Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

9 Aug 2012

Tanda Bintang


Kumandang adzan Ashar terdengar dari mushola saat Fulanah tiba di rumah. Dari raut wajahnya, ia terlihat begitu lelah. Tapi bukan karena itu ia langsung mengurung diri di kamar kostnya. Rasa lelah memang ada, tapi sesal yang mendalam jauh lebih terasa. 

Semua bermula dari spanduk dan poster bertuliskan SALE, BAZAR, DISCOUNT,  dengan tampilan warna dan ukuran huruf  menarik perhatian, yang terpampang di setiap sudut mall yang ia dan rekan-rekannya kunjungi. 

Sebelum berangkat, Fulanah sengaja tak membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak kecuali sekedar untuk ongkos dan membeli beberapa kebutuhan saja. Tapi kartu ATM memang tak pernah lepas dari dompetnya. Sayang, seperti biasa, tiba di mall desakan naluri belanjanya tak bisa ia pungkiri. Ia tak ingat lagi nasihat, mata boleh melihat tapi hati jangan turut terpikat. 

28 May 2012

Yang Jauh Mendekat, Yang Dekat Menjauh

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Benarkah demikian? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung seberapa lama waktu yang dibutuhkan dan apa yang dilakukan selama menunggu. 

Bagi pria muda yang duduk di sebelah kiriku, menunggu tidaklah membosankan, justru menyenangkan. Lima belas menit terlalu singkat untuk ia mengakhiri pembicaraan dengan seseorang melalui telepon selularnya. Entah siapa yang menelpon atau ditelpon, tapi ia terlihat sangat akrab. Pria dan seseorang di ujung sana terpisah jarak yang mungkin sangat jauh, tapi benda kecil itu telah membuat mereka dekat, seolah tiada berjarak. 


14 May 2012

Satu Dari Sekian Jalan




Sejak insiden jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan ‘demo flight’ di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat hari Rabu 9 Mei 2012 lalu, sejak itu pula berbagai media selalu menjadikannya sebagai berita utama. Tidak hanya di televisi dan koran, dalam obrolan di berbagai tempat dan kesempatan, perkembangan berita kecelakaan ini selalu menarik untuk dibicarakan. Begitupun dengan rekan-rekan kerjaku, setiap hari mereka selalu membahasnya, dengan cara pemahaman dan dari sudut pandang yang berbeda. 


11 May 2012

Belajar Tanpa Batas


Seorang tetangga datang saat kami sedang asyik membaca buku.

“Dia sedang belajar” jawabku saat ia bertanya apa yang sedang putriku kerjakan.

Ia heran. “Belajar apa lagi, bukankah ujian sudah selesai?”

“Yang dia pegang bukan buku pelajaran, tapi buku cerita.”

Meski tidakk berkomentar, aku bisa menangkap nada protes di raut wajahnya. “Baca buku cerita kok dibilang belajar!”

***
Seperti sabar yang sebenarnya tidak berbatas, demikian juga pada belajar. Belajar semestinya tidak hanya menjelang ujian, tapi di setiap kesempatan. Tidak hanya pada buku-buku pelajaran, tapi bisa pada sebuah buku cerita bahkan juga pada yang tak berupa tulisan. Tidak hanya di bangku sekolahan, tapi juga di bangku kehidupan. Tidak hanya sekian tahun atau sekian sks, tapi selama hayat masih dikandung badan. Tidak hanya pada orang tertentu, tapi siapapun bisa dijadikan guru. 

8 May 2012

Indah Karena Berbeda


Seorang bocah bertanya pada ayahnya, mengapa pelangi terlihat indah sekali?

“Itu karena warnanya yang berbeda, Sayang”  lembut tangan sang Ayah membelai rambut sang bocah.

Meski tidak sepenuhnya menyimak, si bocah mengangguk saat sang ayah menjelaskan bagaimana ‘titian para bidadari’ itu terbentuk.

Bagaikan matahari dan hujan, keduanya memang tak bersifat satu tujuan. Ketika  hujan telah membasahi bumi, sang matahari justru mengeringkannya lagi. Demikian pula ketika matahari telah berhasil mengeringkan bumi, sang hujan hadir untuk membasahinya kembali. Sekilas memang terlihat bertolak belakang. Tapi sesungguhnya mereka diciptakan bukan tiada kegunaan. Meski satu saat kita tak membutuhkan salah satunya, bukan berarti ia harus dihilangkan. Bagaimanapun, pelangi tak kan muncul bila matahari tak hadir menggantikan kepergian sang hujan.

3 May 2012

Bukan Buruh Biasa

“Apa yang paling sering kau ingatkan pada anakmu?”

Itu pertanyaan kesekian yang Lukman ajukan pada Yahya. Keduanya adalah sahabatku, sesama jamaah mushola. Seputar anak menjadi topik obrolan kami malam itu, hingga tiba waktu isya. Dan aku bersyukur ada di antara keduanya, karena dari obrolan mereka kesadaranku kembali terbuka.

“Sholat dan belajar,” jawab Yahya.

Tentang sholat aku tak ingin bertanya lagi, aku sendiri mengalami. Meski sudah memasuki usia baligh, ternyata tidak serta merta menumbuhkan kesadaran putriku untuk selalu menjalankan sholat tepat waktu. Dengan berbagai alasan, seringkali ia menunda-nunda ( jangan-jangan kitapun juga. Astaghfirulloh! ). Dan sebagai orang tua, kita tak boleh bosan untuk mengingatkannya. Kewajiban memang sudah melekat padanya, tapi mengingatkan adalah kewajiban kita selaku orang tuanya.


23 Apr 2012

Jangan Gelapkan Yang Sudah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku yang ditulis oleh Raden Adjeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dan kita tak bisa menutup mata terhadap sejarah yang mencatat perjuangan beliau dalam menempatkan kaum wanita pada hak dan kewajiban yang semestinya.

Jangan gelapkan yang sudah terang. Ini bukanlah judul sebuah buku, tapi mungkin akan dituliskan oleh Kartini bila beliau masih hidup di jaman sekarang, dimana emansipasi banyak disalahartikan, juga disalahtempatkan. Emansipasi sering dipahami sebagai sebuah kebebasan yang seolah tidak ada aturan. Sungguh, kebebasan yang kebablasan. 


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri