Jika ditanya buku apa yang paling aku suka, susah aku menjawabnya karena pada dasarnya semua buku yang pernah aku baca masing-masing memiliki keistimewaan dan kesan sendiri-sendiri. Tapi jika ditanya buku apa yang selalu jadi favoritku, maka mantap kusebutkan Lupus dan Lima Sekawan. Sudah belasan tahun buku-buku itu kubaca dan tetap menjadi buku favoritku.
Membaca adalah hobiku sejak dulu. Masih ingat betul saat smp aku rajin wira wiri ke taman bacaan untuk meminjam buku Lupus dan Lima Sekawan. Maklum, saat itu membeli buku bacaan adalah salah satu hal yang sulit diwujudkan.Jangankan membeli buku-buku bacaan, buku pelajaranpun terkadang meminjam di perpustakaan atau kakak kelas. Beruntung saat itu paling tidak ada dua taman bacaan yang menyewakan berbagai macam buku, termasuk Lupus dan Lima Sekawan. Murah meriah, kalau tidak salah ingat hanya tiga ratus rupiah untuk jangka waktu maksimal satu minggu.
Jika teman-temanku dulu senang membaca komik, aku sebaliknya. Aku tidak telaten dan tidak bisa konsen membaca komik. Menurutku terlalu ribet melihat gambar dan tulisan secara bersamaan.
Sampai sekarang, ketika muncul buku-buku best seller seperti Tetralogi Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, atau Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih nya Habiburahman El Shirazy, juga buku-buku bagus lainnya, serial Lupus dan Lima Sekawan tetap mendapat tempat khusus di hatiku.
Alhamdulillah, keempat buku Tetralogi Laskar Pelangi, juga karya-karya Kang Abik sudah pernah saya baca. Bagus, sangat bagus dan berkesan. Juga beberapa buku lainnya seperti Taj Mahal, Huda Bidadari Cinta Kami, semuanya bagus dan memberikan inspirasi serta kesan yang mendalam. Semuanya aku suka. Namun buku-buku tersebut baru kubaca beberapa tahun yang lalu, belum lebih dari lima tahun. Entahlah untuk sepuluh tahun mendatang, apakah buku-buku tersebut masih ‘menarik minatku’. Lain halnya dengan buku Lupus dan Lima Sekawan yang sudah belasan tahun kubaca, tetap saja menarik untuk membacanya meski sudah berulang kali. Sepertinya, kenangan indah masa remaja yang mempengaruhi ketertarikanku dengan buku-buku ini.
Melihat usia, serial Lupus dan Lima Sekawan mungkin lebih pas untuk bacaan anakku yang kini beranjak remaja. Tapi kenangan indah masa remaja dulu, terasa begitu nyata salah satunya ketika membaca serial Lupus dan Lima Sekawan ini. Aku masih sering membaca ebook Lupus dan Lima Sekawan yang tersimpan dalam komputerku.
Sebenarnya sudah bertahun-tahun aku tidak menemukan apalagi membaca Lupus dan Lima Sekawan ini. Lebih dari lima belas tahun. Awalnya, tanpa sengaja saat iseng jalan-jalan di taman sebuah perumahan tak jauh dari tempat tinggalku, aku menemukan seorang pedagang buku-buku bacaan bekas di pinggir jalan. Sepuluh ribu untuk tiga buah buku, harga yang sangat murah dan menggodaku untuk mampir melihat-lihat buku yang digelar di atas plastik terpal. Sayang, dari sekian buku yang dipajang, hanya ada dua buku seri Lima Sekawan yang kutemukan, selebihnya adalah buku-buku komik dan novel dewasa yang dari judulnya saja sudah menggambarkan isinya.
Sejak pertemuanku kembali dengan buku Lima Sekawan yang kertasnya sudah berubah warna, aku jadi bersemangat mencari buku-buku serupa, termasuk buku Lupus karangan Hilman Hariwijaya. Perpustakaan Daerah Tangerang adalah sasaran utamaku. Namun sayang, di sana aku hanya menemukan tiga buku Lupus dan beberapa judul buku karangan Enid Byiton tapi bukan serial Lima Sekawan. Pencarian selanjutnya kulakukan di internet, barangkali ada yang menjual buku-buku ini secara online. Bukan situs penjual buku yang kutemukan, tapi justru ebook serial Lima Sekawan dan Lupus yang bisa di download secara gratis.
Alhamdulillah! Sampai saat ini, belasan judul Lima Sekawan dan Lupus berhasil kukumpulkan. Namun sayang, masalah lain kemudian muncul. Membaca buku di komputer ternyata berbeda dengan membaca buku beneran. Bagaimanapun membaca buku secara langsung jauh lebih nyaman ketimbang membaca di komputer yang kerap kali membuat mata merasa lelah dan ngantuk. Belum lagi terkadang aku harus ‘berebut’ komputer dengan anak yang juga jadi menyukai buku Lupus dan Lima Sekawan ini. Sejauh ini aku belum menemukan toko buku baik secara online maupun offline yang menjual buku-buku bekas serial Lima Sekawan dan Lupus ini.
Adalah alasan yang wajar mengapa aku menjadikan buku Lupus dan Lima Sekawan ini sebagai favorit. Kisah petualangan Julian, Dick, George, Anne dan Timmy yang tergabung dalam Lima Sekawan ini jauh lebih menarik dibanding cerita-cerita sejenis, bahkan kisah Scoby Doo sekalipun. Dan sosok remaja kocak Lupus, Boim, Gusur, Lulu dalam kisah Lupus sangat mewakili usia remaja yang penuh warna warni. Meski kini usiaku sudah berkepala tiga, rasanya membaca buku-buku Lupus dan Lima Sekawan tak terlalu tua untuk itu.
**
Postingan ini dibuat sebagai sebuah nostalgia masa remaja sekaligus mencoba diikutsertakan dalam kontes writing challenge bukumoo yang diadakan oleh bukumoo dengan mengambil tema buku yang paling aku sukai Konon, bukumoo ini menyediakan buku novel dan komik bekas secara online dengan harga yang bersaing, namun saya belum memastikan apakah di bukumoo ini juga tersedia koleksi buku-buku bekas Lupus dan Lima Sekawan?