
Dulu, di semester pertama, - alhamdulillah- nilai raport
Sabila menjadi yang terbaik di kelasnya, tapi di seluruh santri angkatannya, ia
hanya menempati peringkat ke lima. Raut kecewa sempat terlihat di wajahnya, namun kejora di matanya kembali cemerlang setelah kuyakinkan bahwa semua
itu tidak mengurangi rasa bahagia dan banggaku kepadanya. Terus terang, bukan
bermaksud meragukan kemampuannya, melemahkan semangat belajarnya, tapi aku menyadari
bahwa persaingan yang harus Sabila hadapi di ponpes modern ini cukup ketat, banyak
santri/wati yang mempunyai latar belakang pendidikan dari SDIT, hanya sebagian
kecil yang berasal dari SD umum, salah satunya dia.
Kemudian di semester kedua, ketika beberapa teman-temannya
yang di semester pertama menempati peringkat sepuluh besar mengalami
pergeseran, meski belum bisa meningkatkan prestasi, alhamdulillah Sabila masih bertahan
di posisinya. Nilai raportnya masih menjadi yang terbaik di kelas dan
di asramanya, tapi lagi-lagi masih di peringkat ke lima untuk seluruh santri/wati
angkatannya. Sebuah piagam dan pialapun layak ia terima. Mendung di wajahnyapun
perlahan sirna setelah kuingatkan, ”Ketika ada yang menurun peringkat dan nilainya,
kamu bisa bertahan di posisi semula, itu
juga sebuah prestasi yang harus tetap disyukuri!”.

Berapapun nilainya, juara pertama ataupun kelima, tetap saja
aku bahagia dan bangga dengan hasil pencapaiannya. Aku menghargai ketekunan
belajarnya, kegigihan untuk mewujudkan menaranya. Dan dua hal yang paling sering kuingatkan padanya
adalah; jangan pernah tinggalkan kejujuran, lebih baik nilai bagus tapi dari
hasil usaha ( belajar ) murni, daripada nilai jelek tapi dari hasil mencontek,
jangan tinggi hati karena di atas langit masih ada langit lagi. Betul?