22 Oct 2009

Senangnya Bepergian Bersamanya

Lelaki yang ingin kuceritakan ini usianya baru 31 tahun, seusia denganku. Sebut saja dia Dimas, meski bukan itu nama yang diberikan orang tuanya saat dia lahir dulu. Dia sudah berumah tangga dan dikaruniai seorang anak, sama juga sepertiku. Kami berbeda tempat kerja dan tempat tinggal. Dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi sedang aku di perusahaan yang memproduksi kabel. Dia tinggal di RT 04 sedang aku di RT 02, sama-sama di RW 06. Pertemuan pertama kali terjadi di Mushola Baiturrohim saat mengikuti acara Yasiinan malam Jumat, empat tahun yang lalu. Semenjak itu, hampir setiap hari kami bertemu, dan terkadang kami malah pergi bersama untuk suatu urusan.

Dimas bekerja sebagai operator produksi di perusahaan farmasi. Dia hanya lulusan SLTA, sama sepertiku. Dimas adalah sosok seorang sahabat yang sederhana, sopan dan sangat menghargai persahabatan. Meski lulusan sekolah umum, namun Dimas memiliki pengetahuan agama yang luas. Sempat aku mengira dia alumni sebuah pondok pesantren. Setiap aku bertanya soal agama yang belum kupahami, selalu saja dia bisa menjawabnya dengan benar dan lancar.

Dimas memiliki hobi membaca dan rajin mengaji. Koleksi buku-buku Islaminya lumayan banyak, tak seperti diriku. Setiap hari, bada’ sholat Maghrib dia mengaji sampai waktu Isya tiba. Dia masih belajar mengaji, layaknya sepertiku padahal kutahu dia sudah berkali-kali khatam Al Quran. Setiap malam Rabu dia hampir tak pernah absen mengikuti pengajian di rumah Haji Nurdin. Juga setiap Minggu, pagi selama dia tidak masuk kerja dia selalu datang di pengajian yang diadakan di sebuah pondok pesantren di Pasar Kemis. Singkatnya, Dimas adalah sosok seorang hamba yang taat beribadah. Setiap aku datang ke mushola untuk sholat berjamaah, dia selalu sudah ada di sana. Bahkan, saat aku tak sholat berjamaah di Mushola karena hujan misalnya, aku yakin Dimas tetap sholat berjamaah di sana.

Banyak kelebihan yang ada pada diri Dimas yang juga ada pada sahabat-sahabatku yang lain, tapi rasanya ada satu keistimewaan yang hanya kutemui pada diri sahabatku yang memelihara jenggotnya dengan rapi ini. Aku senang jika bepergian bersama dengannya. Dia orangnya penuh perhitungan dan pertimbangan.

Perhitungan yang kumaksud di sini bukan perhitungan dalam arti pelit, sebab jika bepergian dengannya dia tak segan-segan mengeluarkan uang untuk ongkos dan jajan padahal aku yang mengajaknya jalan. Pertimbangan yang kumaksudkan di sini bukan berarti orangnya ragu-ragu dan cenderung tidak tegas. Sebelum memutuskan untuk pergi, dia akan mempertimbangkan, manfaat-mudharatnya, baik buruknya dan kapan waktunya yang tepat.

Ciri khas dia adalah jika akan bepergian dia lebih senang dengan menyebut sebelum atau sesudah sholat. Jarang sekali dia mengatakan kita berangkat jam sekian atau jam sekian, kecuali untuk keperluan atau acara yang sifatnya resmi dan tak bisa dirubah waktunya. Selagi hanya acara biasa apalagi tidak melibatkan banyak orang, dia selalu memberikan pilihan kita sholat di sini atau di tempat tujuan. Dia paling tidak suka jika waktu sholat tiba kami masih dalam perjalanan. Baginya sholat tepat waktu secara berjamaah harus diutamakan, baik di tempat asal maupun tempat tujuan. Jika dalam perjalanan, belum tentu bisa sholat berjamaah tepat waktunya, disamping tentunya menjadi kurang khusyuk.

Itu keistimewaan pertama, yang kedua jika bepergian bersamanya, Dimas selalu bisa menjaga pandangan, ucapan dan juga tingkah lakunya. Lirik sana sini, ngomentarin apalagi meledek cewek-cewek di jalan maupun di mall bukanlah tipe dia. Selama aku bersamanya belum pernah sekalipun dia menunjukan sikap seperti itu. Dimas adalah tipe suami yang tak perlu dicurigai oleh istri, dia bisa menjaga diri dan hati jika sedang berada diluar rumah.

Keistimewaan selanjutnya adalah kemanapun kami pergi, tempat yang paling dicarinya adalah keberadaan mushola atau masjid. Bepergian bersamanya tak perlu khawatir mencari masjid atau musholla, karena tanpa diminta dia akan menemukan dengan fillingnya yang tajam, aku tinggal mengekor dibelakangnya.

Pernah satu kali kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta. Itu adalah kunjungan kami yang pertama. Ketika masuk waktu zhuhur, spontan dia memberikan kode agar aku menunda memilih-milih barang dulu. Seakan sudah hafal dengan daerah situ, dengan santainya dia berjalan. Aku sempat bingung dan bertanya-tanya dalam hati, sampai akhirnya pertanyaanku terjawab dengan sendirinya ketika kami sampai di mushola yang tersedia di lantai dasar. Yang aku bingungkan, bagaimana dia tahu padahal kami sama-sama baru sekali ke tempat ini. Dengan santai dia mengatakan bahwa sejak masuk ke mall ini dengan diam-diam dia mengamati papan petunjuk yang menunjukan arah musholla. Dan dia berhasil menemukan sebuah papan kecil bertanda panah bertuliskan mushola di lantai dasar pada saat aku asyik melihat-lihat barang-barang yang dipajang di etalase toko. Astaghfirulloh! Sahabatku kau telah sukses membuatku malu tanpa pernah kau bermaksud begitu.

Bercerita tentang Dimas rasanya seakan-akan hanya sisi kebaikannya yang bisa aku berikan. Bukan tanpa cacat dan cela, bagaimanapun dia juga manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan dibalik semua kelebihan dan keistimewaannya. Namun, sejauh aku mengenalnya, rasanya lebih banyak kebaikan dan kelebihan yang kutemukan, paling tidak dibandingkan denganku. Kalaupun ada kekurangannya, itu masih terbilang wajar, bahkan aku sendiri seperti itu, lebih serign malah.

Sahabatku, aku tak berharap kau berubah, merasa tinggi hati jika kau membaca tulisan ini, tapi aku berharap bahwa orang lain bisa mengambil contoh dari sisi kebaikanmu terutama aku yang meski sekian lama mengenalmu tetap saja belum bisa mengikuti jejakmu apalagi menjadi sepertimu.



Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri