
Dalam sepekan terakhir, bukan hanya di acara infotainmet tapi di beritapun, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Manohara terus menjadi sajian utama. Tak tanggung-tanggung, Presiden kita, Pak SBY pun ikut memberikan perhatian khusus terhadap kasus yang menimpa Manohara yang notabene adalah warga negara Indonesia.
Bukannya nggak respek ataupun prihatin dengan kasus yang dialami model cantik ini, tapi rasanya buat saya kok pemberitaan di media jadi terkesan berlebihan.
Bicara soal penganiayaan warga negara Indonesia di luar negeri, Manohara bukanlah yang pertama. Telah berapa banyak perempuan-perempuan kita yang dianiaya di luar negeri. Merka adalah para TKW yang dianiaya jauh lebih parah dari penganiayaan yang dialami Manohara. Mereka yang telah berjasa selain bagi keluarganya, juga bagi negara sebagai pahlawan devisa, banyak yang disiksa bahkan tak sedikit yang dipulangkan ke Indonesia sudah menjadi mayat dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan akibat penganiayaan yang dialami ditempat mereka bekerja.
Dibanding penderitaan para TKW, menurut saya Manohara jauh lebih beruntung. Suami Manohara adalah putra mahkota, sudah tentu hidupnya sebelum kasus ini muncul, jauh lebih baik ketimbang nasib para TKW yang sejak kedatangannya bahkan sampai akhir hayatnya selalu dipenuhi dengan penyiksaan dan penganiayaan.
Tapi mengapa, ketika TKW kita dipulangkan ke Indonesia sudah menjadi mayat yang mengenaskan, perhatian ‘kita’ tak sebesar kasus Manohara ini? Kenapa kedatangan Manohara yang justru terlihat segar bugar tanpa terlihat ada tanda-tanda penganiayaan seperti yang dialamai para TKW kita, kemudian menjadi bahan pemberitaan dimana-mana. Ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Benarkah, pemberitaan dan perhatian kepada Manohara murni berdasarkan rasa kemanuasiaan? ( Lalu kemana rasa kemanusiaan kita ketika TKW kita disiksa di luar negeri ) Apakah ‘kehebohan’ kasus Manohara ini ada kaitannya dengan ketidak harmonisan dua negara bertetangga ini? Ataukah ini sekedar pengalihan perhatian masyarakat akan sesuatu yang lebih besar?
Saya sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Hanya saja, rasa simpati saya, rasa prihatin saya rasanya jadi sedikit bergeser melihat gencarnya pemberitaan yang menurut saya jadi berlebihan. Selain Manohara, masih banyak warga negara kita, saudara-saudara perempuan kita, yang bukan saja mengalami kekerasan rumah tangga, tapi kekerasan di tempat kerja sepanjang hidupnya di luar sana. Kenapa mereka tak mendapat perhatian yang lebih seperti yang didapatkan Manohara? Semoga semua perhatian yang tertuju pada masalah ini, semata-mata dilandaskan rasa kemanusiaan, bukan untuk mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.