Ada beberapa sahabat di dunia maya yang bertanya kepada saya baik melalui email maupun chat di YM mengenai siapa sebenarnya saya. Nurudin, Muhammad Nurudin ataukah Abi Sabila?
Dapat saya jelaskan di sini bahwa Nurudin, Muhammad Nurudin dan Abi Sabila sebenarnya adalah satu orang, ya saya ini. Saya bisa memaklumi jika akhirnya ada yang bertanya seperti itu, karena memang saya pernah memperkenalkan diri sebagai Nurudin, Muhamad Nurudin atau juga Abi Sabila. Mengapa bisa demikian, mudah-mudahan penjelasan berikut bisa menjawab keraguan atau kebimbangan para sahabat akan identitas diri saya sebenarnya.
Nurudin, begitu nama yang tertera di akta kelahiran, ijazah, ktp dan dokumen-dokumen pribadi saya lainnya. Nama itulah yang diberikan oleh kedua orang tua saya 31 tahun silam atas rekomendasi salah seorang paman. Begitulah, akhirnya nama saya berbeda dengan kelima kakak saya yang semuanya memiliki nama depan yang sama. Meski begitu, saya tetap menerimanya dengan senang hati bahkan bersyukur dan berharap bisa mewujudkan harapan orang tua ketika memberikan nama indah itu untuk saya.
Muhammad Nurudin, begitu nama yang diberikan oleh mertua saya. Nama ini tidak tercantum di dokumen manapun, karena memang hanya sebagai nama panggilan di lingkungan keluarga besar kami. Sebagai orang Jawa ( mungkin tidak semua ), keluarga saya maupun mertua saya masih memiliki tradisi memberikan nama tambahan atau bahkan nama baru untuk anggota keluarga baru ( menantu ). Dan nama Muhamad dipilih keluarga mertua untuk tambahan nama saya. Subhanallah……nama yang indah, mudah-mudahan saya bisa menjaga keindahan nama tersebut dengan akhlak yang indah pula.
Nama ini ( pernah ) saya gunakan ketika saya membuat akun di beberapa site ( di Yahoo misalnya ) yang harus mencantumkan nama depan dan nama belakang. Daripada saya mengisinya dengan Nurudin Nurudin, saya pikir lebih bagus jika saya isi dengan Muhammad Nurudin, barangkali ini sekaligus bukti bakti saya dan terima kasih saya pada mertua yang telah memberikan ‘nama tua’ untuk saya.
Dapat saya jelaskan di sini bahwa Nurudin, Muhammad Nurudin dan Abi Sabila sebenarnya adalah satu orang, ya saya ini. Saya bisa memaklumi jika akhirnya ada yang bertanya seperti itu, karena memang saya pernah memperkenalkan diri sebagai Nurudin, Muhamad Nurudin atau juga Abi Sabila. Mengapa bisa demikian, mudah-mudahan penjelasan berikut bisa menjawab keraguan atau kebimbangan para sahabat akan identitas diri saya sebenarnya.
Nurudin, begitu nama yang tertera di akta kelahiran, ijazah, ktp dan dokumen-dokumen pribadi saya lainnya. Nama itulah yang diberikan oleh kedua orang tua saya 31 tahun silam atas rekomendasi salah seorang paman. Begitulah, akhirnya nama saya berbeda dengan kelima kakak saya yang semuanya memiliki nama depan yang sama. Meski begitu, saya tetap menerimanya dengan senang hati bahkan bersyukur dan berharap bisa mewujudkan harapan orang tua ketika memberikan nama indah itu untuk saya.
Saya menggunakan nama Nurudin ini untuk hal-hal yang sifatnya formal seperti ketika saya registrasi di eramuslim.com atau di kotasantri.com
Nama ini ( pernah ) saya gunakan ketika saya membuat akun di beberapa site ( di Yahoo misalnya ) yang harus mencantumkan nama depan dan nama belakang. Daripada saya mengisinya dengan Nurudin Nurudin, saya pikir lebih bagus jika saya isi dengan Muhammad Nurudin, barangkali ini sekaligus bukti bakti saya dan terima kasih saya pada mertua yang telah memberikan ‘nama tua’ untuk saya.
Nama Muhmmad Nurudin ini pernah tercantum di halaman ucapan terima kasih dalam buku Jejak-Jejak Surga Sang Nabi karya Bahtiar Hs yang dikirim secara khusus untuk saya, pada saat buku tersebut mulai beredar. Saya sempat ragu apakah nama Muhammad Nurudin yang dimaksudkan sang penulis adalah saya, apalagi istri saya waktu itu juga meragukannya. Pertanyaan yang logis, bagaimana mungkin yang dimaksudkan adalah saya, apa alasannya sampai nama itu tercantum di sana?.
Setelah di konfirmasi dengan sang penulis, beliau memang mengakui banyak mengenal orang yang bernama Muhammad ataupun Nurudin, tapi Muhammad Nurudin yang beliau maksudkan adalah orang yang saat itu bertanya melalui YM, ya saya ini. Aha! Entah kata dan bahasa apa yang bisa mewakili perasaan saya waktu itu. Hanya lantaran saya sering ( cerewet ) menanyakan perkembangan buku pertama beliau, kapan segera di terbitkan, rupanya sang penulis yang sampai tulisan ini saya buat belum pernah sekalipun bertemu muka dan berjabat tangan ini merasa ‘terprovokasi’ untuk segera merampungkan buku perdananya. Entahlah, tapi begitu pengakuan beliau waktu itu. Bukan karena merasa tersanjung, namun saya percaya beliau sebagai orang yang jujur, baik dalam tulisan maupun perkataan. Dan, pak Bahitarpun sukses melambungkan perasaan saya, merasakan indahnya terbang tanpa sayap.
Abi Sabila, begitu nama yang belakangan paling sering saya pakai di profil saya di dunia maya. Bukan karena sok nyelebritis ( bagaimanapun ku bukan superstar kaya dan terkenal, ku bukan saudagar yang punya banyak kapal ), bukan pula tak menghargai dan mensyukuri nama pembarian orang tua ataupun mertua. Alasannya sederhana saja dan sangat-sangat masuk akal. Tidak berlebihan dan tidak pula mengada-ada. Saat ini saya ( kami ) mpunya satu orang anak perempuan, yang kami beri nama Evi Sabila Suryani. Saya adalah bapaknya, maka wajar rasanya jika saya menyebut diri saya dalah Abi Sabila.
Dengan nama Abi Sabila, saya tak lagi menemui kendala ketika saya membuat akun yang mengharuskan mencantumkan nama depan dan belakang, meskipun saya juga bisa menggunakan nama yang diberikan mertua sebagai solusinya. Selain nyaman, saya juga merasa mantap dan ‘bangga’ menyebut saya sebagai Abi Sabila. Tak ada maksud penghianatan terhadap amanah orang tua saat memberi nama, juga ketika mertua membuatkan ‘nama tua’ untuk saya, karena ada saya merasa ada kebanggan ketika menyebutkan nama anak saya, sebagaimana orang tua dan mertua saya juga pasti bangga menyebutkan nama anaknya.
Pertanyaan berikutnya barangkali yang muncul adalah, nama yang mana yang saya senangi ketika orang memanggil saya? Saya kembalikan kepada yang hendak menyapa saya. Sekedar menyarankan, tak usahlah menjadikan beban, panggil saya dengan salah satu dari ketiga nama tersebut, insha Allah selagi itu untuk tujuan yang baik maka saya akan meresponnya.
Setelah di konfirmasi dengan sang penulis, beliau memang mengakui banyak mengenal orang yang bernama Muhammad ataupun Nurudin, tapi Muhammad Nurudin yang beliau maksudkan adalah orang yang saat itu bertanya melalui YM, ya saya ini. Aha! Entah kata dan bahasa apa yang bisa mewakili perasaan saya waktu itu. Hanya lantaran saya sering ( cerewet ) menanyakan perkembangan buku pertama beliau, kapan segera di terbitkan, rupanya sang penulis yang sampai tulisan ini saya buat belum pernah sekalipun bertemu muka dan berjabat tangan ini merasa ‘terprovokasi’ untuk segera merampungkan buku perdananya. Entahlah, tapi begitu pengakuan beliau waktu itu. Bukan karena merasa tersanjung, namun saya percaya beliau sebagai orang yang jujur, baik dalam tulisan maupun perkataan. Dan, pak Bahitarpun sukses melambungkan perasaan saya, merasakan indahnya terbang tanpa sayap.
Abi Sabila, begitu nama yang belakangan paling sering saya pakai di profil saya di dunia maya. Bukan karena sok nyelebritis ( bagaimanapun ku bukan superstar kaya dan terkenal, ku bukan saudagar yang punya banyak kapal ), bukan pula tak menghargai dan mensyukuri nama pembarian orang tua ataupun mertua. Alasannya sederhana saja dan sangat-sangat masuk akal. Tidak berlebihan dan tidak pula mengada-ada. Saat ini saya ( kami ) mpunya satu orang anak perempuan, yang kami beri nama Evi Sabila Suryani. Saya adalah bapaknya, maka wajar rasanya jika saya menyebut diri saya dalah Abi Sabila.
Dengan nama Abi Sabila, saya tak lagi menemui kendala ketika saya membuat akun yang mengharuskan mencantumkan nama depan dan belakang, meskipun saya juga bisa menggunakan nama yang diberikan mertua sebagai solusinya. Selain nyaman, saya juga merasa mantap dan ‘bangga’ menyebut saya sebagai Abi Sabila. Tak ada maksud penghianatan terhadap amanah orang tua saat memberi nama, juga ketika mertua membuatkan ‘nama tua’ untuk saya, karena ada saya merasa ada kebanggan ketika menyebutkan nama anak saya, sebagaimana orang tua dan mertua saya juga pasti bangga menyebutkan nama anaknya.
Pertanyaan berikutnya barangkali yang muncul adalah, nama yang mana yang saya senangi ketika orang memanggil saya? Saya kembalikan kepada yang hendak menyapa saya. Sekedar menyarankan, tak usahlah menjadikan beban, panggil saya dengan salah satu dari ketiga nama tersebut, insha Allah selagi itu untuk tujuan yang baik maka saya akan meresponnya.