20 Sept 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H



Sekuat tenaga kujaga kaki ini,
tetap saja terkadang salah melangkah pergi
Sekuat tenaga kujaga tangan ini,
tetap saja terkadang salah melenggang tanpa kusadari
Sekuat tenaga kujaga lisan ini,
tetap saja terkadang tergelincir kata-kata tak terkendali
Sekuat tenaga kujaga telinga ini,
tetap saja terkadang masuk rayuan syetan membisiki
Sekuat tenaga kujaga mata ini,
tetap saja terkadang melihat yang bukan hak diri
Sekuat tenaga kujaga hati ini,
tetap saja terkadang aku masih merasa tinggi

Karena salah kata yang ku ucap
Karena salah laku yang kuperbuat
Dan karena salah sangka yang kuduga
Tak ada kewajibanku selain meminta maaf
Atas semua salah dan khilaf

Di hari nan fitri ini
Seraya memohon ampun pada Illahi
Ijinkan kutunaikan yang menjadi hak adami
Maafkan segala salah dan khilaf diri
Dengan segenap ketulusan hati

Selamat Idul Fitri 1430 H
Taqobalallohu minna wa minkum, syiamana wa syiamakum
Semoga Allah menerima amal kita, puasa kita.
Amin Ya Allah Ya Robbal Alamin

11 Sept 2009

Bersedekah Kepada Si Miskin, Berterima Kasih Kepada Si Kaya

Pak Darma ( bukan nama sebenarnya ) bukanlah orang kaya. Secara ekonomi, kehidupan keluarganya justru bisa dibilang pas-pasan. Pak Darma adalah karyawan sebuah perusahaan swasta, sedang sang istri hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Pak Darma tinggal bersama istri dan putri tunggalnya di sebuah rumah kontrakan yang ( juga ) sangat sederhana.

Meski kehidupan keluarga Pak Darma sangat sederhana, tetapi keluarga ini dikenal masyarakat sekitar sebagai keluarga yang murah hati. Setiap ada tetangga yang memerlukan bantuan, selalu saja ada yang mereka berikan. Setiap ada kegiatan amal, mereka tak pernah ketinggalan. Intinya, sekecil apapun mereka akan berusaha membantu, berbagi dengan tetangga-tetangganya.

Malam itu, Bu Darma sedang menyusun daftar kerabat dan tetangganya yang akan dia berikan bingkisan lebaran sebagaimana biasa mereka lakukan tiap tahunnya, ketika Pak Darma pulang dari tadarus di Mushola. Usai menjawab salam, sang istri langsung menyambut dan mencium tangan sang suami. Kebetulan daftar yang ia susun sudah selesai.

Pak, Ibu sudah menyusun daftar dan membuat anggaran untuk bingikisan lebaran nanti. Mulai tahun ini, Ibu tambahin satu ya Pak?”

Siapa Bu? “ tanya Pak Darma sambil duduk disebelah sang istri.

Ust. Rohman ( bukan nama sebenarnya ) “ jawab sang istri sambil menyodorkan selembar kertas kepada Pak Darma.

Ust. Rohman? “ tanya Pak Darma ragu, tapi memang dia mendapati nama itu di daftar yang disusun sang istri.

Iya, betul. Kenapa Pak, nda boleh? “ tanya sang istri, hatinya harap-harap cemas kalau-kalau sang suami tidak setuju dengan idenya.

Boleh, boleh saja. Tapi, ust. Rohman itu kan lebih kaya dari kita

Memang nda boleh kita ngasih bingkisan ke orang kaya Pak?” bu Darma agak merasa lega karena sang suami sebenarnya mengizinkan, hanya belum paham dengan yang dia pikirkan. Kini tinggal bagaimana caranya dia menjelaskan idenya, dan dia yakin Pak Darma akan setuju. Dia tahu betul watak suami yang telah menikahinya selama 10 tahun.

Bukan, bukan begitu maksudku Bu. Apa nanti kita nda dianggap menghina, apalagi bingkisan kita itu kan cuman bingkisan sederhana, bukan parcel seperti yang biasa dikirim dari dan untuk orang-orang kaya dilingkungan sini. Atau takutnya kita malah dikira mengharapkan lebih dari yang kita berikan

Bapak ini. Beliau ini kan seorang ustadz, nda mungkinlah beliau berpikiran seperti itu. Maksud ibu gini lho Pak. Selama ini bapak dan si Rahma ( bukan nama sebenarnya ) kan ngaji di tempat ust. Rohman. Selama ini Bapak kalau ngaji disana, jarang sekali membawa kue atau cemilan untuk teman minum kopi usai pengajian. Sedang si Rahma tiap bulan paling hanya membayar Rp. 10.000,00. Itupun sekedar untuk membantu membayar listrik.

Iya juga sih, terus? “ jawab Pak Darma manggut-manggut. Sang istripun jadi semangat, ia yakin kalo sang suami kini akan mendukung idenya.

Nah, nda ada salahnya kan, kalau lebaran nanti kita memberikan sekedar bingkisan, itung-itung tanda terima kasih kita karena selama ini sudah mendapat banyak ilmu dari beliau. Bapak tahu kan, waktu pertama ngaji Rahma baru baca juz Ama ,tapi sekarang sudah Al Quran, malah sudah sampai juz ke 10. Belum lagi Bapak, sejak ngaji di tempat Ust. Rohman, pengetahuan agama Bapak jauh lebih luas, dan ibu bisa belajar dari Bapak

Iya ya, kok aku nda kepikiran sampai ke situ ya. Malah gini Bu, bingkisan untuk ust. Rohman ibu tambahin kuenya lagi, kan yang ngaji di sana bukan cuma Rahma, tapi aku juga. Aku yakin kalau ust. Rohman nda bakal mikir macem-macem. Kalaupun beliau dan keluarganya tidak membutuhkan atau sudah memiliki kue yang cukup untuk lebaran, beliau lebih tahu kemana harus disalurkan. Makasih Bu, ibu sudah membukakan hati dan pikiran Bapak. Bagus bila kita bersedekah kepada yang miskin, tapi tak ada salahnya juga kita menunjukan rasa terima kasih kita kepada orang yang telah berjasa bagi kita, meskipun dia sudah kaya.”

Alhamdulillah, bapak sudah paham dengan yang ibu maksud. Makasih ya Pak. Sekarang, mana uang yang akan ibu belanjakan kue dan sirup untuk bingkisan, masa mau makai uang belanja Ibu.” Kata Bu Darma sambil tersenyum manja. Sang suamipun tersenyum, meraih pundak sang istri dan mencium keningnya dengan penuh cinta.

Begitulah, kehidupan keluarga pak Darma. Sederhana namun tak pernah lupa untuk bersedekah. Kehidupannnya yang pas-pasan tidak dijadikan alasan untuk tidak berbagi dengan sesama. Keluarga Pak Darma sadar betul, bahwa dibanding mereka, masih banyak keluarga-keluarga lain yang tidak seberuntung mereka. Bagi mereka, bukan seberapa banyak yang bisa mereka berikan, tapi seberapa banyak orang yang bisa mereka bantu. Selama ada yang bisa mereka bagi dengan orang lain, jangankan orang miskin, dengan orang yang lebih berkecukupanpun mereka mau berbagi, terlebih kepada mereka yang telah berjasa.

Sungguh keluarga yang dermawan. Kita bisa mengambil pelajaran bahwa sebuah pemberian tergantung dari niatnya. Tak selamanya memberi kepada yang miskin bisa disebut sedekah, kalau niatnya untuk riya. Juga, memberi kepada yang sudah mampu tidaklah selamanya disebut suap, tanda terima kasih jelas tidak ada salahnya. Semua tergantung niat dan keikhlasan kita berbagi.

10 Sept 2009

Repotnya Mudik, Indahnya Silaturahmi

Repot!. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan mudik. Betapa tidak, jutaan orang secara hampir bersamaan mengadakan pulang kampung menjelang hari lebaran. Meski kampung atau kota yang dituju berbeda-beda, tetap saja jalur yang ditempuh itu-itu juga, sehingga kemacetan lalu lintas menjadi hal yang pasti terjadi saat musim mudik tiba. Setiap pemudik, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi, akan dihadapkan pada kemacetan yang melelahkan bahkan terkadang menjengkelkan, terutama hari-hari terakhir menjelang lebaran.

Ancaman panjang dan lamanya kemacetan, tingginya biaya perjalanan, dan mepetnya waktu libur yang diberikan perusahaan terkadang memaksa sebagian orang menunda kepulangan hingga usai lebaran. Aku sendiri, sampai menjelang bulan Ramadhan kemarin masih berencana merayakan lebaran di Tangerang-kota dimana kami mencari penghidupan-sama seperti dua kali lebaran sebelumnya. Sebenarnya kalau sekedar macet, aku yang sudah terbisa kemana-mana menggunakan angkutan umum, bukanlah hal yang perlu ditakutkan, hidangan sehari-hari. Juga kalau soal libur, yang sudah-sudah perusahaan tempatku bekerja selalu memberikan waktu yang cukup untuk mudik. Tapi kalau soal keuangan, barangkali itulah yang ‘memaksa’ kami merubah jadwal kepulangan, mungkin saat lebaran Haji atau libur sekolah akhir tahun nanti.

Jauh-jauh hari, rencana ini sudah aku sampaikan kepada anak dan istri, juga ketika ayah dan ibu berkunjung ke Tangerang dua bulan yang lalu. Mereka bisa memaklumi, dan kembali mengizinkan kami berlebaran di Tangerang. Apalagi, tidak lama lagi mereka berencana akan ke sini lagi, menghadiri pernikahan salah satu keponakanku di Bekasi. Dan, seperti yang sudah-sudah pula, mertuakupun ‘manut’ saja dengan pilihan kami.

Tapi telepon ibu di hari terakhir bulan Sya’ban kemarin, serta merta merubah keputusanku. Ibu memang merestui kami berlebaran di Tangerang lagi, tapi aku merasa, ada perasaan tertahan dibalik suara ibu saat itu. Aku adalah anak bungsunya, keempat kakak-kakakku sudah bisa dipastikan tidak bisa pulang lebaran tahun ini. Bagaimana mungkin, ibu merayakan lebaran tanpa ada anak dan cucu-cucunya. Kalaupun ada kakakku yang tinggal di kampung jelas berbeda rasanya, karena mereka hampir setiap hari bertemu dan berkumpul. Aku bisa merasakan, betapa sedihnya hati ibu jika benar-benar harus berlebaran tanpa kehadiran anak dan cucunya yang di perantauan. Hanya saja, ketabahan seorang ibu yang membuatnya mampu menutupi perasaan sedihnya dariku.

Suara tertahan ibu terus terngiang di telingaku. Terlebih ketika di kantor aku ngobrol dengan temanku, Hunaeni yang asli dari Sulawesi. Dia berencana akan merayakan lebaran tahun ini dikampung halamannya. Aku semakin berfikir, dia yang lebih jauh dan sudah pasti membutuhkan biaya jauh lebih banyak dariku, berniat pulang kampung demi berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan kerabat. Aku semakin memikirkan ibuku. Dan sebelum sholat jum’at hari terakhir bulan Syaban, aku memutuskan untuk berlebaran dikampung halaman bersama ibu, bapak dan juga kerabat. Masalah biayanya, wallohu’alam, aku pasarahkan saja sama Allah, Yang Maha Kaya. Bukankah silaturahmi itu selain memperpanjang umur juga memudahkah rizki, itulah satu-satunya yang menjadi penyemangatku.

Menjelang berangkat sholat tarawih hari pertama di Musholla, aku sampaikan keinginanku untuk berlebaran dikampung kepada istri dan anakku. Anakku langsung melonjak kegirangan, kecuali istriku yang meskipun gembira mendengar rencanaku, tapi dia sempat bertanya mengenai biaya selama mudik.

“Tenang saja, Insya Allah nanti ada” begitu jawabku mantap, meskipun aku tahu pasti sampai saat itu kami tidak memiliki tabungan sama sekali.

Ketika aku menelpon ibu di sahur hari pertama puasa, aku masih belum memberitahu ibu kalau kami berencana mudik tahun ini. Baru hari kedua, kusampaikan kabar gembira itu. Aku sengaja memberitahu rencanaku ini pada ibu, agar ibu bahagia dan juga terutama untuk mendapatkan doa dan restunya. Bukankah doa dan restu orang tua akan membuka jalan kemudahan bagi kita, termasuk masalah keuangan yang saat itu masih masalah utama bagiku.

Dan Alhamdulillah, semenjak aku mengatakan niatku berlebaran di kampung, aku selalu mendapati suara ceria ibu di telpon saat sahur setiap hari. Dan, restu dari ibu juga ayah, aku rasa benar-benar telah membuka jalan kemudahan bagiku.

Diawali dengan pengumuman perusahaan yang memberikan libur lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya libur hanya satu minggu, tahun ini perusahaan meliburkan seluruh karyawannya selama dua minggu, satu minggu sebelum dan satu minggu sesudah lebaran.

Kemudian, dari segi keuangan, Alhamdulillah beberapa kali aku merasakan ‘keajaiban’. Mulai dari datangnya rejeki dari sesoerang yang tak pernah kuduga sebelumnya, sampai kerja lembur yang sejak krisis global melanda di awal tahun 2009 menghilang, tiba-tiba aku mendapat kesempatan untuk kerja lembur. Juga soal biaya perjalanan mudik, libur perusahaan yang lebih awal dan terhitung masih jauh dari hari H, jelas menguntungkan karena harga tiket bus masih menggunakan harga biasa. Untuk keperluan balik, aku sudah meminta kakakku yang dikampung untuk memesankan tiket bus jauh-jauh hari di awal puasa. Alhamdulillah tiket untuk balik ke Tangerang kini sudah di tangan dengan harga yang sesuai dengan kantongku.

Alhamdulillah, segala kemudahan dan terbukanya pintu rizki itu benar-benar aku rasakan, semenjak aku putuskan untuk pulang kampung, merayakan lebaran dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Aku makin percaya, bahwa silaturahmi bisa memanjangkan umur dan memudahkan rezeki. Repotnya mudik, tidak akan berarti apa-apa, semua akan lenyap tergantikan dengan indahnya silaturahmi.

Semoga Allah memudahkan perkaraku, dan melancarkan urusanku. Ayah, Ibu……kami akan pulang untukmu, menikmati indahnya silaturahmi bersamamu.

Tangerang, 19 Ramadhan 1430 H

3 Sept 2009

Sejujurnya Kita Ini Kecil dan Penakut!


Gempa yang terjadi Rabu siang ( 2/09/09, 14.55 WIB ) kemarin, bukan saja menjadi topik utama berita di internet dan televisi, tapi juga menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan dengan keluarga dan tetangga. Usai tarawih, di musholla sampai kembali ke rumah, obrolan seputar kejadian gempa yang terjadi di Tasikmalaya dimana kekuatannya mencapai 7.3 skala richter itu masih menarik untuk diperbincangkan. Masing-masing menceritakan kekagetannya saat gempa itu terjadi. Ada yang langsung berlari keluar rumah, kantor atapun gedung, tapi ada juga yang malah tidak tahu harus berbuat apa, kecuali hanya terpaku, gemetar saking kagetnya.

Apapun reaksi kita saat gempa itu terjadi, semuanya berawal dari hal yang sama yaitu kaget. Apapun alasannya, kepanikan kita saat gempa kemarin terjadi, sebenarnya bukti nyata bahwa kita ini adalah seorang yang kecil dan penakut. Betapa tidak, ketika Allah mengguncangkan bumi ini hanya dengan sedikit goncangan, bahkan kecil sekali dibandingkan dengan goncangan saat kejadian kiamat kelak, kita sudah begitu panik dan ketakutan. Tapi seringkali kita tak pernah mau jujur pada diri sendiri. Kita kerapkali menjadi angkuh dan bertindak sok kuasa, berbuat semena-mena kepada sesama, menganggap remeh dosa-dosa kecil tanpa memikirkan betapa besarnya Dzat yang kita tantang.

Gempa yang terjadi cukup kencang dan lama kemarin, belumlah tentu sebuah azab dari Allah, ini subjektif. Bagi orang-orang yang telah menyimpang dari jalan Allah, berbuat maksiat dan kemungkaran disetiap saat setiap tempat, bencana alam termasuk gempa bisa jadi sebuah azab. Tapi bisa juga sebuah peringatan bagi manusia yang sudah mulai melupakan kewajiban utamanya di dunia ini yaitu beribadah kepada Allah SWT. Selain itu bisa saja ini sebuah ujian, terutama bagi mereka yang akan dinaikkan derajatnya karena keimanannya.

Lalu, apakah arti bencana itu bagi diri kita? Kiranya kita bisa menjawabnya sendiri-sendiri. Caranya, mari kita koreksi diri kita masing-masing, seberapa dekatkah kita dengan sang Maha Segalanya. Benarkah kita telah berada di jalan yang benar, menuju tujuan yang benar dan berjalan dengan cara yang benar. Atau malah sebaliknya?.

Turut berbela sungkawa dan duka yang mendalam, untuk saudara-saudaraku yang menjadi korban gempa Tasikmalaya. Semoga, mereka yang meninggal dunia, kembali kepada Sang Maha Pencipta dalam keadaan khusnul khotimah. Bagi yang menderita luka-luka, semoga senantiasa diberikan kesabaran, ketabahan dan segera diberikan kesembuhan. Bagi yang kehilangan harta dan benda, semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik, lebih barokah. Amin Ya Robbal Alamin.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri