Tidak banyak mainan yang Sabila miliki. Bukan hanya karena sebagian besar sudah diberikan kepada sepupu dan juga tetangga setelah usianya mulai beranjak remaja, tapi sejak kecil memang Sabila tidak begitu hobi mengoleksi aneka macam mainan anak-anak. Sabila juga tidak terlalu 'clamitan' bila melihat mainan baru. Berbeda ketika ia kuajak ke toko buku.
Ketertarikan Sabila terhadap buku bacaan tumbuh dengan sendirinya. Memasuki usia sekolah, ketika kemampuan membacanya mulai lancar, ketertarikannya terhadap buku bacaan semakin jelas kelihatan. Boneka Barbie ia simpan, bantal Spongebob pun ia pensiunkan. Begitu pula dengan boneka Hello Kitty warna pink, tak lagi dipajang di meja belajarnya.
Mainan apa yang ingin Sabila miliki, kami tidaklah terlalu membatasi, hanya membantu memilihkan jenis mainan dengan beberapa pertimbangan. Tidak melulu pada harganya, sebab harga yang mahal bukan jaminan mainan tersebut cocok untuknya, juga kami tak mau ambil resiko hanya dengan mengejar harga yang murah. Segi keamanan, baik dari bahan maupun kinerja mainan jelas kami prioritaskan. Juga kesesuaian mainan dengan usia dan kemampuannya menggunakan.
Usia < 1 tahun
Mainan putar musik gantung ( entah apa nama yang sebenarnya, tapi yang saya maksud adalah seperti yang terlihat pada gambar di atas ) adalah mainan pertama Sabila. Bunyi,warna dan bentuknya yang menarik ( semakin mengembang bila diputar, dengan iringan suara music yang menarik ) menjadi pertimbangan mengapa kami memilih mainan ini sebagai mainan pertamanya. Di usia ini Sabila jelas belum bisa bermain dengan mainannya sendiri , karena itu mainan ini cukup tepat bagi usianya.
Usia 1 – 2 tahun
Di tahapan ini, mainan berbahan karet dengan warna-warna yang cerah dan menarik serta dapat mengeluarkan bunyi kami prioritaskan. Alasannya, mainan berbahan karet cukup aman bagi usianya yang seiring dengan tumbuhnya gigi, seringkali berusaha untuk menggigit dan memasukan mainannya ke dalam mulut. Kami hindari mainan berbahan selain karet ( kain, kertas ) karena khawatir akan digigit atau dimakan. Kemudian mainan dengan warna yang cerah dan dapat mengeluarkan bunyi jelas lebih menarik minatnya, disamping merangsang indera penglihatan dan pendengarannya agar berfungsi lebih optimal. Dan pilihan kami waktu itu jatuh pada boneka Teletubbies.
Mengapa kami memilih boneka Teletubbies? Tentu saja, awal tahun 2000an bisa dikatakan tahunnya Teletubbies. Jangankan anak-anak, orang tuapun ikut geregetan melihat bentuk dan tingkah lucu mereka yang menggemaskan. Meski saat itu di pasaran banyak ditemukan boneka Teletubbies dengan berbagai bahan dan ukuran, tapi kami memilih yang terbuat dari bahan plastik dengan ukuran tidak terlalu besar, tidak pula terlalu kecil, sehingga aman dimainkan oleh anak sesusianya.
Usia 3 – 5 tahun
Memasuki usia pra sekolah, layaknya anak perempuan pada umumnya, Sabila pun tertarik dengan mainan berupa boneka. Boneka Barbie dan Hello Kitty adalah dua boneka kesayangannya. Sedang boneka Spongebob lebih cenderung karena saya yang gemas dengan tokoh kartun yang kocak ini. Selain boneka, peralatan masak dari plastic, dan mainan bongkar pasang berupa gambar Barbie beserta baju dan perlengkapan lainnya, kami mulai memperkenalkan Sabila dengan berbagai mainan seperti lego, puzzle gambar, huruf dan angka.
Di tahap ini, mainan berbahan kertas, kain dan kayu sudah bisa ia gunakan, termasuk kami kenalkan ia dengan crayon dan pensil warna untuk mewarnai, juga pensil dan buku tulis untuk belajar menulis.
Usia > 5 tahun
Memasuki usia sekolah perlahan Sabila mulai beralih dari mainan anak-anak yang lebih membutuhkan kreatifitas dan keseriusan dalam menggunakannya. Minat bacanya mulai semakin terlihat. Juga kemampuannya mewarnai gambar semakin terlihat rapi. Jika kejenuhan mulai datang, Sabila akan mengajak umminya ( almarhumah ) untuk bermain dakon ataupun monopoli, sedang saya cukup jadi penontonnya saja.
Sejak Sabila mulai duduk di kelas empat, satu per satu mainan masa kecilnya dipensiunkan. Dari semua yang ada, kami sortir. Untuk mainan yang kondisinya masih cukup bagus kami berikan kepada anak tetangga ataupun saudara yang datang kerumah. Sedangkan mainan yang kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi seperti mainan bongkar pasang dari kertas yang sudah lusuh dan sobek langsung kami buang daripada mengundang tikus rumah yang suka datang dan pergi, membuat sarang dan beranak pinak sesuka hati. Kecuali untuk beberapa boneka kesayangannya, sampai hari ini masih tersimpan di lemari, entah apa kabarnya, sepertinya Sabila hampir benar-benar melupakannya. Baginya, buku seperti semua mainan di masa kecilnya. Jika buku sudah ditangan, apa lagi yang dia tanyakan?
Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk memilihkan mainan untuk mereka. Sedangkan seorang anak cenderung akan meminta mainan apapun yang menarik perhatiannya tanpa mempertimbangakan apakah itu baik baginya, bahkan apakah ia bisa menggunakannya. Disinilah peran kita sebagai orang tua sangat dibutuhkan. Kita berikan yang terbaik untuk mereka, bukan semua yang mereka inginkan, tapi lebih kepada yang mereka butuhkan. Dan satu yang jangan sampai dilupakan, jangan karena mainan anak-anak kita lupa pada kewajiban, baik sebagai anak apalagi sebagai hamba Tuhan.
* Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak
Terima kasih kepada
1. topbgt.com untuk gambar mainan putar gantung
2. zidneystorey.blogspot.com untuk gambar teletubbies
3. nitafebri.multiply.com untuk gambar bongkar pasang kertas
4. indonetwork.co.id untuk gambar puzzle huruf
5. alisarda.blogspot.com untuk gambar monopoly, dan
6. awale.info untuk gambar dakon
* Tidak ada satupun gambar dalaml postingan ini hasil jepretan sendiri. Pertama karena mainan Sabila sebagian besar sudah dibuang atau dibagikan kepada tetangga dan saudara. Kedua, saya tidak sempat dan lagi enggan untuk jeprat-jepret. Mohon maklum