Showing posts with label Pa'e dan Bu'e. Show all posts
Showing posts with label Pa'e dan Bu'e. Show all posts

30 Aug 2010

Berat Ringan Tergantung Ilmu

Pa’e dan Bu’e baru saja selesai sholat tahajud ketika jam weker di atas meja berbunyi. Kriiiiing............jeritan weker tua itu semakin lama semakin nyaring. Bu’e beranjak mematikan jam weker bulat bergambar burung hantu, kemudian melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan sahur.

Setiap malam sebelum tidur, Pa’e tak lupa menyetel jam weker kesayangannya agar berbunyi tepat jam 03.30. Tapi selalu saja Pa’e dan Bu’e bangun lebih dulu, setengah jam sebelum jam weker menjalankan tugasnya. Mereka sudah terbiasa bangun malam dan sholat tahajud. Kalaupun Pa’e tetap menyetel jam weker, itu hanya sekedar untuk berjaga-jaga agar mereka tidak melewatkan makan sahur yang penuh barokah.

“ Tumben suasana malam ini sepi, apa tetangga sudah pada sahur? Jangan-jangan mereka belum bangun Bu’e?” tanya Pa’e sambil meminum teh manis yang sudah disiapkan Bu’e sebelum mereka sholat. Teh panas itu kini sudah menjadi hangat-hangat nikmat.

“ Si Tono malam ini kerja malam, dia sahur di tempat kerjanya. Kalau si Tini jam dua tadi aku dengar dia sudah bangun, dan mungkin sekarang sudah tidur lagi. Kalau si Toni belakangan memang jarang makan sahur, dia lebih mberatin tidur ketimbang sahur, katanya dia kuat puasa tanpa harus sahur “ jawab Bu’e sambil menata makan sahur mereka.

“ Lho, kalau kuat sih aku rasa banyak orang yang kuat puasa tanpa harus sahur. Tapi sahur itu kan sunnah rosululloh. Anggota tubuh kita masing-masing memiliki hak. Ketika ngantuk, mata kita berhak untuk ditidurkan. Begitupun perut kita memiliki hak untuk diisi makanan dan minuman. Insya Allah, sahur itu banyak membawa manfaat dan barokahnya. Misalnya, sebelum sahur kita bisa sholat malam dulu. Ini kesempatan untuk melatih kita yang masih sulit bangun malam untuk sholat. 

Kemudian rosululloh mencontohkan kita untuk mengakhirkan sahur, ini juga ada hikmahnya. Dengan mengakhirkan sahur mendekati waktu shubuh, kita bisa melaksanakan sholat shubuh tepat pada waktunya. Sambil menunggu waktu shubuh tiba, kita bisa gunakan untuk membaca Al Quran. Berbeda ketika kita sahur masih terlalu malam, biasanya kita akan tidur lagi dan jarang yang bisa bangun untuk sholat shubuh tepat waktu. Selain itu juga, kalau kita mengakhirkan makan sahur, ketika siang kita tidak cepat merasa lapar dan lemas, sehingga kita bisa melaksanakan aktifitas kita dengan badan lebih segar. Dan kondisi seperti ini jelas membuat ibadah kita bisa lebih khusyuk lagi. 

Jadi sahur itu bukan sekedar urusan makan dan minum saja, ada banyak manfaat dan keberkahan jika kita tahu hikmahnya “ panjang lebar Pa’e menjelaskan, tapi kenyataanya memang masih banyak orang yang seperti ‘mengecilkan’ manfaat sahur. Banyak alasan, padahal seandainya tahu betul rahasia dari sunah nabi ini rasanya tak seorangpun akan melewatkan makan sahur.

Bu’e kini telah selesai menyiapkan hidangan. Nasi, sayur kangkung kesukaan Pa’e, beberapa potong tahu dan tempe goreng, serta irisan timun kini siap mereka santap. Ketika Pa’e mulai menyendok nasi, tiba-tiba datang salah satu tetangga mereka. Bu’e beranjak menemui sang tamu yang hanya berdiri di depan pintu. Sepertinya sang tamu terburu-buru karena dia juga belum makan sahur. Sesaat kemudian Bu’e kembali dangan doa potong ayam goreng di tangan kanan dan semangkuk sayur sop di tangan kirinya. Alhamdulillah, rupanya sang tamu datang membawakan rejeki untuk Pa’e dan Bu’e.

“ Siapa yang ngasih sayur sop dan ayam goreng ini Bu’e? “ tanya Pa’e sambil mengambil sepotong ayam goreng. Sepertinya sang tetangga tahu betul kalau Pa’e sangat suka dengan paha ayam.

“ Mbak Tina, Pa’e “ jawab Bu’e sambil menyendok sayur sop dan mengambil ayam goreng. Bu’e merasa sangat bersyukur karena sang tetangga seolah tahu kalau Bu’e paling suka dengan ayam bagian sayapnya.

“ Mbak Tina yang pengantin baru itu?”

“ Iyo Pa’e. Semalam waktu Pa’e masih tadarusan di mushola, mbak Tina silaturahmi ke sini. Dia nanya soal.....”

“ Seperti yang dulu kita alami? “ Pa’e memotong kalimat Bu’e. Pa’e mengerling genit ke arah Bu’e.

“ Iyo Pa’e “ jawab Bu’e sambil tersipu. Tebakan Pa’e tepat, dan ini membuat Bu’e tersenyum malu.

Sebelas tahun silam, ketika Pa’e dan Bu’e baru menikah, mereka pernah mengalami masalah yang sebenarnya tidak berat namun karena kurangnya ilmu mereka tentang agama, seolah masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang besar dan berat. Sebagai pengantin baru, Pa’e dan Bu’e menjadi bingung karena hampir setiap malam, sebelum sahur mereka ‘harus’ mandi besar dulu. Dingin dan malu dengan tetangga, itu yang menjadi masalahnya. Sebenarnya tak ada satupun tetangga yang membicarakan mereka, semuanya maklum dengan pengantin baru, tapi tetap saja mereka merasa tidak nyaman. Maklum, Pa’e dan Bu’e tinggal di rumah kontrakan dimana kamar mandinya berada di luar dan dipakai bersama-sama. Tak mungkin tak ada yang tidak tahu kalau mereka mandi, apalagi malam hari, suara cipratan air terdengar jelas hingga ke kamar tetangga. Beruntung pas pertengahan puasa, Pa’e memberanikan diri bertanya kepada seorang ustadz, dan akhirnya Pa’e dan Bu’e mendapatkan solusinya. Pa’e dan Bu’e bisa tetap menikmati masa-masa pengantin barunya dan tetap menjalankan puasa dengan aman dan nyaman.

“ Itulah pentingnya kita belajar agama. Tak ada ajaran Islam yang memberatkan dan mendzolimi umatnya, asal tahu ilmunya. Mandi besar setelah berhubungan suami istri itu wajib dilakukan ketika akan sholat atau membaca Al Quran, tapi tidak menjadi syarat ketika orang akan berpuasa. Tidak seperti sholat, puasa tidak mewajibkan sesorang suci dari hadas kecil atau besar. Puasa kita insya Allah tetap sah meskipun kita belum sempat mandi besar, asalkan persetubuhan dilakukan malam hari sebelum datang waktu subuh. Jadi tak harus kita mandi junub malam-malam sebelum sahur. Untuk menghilangkan makruh, sebelum makan dan minum disunahkan kita wudhu dulu. Mandi bisa kita lakukan setelah sahur, bahkan setelah datang waktu shubuhpun tidak masalah, asalkan kita hati-hati agar tidak ada air yang masuk ke dalam tubuh kita. Tapi agar lebih aman dan nyaman, mandi janabah bisa kita lakukan setelah sahur sebelum masuk waktu shubuh. Selain tidak terlalu dingin, bagi yang masih merasa malu dengan tetangga, hal ini bisa teratasi. Tapi sebenarnya sih kita tidak perlu malu, toh setiap orang yang sudah berkeluarga memaklumi hal ini. Berhubungan suami istri dengan pasangan yang sah adalah halal dan mandi wajib adalah aturan agama untuk mensucikan diri, lakukan semuanya karena Allah “ Pa’e mengulang apa yang didengarnya dari pak ustadz sebelas tahuh silam.

“ Harus diakui bahwa kurangnya ilmu sering membuat seseorang merasa berat melakukan ibadah, ibadah kita tidak maksimal, tidak sempurna atau bahkan bisa jadi apa yang kita lakukan sama sekali tak bernilai ibadah bahkan paling parah justru bisa menjadikan kita sesat. Meninggalkan sahur dengan sengaja, menggunjingkan orang lain, menunda-nunda berbuka puasa adalah karena kurangnya ilmu dan pemahaman tentang puasa. Memang, tidak sampai membatalkan puasa, tapi bisa mengurangi nilai puasa kita “ Pa’e menambahkan

“ Betul Pa’e. Aku juga sudah jelaskan sama mbak Tina. Alhamdulilah, mbak Tina bisa mengerti dan merasa senang sekali karena dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri, menikmati bulan madunya dan menjalankan puasa tanpa rasa ragu lagi. Barangkali, sayur sup dan ayam goreng ini sebagai ucapan terima kasihnya “ timpal Bu’e.

“ Alhamdulillah, Bu’e sudah berbagi ilmu dengan mbak Tina, dan kita jadi makan sahur dengan lauk istimewa. Semoga mbak Tina dan suaminya bisa menjalankan ibadah puasa dengan lebih mantap lagi. Tapi Bu’e nda lupa tho mengingatkan ke mbak Tina kalau melakukan hubungan suami istri siang hari di bulan puasa itu haram hukumnya, bahkan bisa kena kifarat ?”

“ Sudah, sudah aku jelaskan semua yang aku tahu tentang hal-hal yang bisa membatalkan, mengurangi pahala puasa dan sunah-sunah selama kita menjalankan puasa. Insya Allah, mbak Tina bisa memahami dan katanya dia dan suaminya akan lebih rajin lagi mengikuti pengajian. Dia baru sadar bahwa kebingungan mereka selama ini karena mereka kurang belajar agama, apa yang sebenarnya kecil mereka anggap besar dan sebaliknya masalah besar justru mereka anggap kecil “

“ Syukurlah kalau mereka sadar bahwa belajar agama itu sangat penting, disamping belajar ilmu dunia. Belajar dan menuntut ilmu adalah kewajiban, sejak kita masih dalam buaian hingga masuk ke liang kubur. Selama nyawa masih dikandung badan, wajib hukumnya kita belajar dan menuntut ilmu. Ilmu Allah tidak akan pernah habis kita pelajari, bahkan ketika lautan dijadikan tinta, daun-daun dijadikan kertas, dan ditambah lagi sebanyak itu, ilmu Allah tidak akan habis ditulis dan dipelajari “ Pa’e menutup percakapan mereka bertepat dengan terdengarnya tanda imsak dari masjid.

Bu’e segera merapihkan bekas makan sahur mereka, sementara Pa’e menggosok gigi dan siap-siap ke mushola. Pa’e sholat subuh berjamaah di mushola dilanjutkan dengan tadarus hingga matahari mulai meninggi sedangkan Bu’e sholat subuh di rumah dan tadarus hingga Pa’e pulang dari mushola. 

Gambar dipinjam dari sini

25 Aug 2010

Reuni SMP

Pa’e baru pulang dari sholat Ashar di mushola dan belum sempat mengucapkan salam ketika sekonyong-konyong Bu’e sudah berdiri di depan pintu dengan senyum ‘Monalisa’ nya.

“ Assalamu’alaikum “ ucap Pa’e agak gugup. Pa’e tak menyangka kalau Bu’e akan muncul secepat itu, padahal Pa’e belum membaca mantranya. Hihihi…

“ Waalaikum salam “ jawab Bu’e masih dengan senyum yang konon telah sukses membuat Pa’e muda tak enak makan dan tak nyenyak tidur hingga berhari-hari lamanya. “ Tadi waktu Pa’e masih di mushola, ada yang nelpon. Namanya Zacky, dia nyariin Pa’e “ Bu’e melanjutkan. Rupanya kemunculan Bu’e di depan pintu adalah untuk menyampaikan kabar penting ini sebelum Bu’e lupa, seperti kemarin Bu’e lupa memasukkan gula ke dalam kolak pisangnya.Hehehe

“ Zacky….?” Pa’e terlihat asing dengan nama yang disebut Bu’e.

“ Teman SMP “ Bu’e memberikan klue untuk membantu ingatan Pa’e. Bu’e tak tega membiarkan Pa’e kerepotan mengurutkan nama teman-temannya dari abjad A sampai Z. Bisa-bisa pas Adzan Maghrib berkumandang, Pa’e belum menemukan siapa sosok yang bernama Zacky yang mengaku teman SMP nya.

“ Teman SMP…?” Pa’e terlihat serius mencari-cari nama Zacky dalam daftar memorinya. 

Dengan sabar Bu’e memberi kesempatan kepada Pa’e untuk melacak nama Zacky apakah benar nama itu pernah tercatat sebagai teman SMP nya. Sesaat kemudian wajah Pa’e berubah menjadi cerah dan bergairah. “ Alhamdulillah, akhirnya Pa’e inget juga “ Bu’e membatin.

“ Mau ngajak buka puasa bersama ya ?!” tuduh Pa’e tanpa malu dan ragu.

“ Musyawarah acara reuni SMP. Katanya lebaran nanti teman-teman SMP Pa’e mau mengadakan reuni !” jawab Bu’e rada-rada mangkel. Apa yang ada dalam benak Bu’e ternyata tak sama dengan apa yang diucapkan Pa’e.

“ Tapi sambil buka puasa bersama juga kan ?” Pa’e ngotot dengan tebakannya.

“ Iya juga sih !” akhirnya Bu’e pasrah. Sejak puasa naluri Pa’e memang lebih tajam, hampir semua tebakannya selalu tepat, khususnya yang berkaitan dengan undangan buka puasa bersama. Hihihi….

“ Kapan Bu’e ?” tanya Pa’e bersemangat.

“ Besok !” jawab Bu’e ikut-ikutan semangat. Pasti Bu’e mulai berhayal bahwa dia juga akan diajak Pa’e ikut buka puasa bersama.

“ Jam berapa ?” Pa’e semakin bersemangat.

Bu’e tak langsung menjawab. Agak bingung juga Bu’e menjawab pertanyaan Pa’e. Setahu Bu’e namanya buka puasa bersama ya pasti maghrib. Iya tho?! 

“ Jam berapa Bu’e?” Pa’e pura-pura tak sabar. Padahal Pa’e sedang ingin mengajak Bu’e bercanda.

“ Ya Maghrib lah Pa’e ! “ jawab Bu’e mencoba sabar, barangkali Pa’e ini jelmaan malaikat yang datang untuk menguji kesabaran Bu’e. Hehehehe

Berbeda dengan semenit sebelumnya, semangat Pa’e terlihat menurun. 

“ Ya, kok maghrib sih? Apa nda bisa dimajuin jam empat atau jam empat lewat dua menit gitu! “ Pa’e bicara layaknya orang linglung bahkan orang linglung juga ga gitu-gitu amat kali! Hihii Sst…! Jangan bilang ke Bu’e kalau ini hanya akal-akalan Pa’e untuk meledek Bu’e. Sejak awal Pa’e merasa gemes karena Bu’e tahu-tahu nongol sebelum dibacakan mantra. Hihihi

Bu’e merasa bahwa Pa’e yang baru pulang dari mushola ini di’susupi’ malaikat yang sengaja datang untuk menguji seberapa besar kesabaran Bu’e.

“ Memangnya besok Pa’e ada undangan di tempat lain? Kalau ada dan berbarengan waktunya mendingan Pa’e telpon Zacky sekarang, minta acara buka puasa di rumahnya di majuin saja wakatunya. Jadi nanti Pa’e eh kita maksudnya masih bisa ikut acara buka puasa di tempat lain “ kali ini Bu’e yang bicara kayak orang bingung. Hihihi….

Pa’e agak terkejut juga dengan saran Bu’e. Dia nda nyangka kalau jurus becandanya sudah ditebak Bu’e bahkan Bu’e mengeluarkan jurus maboknya pula. 

Merasa jebakannya diketahui lawan, akhirnya Pa’e kembali ke pribadi aslinya yang wibawa dan romantis.

“ Insya Allah, besok kita berangkat. Kebetulan aku sudah lama nda ngumpul dengan teman-teman SMP ku. Kamu harus ikut ya Bu’e “ Pa’e bicara dengan nada yang berbeda, jauh dengan skrip sebelumnya.

“ Insya Allah Pa’e “ jawab Bu’e menahan rasa bahagianya. Sebenarnya Bu’e menganggap kata harus yang diucapkan Pa’e adalah sebuah pemborosan, kesannya kayak Bu’e nda mau gitu loh, pake di harus-harusin segala. Padahal nda diajakpun Bu’e dah menyiapkan proposal tak tertulis biar diajak Pa’e. Ingin selalu berdua di manapun, kapanpun, bagaimanapun, baik suka maupun duka, begitu alasan Bu’e agar Pa’e mau mengajak Bu’e terutama untuk acara yang ada embel-embel gratisnya. Hihihi…nda ding! Fitness itu!

“ Besok kita berangkat bada’ Ashar. Kita mampir ke pasar dulu, kita beli kurma sama sirup atau buah “ ujar Pa’e saat mereka sudah masuk ke dalam ruang serba guna mereka. ( Masih inget dengan ruang serba guna Pa’e dan Bu’e? Baca postingan berlabel Pa’e dan Bu’e edisi berikutnya. Agak sedikit maksa dot com )

“ Loh, kan mereka yang ngundang kita. Apa perlu kita membawa makanan dan minuman sendiri. Bukannya kita tinggal terima beres saja. SMP, sudah makan pulang “ sisi hitam Bu’e mulai mempengaruhi omongan Bu’e. 

“ Bu’e, memang benar kita yang diundang di acara buka puasa besok. Logikanya, mereka pasti sudah siap dengan segala hidangan buka puasanya. Tapi kan besok ada acara musyawarah reuni SMP juga, mestinya temen-temen SMP yang diundang juga banyak. Kasihan kan kalau semua hidangan ditanggung tuan rumah sendiri. Lagian memberi makan orang yang berpuasa itu kan pahalanya besar, selain pahala puasa kita sendiri, kita juga bisa mendapatkan tambahan pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut” ujar Pa'e bijak

“ Iyo Pa’e, wong aku cuma becanda kok! Tapi ngomong-ngomong uang belanjaku tinggal sedikit je, Pa’e yang mbayarin kurma, sirup sama buahnya kan?” tuduh Bu’e tanpa memberi kesempatan pada Pa’e untuk berpikir apalagi bilang tidak. Hehehe…
 
“ Wis, tenang wae, aku sing nanggung!” jawab Pa’e meyakinkan. Dan Bu’e pun tersenyum sumringah. Siapa tahu nanti ada lebihan, bisa buat nambah-nambah uang belanja, Bu’e membatin. 

“ Satu lagi Pa’e” Bu’e hampir lupa bahwa sejak tadi Bu’e penasaran dengan orang yang mengaku bernama Zacky. Apa iya ada orang seangkatan Pa’e yang namanya sekeren itu.

Opo meneh ?” tanya Pa’e was-was.Pa’e khawatir Bu’e minta dibeliin baju dan sandal baru, padahal acaranya hanya sekedar buka puasa bersama. Tapi Pa’e tahu persis karakter Bu’e, tak mungkin dia meminta itu. Bu’e adalah wanita yang sederhana dan tahu diri. Pa’e beristighfar dalam hati karena sempat berfikir jahat tentang Bu’e. 

“ Aku penasaran, kayaknya aku baru denger temen SMP Pa’e yang bernama Zacky. Zacky siapa tho?” tanya Bu’e penasaran. Bu’e berharap teman SMP Pa’e adalah si Teuku Zacky. Hihihi…dari mana ketemunya ya?

“ Zackimin !” jawab Pa’e singkat, seperti menahan sesuatu.

****

Tulisan ini sengaja diposting dalam rangka ambil bagian dalam sertakan Gerakan SEO positif SMP dan Anak SMA dari bang Atta dan juga atas tag dari mbak Nyun-nyuN. Semoga niat baik ini membuahkan hasil yang nyata. Amin.

Mari, kepada semua nara blog yang peduli dengan moral anak bangsa untuk mendukung gerakan ini dengan cara membuat postingan menggunakan keyword SMP sebanyak-banyaknya. Selamat bergabung!

17 Aug 2010

Anugerah Ramadhan, Amanah Kemerdekaan

Pagi yang cerah, secerah wajah Bu’e yang sumringah, semeriah pakaian Bu’e yang bercorak bunga-bunga warna merah.

“ Bulan Agustus tahun ini terasa lebih istimewa yo Pa’e, berbarengan dengan bulan puasa” Bu’e membuka pembicaraan sambil memandangi ratusan bendera merah putih dari plastik yang terpasang pada tali panjang, melintang dari satu rumah ke rumah lainnya.

“ Iya Bu’e, dua anugerah dari Allah SWT yang harus kita syukuri, bukan saja dalam ucapan, tapi juga dalam tindakan dan perbuatan” jawab Pa’e sambil mengencangkan ikatan bendera kain pada tiang bambu dan memasang bendera seukuran taplak meja itu tepat di depan rumahnya. Pa’e memandang puas pada hasil kerjanya dan bangga pada sang merah putih yang kini berkibar ditiup semilir angin pagi.

10 Aug 2010

Sambut Bulan Suci Dengan Bersihkan Hati

“ Bu’e…sudah siap belum?” tanya Pa’e dengan nada tak sabar. Suara Pa’e terdengar semakin meninggi, setara dengan nada sol. Itu berarti sudah 5 kali Pa’e menanyakan hal yang sama kepada Bu’e.

Jika Pa’e sudah 5 kali bertanya, maka Bu’e sudah tak terhitung lagi berganti baju, kerudung dan sandal. Jika baju dan kerudung sudah maching, maka Bu’e menjadi pusing memilih sandal atau sepatu yang serasi. Dan jika sandal, baju dan kerudung sudah sepadan, maka Bue menjadi bingung memilih warna lipstiknya. Seperti kaum hawa pada umumnya , maka Bu’e pun ingin terlihat cantik di depan Pa’e. Bu’e ingin menambah ke-pede-an Pa’e saat berjalan bersama Bu’e. Tapi….nggak segitu-gitunya kale…..! Hehehehe…

“ Bu’e….! Mbok ya o, jangan lama-lama tho!” Pa’e nyaris kehabisan stock kesabaran. Berkali-kali Pa’e melihat jam di lengan kirinya dan mendongak ke langit bergantian. Mengapa Pa’e selalu melihat ke langit, apakah Pa’e sedang mengecek pesawat yang sedang menjemputnya sudah datang apa belum? Jawabannya tentu saja bukan. Pa’e merasa perlu memandang ke langit karena Pa’e sudah tidak terlalu percaya lagi dengan jam tangan second yang dibelinya dua tahun lalu di pojokan pasar. Pa’e merasa perlu mencocokan waktu dengan posisi matahari. Hihihi…

Pa’e hampir saja memanggil Bu’e dengan nada si ketika Bu’e nongol dari balik pintu. Seperti di film-film, Bu’e muncul pada saat detik-detik terakhir kesabaran Pa’e menguap. Dan demi melihat penampilan Bu’e, segenap rasa kesal Pa’e seketika lenyap. Bak bidadari beraroma mint, emosi Pa’e yang mulai hangat-hangat kuku mendadak beku. Hawa sejuk dan segar terasa sekali ketika Bu’e me-launching senyum terindahnya yang konon telah sukses membuat Pa’e klepek-klepek.

“ Sebenarnya kita mau kemana tho Pa’e?” tanya Bu’e sambil terus mempertahankan senyum Monalisanya.

“ Kita mau silaturahmi ke tempat saudara, tetangga, kerabat dan juga sahabat nara blog, seperti yang aku omongin kemarin” jawab Pa’e dengan nada suara yang palign lembut, Kemilau wajah Bu’e telah sukses menurunkan nada suara Pa’e dari si menjadi do rendah.

“ Selain silaturahmi, kita mau ngapain lagi?” Bak anak remaja, Bu’e membetulkan posisi kerudungnya yang tak ada masalah, sekedar memastikan bahwa Pa’e tak melewatkan lesung pipitnya.

“ Besok pagi kan sudah puasa, kita mohon maaf sama mereka “ jawab Pa’e sambil beranjak ke arah Bu’e yang masih asyik dengan ujung kerudungnya.

“ Minta maaf? “ tanya Bu’e heran. “ Memangnya Pa’e habis berbuat salah apa sama mereka?” lanjutnya.

“ Ya nda tahu, Bu’e. Tapi yang jelas, kita ini kan manusia, sudah kodratnya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita ini hanyalah hamba yang lemah, tak lepas dari salah, kita hamba yang dhoif, tak luput dari khilaf. Sudah semestinya kita saling memohon maaf dan memaafkan”

“ Bukannya meminta maaf tidak harus nunggu datangnya bulan Ramadhan ataupun lebaran?” Bu’e sekedar meyakinkan

“ Ya, memang. Seharusnya kita segera meminta maaf setiap kali kita berbuat salah, besar atau kecil, sengaja atau tidak. Islam mengajarkan seperti itu, tidak harus menunggu saat-saat tertentu. Tapi tidak ada larangan juga untuk menggunakan waktu-waktu istimewa seperti sekarang untuk saling memaafkan. Ramadhan itu bulan yang suci, seharusnya kita menyambutnya dengan hati yang bersih, salah satunya dengan saling memaafkan, membebaskan diri dari kesalahan”
Bu’e diam saja mendengar penjelasan Pa’e. Apa yang dikatakan Pa’e benar adanya.

“ Pa’e, nanti Pa’e saja yang mewakili bicara ya, aku nda usah ikut-ikutan ngomong “ kali ini sifat grogi Bu’e terasa mulai kambuh lagi.

“ Yo wis, nanti cukup aku yang ngomong, itu juga sudah mewakili Bu’e. Lagian aku sudah menyiapkan teksnya kok, nda perlu repot-repot cari kata-kata lagi” jawab Pa’e sambil mengeluarkan lipatan kertas dari saku celana sebelah kanan.

Bu’e menerima kertas yang disodorkan Pa’e. Bak guru yang sedang memeriksa ujian, Bu’e membaca teks yang sudah disusun Pa’e dengan seksama.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Saya, atas nama pribadi dan juga mewakili keluarga, memohon maaf yang setulus ikhlasnya kepada keluarga, tetangga, kerabat serta seluruh sahabat nara blog atas kesalahan, kekeliruan, kekhilafan dan kekurangan, baik yang terdapat dalam postingan, komentar ataupun tanggapan. Kami sadar bahwa kami hanyalah hamba yang lemah, tak lepas dari salah, saya hanyalah hamba yang dhoif yang tak luput dari khilaf. Tak ada maksud sedikitpun dalam setiap postingan, komentar ataupun tanggapan yang saya berikan untuk menyinggung, menyakiti, merugikan ataupun membuat orang lain merasa tidak nyaman, namun semua itu bisa saja terjadi tanpa kami sadari. Itulah bukti bahwa saya hanyalah manusia, mungkin memiliki kelebihan namun pasti memiliki kekurangan.

Sekali lagi, mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf, begitupun dengan tulus ikhlas kami sudah memaafkan andaikata ada kesalahan dan kekhilafan sahabat semua. Mari sambut bulan nan suci mulia ini dengan hati yang bersih. Mari manfaatkan sebaik mungkin bulan mulia ini untuk meningkatkan ibadah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Insya Allah.
Selamat menunaikan ibadah puasa, dan juga ibadah-ibadah lainnya. Semoga Allah menerima ibadah kita dan kita benar-benar bisa menjadi hamba yang bertaqwa. Amin.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

“ Lho, kok ini ada dua lembar Pa’e, yang satunya lagi apa?” tanya Bu’e selesai membaca konsep yang sudah di susun Pa’e. Terhadap konsep tersebut, Bu’e setuju dan tak perlu lagi ditambah ataupun dikurangi.

“ Itu titipan dari sang ‘dalang’ penulis perbincangan kita. Baca saja, bukan rahasia kok!”

Bu’epun membaca lembar kedua dengan seksama. Berikut isinya;

Saya atas nama pribadi dan keluarga juga menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang tinggi kepada saudara, tetangga, kerabat dan juga sahabat nara blog yang telah memberikan doa, dukungan dan bantuan untuk kesembuhan istri saya. Memang, ujian ini terasa sangat berat kami rasakan, namun alhamdulillah Allah masih berkenan memberikan pertolongan, salah satunya adalah melalui kalian semua. Sejauh ini kesehatan istri saya sudah lebih membaik, meskipun tindakan dokter belum menyentuh ke penanganan ginjalnya. Bagaimanapun, medis adalah sebuah ikhtiar, ada berbagai macam ikhtiar lainnya. Sampai saat ini kami dan keluarga sepakat untuk mencari kesembuhan melalui jalur non medis, yang terpenting adalah ikhtiar ini tidak bertentangan dengan aturan agama, dan kesembuhanlah yang jadi tujuan utamanya. Ikhlas, sabar, ikhtiar dan doa serta tawakal, itu yang bisa kami lakukan. Insya Allah, apapun yang terjadi pada diri dan keluarga kami, kami sadar semuanya atas izin dan kehendak Allah SWT. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan. Selagi kita bersabar dan ikhtiar, maka Allah akan memberikan pertolongan dan jalan keluar. Allah tak menurunkan penyakit keculi beserta obat penyembuhnya. Insya Allah, kami jauh lebih tabah dibanding saat-saat pertama kami menerima ujian ini, dan salah satunya adalah berkat doa, dukungan dan bantuan kalian semua. Semoga Allah mencatat semuanya sebagai amal kebajikan dan memberikan pahala yang berlipat ganda. Amin.
Gambar dipinjam dari sini

26 Jul 2010

Matang Sebelum Masanya

Bu’e sedang membereskan piring dan gelas bekas sarapan pagi mereka ketika di televisi mungil yang baru disetel Pa’e muncul seorang selebritis yang sepertinya dikenal Bu’e dengan baik.

“ Tunggu Pa’e, jangan diganti dulu !“ cegah Bu’e saat melihat gerekan Pa’e yang akan mengganti saluran televisi. Jari telunjuk Pa’e tinggal berjarak dua centi dari tombol di televisi mungil mereka yang remote kontrolnya entah dimana. Sejak tombol-tombol remote itu tak lagi menuruti keinginan jari-jari Pa’e dan Bu’e, nasib sang remote layaknya gelas retak, tak disentuh bahkan dilihat dengan mata terpejampun tidak. Hihii. “ Itu kan artis cilik waktu kita masih SMP dulu! iyo kan Pa’e” Bu’e tiba-tiba bersemangat seakan sosok yang sedang diwawancarai di televis itu adalah kawan lamanya.

Tanpa meminta persetujuan Pa’e terlebih dahulu, Bu’e pun menyanyikan sebuah lagu. Sepertinya lagu itu yang dulu dinyanyikan oleh sang artis. Pa’e merasa akrab dengan lagu itu namun tentunya bukan dengan suara yang kini didengarnya. Suara Bu’e, kalau Pa’e berani mengatakan jujur , lebih merdu saat diam. Hihihi.. Tapi untuk hal seperti ini, pesan pak ustadz untuk menyampaikan kejujuran meski terdengar pahit, lebih baik tidak diikuti Pa’e. Lebih baik diam daripada Bu’e mengganti lagu dengan omelannya.

“ Anak-anak jaman sekarang cepat besar ya Pa’e” Bu’e menyelesaikan lagunya tepat ketika sang artis selesai di wawancarai.

Ya cepat besar lah, wong dikasih makan. Pa’e membatin. Tak mau melewatkan kesempatan, Pa’e segera mengganti saluran tivi, mencari saluran yang masih menayangkan berita. Pa’e merasa heran dengan televisi-televisi yang begitu ‘ngotot’ menayangkan acara gosip sepagi itu. Pa’e menduga orang-orang saban pagi muncul dengan gosip-gosipnya tidak bisa tidur semalaman hanya untuk mengobral gosip terbarunya. Yang bikin Pa’e geregetan, senyum para pembawa acara itu loh yang terkadang seperti orang tak berdosa. Tertawa di atas tangisan orang lain. Huh! Sekarang kalian bisa tertawa menggosipkan orang, satu saat mungkin kalian yang akan menangis karena digosipkan! Pa’e membatin kesal. Pa’e lupa kalau apa yang Pa’e batin itu kini sudah benar-benar terjadi. Ups! Ini termasuk nggosip nggak yah?

“ Anak-anak cepat besar itu malah bagus, itu artinya mereka sehat. Cukup makan dan cukup gizi “ komentar Pa’e setelah Bu’e selesai merapikan piring dan gelas bekas sarapan mereka. “ Yang mengkhawatirkan adalah anak-anak matang sebelum masanya “ lanjut Pa’e

“ Maksudnya ?” tanya Bu’e benar-benar belum mengerti apa yang Pa’e ingin bicarakan, bukan sekedar agar perbincangan ini tidak berhenti di tengah jalan. Kalau berhenti minggir dulu, jangan di tengah jalan! Nanti keserempet mobil! Hihihi…

“ Ya, seperti yang kita lihat di berita-berita. Banyak anak-anak usia remaja yang tiba-tiba melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa dan berumah tangga. Pergaulan bebas, seks bebas, pemerkosaan oleh dan terhadap anak-anak dibawah usia, itu kan sangat menghawatirkan. Anak-anak seperti hasil karbitan, matang sebelum masanya. Kualitasnya rendah dan akhirnya ya cepat busuk “ suara Pa’e terdengar prihatin.

Bu’e tak memberikan komentar, bukan karena tak hafal naskah, tapi karena tak ada dialog yang harus diucapkan. Hihihi…sinetron kali!

“ Sayangnya, perilaku tak bermoral anak-anak di bawah usia itu justru diilhami oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka” Pa’e melanjutkan.
Siaran berita di televisi berganti menjadi sebuah dialog dengan narasumber tentang anak. Sang pembicaranya adalah Pa’e dan pendengarnya adalah Bu’e. acara ini ditayangkan di depan tivi yang sibuk mempromosikan barang dagangan yang tak berhasil menarik minat Pa’e dan Bu’e untuk mencoba produk mereka.

“ Aku pernah mendengar cerita dari seorang teman, tentang anak tetangganya yang masih sekolah di TK. Pulang sekolah, dia dan teman-temannya berniat melihat film kartun melalui vcd playernya. Ketika tivi dan vcd dinyalakan, apa yang mereka lihat. Tayangan orang dewasa yang sedang melakukan adegan intim. Dalam kebingunan, mereka memanggil sang ibu yang saat itu sedang memasak di dapur. Rupanya, sang ayah lupa mengeluarkan vcd porno yang habis ditonton malam sebelumnya. Astaghfirulloh!” Pa’e bercerita sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Bu’e terlihat tegang dan prihatin.

“ Atau juga ada anak yang mendapati hp sang ayah yang tertinggal di meja. hp yang biasanya tak lepas dari tangan sang ayah segera diambil sang bocah. Ini kesempatan untuk main game, begitu pikirnya. Bosan bermain game, sang bocah iseng-iseng membuka fasilitas lain. Apa yang kemudian terjadi? Sang anak melihat tayangan video mesum di hp sang ayah. Ataghfirulloh!” Pa’e mendesah. Suaranya berat, menandakan keprihatinannya pada fakta memalukan dan memilukan ini.

“ Gambar-gambar porno dalam majalah dewasa, bacaan novel-novel dewasa, apa jadinya bila sampai ke jatuh tangan anak-anak yang masih belia. Yang lebih memprihatinkan lagi, aku pernah mendengar cerita. Aku rasa ini nyata, karena banyak sekali yang membicarakannya. Karena kecerobohan orang tua, kegiatan ‘dewasa’ suami-istri mereka disaksikan oleh sang anak yang tidur satu kamar dengan bapak ibunya. Tak dapat di rem, sang anakpun membagi cerita apa yang dilihatnya kepada orang lain. Astaghfirulloh! “ Kali ini Bu’e yang terlihat menahan nafas, dadanya terasa sesak mendengar cerita-cerita ini.

“ Semestinya, para orang tua lebih berhati-hati menjaga dan memantau perkembangan moral dan mental sang anak. Bukan bagiamana cara menyimpan yang aman, tapi jangan sampai memiliki dan menyimpan benda-benda atau apapun yang hanya akan merusak moral, baik moral anak maupun moral dirinya sendiri. Urusan moralitas bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga orang dewasa dan para orang tua. Sayangnya, masih ada orang tua yang tak berfikir sampai ke situ. Mereka hanya menuruti nafsu, celakanya tanpa mereka sadari telah meracuni anak-anak mereka juga. Kasihan sekali anak-anak bangsa ini, moral mereka dirusak anggota keluarganya sendiri “

Lama berdiam diri, Bu’e akhirnya memberikan tanggapan

“ Kekerasan pada anak-anak juga masih sering terjadi, dan pelakunya adalah anggota keluarganya sendiri. Terkadang ibunya, bapaknya, kakak atau adiknya, atau paman dan bibinya. Anak sering dieksploitasi untuk kepentingan orang dewasa dalam keluarganya. Anak-anak gelandangan, putus sekolah mudah kita temui di jalanan kota-kota besar. Pemerintah yang semestinya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan mereka, buktinya hanya bisa mengatasi sebagian kecil saja. Jauh lebih banyak yang belum tersentuh penanganan pemerintah. Entah pemerintahnya yang lemah, atau jumlah anak-anak terlantar yang terlalu banyak. Kasihan melihat anak-anak yang tumbuh besar di jalanan, akrab dengan hidup yang keras dan kasar. Kemanakah para orang tua mereka? Ada, bahkan terkadang merekalah yang sengaja menjadikan anak-anaknya seperti itu. Astaghfirulloh “

“ Beberapa hari yang lalu bangsa ini memperingati hari anak nasional, tapi rasanya hal ini lebih banyak masih terlihat seremonial belaka. Bahkan sepertinya banyak orang tua yang tak peduli akan hal ini. Banyak kekerasan menimpa anak-anak di hari yang semestinya mereka bahagia dan mendapat perhatian dari orang tua, lingkungan dan pemerintahnya. Paling tidak mereka bisa merasakan itu sehari saja, saat orang menyebutnya hari anak nasional “

Secara kompak, tanpa ada aba-aba satu, dua dan tiga, Pa’e dan Bu’e mengusap bulir air mata yang menggenang di ujung dua mata mereka.

“ Semoga melalui peringatan hari anak nasional, semakin banyak orang tua yang sadar bahwa tak ada orang tua yang tak bermula dari anak-anak. Apa yang anak-anak sekarang inginkan adalah sama dengan yang dulu mereka harapkan. Perhatian dan kasih sayang, jelas lebih berarti dibanding harta. Menunaikan kewajiban orang tua terhadap anak, itu seharusnya. Memenuhi hak anak dengan bijak, itu semestinya “ Pa’e menambahkan.

Bu’e mengangguk, suaranya terhenti di tenggorokan. Ada keharuan dan kesedihan mendalam bila melihat kenyataan anak-anak bangsa. Mereka adalah generasi penerus bangsa ini, sudah semestinya kita peduli. Kita orang tua, seharusnya lebih bijak dari mereka, tahu apa dan yang mana yang terbaik baik mereka, bagi masa depan kita semua.

Selamat hari anak nasional! Anak-anak bangsa, kami sayang kalian! Semoga ini bukan hanya sebatas slogan.

Gambar dipinjam dari sini

20 Jul 2010

Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban

Pagi itu Pa’e dan Bu’e sedang menikmati sarapan pagi mereka berupa kopi, teh hijau dan pisang goreng hangat, ketika sebuah suara mengucapkan salam di depan rumah petaknya yang harus diperpanjang ijin tinggalnya setiap bulan.

“Assalamu’alaikum “ suara diluar tidak begitu keras tapi terdengar cukup jelas. Bila diperhatikan dari suaranya, tamu yang datang pagi itu adalah seorang anak kecil dan Bu’e hafal betul dengan suara itu.

“ Waalaikum salam “ jawab Bu’e sambil beranjak menuju pintu, membukanya lebih lebar lagi. Pa’e tetap asyik menyeruput kopi tubruk kesukaannya. Tak begitu jelas apa yang dibicarakan Bu’e diluar sana, tapi yang Pa’e lihat dengan sangat jelas adalah bahwa kemudian Bu’e masuk dengan membawa sebuah piring berisi empat potong brownies. Mm…yummi!, Pa’e membatin.

12 Jul 2010

Kalah Penasaran, Menang Ketagihan

“ Apa? Pa’e mau nonton bola? Apa aku nda salah denger? “ tanya Bu’e sambil merapihkan mukena dan sajadah-sajadah yang baru saja mereka pergunakan untuk sholat tahajud.

Pa’e yang ditanya diam saja. Dijawabnya rasa tak percaya Bu’e dengan menyalakan televisi mungil yang ada di ruang serbaguna mereka. Ruang serba guna milik Pa’e dan Bu’e ini adalah sebuah kamar sempit berukuran 3 x 2.5 yang memiliki multi fungsi. Sebagai ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan melakukan segala aktifitas rumah lainnya, termasuk sebagai garasi motor BMW ( bebek merah warnanya ) Pa’e kalau hari sudah malam.

“ Kalau bu’e ngantuk, tidur saja. Aku juga paling nda tahu bisa sampai selesai apa nda “ kata Pa’e sambil menguap.

“ Sebenernya sih aku pengen tidur lagi, tapi mana bisa aku tidur di pinggir lapangan !” jawab Bu’e sambil ikut-ikutan menguap. Tidur di pinggir lapangan yang Bu’e maksudkan bukan benar-benar tidur di pinggir lapangan bola. Tapi karena kamar tidur Bu’e adalah satu-satunya kamar yang mereka miliki, maka Pa’e pun menonton pertandingan sepak bola melalui televisi di kamar yang sama.

“ Ya sudah, Bu’e bikinin aku kopi dulu biar nda ngantuk “ kata Pa’e sambil meraih bantal dan segera merapatkan badannya dengan tikar lusuhnya.

“ Memangnya yang tanding malam ini mana lawan mana sih Pa’e?” Bu’e l beranjak membuatkan kopi untuk Pa’e.

“ Belanda lawan Spanyol. Ini pertandingan final Bu’e” jawab Pa’e sambil menguap lagi

“ Pa’e njagoin yang mana?” Bu’e menyodorkan kopi tubruk kesukaan Pa’e. Pa’e langsung meraih cangkir dari tangan Bu’e dan langsung menyeruputnya. Sesaat kemudian Pa’e terlihat sibuk membersihkan serbuk kopi yang tertinggal di bibir dan kumisnya yang aduhai.

“ Aku nda njagoin mana-mana. Siapa yang berpeluang memasukan bola ya itu yang ta dukung “ jawab Pa’e sambil nyeruput kopi kentalnya yang tak begitu manis. Pa’e membuka kaleng yang tersimpan di bawah meja tivinya yang sudah reyot. Di kaleng pertama Pa’e hanya menemukan dua lembar kerupuk, itupun kondisinya sudah mengenaskan, keriput, melempem dan mengeluarkan aroma menyegat. Tengik! Di kaleng kedua P’e malah tak menemukan apa-apa, alias kosong. Anda belum beruntung, batin Bu’e sambil menahan senyum, pura-pura serius ke tivi.

“ Pa’e iki piye tho, lah wong nonton bola kok nda ada yang dijagoin, wis mbok ora usah nonton wae “ Bu’e melipat bantalnya agar bisa mengganjal kepalanya lebih tinggi. Ini memang kebiasaan Bu’e juga Pa’e, setiap nonton tivi mereka lebih senang tiduran ketimbang duduk di sofa. Bukan apa-apa, tak mungkin bagi mereka nonton tivi di rumah sendiri tapi duduk di sofa haji Dullah tetangganya. Hihihi…boro-boro sofa, kalaupun ada mana muat dimasukan dalam ruang serbaguna mereka, apalagi ini memang benar-benar nda ada. Nda ada duit untuk membeli maksudnya. Hehehe

“ Pa’e! Pa’e! tadi sore waktu aku beli kopi di warung mbak Yem, bune Genduk sama bune Thole juga lagi di sana. Mereka lagi ngomongin suami-suaminya yang terus-terusan taruhan. Katanya, selama piala dunia kali ini saja, mereka sudah rugi hampir satu jutaan, tapi mereka nda kapok-kapok. Mereka sudah melarang keras suami-suaminya, tapi ya begitu lah, tuntutan para istri tak ubahnya demo-demo rakyat kecil yang dianggap angin lalu “ dengan gaya khas perempuan sedang ngerumpi, Bu’e mencoba mengusir rasa kantuk.

“ Namanya saja judi, yang kalah penasaran, yang menang ketagihan. Pakne Genduk dan pakne thole mungkin baru ratusan ribu, malah ada yang sampai kalah puluhan juta atau kehilangan kendaraan, rumah dan perabot lainnya. Poko’e selama musim piala dunia ini banyak orang yang kaya dan miskin mendadak. Aku denger ini dari temen-temenku “ jawab Pa’e sambil meneplok nyamuk yang tanpa permisi menyedot darah Pa’e, persis para koruptor yang mengambil uang rakyat, nda malu dan nda takut sama sekali.

“ Katanya si Lanang juga taruhan loh Pa’e, cuma kalau dia bukan pake duit. Dia ama teman-temannya taruhan, siapa yang kalah harus nraktir main PS di rumah koh Ahong “. Sepertinya urusan gosip yang lagi hangat beredar di komplek selalu ibu- ibu bagikan, termasuk kepada Bu’e.

“ Mau pakai duit apa bukan, gede apa kecil, iseng atau serius, seru-serun atau sumber penghasilan, tetap saja taruhan itu haram, judi itu dosa. Apapun yang dipertaruhkan, asalkan ada yang untung dan ada yang dirugikan, tetap saja termasuk judi, haram hukumnya. Sayangnya banyak orang yang menganggap kalau hanya untuk hiburan, taruhan tak lagi haram. Aneh, cari hiburan kok dengan bermaksiat, apa nda ada hiburan yang lain “ jawab Pa’e kesal sekaligus prihtin karena banyak orang yang lebih memikirkan keuntungan dan kebahagiaan sesaat dibanding keselamatan akhirat.

Kali ini Bu’e diam saja. Berkali-kali Bu’e menguap sementara Pa’e menepati omongannya. Setiap ada pemain yang akan memasukan bola – dari kesebelasan manapun – Pa’e terlihat semangat, dan menjadi kesal ketika bola gagal masuk ke dalam gawang. Hihihii….penonton yang aneh!. Dan, jika umumnya orang-orang yang menonton bola pada heboh sendiri, maka lain bagi Pa’e. melihat pertandingan bola tak ubahnya melihat film horor Suzzana, sepi mencekam. Hanya sesekali Pa’e menggerak-gerakan kaki dan tangan seperti orang pantomim ketika bola berada di muka gawang. Bu’e jadi geli sendiri melihat tingkah polah Pa’e. Pa’e tidak sadar kalau Bu’e yang sedari tadi lebih banyak melihat tingkah lakunya ketimbang tingkah laku para pemain sepak bola, kini sudah tertidur pulas. Mungkin Bu’e merasa lebih seru melihat pertandingan sepak bola dalam mimpinya. Hihihi

**

Pagi harinya, dari warung mbak Yem Bu’e sudah siap dengan berbagai oleh-oleh buat Pa’e. Bukan onde-onde atau kue bantal kesukaan Pa’e, tapi laporan mengenai kesebelasan mana yang jadi pemenang piala dunia kali ini. Bu’e tahu persis kalau Pa’e belum tahu siapa yang jadi juara. Lah wong babak pertama belum selesai, Pa’e sudah kadung berduet ngorok dengan Bu’e dan baru bangun pas suara azan shubuh berkumandang.

“ Pa’e! Pa’e! Pa’e tahu nda siapa yang jadi pemenang piala dunia kali ini. Aku tahu Pa’e. Tadi ibu-ibu pada ngobrol di warung mbak Yem “ Bu’e mengawali laporannya dengan penuh semangat.

“ Ibu-ibu pada ngomongin siapa yang jadi pemenang piala dunia, apa siapa yang menang taruhan “ jawab Pa’e mematahkan semangat Bu’e yang hendak melaporkan hasil liputannya di warung mbak Yem.

“ Iya sih, sebenarnya ibu-ibu itu pada cerita kalau suaminya pada kalah taruhan “ jawab Bu’e ikut-ikutan lemes. Bukan karena Bu’e kalah taruhan, tapi karena jawaban Pa’e telah meluluh lantahkan skrip yang sudah disusunnya sejak masih di warung mbak Yem. “ Tadi semua ayam di warung mbak Yem diborong bune Thole, katanya untuk merayakan kemenangan tim Spanyol. Kasihan bune Genduk yang tinggal kebagian ikan asin sama sayur asem. Asem bener nasibnya, soale pakne Genduk katanya kalah taruhan “ lanjut Bu’e dengan semangat yang masih tersisa.

“ Astaghfirulloh! Kejam sekali pakne Thole, ngasih makan keluarganya pakai uang haram. Sedikit apapun makanan yang masuk ke dalam perut yang didapat dengan cara yang tidak halal, akan menjadi bara api neraka dan menyebabkan tertolaknya do’a-do’a. Wong wis pada keblinger, mereka yang main bola disana pada sehat, mengapa yang nonton di sini pada maksiat. Wis, mendingan kita Bu’e, biarpun makan dan hidup sederhana, insya Allah halal dan barokah. Aku nda mau memberi nafkah keluarga dengan nafkah yang haram. Nauzubillah !” kata Pa’e mantap.

Dan, pagi itu Pa’e dan Bu’e menikmati kopi dan pisang goreng dengan nikmat. Tak ada beban meskipun piala dunia telah berlalu.

**

“ Assalamu’alikum…….”

“ Waalikum salam! Suara siapa itu ya Pa’e” tanya Bu’e sambil beranjak menuju pintu.

Siapakah tamu yang datang ke kontrakan Pa’e dan Bu’e pagi itu? Tunggu kisah Pa’e dan Bu’e selanjutnya. Insya Allah.

Gambar dipinjam dari sini

5 Jul 2010

Antara Pejabat Dan Penjahat


Malam itu Pa’e dan Bu’e sedang nonton di ruang serbaguna. Serbaguna di sini bukan sebuah ruangan berukuran luas atau aula yang biasa digunakan untuk acara pertemuan atau hajatan warga. Ruang serbaguna Pa’e dan Bu’e adalah sebuah ruang berukuran 3 x 2.5 meter yang biasa digunakan sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan, tidur dan melakukan aktivitas lainnya. Ya, ruang serbaguna Pa’e dan Bu’e adalah kamar kontrakan sempitnya. Dan, acara yang ditonton bukanlah acara konser ataupun pertandingan sepak bola di layar kaca segede layar tancap. Di televisi Pa’e dan Bu’e yang mungil, pertandingan sepak bola sama jarangnya dengan acara sinetron. Pa’e nda suka sepak bola dan Bu’e terpaksa nda suka sinetron karena Pa’e melarangnya.

18 Jun 2010

Keluh Kesah Sekolah

Pagi yang cerah. Matahari bersinar terang seolah ingin membalas dendam pada sang hujan yang telah mengguyur bumi sepanjang malam. Kilau embun di pucuk dedaunan berkilau bagaikan intan berlian. Aroma khas tanah basah menambah suasana pagi di rumah Pa’e begitu sejuk dan damai.

Tak mau melewatkan cerahnya pagi, Pa’e terlihat asyik memandikan motor bmw nya. ( lho, bmw kok motor, apa nda salah ketik tuh? Tidak, bukan salah ketik tapi andalah yang salah mengartikan karena Pa’e mengartikan motor bmw sebagai motor bebek merah warnanya. Hihihi )

Sementara Pa’e sibuk berkecipak kecipuk dengan air hujan yang sengaja ditampung Pa’e semalam, Bu’e juga ikut-ikutan sibuk mengeluarkan kasur, bantal, dan cucian yang sejak kemarin belum kering karena hujan yang datang dan pergi sesuka hati.

“ Bu’e, dari pagi ta perhatiin pakne Genduk iku kok mondar-mandir, kadang kayak orang sibuk tapi kadang kayak orang bingung. Ono opo tho Bu’e?” tanya Pa’e saat Bu’e melintas di depannya sambil membawa cucian kemarin dengan aromanya yang khas. Apek.

“ Gara-gara Genduk iku lho Pa’e “ jawab Bu’e sambil melirik Pa’e. Ini mau mandiin motor apa mainan air, lah motornya saja masih kering kok malah baju Pa’e yang basah, Bu’e membatin. Bu’e tidak tahu kalau saat itu Pa’e hampir menyelesaikan pekerjaannya memandikan motor bmw nya, tinggal dihandukin, pake bedak terus poto-poto deh. Hihihi

“ Genduk kenapa Bu’e? “ tanya Pa’e kaget. Dan acting Pa’e memang benar-benar memukau sampai-sampai Bu’e yang ditanya jauh lebih kaget lagi.

“ Pa’e iki lho, mbok yo biasa aja. Bikin aku kaget saja, untung jemurannya pada nda jatuh “ Bu’e kesel karena Pa’e terlalu heboh mengekspresikan diri, sama seperti orang budeg dikasih duit ( apa hubungannya ya? Hihi ). 

“ Si Genduk sakit Bu’e? Sakit opo Bu’e, sekarang dirawat di rumah sakit mana? Kok kamu nda ngasih tahu toh Bu’e?” serbu Pa’e

“ Sing sakit ki yo sopo toh Pa’e ?” tanya Bu’e mangkel.

“ Lah tadi, jare pakne Genduk wira-wiri gara-gara Genduk. Aku kan yo nda enak toh Bu’e, masa ada tetangga yang kerepotan kok sampai nda tahu. Kanjeng nabi kan pernah ngendiko, berdosa kita apabila ada tetangga yang membutuhkan bantuan tapi tak kita berikan. Berdosa kita kalau kita tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga kita tak bisa tidur karena kelaparan “ Pa’e nda peduli dengan ekspresi Bu’e yang jadi gemes karena omongan Pa’e yang ngelantur.

“ Pa’e, pa’e….si Genduk iku nda sakit. Genduk sehat wal afiat, lah wong tadi pagi waktu aku pulang dari warung Genduk lagi sarapan nasi uduk segunung “ jawab Bu’e buru-buru sebelum Pa’e mengeluarkan hadist berikutnya. “ Pa’e genduk itu lagi pusing mikirin sekolahnya si Genduk. Mau ndaftar ke sekolah negeri tapi nilainya Genduk seikhlasnya saja, jauh dari batas minimal yang ditetapkan. Kalau di daftarin ke sekolah swasta, pa’e Genduk nda kuat dengan bayarannya yang nda itung-itungan “ lanjut Bu’e. Si Bu’e memang terkadang suka asal, masa ada bayaran yang nda itung-itungan, kalau mahal mungkin. “ Ya itu maksudku!” Loh kok Bu’e ngerti kalo di rasani yo, mangkane ojo seneng ngrasani orang yo! Inget itu! Hihihi

“ O.. ngono tho? Kirain si Genduk sakit “ sahut Pa’e kalem. Tanpa sepengetahuan Bu’e, Pa’e menyempatkan diri berkaca pada kaca spion sebelah kiri. Pa’e tersenyum pahit mendapati seraut wajah di kaca spion, dan berpindah ke yang sebelah kanan. Hasilnya sama, nda sedap dilihat. Cermin memang tak pernah berbohong, batin Pa’e. Waktu muda dulu Pa’e memang belum mirip sama Dude Herlino, tapi sekarang setelah tua malah makin nda mirip sama sekali. Hihihii

“ Dari kemarin pakne si Genduk iku mondar-mandir ke sekolahan, cari informasi siapa tahu ada yang bisa bantu memasukan Genduk di SMP negeri “ kata Bu’e tepat ketika Pa’e berhenti menggerutu pada sang cermin yang terlalu jujur.

“ Loh, jare nilainya jauh di bawah batas minimal, kok masih mau nyoba ke sekolah negeri ? “ Pa’e belum mudeng kemana arah pembicaraan Bu’e, barangkali karena Bu’e terhalang jemuran kain sarung Pa’e jadi nda kelihatan kemana pembicaraan Bu’e berjalan. Hehehe

“ Sekarang pakne Genduk sudah menemukan orang yang siap membantu, tapi ya tentunya tidak gratis. Wong pembantu rumah tangga saja minta digaji, apalagi dia yang bukan pembantu. Membantu hanya sebagai pengganti kata memeras saja “ lanjut Bu’e agak gregetan ketika menyebut kata tidak gratis. Tapi gregetan ala Bu’e sangat jauh berbeda dengan gregetannya Sherina Munaf. Hehehe

“ Nyogok maksude?” 

“ Lah iya! Nah sekarang pakne Genduk lagi puyeng nyari pinjaman untuk mbayar sang ‘pembantu kejam’ itu biar diterima di sekolah negeri. Mana jumlahnya sampai ber jeti-jeti ( berjuta-juta ) lagi “ kata Bu’e sok gaul.

“ Lah, wong belum apa-apa kok sudah harus mengeluarkan duit sebanyak itu. Mana harus ngutang lagi. Belum nanti untuk kebutuhan sekolahnya. Anak baru masuk sekolah itu kan kebutuhannya banyak banget, ya seragam ya buku ya uang gedung yang kini sudah berganti nama jadi uang pagar, uang ini itu, wis pokoke seabreg. Mbok ya sudah, kalau memang nilai anaknya nda mencukupi ya nda usah mekso masuk sekolah negeri. Cari saja sekolah lain yang sesuai dengan kemampuan otak si anak, juga kemampuan ekonomi. Lagian, namanya suap menyuap itu kan dosa, dilarang agama. Gimana anaknya pintar, wong masuk sekolahnya saja sudah lewat jalur nda bener. Pak ustadz bilang, ilmune nda barokah “

“ Tapi memang wis jamane kali Pa’e. Buktine si Thole nilainya bagus, sangat cukup untuk mendaftar di sekolah negeri favorit di sini. Tapi tetap saja bapak ibunya kebat-kebit sebab ada saja orang tua yang karena nilai ijasah anaknya nda memenuhi syarat, maka mereka mengandalkan nilai rupiah “

“ Nah itu dia, pihak sekolah bisa saja bilang bahwa sistim penerimaan siswa baru di sekolah mereka bersih dari segala bentuk suap menyuap, tapi kan yang di suap bukan sekolahnya tapi oknum sekolah. Dan yang nda bisa dibenarkan adalah banyaknya orang tua siswa yang karena merasa khawatir anaknya nda bisa masuk di sekolah incaran mereka, akhirnya berlomba-lomba menawarkan rupiah lebih tinggi agar anaknya bisa masuk. Padahal, kalau mau fair, tak perlu lagi mengeluarkan banyak uang kecuali untuk membeli formulir, membayar seragam dan juga buku-buku pelajaran. Sekolah bisa saja tak menerima suap, tapi oknum-oknum yang memang kerja untuk mencari uang mana tahan jika diiming-imingi uang. Biarlah dosa urusan belakangan, yang penting uang sudah ada di tangan. Soal suap menyuap untuk masuk sekolah memang sudah menjadi rahasia umum dan seperti lingkaran setan, mana ujung mana pangkalnya yang harus dipegang untuk menghentikan ” panjang lebar Pa’e menerangkan, sampai-sampai Bu’e mengira Pa’e membaca catatan.

“ Betul juga Pa’e. Kalau semua orang tua sepakat untuk tidak mengeluarkan duit diluar persyaratan yang tercantum, dan juga kalau semua pihak sekolah yang terkait penerimaan siswa baru ingat akan kehidupan akhirat. Jika saja bisa seperti itu, tak perlu para siswa yang nilainya bagus merasa khawatir tidak terima. Dan siswa yang nilainya jauh di bawah standar, nda perlu memaksakan pikirannya untuk mengikuti pelajaran di sekolah favorit yang tak terjangkau olehnya” kini giliran Bu’e yang membaca catatannya eh nggak ding, Bu’e sudah hafal dialognya. Hehehehe

“ Bu’e, ngomong-ngomong kok kamu tahu semua problem yang lagi dihadapi pakne Genduk dan Thole, apa kamu diajak bicara sama mereka? Rasanya aku nda lihat mereka main ke rumah?” ada nada curiga dibalik pertanyaan Pa’e.

“ Jangan curiga dulu Pa’e. Pakne Genduk , pakne Thole dan pakne-pakne lainnya di komplek sini tidak ada yang main kecuali kalau mereka ada perlu sama Pa’e. Ngene-ngene aku tahu aturan menerima tamu di rumah. Tak ada tamu laki-laki lain saat pa’e nda di rumah. Aku tuh kebetulan tahu problem orang tua di komplek sini dari ibu-ibunya. Tadi pagi, mereka pada ngomongin hal itu di warung sayur mbak Yem”

“ Di warung sayur mbak Yem? Pagi-pagi sekali? Saat sebagian orang masih sholat shubuh? Apa mereka nda bisa tidur semalaman sampai-sampai sepagi itu sudah ngerumpi di warung sayuran. Ternyata acara gosip di tv sudah termasuk kesiangan dibanding acara gosip menggosip ibu-ibu di warung sayuran ya? “ 

“ Ya, namanya juga ibu-ibu, kapan ketemu ya pasti ingin bertanya ini dan itu. Malah, bukan cuman obrolan sekolah loh Pa’e. tadi pagi ibu-ibu juga sibuk membicarakan soal video….”

Wis-wis, nda usah dilanjutkan lagi. Mblenger aku ndengerinnya. Asal Bu’e tahu saja ya, meskipun cuma  mendengarkan orang menggunjing, Bu’e tetap dapet dosanya. Saat itu Bu’e mungkin tidak ikut ngomong, tapi di tempat lain, dengan orang lain siapa yang bisa menjamin?. Sudah, ayo kita sarapan saja, nanti ada yang ingin aku obrolin lagi sama Bu’e”

“ Ngobrol opo tho Pa’e?” tanya Bu’e penasaran

“ Ada, yang ini jauh lebih penting dan lebih menarik dari yang Bu’e dengar di warung tadi pagi”

catatan: mblenger = bosen
Gambar diambil dari sini

10 Jun 2010

Kiamat Sudah Datang

Pa’e dan Bu’e baru saja pulang dari kondangan ketika di jalan mereka bertemu dengan rombongan pengantar jenazah. Karena jalan yang sempit sekaligus sebagai bentuk penghormatan, Pa’e dan Bu’e berhenti dan turun dari motor sampai seluruh rombongan pelayat lewat di depan mereka.

“ Yang mengantar jenazah banyak banget, barangkali semasa hidupnya si mayit ini orang yang baik ya Pa’e? “ kata Bu’e setelah duduk kembali di boncengan motor.

“ Iya Bu’e. Mudah-mudahan bukan yang mengantar saja yang banyak tapi yang mengambil pelajaran juga banyak ” jawab Pa’e sambil memasukan gigi satu dan menjalankan motornya kembali.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri