Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

9 Aug 2012

Tanda Bintang


Kumandang adzan Ashar terdengar dari mushola saat Fulanah tiba di rumah. Dari raut wajahnya, ia terlihat begitu lelah. Tapi bukan karena itu ia langsung mengurung diri di kamar kostnya. Rasa lelah memang ada, tapi sesal yang mendalam jauh lebih terasa. 

Semua bermula dari spanduk dan poster bertuliskan SALE, BAZAR, DISCOUNT,  dengan tampilan warna dan ukuran huruf  menarik perhatian, yang terpampang di setiap sudut mall yang ia dan rekan-rekannya kunjungi. 

Sebelum berangkat, Fulanah sengaja tak membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak kecuali sekedar untuk ongkos dan membeli beberapa kebutuhan saja. Tapi kartu ATM memang tak pernah lepas dari dompetnya. Sayang, seperti biasa, tiba di mall desakan naluri belanjanya tak bisa ia pungkiri. Ia tak ingat lagi nasihat, mata boleh melihat tapi hati jangan turut terpikat. 

28 May 2012

Yang Jauh Mendekat, Yang Dekat Menjauh

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Benarkah demikian? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung seberapa lama waktu yang dibutuhkan dan apa yang dilakukan selama menunggu. 

Bagi pria muda yang duduk di sebelah kiriku, menunggu tidaklah membosankan, justru menyenangkan. Lima belas menit terlalu singkat untuk ia mengakhiri pembicaraan dengan seseorang melalui telepon selularnya. Entah siapa yang menelpon atau ditelpon, tapi ia terlihat sangat akrab. Pria dan seseorang di ujung sana terpisah jarak yang mungkin sangat jauh, tapi benda kecil itu telah membuat mereka dekat, seolah tiada berjarak. 


14 May 2012

Satu Dari Sekian Jalan




Sejak insiden jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan ‘demo flight’ di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat hari Rabu 9 Mei 2012 lalu, sejak itu pula berbagai media selalu menjadikannya sebagai berita utama. Tidak hanya di televisi dan koran, dalam obrolan di berbagai tempat dan kesempatan, perkembangan berita kecelakaan ini selalu menarik untuk dibicarakan. Begitupun dengan rekan-rekan kerjaku, setiap hari mereka selalu membahasnya, dengan cara pemahaman dan dari sudut pandang yang berbeda. 


11 May 2012

Belajar Tanpa Batas


Seorang tetangga datang saat kami sedang asyik membaca buku.

“Dia sedang belajar” jawabku saat ia bertanya apa yang sedang putriku kerjakan.

Ia heran. “Belajar apa lagi, bukankah ujian sudah selesai?”

“Yang dia pegang bukan buku pelajaran, tapi buku cerita.”

Meski tidakk berkomentar, aku bisa menangkap nada protes di raut wajahnya. “Baca buku cerita kok dibilang belajar!”

***
Seperti sabar yang sebenarnya tidak berbatas, demikian juga pada belajar. Belajar semestinya tidak hanya menjelang ujian, tapi di setiap kesempatan. Tidak hanya pada buku-buku pelajaran, tapi bisa pada sebuah buku cerita bahkan juga pada yang tak berupa tulisan. Tidak hanya di bangku sekolahan, tapi juga di bangku kehidupan. Tidak hanya sekian tahun atau sekian sks, tapi selama hayat masih dikandung badan. Tidak hanya pada orang tertentu, tapi siapapun bisa dijadikan guru. 

8 May 2012

Indah Karena Berbeda


Seorang bocah bertanya pada ayahnya, mengapa pelangi terlihat indah sekali?

“Itu karena warnanya yang berbeda, Sayang”  lembut tangan sang Ayah membelai rambut sang bocah.

Meski tidak sepenuhnya menyimak, si bocah mengangguk saat sang ayah menjelaskan bagaimana ‘titian para bidadari’ itu terbentuk.

Bagaikan matahari dan hujan, keduanya memang tak bersifat satu tujuan. Ketika  hujan telah membasahi bumi, sang matahari justru mengeringkannya lagi. Demikian pula ketika matahari telah berhasil mengeringkan bumi, sang hujan hadir untuk membasahinya kembali. Sekilas memang terlihat bertolak belakang. Tapi sesungguhnya mereka diciptakan bukan tiada kegunaan. Meski satu saat kita tak membutuhkan salah satunya, bukan berarti ia harus dihilangkan. Bagaimanapun, pelangi tak kan muncul bila matahari tak hadir menggantikan kepergian sang hujan.

3 May 2012

Bukan Buruh Biasa

“Apa yang paling sering kau ingatkan pada anakmu?”

Itu pertanyaan kesekian yang Lukman ajukan pada Yahya. Keduanya adalah sahabatku, sesama jamaah mushola. Seputar anak menjadi topik obrolan kami malam itu, hingga tiba waktu isya. Dan aku bersyukur ada di antara keduanya, karena dari obrolan mereka kesadaranku kembali terbuka.

“Sholat dan belajar,” jawab Yahya.

Tentang sholat aku tak ingin bertanya lagi, aku sendiri mengalami. Meski sudah memasuki usia baligh, ternyata tidak serta merta menumbuhkan kesadaran putriku untuk selalu menjalankan sholat tepat waktu. Dengan berbagai alasan, seringkali ia menunda-nunda ( jangan-jangan kitapun juga. Astaghfirulloh! ). Dan sebagai orang tua, kita tak boleh bosan untuk mengingatkannya. Kewajiban memang sudah melekat padanya, tapi mengingatkan adalah kewajiban kita selaku orang tuanya.


23 Apr 2012

Jangan Gelapkan Yang Sudah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku yang ditulis oleh Raden Adjeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dan kita tak bisa menutup mata terhadap sejarah yang mencatat perjuangan beliau dalam menempatkan kaum wanita pada hak dan kewajiban yang semestinya.

Jangan gelapkan yang sudah terang. Ini bukanlah judul sebuah buku, tapi mungkin akan dituliskan oleh Kartini bila beliau masih hidup di jaman sekarang, dimana emansipasi banyak disalahartikan, juga disalahtempatkan. Emansipasi sering dipahami sebagai sebuah kebebasan yang seolah tidak ada aturan. Sungguh, kebebasan yang kebablasan. 


21 Nov 2011

Silaturrahim Di Mata Remaja Masa Kini

Bulan Dzulhijjah sudah sampai pada minggu terakhir, tapi beberapa acara hajatan masih terus bergulir. Setidaknya, masih ada tiga undangan yang mengharapkan saya dan keluarga untuk hadir. Ketiganya adalah undangan pernikahan. Alhamdulillah, semoga mereka yang telah melangsungkan pernikahan, Allah jadikan keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Juga bagi mereka yang hendak melangsungkan pernikahan, semoga Allah memudahkan semua perkara dan melancarkan semua urusan. Dan bagi yang belum bertemu dengan jodohnya, segera Allah pertemukan dengan jodoh yang akan mendatangkan ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan dunia hingga akhirat. Amin.

Teringat waktu masih kecil, sering saya diajak orang tua untuk ikut ke tempat saudara yang sedang mengadakan hajatan. Tentu saja saya sangat senang. Pikiran saya waktu itu memang tak bisa lepas dari berbagai jenis makanan dan minuman yang bakal dihidangkan. Tapi ada hal lain yang orang tua saya tanamkan dan sekarang saya pahami, yaitu silaturrahim. 

20 Oct 2011

Lupa: Nikmat Yang Sering Terlupa

Hari yang indah, itu semestinya. Tapi bisa jadi sebaliknya, bila di awal hari seorang suami marah-marah karena sang istri lupa membangunkan lebih awal, padahal rapat penting di kantor akan dimulai pagi-pagi sekali. Atau seorang pelajar harus menerima hukuman, berdiri di depan kelas karena lupa membawa PR nya. Juga seorang atasan yang tidak bisa untuk tidak marah pada staffnya yang lupa mengirimkan email penting kemarin sore, sebelum pulang kerja.

Anda pernah melihat kejadian seperti yang saya tuliskan di atas? Atau bahkan Anda mengalaminya sendiri?

LUPA. Satu hal yang manusiawi. Setiap orang pernah mengalami. Namun tidak setiap orang bisa menyikapi dengan cara yang sama. Kejadian di atas misalnya, bukan sebuah kesengajaan bila seorang istri tidak membangunkan sang suami lebih awal, sesuai permintaanya sebelum tidur. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan termasuk menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak membuat ia benar-benar lupa untuk membangunkan suami lebih awal agar datang di rapat kantor tepat pada waktunya. 


11 Feb 2011

Sudah Latah, Lebay Lagi!

Malam belumlah terlalu larut, baru pukul sembilan, tapi Pa’e sudah menggelar kasur lantai tak jauh dari Genduk yang sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia. Sebenarnya Pa’e belum ngantuk, tapi sepertinya Pa’e lagi suntuk.

“ Kenapa tivinya dimatiin, Pa’e? “ tanya Genduk heran.

“ Lama-lama nonton tivi bikin kita mangkel. Di sana sinetron, di sini sinetron. Latah! Lebay! “ jawab Pa’e kesel.

22 Mar 2010

Tiga Pelajaran Dari Satu Pengajian

Minggu, jam delapan pagi. Semestinya acara tabligh akbar sudah dimulai karena jadwal yang tertulis di spanduk besar bergambar seorang da’i kondang, acaranya dimulai tepat pukul tujuh pagi. Namun, sama sepertiku, sebagian besar jamaah berpikiran bahwa tak mungkin acara dimulai tepat waktu sehingga tak perlu tergesa-gesa ataupun takut ketinggalan acara, meskipun sudah terlambat satu jam lamanya. Dan sama juga seperti panitia yang tak kunjung memulai acara meski hari semakin siang dan hampir tak ada lagi jamaah yang baru datang. 

Pukul setengah sepuluh rangkaian acara tabligh akbar baru dimulai. Diawali dengan pembukaan, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Acara berikutnya adalah penampilan grup rebana dari jamaah pengajian setempat, dan seterusnya diisi dengan sambutan dari ketua DKM dan ketua panitia. Pukul sepuluh, semua acara pembuka sudah selesai, tinggal masuk ke acara inti yaitu tauziah yang akan disampaikan oleh sang da’i. Namun sampai ketua panitia selesai memberikan sambutan, sang da’i belum juga datang. Pembawa acara memohon kepada jamaah agar bersabar sebab sang da’I sedang dalam perjalanan. Sambil menunggu sang da’i datang, pihak panitia kembali meminta grup rebana untuk mengisi acara dengan senandung shalawatnya. Lebih dari lima lagu, sang da’i belum juga datang dan sang pembawa acara lagi-lagi meminta jamaah untuk sabar karena sang da’i sedang dalam perjalanan.

Menjelang jam sebelas, pembawa acara kembali memberitahukan bahwa rombongan da’i sudah datang, namun harus singgah dulu di salah satu rumah panitia untuk beristirahat sebentar. Tiga buah lagu kembali disuguhkan untuk mengisi waktu sekaligus menenangkan jamaah yang sudah mulai tak sabar karena lama menunggu di bawah tenda yang semakin panas.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Sebelum sang da’i menyampaikan tauziahnya, kembali pembawa acara menyampaikan beberapa patah kata. Barangkali sekedar memberitahukan bahwa sang da’i sudah siap untuk memberikan tauziahnya, begitu pikir para jamaah. Namun yang terjadi bukan itu. Dengan singkat, sang pembawa acara memberitahukan bahwa sang da’i berhalangan hadir karena sakit. Dan sebagai gantinya sang da’i mengutus sahabatnya yang juga seorang da’i untuk memberikan tauziah siang itu. Pengumuman yang sama sekali tak disangka oleh jamaah ini disambut dengan suara riuh, bahkan sebagian dari jamaah akhirnya memilih bubar, tak lagi peduli dengan da’i yang baru saja naik ke atas panggung. Jamaah kecewa, merasa dibohongi.

**

Minimal ada tiga pelajaran yang kupetik dari mengikuti pengajian siang itu. Tiga hal yang sering kita jumpai dan harus segera dibenahi, yaitu soal waktu, niat dan kejujuran.

Waktu. Wal Ashr, demi masa / waktu. Sering kita mendengar ayat ini dalam berbagai kesempatan, namun sayangnya pemahaman kita sering hanya berhenti di artinya saja. Kita sering tidak disiplin dengan waktu, menganggap bahwa kita masih memiliki banyak waktu seolah kitalah yang mengatur dan menentukannya. Aku dan sebagian besar jamaah yang datang terlambat, juga pihak panitia yang tak menepati susunan acara yang dibuatnya sendiri atau bahkan mungkin sang da’i yang juga datang tidak tepat waktu adalah bukti bahwa kita masih belum bisa menghargai dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Semestinya aku dan seluruh jamaah sudah berada di lokasi sebelum jam tujuh pagi, sesuai dengan jadwal acara yang ditentukan panitia. Atau semestinya panitia tidak menganggap bahwa jamaah pasti akan datang terlambat sehingga di spanduk mereka tulis acara akan dimulai pukul tujuh, meskipun mereka tahu sebenarnya acara baru akan dimulai pukul sembilan. Seandainya aku tahu acara akan dimulai sesiang itu, tak mungkin aku meninggalkan pengajian rutinku hanya untuk duduk menunggu. Ah, sesal memang tak pernah di awal.

Niat. Apapun yang kita lakukan, nilainya tak bisa dipisahkan dari niat ketika akan melakukannya. Kita mengikuti sebuah pengajian semestinya bukan semata karena melihat siapa yang akan memberikan tauziah, tapi lebih kepada apa yang disampaikan sehingga bisa dijadikan pelajaran bagi kita. Jamaah yang memilih bubar ketika mengetahui sang da’i yang mereka idolakan tak bisa datang adalah bukti bahwa niat mereka mendatangi pengajian ini masihlah karena figur sang da’i, bukan karena ingin mengaji. Aku memahami kekecewaan mereka, namun aku menyayangkan keputusan mereka. Sayang sekali, setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba kita pulang dengan tak sedikitpun ilmu yang kita dapatkan. Bahkan duduknya kita di majelis ilmu tak menjadi ibadah karena niat kita yang salah. 

Kejujuran. Sampaikanlah kebenaran meskipun itu terasa berat dan pahit. Begitu kita sering mendengar ungkapan, bahkan kita sendiri sering mengucapkan. Pemberitahuan secara mendadak yang disampaikan pihak panitia, menurutku adalah salah satu ketidak jujuran mereka. Aku memang tidak sepenuhnya yakin dengan pendapat beberapa jamaah di sekitarku yang mengatakan bahwa semua ini hanya rekayasa panitia dengan ‘berpura-pura’ mengundang sang da’i untuk menarik minat jamaah. Atau pendapat jamaah lainnya yang mengatakan bahwa sang da’i berpura-pura sakit untuk menutupi keengganannya hadir di majelis yang hanya dihadiri orang-orang tak penting dan juga imbalan yang kecil. Astaghfirulloh, aku tak berpikir sejauh itu, bagaimanapun kita ( termasuk panitia ) hanyalah bisa berencana, tapi Allahlah yang menentukan akhirnya. 

Namun, aku juga menyayangkan pihak panitia yang tidak berterus terang dari awal. Hampir tidak mungkin pihak panitia tidak tahu jika sang da’i berhalangan hadir ( jika memang benar begitu adanya ). Terlalu banyak teknologi komunikasi untuk sekedar memastikan bahwa sang da’i bisa datang atau perjalanan sudah sampai dimana. Kenyataannya yang ada adalah, setelah jamaah menunggu lebih dari tiga jam, saat rombongan da’i datang, pembawa acara masih menyebut-nyebut nama sang da’i. Baru setelah sampai pada acara inti, panitia mengabarkan bahwa sang da’i tidak bisa hadir karena sedang sakit. Tak mudah bagi jamaah menerima berita ini secara tiba-tiba. Aku sendiri menyayangkan, mengapa kabar ini tidak disampaikan sejak awal. Kalaupun panitia berpikiran bahwa jika ini diberitahukan, makan jamaah akan kecewa dan memilih pulang, itu tidak bisa dipastikan. Kenyataannya, pemberitahuan mendadak justru membuat sebagian jamaah meresa sangat kecewa dan merasa dibohongi.

**

Beberapa menit menjelang azan zhuhur, acara tabligh akbar ini pun berakhir. Tak lebih dari satu jam sang da’i pengganti memberikan tauziahnya kepada jamaah yang sudah menunggu lebih dari empat jam. Dan, lagi-lagi sebagian jamaah merasa kecewa. Ah, ternyata masih banyak yang harus segera dibenahi lagi.

1 Mar 2010

Jika Cinta Nabi

“Kemarin di sekolah pak guru nanya, siapa yang cinta nabi Muhammad saw?” putriku membuka pembicaraan malam itu, usai mengerjakan tugas agamanya.

“ Terus?” tanyaku sambil memeriksa hasil pekerjaan rumahnya

“Semua tunjuk jari. Kemudian pak guru nanya lagi, apa bukti kalau kalian cinta nabi Muhammad saw?”

“ Kalian jawab apa?”

“ Tidak ada yang menjawab, semua diam. Termasuk aku!”

***

Pertanyaan yang sama, apakah kita mencintai nabi kita, nabi Muhammad saw? Dengan mantap kita pasti akan menjawab, ya! Tapi jika ditanya, apa bukti kalau kita mencinta nabi Muhammad saw, maka terkadang kita seperti anak kecil yang bingung dan membingungkan. Kita bingung menunjukan bukti kecintaan kita pada sang nabi karena perbuatan kita yang terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan.

Banyak cara dan acara yang digelar dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw. Apakah ini sebuah bukti kecintaan kita pada sang nabi? Tentu saja! Begitulah jawaban mereka yang melakukannya. Namun benarkah ini bukti cinta kita pada sang nabi? Belum tentu di mata Allah dan sang nabi. 

Rosululloh mencontohkan kita untuk bersedekah dengan harta kita, tapi bukan dengan cara mubazir, menghanyutkan ke laut misalnya. Untuk apa dan untuk siapa? Bukan pula dengan cara untuk diperebutkan hingga tak jarang menimbulkan kericuhan. 

Rosululloh menyuruh kita untuk mencari ilmu, meskipun umpamanya sampai ke negeri China. Mengadakan dan mengikuti pengajian adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan agama kita. Tapi bukan kemudian mengotori masjid dengan berbagai sampah makanan dan minuman. Bukan pula dengan melalaikan sholat shubuh lantaran pengajian diadakan hingga larut malam.

Rosullloh tak pernah memberikan contoh atau perintah khusus untuk merayakan hari kelahiran beliau. Kalaupun kemudian ada yang mengadakan berbagai acara dalam rangka memperingati hari kelahiran beliau, meski sebagian mengatakan itu bid’ah namun sebagian lagi menganggap acara-acara yang mereka gelar hanya sekedar memanfaatkan momen ini untuk mengarahkan semangat kaum muslim ke jalur yang benar dan lebih bermanfaat. Semua tentu kembali bagaimana niat dan tata caranya.

Ada satu hal yang terkadang kita lupakan, padahal itulah inti sesungguhnya dari momen peringatan hari kelahiran nabi. Peringatan hari kelahiran nabi semestinya menjadikan kita lebih dekat dengan sosok mulia beliau. Bukan sekedar menyegarkan ingatan kita akan sejarah hidup beliau, tapi membangkitkan semangat kita dalam meneladani segala akhlak dan perbuatan beliau yang sangat mulia.

Jika benar kita cinta nabi, semestinya kita tahu apa dan bagaimana sosok sang nabi, akhlaknya dan segala kemuliaannya. Jika benar kita cinta nabi, semestinya akhlak dan perbuatan kita didasarkan pada contoh yang beliau berikan. 

Jika kita cinta nabi, semestinya ibadah wajib tak pernah kita tinggalkan karena ibadah sunnahpun senantiasa kita jalankan. Ibadah bukan lagi sekedar kewajiban, tapi kebutuhan. Rosululloh yang sudah dijamin Allah masuk syurga saja sangat taat dan tekun beribadah, apalagi kita yang masih berlumur dosa seharusnya memastikan segala tingkah laku kita menjadi amalan yang bernilai ibadah.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang sangat memuliakan orang tua, menghormati tamu dan tetangga dan menjaga akhlak dalam pergaulan, bukan menganggap orang tua hanya sebagai beban, tamu atau tetangga hanya akan merepotkan sementara teman hanya sekedar tempat untuk kita meminta bantuan. 

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, bukan membesar-besarkan permusuhan, apalagi sampai mewariskan dendam pada keturunan.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita peduli dengan kesusahan yang dialami tetangga kanan kiri kita, bukan menganggap kesulitan mereka sebagai urusan mereka, diluar urusan rumah tangga kita.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi seorang dermawan yang gemar membantu kaum fakir miskin, bukan dengan mudah memberikan label malas pada mereka tanpa kita memberikan bantuan apa-apa.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita mengasihi anak-anak yatim, bukan membiarkan mereka dengan anggapan toh masih ada kerabat yang lebih wajib mengurus segala keperluannya, sementara kita hanya orang lain yang tak ada pertalian darah dengan mereka.

Kita memang hanyalah manusia biasa yang tak sesempurna rosululloh, namun kita bisa meneladani beliau sampai batas maksimal kemampuan kita. Mari kita jadikan momen peringatan maulid nabi ini sebagai titik awal untuk mengikuti jejak-jejak syurga sang nabi. Mari kita rubah senandung harian kita dengan shalawat. Sesungguhnya rosululloh tak memerlukan doa kita, tapi kitalah yang membutuhkan syafaat dari beliau.

Allohumma sholli ala Muhammad ya robbi sholli alaihi wasalim 

15 May 2009

Berjilbab Jangan Setengah-Setengah!

Dulu, setiap kita melihat atau berjumpa dengan muslimah yang berjilbab, maka hati akan merasa sejuk, tentram dan nyaman, tapi belakangan bukan perasaan itu yang muncul, melainkan rasa prihatin yang meresahkan. Betapa tidak, masih banyak muslimah yang sepertinya belum ‘paham’ dan belum ‘sadar’ dengan cara ‘berjilbab’ mereka.

Seringkali kita dapati muslimah-muslimah yang pakaiannya sih jilbab, tapi tingkah lakunya sama sekali ngga ngelink dengan pakaian yang dikenakannya. Atau mereka seolah-olah berjilbab, tapi tutur sapanya bukan tutur kata seorang muslimah.

Beberapa kali ( sering malah ), saat berangkat kerja aku bertemu atau melihat para siswi sekolah yang ‘terpaksa berseragam ala jilbab’ membonceng motor teman laki-lakinya dengan posisi menghadap ke depan ( seperti laki-laki ). Saya katakan terpaksa, sebab seandainya mereka mengenakan jilbab itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan, maka tidak mungkin mereka bertindak seperti itu.

Juga pakaian-pakaian ‘seperti’ jilbab yang ketika dipakai maka warna kulit pemakainya akan terlihat, kini banyak digemari kaum hawa hanya karena alasan modis. Atau juga pakaian-pakain ‘menyerupai’ jilbab yang malah lebih menunjukan lekuk tubuh ketimbang pakaian biasa yang nyata-nyata tidak mengaku sebagai jilbab.

Lalu, haruskah jilbab itu ditanggalkan, dan lebih baik sama sekali tidak memakai pakaian yang bisa dikatakan jilbab? Bukan, bukan itu yang diinginkan. Berjilbab cara ini ( seolah jilbab ) boleh saja, jika itu dijadikan masa transisi ( karena untuk sebagian muslimah masih merasa malu dan tidak pede untuk merubah penampilannya secara total dan drastis ). Lebih baik memakai pakain ‘ala jilbab’ jika itu dijadikan penghantar untuk membiasakan diri memakai jilbab yang syari. Tapi jangan keterusan dong…. Yang dikhawatirkan ( dan sepertinya memang mengarah kesana ) bahwa makna jilbab itu akan berubah. Yang ditakutkan adalah bahwa kerudung ( jilbab ) tak lebih dari variasi tutup kepala, dimana atas di tutup tapi tengah ke bawah dibiarkan terbuka.
Jadi, jika berjilbab sudah menjadi kewajiban muslimah, mengapa masih saja ragu untuk menjalankannya. Tak takutkah dengan resiko jika kewajiban itu sengaja dilanggar? Dan jika sudah menyadari kewajiban, mengapa masih setengah-setengah, bukankah berjilbab membawa kebaikan? Lalu alasan apa lagi untuk tidak mengenakan pakaian jilbab yang sebenarnya sesuai tuntunan agama?

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri