak terlihat lagi. Itulah saat terakhir aku melihat jenazah istriku di dunia ini. Perlahan tanahpun dimasukan, menimbun bambu-bambu yang terpasang rapi. Terdiam, aku dan putriku menyaksikan cangkulan demi cangkulan tanah basah ini tanpa kata, dan juga tanpa air mata.

Usai pemakaman, sebagian besar pelayat langsung pulang ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa yang sengaja menunggu kami kembali untuk kemudian berpamitan. Berbagai dukungan dan nasihat datang dari keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat yang menyempatkan diri, meninggalkan segala aktifitas rutin mereka untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhumah. Mereka yang tak sempat berpamitan langsung padaku, menitip salam pada bapak dan ibu. Ada juga yang berpamitan melalui telepon atau sms. Salah satunya adalah teman sekelasku. Ketika ku telpon, terbata ia memohon maaf. Sengaja ia tak menemuiku lagi karena ia takut mengusik ketabahanku. Ia bangga sekaligus terharu melihat kesabaran, ketegaran dan ketabahanku, juga putriku. Jelas kudengar suara isak di seberang sana, sebelum ia berjanji akan datang beberapa hari lagi. Ia butuh waktu untuk menata hati kembali.

Berbagai dukungan, ungkapan haru sekaligus bangga, senada dengan sms temanku terus berdatangan sampai beberapa hari setelah pemakaman. Rata-rata, baik keluarga, tetangga ataupun kerabat ‘mengakui’ ketabahan dan ketegaran kami. Bahkan ada diantaranya yang berterus terang mengatakan ingin mencontoh ketabahan dan ketegaran kami kelak bila ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Namun ada juga beberapa orang yang agak ‘mempertanyakan’ ketabahan kami. Paling tidak ada yang mengatakan demikian, “ Waktu istrinya meninggal, si Fulan boro-boro memikul jenazah dan turun ke liang lahat, justru berkali-kali ia histeris dan jatuh pingsan. Mungkin karena saking cintanya, sehingga Fulan tidak bisa menerima kepergian sang istri yang tiba-tiba “

Aku mencoba bersikap wajar dan berpikir positif terhadap apapun yang orang katakan. Aku tidak merasa istimewa ketika beberapa orang mengaku bangga dan ingin mencontoh ketabahan kami. Memang sudah demikian mestinya keikhlasan dan keridhoan diwujudkan. Juga aku tidak ingin berburuk sangka apabila ada yang memandang tingkat kecintaan pada hysteria saat kehilangan. Mereka tentu tidak bermaksud meragukan kesungguhan cinta serta besarnya rasa kehilangan, hanya saja mereka melihat sesuatu yang tak biasa.

Menangis memang salah satu refleksi dari rasa kehilangan sekaligus kecintaan. Jangankan kita, seorang rosululloh pun menangis sedih saat putranya – Ibrahim – meninggal dunia. Setabah apapun yang orang lihat saat acara pemakaman, sebelumnya kami juga tak kuasa menahan tangisan. Saat istri dalam keadaan kritis, dzikir dan doa kami berbaur dengan deraian air mata. Begitupun ketika sang dokter mengatakan bahwa nyawa istri tak tertolong lagi, tangispun pecah. Juga ketika rombongan kami tiba di rumah, tangis kami luruh terbawa suasana. Bahkan saat membaca ayat-ayat suci Al Quran di samping jenazah, beberapa kali aku tak dapat meneruskan karena panglihatan yang kabur akibat air mata yang menggenang.

Bila orang mengartikan tangisan sebagai ekspresi rasa cinta, mereka tidaklah salah. Demikianlah adanya, meski juga tidak selamanya. Dalam pandangan kami, terkadang sebaliknya. Cinta tak harus menangis. Almarhumah tidak membutuhkan tangisan kami, ratapan kami. Yang almarhumah harapkan adalah keikhlasan, keridhoan serta doa-doa dari kami.

Ada banyak hal yang bisa kami lakukan untuk menunjukan rasa cinta kepada almarhumah. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, keridhoan. Mendoakan almarhuhan di setiap kesempatan. Menyelesaikan kewajiban serta menjaga dan menjalankan amanah yang almarhumah tinggalkan. Kami tak ingin cinta – tangisan dan ratapan - kami justru membebani langkah-langkah almarhumah. Kami tidak ingin termasuk orang yang menangis histeris, meratap di hari pertama, tapi sudah sama sekali lupa di hari kedua. Apalagi hari-hari berikutnya, terlupa mendoakan karena sibuk berebut warisan. Na’uzubillah!

Gambar dipinjam dari sini

Tulisan ini pernah dipublikasikan di dakwatuna, eramuslim dan kotasantri.



Beberapa tulisan dalam blog ini alhamdulillah sudah dibukukan dalam Remah-Remah Hikmah

16 Nov 2010

2010, Tahun Penuh Kejutan Dan Ujian

Hidup bagaikan pelangi, berwarna warni. Hidup umpama roda, terus berputar, kadang di atas kadang di bawah. Hidup juga seperti rasa, ada manis ada pahit. Hidup menjadi bergairah atau sebaliknya karena kejutan dan ujian. Suka dan duka, tangis dan tawa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Bahkan konon hidup itu sendiri adalah ujian. Dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2010 bagiku adalah tahun yang penuh dengan kejutan dan juga ujian.

Sampai dengan bulan April, kami merasa kehidupan yang kami jalani aman dan nyaman-nyaman saja. Kalaupun ada naik turunnya, kami rasa grafiknya tak jauh dari garis rata-rata. Tapi memasuki minggu terakhir bulan April, ujian dalam ukuran cukup besar mulai menghampiri. Selasa, 27 April 2010, dokter Eddy SpOG mengatakan ada kista dalam rahim istriku sebesar 5 x 7 cm. Astaghfirulloh! 

26 Oct 2010

Skenario Terindah

Maha Indah Allah dengan segala keindahan-Nya, yang telah menghadirkan perasaan indah ke dalam lubuk hati hamba Nya*

Tasbih, tahmid dan takbir tiada henti mengalir dari bibir kami yang selalu dihiasi tersenyum, pancaran rasa bahagia dan syukur atas anugerah terindah yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Indah. Hari itu, akhir bulan Juli 1999, Allah mengabulkan doa dan harapan kami untuk menjalani sisa hidup bersama-sama. Seorang gadis pujaan telah Allah halalkan untukku, berikrar setia dalam suka maupun duka.

Enam tahun sebelumnya, nyaris tiada kesan indah saat pertama kali kami berjumpa. Bahkan perasaan iri sempat singgah di hati ketika melihat canda tawanya bersama ketiga teman karibnya. Mengapa aku tak bisa seceria mereka, padahal akupun ingin memulai hari-hari pertamaku di bangku SMEA dengan bahagia. Sekolah baru, teman-teman baru, tak sepenuhnya memberiku semangat baru. Yang ada justru perasaan cemburu dengan mereka yang bertemu dan langsung akrab dengan teman-teman baru. Astaghfirulloh! Sebuah kenangan masa sekolah yang konon kata orang sulit untuk dilupakan. 

Setahun bersama, belum juga memberiku kesan indah padanya. Biasa saja, sama seperti perasaanku terhadap teman sekalas lainnya. Barulah di tahun kedua - ketika kami berpisah kelas - aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam keseharianku. Aku kehilangan cerianya. Aku tersadar bahwa sebenarnya aku bukan membencinya, tapi mencintainya. Subhanallah! Maha Indah Allah dengan segala keindahan Nya, termasuk percikan cinta yang dianugerahkan kepada hamba Nya.

Seiring bertambahnya usia, sebagai remaja yang mulai menginjak dewasa, perasaan suka itupun semakin mekar berbunga. Meski tanpa kata, tatapan mata kami sering mengirimkan pesan bermakna suka. Sayang, saat itu kami sama-sama tak memiliki keberanian untuk menjalani masa-masa paling indah di sekolah yang biasa disebut pacaran. Tapi belakangan kami sangat mensyukuri ketidakberanian kami berdekatan seperti beberapa pasang teman sekelas kami yang lainnya. Terima kasih ya Allah, kini kami sadar bahwa sesungguhnya Engkau telah menyelamatkan kami dari tipu daya syetan yang mengatasnamakan cinta untuk menutupi nafsu yang sesungguhnya.

Setelah dua hati bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci, hari-hari indah kami jalani bersama. Jika ada tawa, kita nikmati berdua. Begitupun jika ada tangis, berduapun kami lakukan tanpa diminta. Ketika hati yang telah dilandasi cinta bicara, maka tak perlu lagi bibir ini berkata-kata. Dan kebahagiaan kami semakin lengkap dengan hadirnya seorang bayi mungil nan jelita. Sabila, demikian kami memberinya nama. Subhanallah, Maha Indah Engkau Ya Allah. Kami benar-benar takjub dengan keindahan yang Engkau percikan padanya, anugerah sekaligus amanah bagi kami selaku orang tuanya. 

Kehadiaran Sabila membuat kehidupan kami terasa ‘sempurna’. Meski menikah di usia muda, kami tak merasa ada yang salah dalam kami berumah tangga. Tak ada rasa penyesalan ketika melihat teman-teman seusia kami asyik dengan dunia mudanya. Kami menikmati masa muda kami dengan cara yang berbeda, dan kami merasa sangat bahagia. Kami bisa mencurahkan cinta dan kasih sayang kapanpun, dimanapun, dalam sebuah kenikmatan ibadah dengan kehalalan yang kami miliki. 

Tak ada rumah tangga yang bebas dari ujian. Begitupun kami, tak lepas dari ujian dan cobaan. Ujian yang kami hadapi seringkali berkutat di masalah ekonomi. Pernikahan di usia muda - ketika baru tiga tahun kami bekerja, ditambah berhentinya istri setelah setahun kelahiran Sabila - memang banyak mempengaruhi kehidupan ekonomi kami. Tapi, Alhamdulillah Allah memberikan kami keluasan hati dan kesabaran yang lebih dibanding yang lainnya. Gali lobang tutup lobang menjadi jurus andalan ketika kebutuhan rumah tangga tak lagi bisa ditunda. Tapi kami bersyukur, kesulitan ekonomi yang kami hadapi sedikitpun tak menggeser pondasi rumah tangga kami. Saat susah kami bersyukur, saat bahagia kami bersabar. Sejauh ini analisa kami mengatakan bahwa meski dibangun di usia muda, kehidupan rumah tangga kami tidak jauh berbeda dengan rumah tangga yang dibangun oleh mereka yang sudah dewasa. Kami cukup makan, cukup pakaian dan meski menyewa kami bisa berteduh dari panas dan hujan. Juga dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, kami menghadapi ujian dengan saling pengertian dan koreksi diri. Kalaupun terkadang muncul perasaan cemburu dan curiga, kami melakukan dan menanggapinya dengan dan karena cinta. Alhamdulillah.

Hidup penuh ujian, dan orang yang beruntung adalah orang yang menghadapi setiap ujian dengan sabar dan sadar bahwa ujian datang atas izin dan kehendak Allah. Nasihat bijak ini terus tertanam dalam benak dan keyakinan kami. Ketika ujian-ujian kecil berhasil kami lalui, maka ujian kembali datang dalam bentuk dan takaran yang berbeda. Jika kami telah terbiasa ‘berdamai’ dengan kondisi keuangan, maka ujian datang dalam bentuk gangguan kesehatan. 

Masih teringat jelas setahun yang lalu, teriakan sang dokter memanggil suster dari dalam kamar prakteknya. Ketidakpercayaan dokter menular kepada kami. Bagaimana mungkin istriku yang selama ini kutahu memiliki tekanan darah rendah, tiba-tiba tekanan darahnya melonjak hingga 200/110. Terlebih saat itu wanita yang pertama kali membuatku jatuh cinta karena senyum dan lesung pipinya ini sama sekali tidak merasakan tanda-tanda atau gejala layaknya orang yang menderita hipertensi. Semua pertanyaan dan kekhawatiran sang dokter dijawab dengan senyum dan gelengan kepala. “Tidak, saya tidak merasakan itu semua Dok!” Subhanallah, Allahu Akbar. 

Ada sesuatu yang lain dari biasanya, begitu kesimpulan dokter beberapa bulan kemudian. Pemberian obat penurun darah tinggi dalam dosis yang cukup tinggi tidak memberikan hasil yang signifikan. Sang dokter berkali-kali menganjurkan istri untuk tes darah dan mendatangi dokter specialis penyakit dalam guna memastikan apa gangguan kesehatan yang sebenarnya. Tapi istriku adalah istriku, wanita penyabar dan penuh kasih namun sangat takut dengan dunia medis. Dokter atau rumah sakit adalah dua hal yang ( jika bisa ) tak ingin dikenal sepanjang hidupnya. Kalaupun selama itu mau berobat, harus dengan satu syarat yaitu di klinik yang sama, dokter yang sama. Andaikan ada keluhan di hari Sabtu, dia akan bersabar, menahan dan menunggu hari Senin saat sang dokter ‘pribadinya’ praktek di klinik yang ditunjuk perusahaan tempatku menjemput rezeki.

Saran sang dokter bukanlah basa-basi, tapi sebuah isyarat bahwa ada sesuatu yang harus segera diketahui sebelum tekanan darah tinggi istriku semakin tak terkendali. Tapi tak hanya dokter, akupun tak mampu membujuknya untuk ‘bersilaturahmi’ dengan dokter specialis penyakit dalam. Dalam sakit, istriku lebih memilih sabar sebagai penolongnya. Dalam hal ini aku tak sepenuhnya menyalahkannya. Aku coba mengikuti keinginannya, memberikan semangat, rasa nyaman dan nyaman bagi mentalnya. Tapi daya tahan tubuh memiliki batas tertentu. Berbulan-bulan mengkonsumi obat penurun tekanan darah tinggi, kenyataannya tekanan darahnya tetap tinggi. Bahkan di satu pagi di akhir Juli, kami dikejutkan dengan pembengkakan di kaki, tangan dan wajahnya. Astaghfirulloh! 

Kondisi yang tak pernah terlintas dalam benak kami, memaksa istriku pasrah untuk dirawat secara intensif di rumah sakit. Tumbang sudah prinsipnya untuk tidak ‘berkenalan’ dengan rumah sakit. Sebuah fakta mengejutkan harus kami terima, sang dokter mengabarkan bahwa istriku mengalami gangguan gagal ginjal. Apa penyebabnya dan sejak kapan pastinya menjadi tidak begitu penting di telusuri, yang jelas kondisi saat itu sudah cukup parah, antara stadium 4 atau 5, padahal tidak adal lagi stadium 6. Kadar ureum melonjak 288 dan creatininnya 8.77, sementara kadar hb hanya 4 dan tekanan darahnya diatas 170. Semua data yang ada begitu meyakinkan bahwa istriku menderita gangguan gagal ginjal kronik.

Seminggu menjalani perawatan medis, akhirnya istri diperbolehkan pulang dengan catatan harus kontrol dan menjalani rawat jalan secara rutin. Tapi seminggu akrab dengan dokter dan segala macam peralatan rumah sakit tidak merubah ketakutannya pada dunia medis. Demi menyelematkan semangatnya, akhirnya kami memilih pengobatan alternative yang tidak bertentangan dengan syari. Bulan Ramadhan 1431 H meninggalkan kesan dan kenangan mendalam karena kami berada pada situasi dan kondisi yang memberikan sebuah kedekatan antara kami berdua. Bukan hanya fisik, tapi hati kami berdua. Seminggu sekali kami menempuh perjalanan 2 x 18 kilo meter untuk berikhtiar mencari kesembuhan. Berdua berboncengan motor, tak ada lelah, tak ada keluh kesah. Kami menjalani semua ini dengan ikhlas dan penuh pengharapan. Dan pada akhirnya, semua ini menjadi salah satu kenangan terindah kami berdua. 

Tetap sabar, sadar dan terus berikhitar, sedangkan hasil Allahlah yang menentukan. Do’a terus kami panjatkan, ikhtiar terus kami lakukan, termasuk bersilaturahmi dengan keluarga saat lebaran. Kami berharap, restu orang tua serta doa sanak saudara bisa menjadi obat tersendiri bagi istri. Meski kondisi kesehatan sempat menurun – istri sempat batuk-batuk dan ada darah segar dalam dahaknya - kami tetap melanjutkan niat kami untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Bismillahirrohmanirrohiim, keberkahan silaturahmi akan mendatangkan semangat dan obat bagi kami, insya Allah. Begitu besar harapan kami.

Manusia hanya bisa berencana, Allahlah yang menentukan akhirnya. Selama mudik lebaran, kondisi kesehatan istriku semakin menurun, sehingga kami tak bisa memaksimalkan silaturahmi saat Idul Fitri. Beruntung orang tua kami selalu mengadakan open house saat lebaran, jadi meski berdiam diri di rumah kami tetap bisa bersilaturahmi dengan saudara dan tetangga yang datang ke rumah. Berbagai dukungan, doa dan bantuan terus mengalir, memberikan semangat dan kekuatan untuk menang dalam ujian yang sedang kami hadapi.

Apa yang terlihat di depan mata, apa yang tergenggam di tangan, sesungguhnya bukan dan belumlah tentu milik kita. Tiga lembar tiket bus untuk balik ke Tangerang, terpaksa kami kembalikan karena sehari sebelum keberangkatan, kondisi kesehatan istriku mengalami penurunan drastis. Kami tak tahu apa istilahnya, tapi kepala dan tangan kirinya selalu bergerak tak terkontrol, layaknya orang kedinginan atau gerakan orang-orang yang sudah lanjut usia. Dokter mengatakan ini disebabkan pasokan darah dan oksigen ke otak kurang. Tak ada pilihan, istri harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit Gombong - Kebumen. Ada buliran air mata yang tak sanggup kubendung kala itu, aku tahu persis ketakutan istri dengan rumah sakit. Tapi demi kebaikannya, berbagai rayuan aku keluarkan untuk menjaganya tetap bersemangat. Kejadian akhir bulan Juli di Tangerang kembali terulang di hari ketujuh lebaran. Hasil pemeriksaan darah menunjukan kadar hb hanya 4.4, kadar ureum melonjak sampai 338 dan creatinin naik menjadi 19.8. Sebuah kondisi yang cukup ( sangat ) parah. Kalau dua bulan lalu dokter mengatakan stadium 4 – 5, maka saat itu sudah stadium terminal dan tak ada pilihan medis kecuali harus melakukan HD atau cuci darah. Dan tanpa bertanyapun aku sudah tahu jawabannya. Sebagai ikhtiar, tetap saja aku coba bertanya dan membujuknya, meskipun hasil akhirnya sesuai dengan yang kami duga. Istriku menolak keras HD, apapun alasan dan pendapat medis.

Tujuh hari menjalani perawatan medis kedua, dokter dan pihak rumah sakit tidak kuasa menahan keinginan istri untuk pulang. Satu pesan mereka berikan bahwa di manapun dan ke manapun, harus segera dilakukan perawatan lanjutan. Dan tindakan lanjut yang kami pilih adalah kembali menanjutkan pengobatan alternative yang sempat terhenti selama kami mudik. Namun rupanya Allah belum memperkenankan ikhtiar kami, tiga hari di Tangerang atau tepatnya seminggu setelah keluar dari rumah sakit, kondisi kesehatannya kembali memburuk. Selama 18 jam, istriku memuntahkan cairan hitam encer sebanyak 12 kali. Semula kami tidak tahu apa cairan hitam dan encer itu. Kami baru tahu bahwa itu adalah darah yang sudah terkontaminasi racun setelah kami mendatangi rumah sakit yang dulu menangani istri. Kembali, sang dokter menegaskan bahwa tidak ada pilihan medis lainnya kecuali cuci darah. Namun sang dokter tidak bisa menahan ketika kami bersikukuh untuk mencari kesembuhan melalui jalur lain. 

Hampir tengah malam, 28 September 2010 ketika rombongan kami sampai di rumah kediaman seseorang yang dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Melalui doa dan obat-obatan herbal, begitu metode pengobatan yang ada di tempat ini. Dan, di tempat alternative kedua yang kami datangi ini, istriku harus menjalani rawat inap selama maksimal dua belas hari. Beruntung saat itu ada ibu dan kakakku yang siap menemani dan menunggu karena aku harus tetap masuk kerja. Alhamdulillah, sehari menjalani perawatan, kondisi kesehatan istri menunjukan hal yang sangat menggembirakan.Tak ada lagi muntah, bahkan batukpun tidak. Di hari kedua, istri sudah bisa menghabiskan satu mangkuk bubur ayam, pergi ke warung atau mandi sendiri. Bahkan ketika kami semua membezuk lima hari kemudian, kami sempat jalan-jalan bersama. Tidak terlalu jauh untuk ukuran kami, tapi sebuah kemajuan yang sangat membanggakan bagi istri. Saat itu kami mengira kemenangan istri menghadapi ujian sudah di depan mata.

101010 atau 10 Oktober 2010, bagi sebagian orang mungkin dianggap istimewa dan saat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya, tapi awalnya tidak bagi kami. Hari dan tanggal ini semula kuanggap biasa saja, sama dengan hari dan tanggal yang lainnya. Namun rupanya hari dan tanggal ini telah ditentukan oleh Allah SWT sebagai hari terakhir kebersamaanku dengan wanita yang begitu banyak memberiku kebahagiaan, pelajaran dan juga pengalaman. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, ketetapan Allah lah yang berlaku akhirnya. Sepanjang hari MInggu, 10 Oktober 2010 kondisi kesehetan istriku menurun drastis. Keluhan dirasakan olehnya adalah sesak napas, sehingga komunikasi antara kami sedikit sekali. Sepanjang hari ini kami lebih banyak diam, hanya tatapan mata ini tak lepas darinya, tangan ini lebih sering menyentuh tangan dan kakinya yang kembali membengkak, bibir ini lebih sering memberi semangat padanya, dan telinga ini lebih sering mendengar istighfar dan dzikir kami semua. Tak terpikir kala itu untuk membawa istri ke rumah sakit, karena kedatangan kami ke tempat ini adalah menghindari medis. Do’a dan istighfar kami tingkatkan, pak haji yang menangani istripun lebih intensif memantau perkembangan istri.

Tanpa kami sangka tanpa kami duga, ketika sholat Ashar kuakhiri dengan salam, hanya tersisa beberapa detik untukku bisa melihat gerakan nafas terakhir istriku. Dalam pelukanku, Sabila dan adik ipar, istriku meninggalkan kami untuk selamanya. Inalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Segalanya bermula dari Mu ya Allah dan akan kembali kepada Mu. Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Inilah bukti kekuasaan Mu ya Allah. Betapapun kami sangat mencintai dan menyayanginya, namun dia bukanlah milik kami, Engkaulah Pemilik Cinta Yang Sejati. Kami ikhlas, kami ridho. Betapapun duka dan kesedihan yang kami rasakan, tak ingin langkah orang yang sangat kami sayangi tertahan tangis dan ratap kami. Tak ada penyesalan yang kami rasakan, tak ada orang yang akan kami salahkan, semua sudah tercatat jelas kapan, dimana dan bagaimana Engkau akan memanggilnya. Kami ikhlas, kami ridho. Ketetapan-Mu lah yang terbaik, terbaik untuk ku dan terbaik untuk istriku. 

Ya Allah, aku kembalikan istriku kepada Mu dengan penuh keikhlasan. Aku hantar ia ke peristirahan terakhirnya dengan keridhoan. Aku ikhlas engkau mengambilnya disaat kami sedang berjuang sekuat tenaga untuk tetap mempertahankannya di sisi kami. Aku ridho dengan semua yang telah aku lakukan dan perjuangkan untuk istriku. Aku ikhlas dan ridho, bahkan bersyukur telah Engkau berikan kesempatan sebelas tahun bersama, belajar menjalani manis pahitnya hidup, belajar menjadi hamba yang sabar dan tawakkal, belajar memaknai dan menikmati cinta yang suci. Semoga keikhlasanku, keridhoanku serta orang-orang yang menyayangi almarhumah, memudahkan pertemuannya dengan Mu. Amin.

Siapapun orangnya, pasti sedih dan berduka ditinggal orang yang selama ini begitu dekat secara fisik maupun hati. Begitupun yang aku rasakan. Bila tak ingat bahwa ini adalah takdir Illahi, rasanya semua ini tidak adil. Setelah hampir tiga bulan berjuang bersama, melewati hari-hari penuh ujian bersama, semestinya kesembuhan dan kebahagiaan yang patut kami terima, tapi mengapa malah diambil selamanya. Astaghfirulloh! Kami ikhlas, kami ridho, dan kami tak ingin membuat celah bagi syetan untuk menodai keikhlasan ini. Tak kuasa kami untuk menahan, kecuali melepasnya dengan keikhlasan, mengantarnya dengan keridhoan, dan mendoakannya dengan penuh ketulusan semoga almarhumah kembali dalam keadaan khusnul khotimah. Ya Allah, terimalah almarhumah Sunarsi binti Sunar di sisi Mu, terimalah iman dan islamnya, terimalah amal dan ibadahnya, ampunilah salah dan khilafnya, berikan nikmat kubur padanya, berikan syurga untuknya dan izinkan kelak kami berkumpul kembali dalam syurga Mu ya Allah ya robbal ‘alamin.

Maha indah Allah dengan segala keindahan Nya, yang telah menuliskan perjalanan hidup setiap hamba Nya. Kini aku lebih banyak bersyukur, betapa indah skenario hidup yang Engkau persiapkan untukku, begitu indah orang-orang yang Kau pilihkan untukku. Besar harapanku bahwa aku telah memainkan peran yang Engkau berikan dengan maksimal. Kalaupun ada kurang dan kelirunya, semoga terbuka lebar pintu maghfiroh untukku, amin.

*Diambil dari syair lagu Rachmat Alam, karya Aul Wafa.
** Gambar dipinjam dari sini

12 Apr 2010

Batas Kesabaran

Sabar itu ada batasnya. Sering kita mendengar kata-kata seperti itu, dan terkadang kita sendiri pun mengucapkan hal itu. Tapi, ketika ditanya tentang batas kesabaran, tak pernah ada jawaban yang sama, jelas dan pasti, kapan, bagaimana dan sejauh mana kesabaran itu sampai pada batasnya. 

Batas kemampuan seseorang dalam menghadapi sebuah ujian atau cobaan berbeda-beda. Barangkali inilah yang membuat batas sebuah kesabaran menjadi relatif. Namun sayangnya, batas kesabaran ini terkadang dijadikan dalih untuk melakukan hal-hal tidak terpuji yang bertolak belakang dengan sabar itu sendiri. Luapan emosi tanpa kendali seringkali terjadi ketika seseorang merasa kesabaran yang dimiliki sudah sampai pada batasnya. Seseorang yang mengakhiri hidupnya lantaran penyakit yang bertahun-tahun dideritanya tak juga sembuh, adalah contoh nyata lainnya. 

Sesungguhnya manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Dan bila kesabaran sudah sampai pada titik maksimal yang diusahakan, semestinya pasrah pada Allah lah yang menjadi pilihannya.
Ada pelajaran berharga dari kisah hidup Anisa ( bukan nama sebenarnya ) yang ingin kuceritakan, semoga kita bisa mengambil ibrah darinya. 

Seminggu menjelang pernikahan, Ahmad ( bukan nama sebenarnya ) calon suami Anisa tiba-tiba harus menjalani operasi karena penyakit batu ginjal yang dideritanya. Waktu penyembuhan yang cukup lama ditambah biaya pengobatan yang cukup besar, membuat keluarga Ahmad sempat mengusulkan untuk menunda pernikahan mereka hingga kondisi Ahmad benar-benar pulih. Sebuah usulan yang masuk akal, namun sulit untuk dijalankan. Tak mudah bagi Anisa menerima usulan ini karena selain dia sudah mengurus ijin dari perusahaan, juga karena seluruh teman kerjanya sudah mengetahui tentang rencana hari pernikahan mereka. Ini bukan semata persoalan waktu, tapi juga malu. Hal lain adalah, pihak keluarga Anisa sudah terlanjur menyebar seluruh undangan resepsi pernikahan mereka. Segala persiapan untuk acara resepsipun sudah matang. Tak mudah meralat atau menarik undangan yang sudah tersebar, apalagi jumlahnya cukup besar mengingat orang tua Anisa adalah seorang perabot desa.

“ Saya tidak ingin pernikahan ini ditunda. Tak mengapa kalau akhirnya kita yang harus datang kepada mereka, bahkan mesti harus melangsungkan pernikahan di rumah sakit, saya sudah siap. Inilah saatnya saya membuktikan cinta saya. Saya menerima calon suami saya apa adanya, dan akan menemaninya, merawatnya. Dan itu menjadi mungkin apabila saya sudah sah menjadi istrinya” mantap Anisa memilih keputusannya. Dan proses ijab qobulpun dilaksanakan di rumah mempelai pria ( delapan jam perjalanan darat dari rumah mempelai wanita ), dalam suasana yang sangat mengharukan. Tangis haru keluarga yang menyaksikanpun pecah, kecuali kedua pengantin yang tetap terlihat tabah.

Disaat keluarga Anisa menggelar acara resepsi pernikahan, justru Ahmad kembali masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan. Dengan tabah Anisa memohon maaf pada seluruh keluarga atas ketidak hadiran mereka. Anisa paham bahwa acara itu terpaksa dilanjutkan, namun bagaimanapun ia tak bisa meninggalkan Ahmad di rumah sakit sendirian. Ia tidak ingin mengabaikan perasaan orang tuanya, tapi inilah saat ia membuktikan baktinya pada sang suami.

Indahnya bulan madu sebagai pengantin baru tak pernah ada dalam lembaran hari-hari pertama pernikahan mereka. Empat hari setelah pernikahan mereka, sebagai karyawan Anisa harus kembali ke tempat kerjanya di Tangerang, meninggalkan sang suami yang masih terbaring lemah di kota Pati. Ahmad memang sudah diperbolehkan pulang, tapi harus tetap menjalani rawat jalan untuk beberapa bulan ke depan.

Tiga bulan berlalu, hari-hari yang berat mereka jalani dengan tabah. Sebagai suami istri mereka harus hidup terpisah. Begitupun ketika Ahmad merasa sudah pulih dan bisa menyusul Anisa, kebersamaan mereka tak berlangsung lama. Banyaknya biaya yang diperlukan selama pengobatan, membuat mereka kini terlilit hutang. Satu-satunya jalan agar mereka bisa cepat melunasi hutang adalah Ahmad harus kerja. Dan kembali ke tempat kerjanya semula di pulau Sumatra, dirasa satu-satunya jalan untuk mencapai tujuannya. Dan kembali Anisa menjalani hari-hari sebagai istri tanpa kehadiran suami di sisi dengan sabar dan tabah. 

Setiap keluarga pasti menginginkan hadirnya anak di tengah-tengah mereka. Begitupun Ahmad dan Anisa. Untuk itulah maka Ahmad memutuskan untuk mencari pekerjaan di Tangerang agar bisa tinggal bersama dengan istrinya. Namun sudah setahun mereka hidup bersama, tanda-tanda bahwa mereka akan mendapatkan momongan belum juga muncul. Pernah tanda itu muncul di hari-hari terakhir bulan Ramadhan kedua sejak merek a menikah, tapi itu tak memberikan kebahagiaan lama. Di hari Idul Fitri ketiga, Anisa harus menjalani perawatan di rumah sakit karena ada masalah dengan kandungannya dan mengharuskannya untuk menjalani proses kiret. Tak ingin merusak kebahagiaan di hari lebaran, kepada pihak keluarga mereka sengaja menutupi ketidak pulangan mereka dengan tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya. 

Dua tahun menjalani pernikahan yang nyaris tak pernah lepas dari ujian. Baik Anisa maupun Ahmad menjalani ujian demi ujian dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Mereka yakin bahwa semua ini adalah kehendak Allah swt yang harus mereka jalani. Juga ketika ujian itu datang kembali. Kali ini Anisa harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu untuk pengobatan batu ginjal. Ahmad yang sebelumnya pernah mengalami sakit yang sama, bisa merasakan betapa beratnya menjalani ujian ini. Dia sangat bersyukur karena sang istri tetap tegar dan semangat menjalani perawatan. 

Kini, di tahun ketiga pernikahan mereka, kehadiran buah hati memang masihlah sebatas mimpi. Namun mereka yakin bahwa ini adalah bagian dari skenario Allah yang harus mereka perankan. Tak ada sesal, tak ada kesal. Mereka yakin bahwa Allah menyayangi mereka, dan dengan kesabaran, ketabahan serta kepasrahan mereka dapat melalui berbagai rintangan sebagaimana yang telah mereka lakukan.

**

Aku memang tidak mengalami apa yang mereka harus jalani. Namun aku tahu persis liku-liku perjuangan yang mereka lalui. Aku tahu betapa sabar dan tabahnya Anisa menjalani setiap ujian yang datang kepadanya. Begitupun dengan Ahmad, suaminya. Jika sempat tertetes air mata, itu adalah karena mereka juga manusia. Jika hadir perasaan duka, juga karena mereka manusia biasa. Tapi kesabaran, ketabahan dan kepasrahan mereka, dimataku itu luar biasa. Dan semua ini menyadarkanku bahwa sesungguhnya batas kesabaran ada pada keinginan kita untuk berjuang melewati setiap ujian dan cobaan. Kita memiliki keterbatasan kemampuan, tapi tidak semestinya kita menjadikan alasan batas kesabaran itu untuk melakukan berbagai pelanggaran. Karena kita memiliki keterbatasan, seharusnya kita memohon bantuan Allah dengan berdoa dan semestinya ketika semua usaha telah kita jalankan, semua ujian telah kita tahankan, selanjutnya pasrahkan akhirnya pada Allah Yang Maha Kuasa. 

” Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ” ( QS Al Baqarah : 45 -46 )

**
Kudedikasikan tulisan ini untuk kedua adikku, T dan B.Sungguh meski usiaku berada diatasmu, namun aku banyak belajar sabar darimu. Jangalah bersedih, tetaplah jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, karena aku yakin Allah akan membantumu, bahkan Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah untuk hamba-hambanya yang sabar, sepertimu. Insya Allah

8 Feb 2010

Begitu Dekat Dan Nyata

“ Jam 4 pagi, sebuah lemari kayu besar tiba-tiba roboh menimpa aku dan istriku yang masih tertidur lelap!”
Nurul memulai ceritanya malam itu, sepuluh menit sebelum azan Isya berkumandang.

“ Seandainya Allah tak menolong, mungkin kami sudah mati. Paling tidak ada bagian tubuh kami yang patah, remuk atau luka-luka tertimpa lemari yang penuh dengan pakaian. Tapi Alhamdulillah, sedikitpun kami tak luka. Saat terbangun, kedua tangan kami sudah pada posisi menyangga lemari. Kedua tanganku menyangga pintu lemari yang terbuat dari kayu, sedang tangan istriku menyangga bagian pintu yang dilapisi kaca cermin. Subhanallah! Beruntung kaca cermin itu tidak pecah dan melukai tangan istriku. Kami sangat kaget dan shock waktu itu “ kenang Nurul. 

Kejadian ini terjadi saat Nurul beserta anak dan istrinya merayakan lebaran tahun lalu di kampung halaman mereka, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Saat itu cuaca memang sedang panas, sehingga meski malam hari, udara dalam kamar mereka yang tak begitu luas tetap terasa sumuk. Sebagai keluarga yang sederhana, jelas rumah mereka tak dilengkapi dengan AC. Bahkan di kamar Nurul juga tidak ada kipas angin. Tak tahan dengan hawa yang panas, Nurul dan sang istri memilih tidur di lantai menggunakan kasur tipis, sedang putri tunggal mereka tidur di dipan yang ukurannya memang tak memungkinkan untuk mereka tidur bertiga dengan nyaman. Dan, satu-satunya ruang yang tersisa dalam kamar itu adalah lantai selebar kasur ukuran sedang, tepat di depan lemari kayu tempat mereka menyimpan pakaian.

Kondisi badan yang lelah usai bersilaturahmi dengan sanak saudara, membuat tidur mereka malam itu sangat pulas. Sampai akhirnya, sebuah kejadian membangunkan mereka secara paksa. Lemari kayu yang posisinya berada tepat di dekat kaki, roboh menimpa ia dan istrinya. Tak ada suara sebelumnya, tiba-tiba saja lemari berukuran 1.1 x 1.8 meter ini sudah berada diatas mereka, tertahan tangan mereka berdua. Kaget! Belum sepenuhnya sadar, mereka mendapati tumpukan baju yang tersimpan dalam lemari telah keluar dari tempatnya, berserakan dan sebagian menutupi mereka berdua. Berkali-kali mereka beristighfar...

Dengan tubuh masih gemetar, susah payah Nurul dibantu sang istri mendirikan kembali lemari yang hampir saja mencelakakan mereka berdua. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kaget, bingung, dan takjub berkecamuk dalam benak keduanya. Nurul mencoba menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi sehingga lemari itu tiba-tiba roboh. Apakah karena gempa atau ada sebab lainnya. Akhirnya Nurul mendapat kesimpulan bahwa lemari itu roboh lantaran salah satu bagian kaki lemari yang sudah patah itu tak sengaja terjejak kakinya atau mungkin kaki sang istri. Ia baru ingat, dua hari sebelum lebaran, ia sempat menggeser lemari yang pintunya sudah tak bisa dikunci itu, ketika hendak mengecat dinding di belakang lemari. Usai mengecat, lemari itu dikembalikan ke tempatnya semula, tapi ia lupa memastikan apakah bagian kaki lemari yang patah itu sudah pada posisi yang pas atau belum. 

Jika dilihat dari kondisi lemarinya, tak mengherankan bila lemari itu tiba-tiba rohon menimpa mereka, hanya karena tak sengaja terjejak kaki. Namun yang tak mudah diterima nalar adalah bagaimana tiba-tiba secara reflek mereka menyangga badan lemari, padahal kala itu mereka sedang terlelap, dan robohnya lemari itu tak menimbulkan suara sebelumnya karena posisinya yang berada di bagian tengah dan tak terhalang apapun. Subhanallah, Alhamdulillah, ini kuasa Allah SWT, berkali-kali mereka mengucap tasbih dan tahmid. Mustahil terjadi, jika bukan Allah yang menyelamatkan mereka. Mereka menyadari betapa pertolongan Allah sangat tepat, dekat dan nyata kala itu. 

****
Pertolongan Allah begitu dekat, begitu nyata. Datang pada saat yang tepat, dengan berbagai bentuk dan cara. Kita pasti pernah mengalaminya, hanya saja terkadang karena bentuknya, caranya yang tak kita pahami, kita tak sadar bahwa saat itu pertolongan Allah sangat dekat dengan kita. 

Sering kita membaca atau mendengar kisah-kisah seseorang yang sempat merasa kesal awalnya namun kemudian menjadi bersyukur tiada tara, setelah tersadar bahwa apa yang semula dianggapnya mengecewakan itu adalah sebuah pertolongan Allah. Seperti seseorang yang terpaksa harus kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal padahal ia sedang terburu-buru ke kantor, ternyata dia sedang diselamatkan Allah karena angkutan yang tadi ditumpanginya tak lama kemudian mengalami kecelakaan. Atau juga seseorang yang merasa kesal karena tak kebagian tempat duduk padahal sudah menunggu bis berjam-jam, namun akhirnya bersyukur karena bis yang dimaksudkan mengalami kecelakaan di jalan tol dan sebagian besar penumpangnya menjadi korban. Atau juga seorang ibu yang diselamatkan dari maut, dengan jalan sang bayi yang digendongnya menangis sepanjang perjalanan sehingga sebagian besar penumpang merasa kesal dan memaksa sang ibu turun di tengah perjalanan. Hanya berjarak ratusan meter, bus yang sebelumnya ditumpangi sang ibu dan bayinya ini mengalami tabrakan dan melukai penumpang di bagian depan, tepat dimana sang ibu sebelumnya duduk.

Atau juga, kejadian yang kualami sendiri. Pernah satu waktu kami benar-benar kehabisan uang belanja, padahal gajian masih sehari lagi. Logikanya, tak mungkin kami sekeluarga bisa mendapatkan makanan yang enak dan beraneka macam pada saat kondisi keuangan seperti itu. Tapi tiba-tiba saja datang saudara kami yang tinggal di luar kota, membawakan berbagai macam masakan lezat dan kue yang enak, karena mereka sedang mengadakan syukuran. Dan tak hanya itu, saudara kami itu juga memberikan uang saku kepada putri kami. Atau juga akhir tahun lalu, tak seperti bulan-bulan sebelumnya, tiba-tiba perusahaan tempatku bekerja mewajibkanku ( bukan sekedar menyuruh ) untuk lembur, tepat dimana aku sedang membutuhkan dana lebih karena salah satu keponakanku akan menikah. Alhamdulillah.

Jika tak ada rasa syukur, tentu saja dua hal tersebut tidaklah terlihat sebagai bentuk pertolongan Allah. Bisa saja kami berpikiran bahwa makanan yang diantar itu memang semestinya diantarkan kepada kami, karena kami adalah saudaranya. Atau juga kerja lembur itu memang sudah seharusnya, karena laporan akhir tahun yang harus segera diselesaikan sebelum libur panjang. Tapi Alhamdulillah, aku memandangnya dari sudut lain. Kalau Allah berkehendak, bisa saja saudaraku yang sedang mengadakan syukuran itu tidak mengantarkan makanan ke tempat kami karena jaraknya yang cukup jauh,dan kamipun tidak tahu menahu dengan acara mereka. Atau juga, pihak perusahaan menyuruh karyawan lain untuk lembur atau memaksaku menyelesaikan laporan tanpa harus lembur.

Tak ada yang kebetulan, tak ada juga yang sia-sia. Apa yang terjadi pada diri kita adalah atas kehendak dan izin Allah SWT, sekalipun menurut kita terasa pahit awalnya. Jika kita jeli, kita akan menemukan hikmah dan pelajaran yang besar terkandung sebuah peristiwa sederhana. Kita akan mengakui kebesaran Allah, mengucap syukur tiada henti setelah menyadari bahwa sesungguhnya yang kita alami adalah sebuah pertolongan dari Allah.

Dan jika hari ini kita mendapati sesuatu yang tidak menyenangkan karena tidak sesuai dengan rencana dan keinginan, jangan terburu kecewa karena sangat mungkin itu adalah pertolongan Allah yang sesungguhnya akan menyelamatkan kita, memberikan jalan serta hasil yang lebih baik dari yang kita rencanakan. Sungguh, selagi kita memulai dan menjalani sesuatu dengan niat, cara dan tujuan yang benar dan lurus, maka pertolongan Allah sebenarnya sangat tepat, dekat, dan nyata.

6 Nov 2009

Tetap Kokoh Dengan Satu Kaki

Mushola Baiturrohiim adalah mushola kebanggaan kami, warga RW 06, tampat ‘favorit’ kedua setelah rumah kontrakanku. Jika sebagian tetanggaku melewati sore hari dengan menonton televisi atau berkumpul di teras rumah salah seorang tetangga hingga menjelang malam, maka aku lebih memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang ada di mushola Baiturrahim ini.

Hampir setiap hari, selesai sholat Maghrib kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami berkumpul untuk mengaji Al Quran. Selebihnya jika masih ada waktu, kami biasa saling berbagi cerita hingga waktu sholat Isya tiba.

Saudara-saudaraku ini adalah mereka para jamaah mushola yang tinggal di sekitar mushola. Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda, ada yang dari Jawa, Sumatra namun sebagian besar adalah penduduk asli Tangerang. Umur mereka sebagian besar jauh diatasku, hanya beberapa yang seumuran denganku.

Dari jamaah musholla banyak sekali aku mendapat pelajaran berharga, yang memberiku semangat, inspirasi dan nasihat bijak dalam menjalani kehidupan. Juga pelajaran yang menggugah keimanan dan memberiku semangat untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Misalnya dari pak Didi, melalui rumus 90 langkahnya menuju musholla setiap pagi menjelang shubuh sebelum jamaah lainnya datang dalam kondisinya yang gelap gulita karena pengliatannya yang sudah tak berfungsi, menyadarkanku betapa besar nikmat yang Allah berikan melalui penglihatanku.

Juga dari pak Nana ( bukan nama sebenarnya ), banyak hal yang bisa aku jadikan untuk mengukur diri, seberapa besar rasa syukur yang sudah aku wujudkan, bukan sekedar syukur dalam lisan. Dan mengukur seberapa jauh ketekunanku beribadah, menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.

Pak Nana, lelaki kelahiran Bogor ini dimataku adalah jamah yang istimewa. Lelaki berumur 50 tahun ini berbeda dengan jamaah lainnya, beliau kini hanya memiliki satu kaki setelah kecelakaan lalu lintas memaksanya merelakan kaki kirinya di amputasi hingga batas lutut. Sungguh, bukan untuk membeberkan kekurangan fisik beliau, tapi justru dari situlah aku mendapat kekuatan dan semangat untuk lebih tegar menghadapi hidup dan berusaha lebih tekun beribadah dengan kondisiku yang alhamdulillah lebih beruntung dibanding dengannya.

Pak Nana adalah karyawan sebuah perusahaan produsen obat nyamuk, tak jauh dari tempat tinggal kami. Sampai saat ini sudah hampir 30 tahun beliau bekerja di sana. Dulu, sebelum tragedi kecelakaan menimpanya, beliau adalah kenek mobil box yang bertugas menemani sang sopir mengantar hasil produksi ke berbagai kota. Sebuah kecelakaan di jalan tol telah merenggut kaki kirinya, 22 tahun lalu ketika beliau masih lajang.

Diantara duka dan laranya, pak Nana muda ini melewati hari-harinya dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Selain memberikan santunan, pihak perusahaan juga masih memperbolehkan pak Nana bekerja meski kondisinya berbeda dengan karyawan lainnya, sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya.

Adalah kebesaran Allah SWT, meski cacat, meski berbeda dengan lainnya, pak Nana muda ini akhirnya dipertemukan jodohnya dengan seorang gadis asal Pandegelang. Sang istri menerima pak Nana dan keadaan fisiknya dengan penuh keikhlasan. Mereka kini sudah dianugerahi empat orang anak, kesemuanya laki-laki. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang sebagian mereka gunakan sebagai warung kecil-kecilan untuk menambah penghasilan pak Nana yang boleh dibilang tidaklah besar, cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya secara sederhana.

Pak Nana adalah sosok lelaki tangguh, begitulah beliau dimataku. Beliau adalah lelaki yang penyayang, penuh tanggung jawab juga seorang hamba yang taat beribadah. Kegigihannya menghidupi keluarga beliau tunjukan dengan tetap bekerja meskipun kemana-mana beliau harus dibantu dengan penopang kayunya. Sebagai sesama jamaah musholla, aku tahu persis ketekunan beribadah beliau.

Satu yang selalu membuatku kagum, hingga menjadikan satu kekuatan yang mendorongku untuk berbuat lebih giat dalam beribadah, adalah ketika setiap kali aku melihat pak Nana mendatangi musholla dengan berjalan tertatih, dibantu penopang kayunya. Kemudian dengan kegigihannya, kulihat beliau berusaha untuk menyempurnakan wudhunya. Bukan perkara mudah untuk beliau bisa membasuh kakinya yang kini tinggal sebelah. Tapi beliau tak pernah menyerah, beliau punya cara sendiri untuk membasuh kakinya dengan bantuan penopang kayunya. Subhanallah, aku selalu berdecak kagum, terharu setiap melihat beliau berwudhu. Meski repot, meski harus bersiap jika terpeleset di lantai yang licin, namun beliu tak pernah menyerah, baginya adalah yang penting bisa sholat, bermunajat kepada Allah dalam keadaan suci.

Tak berhenti rasa haru ini, rasa kagum ini, aku semakin takjub setiap kali melihat pak Nana memasuki mushola dengan cara meloncat-loncat diatas satu kakinya. Bukannya tak ada jamaah yang peduli,tapi beliau lebih senang jika tak merepotkan orang lain. Tanpa bantuan penopang kayunya lagi, beliau memasuki mushola dengan lincah dan tak khawatir terpeleset. Subhanallah, hatiku selalu terharu melihat ini, meskipun ini bukan yang pertama kali, mungkin ratusan bahkan ribuan kali. Dan ketika sampai didalam musholla, pak Nana selalu sholat dengan berdiri, diatas satu kakinya. Subhanallah. Meski kondisinya memberikan keringanan bagi beliau untuk sholat dengan duduk, namun beliau tidak mau menjadi cengeng. Dengan kokoh beliau sholat diatas kaki kanannya. Subhanallah, hati yang mana yang tak tersentuh melihat seperti ini. Begitulah yang kulihat, dan juga jamaah lainnya, sebuah pelajaran berharga kami dapatkan deri pak Nana yang mungkin ia sendiri tak menyadarinya.

Sungguh, kami tiada mencela pak Nana dengan keterbatasannya, bagaimanapun kondisi yang kini beliau hadapi adalah kehendak Allah SWT. Justru kami merasa mendapatkan pelajaran berharga, pelajaran tentang keteguhan hati seorang yang memiliki kekurangan fisik serta ketekunannya beribadah dengan segala keterbatasan fisik yang ada padanya.

Pak Nana, maaf jika aku menulis ini dan berbagi dengan yang lain, sungguh tiada niat hati untuk merendahkanmu, justru aku ingin orang lain mengambil hikmah dan pelajaran darimu tentang nilai keikhlasan yang engkau tunjukan, juga ketekunan beribadah yang engkau jalankan.


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri