16 Jun 2009

Hujan Batu Di Negeri Sendiri, Hujan Bara Di Negeri Tetangga

Lagi, entah untuk yang keberapa kali, nasib naas kembali menimpa tenaga kerja wanita Indonesia yang bekerja di luar negeri. Mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, di siksa bahkan ada beberapa diantaranya yang harus menemui ajal akibat penganiayaan yang justru dilakukan oleh majikan mereka sendiri. Padahal, mereka ( TKW ) rela meninggalkan keluarganya, kampung halamannya, dan negara Indonesia tercinta ini demi satu harapan untuk bisa hidup lebih baik ketimbang kehidupan yang telah mereka jalani selama ini di negeri sendiri.

Alih-alih mendapat kesuksesan, justru penganiayaan, pelecehan dan tindakan tidak manusiawi yang mereka dapatkan. Jika di negara sendiri mereka selalu hidup sengsara, maka di negeri orangpun derita selalu mereka terima.

Apakah setiap TKI atau TKW selalu bernasib sama? Jawabnya tentu tidak. Sebab kenyataanya tidak sedikit juga para TKI yang menuai sukses setelah bekerja di luar negeri. Hal itulah yang akhirnya menarik minat para tenaga kerja kita, disamping sempitnya lahan dan kesempatan bekerja di dalam negeri.

Sungguh sangat di sayangkan, perjuangan mereka, pengorbanan mereka tidak semuanya berbuah keberhasilan. Gagal mendapat pekerjaan yang layak, upah yang tak pernah mereka dapatkan, dan terburuk adalah mengalami penganiayaan majikan, seperti yang dialami tenaga kerja wanita kita. Sungguh malang nasib mereka, mencoba menghindar dari hujan batu di negeri sendiri, namun rupanya hujan bara mereka dapati di luar sana. Berawalkan sengsara dan berakhirkan derita.

Untuk saudara-saudariku, para TKW yang ada di luar sana, keprihatinanmu dapat kami rasakan di sini. Tabah, tegar, sabar dan sadarlah kalian senantiasa. Tetaplah semangat, dan teruslah berjuang. Kau pahlawan keluarga, kau juga pahlawan negara, pahlwan devisa bagi Indonesia tercinta.

5 Jun 2009

Hanya Ingin Berbagi, Bukan Ingin Dibui

“Saya hanya ingin berbagi, mudah-mudahan bermanfaat bagi orang lain”
Barangkali begitulah salah satu alasan mengapa orang akhirnya membuat sebuah blog ( bahkan terkadang lebih dari satu ) atau menjadi member sebuah milis, termasuk Prita Mulyasari yang kini harus berhadapan dengan hukum, lantaran tulisannya di sebuah email yang dianggap telah mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit di Tangerang sekaligus pelanggaran terhadap undang-undang ITE tahun 2008 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda sampai dengan 1 milyar rupiah. ( Ih….syerem.com )

Begitupun saya, saya tertarik untuk memiliki blog dan mengikuti beberapa milis, karena dengan begitu saya bisa membagi informasi dan juga pengalaman hidup saya. Sama, saya berharap apapun itu, ada manfaatnya bagi orang lain. Melalui blog ataupun milis, saya mencoba menulis apa yang saya lihat, dengar dan rasakan, atau bahkan terkadang yang melintas dalam angan. Namanya pengalaman hidup, tentu saja tidak semuanya indah dan menyenangkan. Terkadang pengalaman pahit, memalukan dan memilukan sekalipun saya tulis, bukan untuk meratap-ratap meminta simpatik orang lain, tapi lebih kepada sebuah pembelajaran agar apa yang saya alami, tak perlu dialami juga oleh orang lain. Pun ketika saya menulis sesuatu yang menurut saya sebuah kebaikan, saya berharap tentunya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Saya rasa, apa yang dilakukan Prita Mulyasari, tujuan awalnya adalah sekedar agar teman-teman dan sahabatnya mengetahui ( layaknya curahan hati ) dan tak perlu mengalami apa yang Prita alami. Mungkin, saya sendiri pun akan melakukan hal yang sama, saya akan memperingatkan teman-teman dan saudara saya tentang kejadian ‘pahit’ yang saya alami agar mereka lebih hati-hati dan waspada.

Trauma menulis? Sepertinya saya tidak!. Meski selama ini saya baru mencoba belajar menulis, namun kejadian yang menimpa Prita tidak lantas membuat saya takut dan memutuskan untuk berhenti menulis apapun. Saya justru seperti mendapat pelajaran, bahwa meski sekedar opini ataupun pendapat pribadi, saya harus lebih berhati-hati dan memperhatikan banyak hal, termasuk pengaruh opini dan tulisan saya terhadap orang lain. Terlepas dari keadilan hukum di negara kita, saya menjadi tersadar bahwa kita memang memiliki kebebasan untuk berpendapat, tapi kita dibatasi dengan hak orang lain disamping peraturan perundang-undangan. Benar bahwa, gerakan tangan kita akan terhenti di depan hidung orang lain.

Dan sebagai orang yang baru belajar menulis, sangat mungkin jika komentar atau tulisan-tulisan yang pernah saya muat baik di blog maupun di milis ada yang kurang menyenangkan atau bahkan membuat orang atau pihak lain merasa dirugikan. Sudah menjadi kewajiban saya, jika itu pernah terjadi pada tulisan-tulisan saya, saya yang bodoh mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Sungguh, saya hanya menginginkan sesuatu yang positif dari tulisan-tulisan saya. Saya berharap masih bisa terus menulis, karena saya hanya ingin berbagi, bukan ingin masuk penjara.

3 Jun 2009

Huru Hara Manohara

Manohara Odelia Pinot, model belia asal Jakarta yang tahun lalu disunting oleh salah seorang putra mahkota Kerajaan Kelantan Malaysia, tiba-tiba menjadi bahan pemberitaan diberbagai media Indonesia, baik cetak maupun elektronik. Pemberitaan tersebut menyangkut pengakuan Manohara yang disekap dan dianiaya oleh suaminya sendiri, Tengku Muhammad Fakhry Petra.

Dalam sepekan terakhir, bukan hanya di acara infotainmet tapi di beritapun, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Manohara terus menjadi sajian utama. Tak tanggung-tanggung, Presiden kita, Pak SBY pun ikut memberikan perhatian khusus terhadap kasus yang menimpa Manohara yang notabene adalah warga negara Indonesia.

Bukannya nggak respek ataupun prihatin dengan kasus yang dialami model cantik ini, tapi rasanya buat saya kok pemberitaan di media jadi terkesan berlebihan.

Bicara soal penganiayaan warga negara Indonesia di luar negeri, Manohara bukanlah yang pertama. Telah berapa banyak perempuan-perempuan kita yang dianiaya di luar negeri. Merka adalah para TKW yang dianiaya jauh lebih parah dari penganiayaan yang dialami Manohara. Mereka yang telah berjasa selain bagi keluarganya, juga bagi negara sebagai pahlawan devisa, banyak yang disiksa bahkan tak sedikit yang dipulangkan ke Indonesia sudah menjadi mayat dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan akibat penganiayaan yang dialami ditempat mereka bekerja.

Dibanding penderitaan para TKW, menurut saya Manohara jauh lebih beruntung. Suami Manohara adalah putra mahkota, sudah tentu hidupnya sebelum kasus ini muncul, jauh lebih baik ketimbang nasib para TKW yang sejak kedatangannya bahkan sampai akhir hayatnya selalu dipenuhi dengan penyiksaan dan penganiayaan.

Tapi mengapa, ketika TKW kita dipulangkan ke Indonesia sudah menjadi mayat yang mengenaskan, perhatian ‘kita’ tak sebesar kasus Manohara ini? Kenapa kedatangan Manohara yang justru terlihat segar bugar tanpa terlihat ada tanda-tanda penganiayaan seperti yang dialamai para TKW kita, kemudian menjadi bahan pemberitaan dimana-mana. Ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Benarkah, pemberitaan dan perhatian kepada Manohara murni berdasarkan rasa kemanuasiaan? ( Lalu kemana rasa kemanusiaan kita ketika TKW kita disiksa di luar negeri ) Apakah ‘kehebohan’ kasus Manohara ini ada kaitannya dengan ketidak harmonisan dua negara bertetangga ini? Ataukah ini sekedar pengalihan perhatian masyarakat akan sesuatu yang lebih besar?

Saya sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Hanya saja, rasa simpati saya, rasa prihatin saya rasanya jadi sedikit bergeser melihat gencarnya pemberitaan yang menurut saya jadi berlebihan. Selain Manohara, masih banyak warga negara kita, saudara-saudara perempuan kita, yang bukan saja mengalami kekerasan rumah tangga, tapi kekerasan di tempat kerja sepanjang hidupnya di luar sana. Kenapa mereka tak mendapat perhatian yang lebih seperti yang didapatkan Manohara? Semoga semua perhatian yang tertuju pada masalah ini, semata-mata dilandaskan rasa kemanusiaan, bukan untuk mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri