“ Bu’e…sudah siap belum?” tanya Pa’e dengan nada tak sabar. Suara Pa’e terdengar semakin meninggi, setara dengan nada sol. Itu berarti sudah 5 kali Pa’e menanyakan hal yang sama kepada Bu’e.
Jika Pa’e sudah 5 kali bertanya, maka Bu’e sudah tak terhitung lagi berganti baju, kerudung dan sandal. Jika baju dan kerudung sudah maching, maka Bu’e menjadi pusing memilih sandal atau sepatu yang serasi. Dan jika sandal, baju dan kerudung sudah sepadan, maka Bue menjadi bingung memilih warna lipstiknya. Seperti kaum hawa pada umumnya , maka Bu’e pun ingin terlihat cantik di depan Pa’e. Bu’e ingin menambah ke-pede-an Pa’e saat berjalan bersama Bu’e. Tapi….nggak segitu-gitunya kale…..! Hehehehe…
“ Bu’e….! Mbok ya o, jangan lama-lama tho!” Pa’e nyaris kehabisan stock kesabaran. Berkali-kali Pa’e melihat jam di lengan kirinya dan mendongak ke langit bergantian. Mengapa Pa’e selalu melihat ke langit, apakah Pa’e sedang mengecek pesawat yang sedang menjemputnya sudah datang apa belum? Jawabannya tentu saja bukan. Pa’e merasa perlu memandang ke langit karena Pa’e sudah tidak terlalu percaya lagi dengan jam tangan second yang dibelinya dua tahun lalu di pojokan pasar. Pa’e merasa perlu mencocokan waktu dengan posisi matahari. Hihihi…
Pa’e hampir saja memanggil Bu’e dengan nada si ketika Bu’e nongol dari balik pintu. Seperti di film-film, Bu’e muncul pada saat detik-detik terakhir kesabaran Pa’e menguap. Dan demi melihat penampilan Bu’e, segenap rasa kesal Pa’e seketika lenyap. Bak bidadari beraroma mint, emosi Pa’e yang mulai hangat-hangat kuku mendadak beku. Hawa sejuk dan segar terasa sekali ketika Bu’e me-launching senyum terindahnya yang konon telah sukses membuat Pa’e klepek-klepek.
“ Sebenarnya kita mau kemana tho Pa’e?” tanya Bu’e sambil terus mempertahankan senyum Monalisanya.
“ Kita mau silaturahmi ke tempat saudara, tetangga, kerabat dan juga sahabat nara blog, seperti yang aku omongin kemarin” jawab Pa’e dengan nada suara yang palign lembut, Kemilau wajah Bu’e telah sukses menurunkan nada suara Pa’e dari si menjadi do rendah.
“ Selain silaturahmi, kita mau ngapain lagi?” Bak anak remaja, Bu’e membetulkan posisi kerudungnya yang tak ada masalah, sekedar memastikan bahwa Pa’e tak melewatkan lesung pipitnya.
“ Besok pagi kan sudah puasa, kita mohon maaf sama mereka “ jawab Pa’e sambil beranjak ke arah Bu’e yang masih asyik dengan ujung kerudungnya.
“ Minta maaf? “ tanya Bu’e heran. “ Memangnya Pa’e habis berbuat salah apa sama mereka?” lanjutnya.
“ Ya nda tahu, Bu’e. Tapi yang jelas, kita ini kan manusia, sudah kodratnya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita ini hanyalah hamba yang lemah, tak lepas dari salah, kita hamba yang dhoif, tak luput dari khilaf. Sudah semestinya kita saling memohon maaf dan memaafkan”
“ Bukannya meminta maaf tidak harus nunggu datangnya bulan Ramadhan ataupun lebaran?” Bu’e sekedar meyakinkan
“ Ya, memang. Seharusnya kita segera meminta maaf setiap kali kita berbuat salah, besar atau kecil, sengaja atau tidak. Islam mengajarkan seperti itu, tidak harus menunggu saat-saat tertentu. Tapi tidak ada larangan juga untuk menggunakan waktu-waktu istimewa seperti sekarang untuk saling memaafkan. Ramadhan itu bulan yang suci, seharusnya kita menyambutnya dengan hati yang bersih, salah satunya dengan saling memaafkan, membebaskan diri dari kesalahan”
Bu’e diam saja mendengar penjelasan Pa’e. Apa yang dikatakan Pa’e benar adanya.
“ Pa’e, nanti Pa’e saja yang mewakili bicara ya, aku nda usah ikut-ikutan ngomong “ kali ini sifat grogi Bu’e terasa mulai kambuh lagi.
“ Yo wis, nanti cukup aku yang ngomong, itu juga sudah mewakili Bu’e. Lagian aku sudah menyiapkan teksnya kok, nda perlu repot-repot cari kata-kata lagi” jawab Pa’e sambil mengeluarkan lipatan kertas dari saku celana sebelah kanan.
Bu’e menerima kertas yang disodorkan Pa’e. Bak guru yang sedang memeriksa ujian, Bu’e membaca teks yang sudah disusun Pa’e dengan seksama.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya, atas nama pribadi dan juga mewakili keluarga, memohon maaf yang setulus ikhlasnya kepada keluarga, tetangga, kerabat serta seluruh sahabat nara blog atas kesalahan, kekeliruan, kekhilafan dan kekurangan, baik yang terdapat dalam postingan, komentar ataupun tanggapan. Kami sadar bahwa kami hanyalah hamba yang lemah, tak lepas dari salah, saya hanyalah hamba yang dhoif yang tak luput dari khilaf. Tak ada maksud sedikitpun dalam setiap postingan, komentar ataupun tanggapan yang saya berikan untuk menyinggung, menyakiti, merugikan ataupun membuat orang lain merasa tidak nyaman, namun semua itu bisa saja terjadi tanpa kami sadari. Itulah bukti bahwa saya hanyalah manusia, mungkin memiliki kelebihan namun pasti memiliki kekurangan.
Sekali lagi, mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf, begitupun dengan tulus ikhlas kami sudah memaafkan andaikata ada kesalahan dan kekhilafan sahabat semua. Mari sambut bulan nan suci mulia ini dengan hati yang bersih. Mari manfaatkan sebaik mungkin bulan mulia ini untuk meningkatkan ibadah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Insya Allah.
Selamat menunaikan ibadah puasa, dan juga ibadah-ibadah lainnya. Semoga Allah menerima ibadah kita dan kita benar-benar bisa menjadi hamba yang bertaqwa. Amin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
“ Lho, kok ini ada dua lembar Pa’e, yang satunya lagi apa?” tanya Bu’e selesai membaca konsep yang sudah di susun Pa’e. Terhadap konsep tersebut, Bu’e setuju dan tak perlu lagi ditambah ataupun dikurangi.
“ Itu titipan dari sang ‘dalang’ penulis perbincangan kita. Baca saja, bukan rahasia kok!”
Bu’epun membaca lembar kedua dengan seksama. Berikut isinya;
Saya atas nama pribadi dan keluarga juga menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang tinggi kepada saudara, tetangga, kerabat dan juga sahabat nara blog yang telah memberikan doa, dukungan dan bantuan untuk kesembuhan istri saya. Memang, ujian ini terasa sangat berat kami rasakan, namun alhamdulillah Allah masih berkenan memberikan pertolongan, salah satunya adalah melalui kalian semua. Sejauh ini kesehatan istri saya sudah lebih membaik, meskipun tindakan dokter belum menyentuh ke penanganan ginjalnya. Bagaimanapun, medis adalah sebuah ikhtiar, ada berbagai macam ikhtiar lainnya. Sampai saat ini kami dan keluarga sepakat untuk mencari kesembuhan melalui jalur non medis, yang terpenting adalah ikhtiar ini tidak bertentangan dengan aturan agama, dan kesembuhanlah yang jadi tujuan utamanya. Ikhlas, sabar, ikhtiar dan doa serta tawakal, itu yang bisa kami lakukan. Insya Allah, apapun yang terjadi pada diri dan keluarga kami, kami sadar semuanya atas izin dan kehendak Allah SWT. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan. Selagi kita bersabar dan ikhtiar, maka Allah akan memberikan pertolongan dan jalan keluar. Allah tak menurunkan penyakit keculi beserta obat penyembuhnya. Insya Allah, kami jauh lebih tabah dibanding saat-saat pertama kami menerima ujian ini, dan salah satunya adalah berkat doa, dukungan dan bantuan kalian semua. Semoga Allah mencatat semuanya sebagai amal kebajikan dan memberikan pahala yang berlipat ganda. Amin.
Gambar dipinjam dari sini