Apa kabar sahabat dan
kerabat Abi? Bagaimana puasanya, lancar? Insya Allah. Mudah-mudahan puasa kita,
ibadah kita diterima Allah SWT. Amiin. Kembali mengingatkan bahwa puasa itumenahan, bukan sekedar menunda, karenanya mari kita jaga puasa kita dari
perkara-perkara yang bisa membatalkan pahala puasa, tahan dan kendalikan nafsu, jangan sampai tak ada yang
kita dapatkan kecuali lapar dan dahaga.
Ada yang berbeda antara
Ramadhan kali ini dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Ada dua moment yang
bagi sebagian orang juga terasa istimewa – namun tidak terlalu berpengaruh bagi
sebagian lainnya, yaitu pemilihan presiden dan juga piala dunia. Apapun
pendapat sahabat dan kerabat Abi terhadap hal ini, semestinya moment kampanye
hingga pemilihan presiden yang tinggal menghitung hari, juga piala dunia yang
sedang berlangsung janganlah sampai mengurangi kekhusyukan kita dalam berpuasa
dan beribadah lainnya.
Selisih satu tahun dengan
periode pemilihan presiden, piala dunia menjadi salah satu moment yang sangat
ditunggu-tunggu oleh penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk sebagian
umat muslim di Indonesia. Karena saya tidak termasuk di dalamnya, maka saya
tidak akan banyak berkomentar tentang piala dunia, saya hanya mengingatkan
kepada sahabat dan kerabat Abi semua, janganlah karena piala dunia, mereka yangdi sana sehat, tapi yang di sini justru maksiat. Tinggalkan apapun nama dan
bentuk perjudian yang dilatarbelakangi event ini. Jangan pula waktu-waktu
pertandingan lebih diperhatikan dibanding waktu-waktu istimewa untuk kita
mendekatkan diri kepada Sang Maha. Benar bahwa puasa hanya dijalankan di siang
hari, tetapi Ramadhan adalah sepanjang bulan, keagungan, kemuliaan dan
keberkahannya bukan hanya siang tapi termasuk juga malam. Janganlah karena
menonton pertandingan hingga larut malam lantas sholat dan sahur yang penuh
keberkahan ditinggalkan.
Terkait pemilu presiden
yang tinggal menghitung hari, janganlah karena mendukung salah satu pasangan capres-cawapres
kemudian menjatuhkan pasangan capres-cawapres lainnya dengan komentar-komentar
yang tidak semestinya. Miris rasanya melihat kenyataan di berbagai media,
saling serang, saling menjatuhkan bahkan yang disayangkan, bermacam statemen
dan komentar terucap dari pihak-pihak yang lebih banyak berdasarkan
prasangkanya, penilaian pribadinya, tanpa pengetahuan dan pemahaman yang
mencukupi akan hal ini. Ini memang era reformasi, setiap warga negara berhak
menyampaikan pendapatnya, aspirasinya, namun saya pribadi memilih menggunakan
hak saya untuk diam, dalam arti tidak ikut berkomentar tanpa ilmu dan
pengetahuan yang mendasar. Bagi saya, masing-masing pasangan capres-cawapres
memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Sama seperti kita, mereka juga manusia,
makhluk sempurna yang tiada sempurna. Benar bahwa kita tak bisa mendapatkan
yang sempurna, tapi kita bisa memilih satu yang terbaik di antara dua. Tanyakan
hati nurani, mana diantara mereka yang lebih amanah, lebih layak untuk kita
patuhi karena dia yang akan memimpin kita, lima tahun ke depan.
Mana pasangan
capres-cawapres pilihan Abi?, tanya seorang teman di satu kesempatan. “1 atau 2?”
“Tiga”, jawabku santai.
“Tiga? Kan capresnya hanya
ada dua?!”
Pasangan capres-cawapresnya
memang ada dua, tapi jawaban saya bukan untuk nomor urut capres-cawapres mana
yang akan saya pilih. Sesuai asas pemilu, langsung, umum, bebas dan rahasia,
biarlah itu menjadi rahasia saya pribadi. Tiga yang saya maksudkan di sini
adalah, ada tiga antologi terbaru yang sudah bisa dibeli untuk melengkapi
koleksi sahabat dan kerabat Abi. Kalau dilihat dari temanya, ketiganya sesuai dengan momentum Ramadhan dan sekaligus referensi untuk liburan selama lebaran.
Yang pertama, antologi puisi
Harmoni. Untuk pertama kalinya, saya membuat sebuah puisi untuk proyek menulis
buku bersama warga Warung Blogger. Aku Malu, itu judul puisi yang saya
daftarkan – dengan rasa malu yang sebenarnya karena menulis puisi semacam ini
adalah kali yang pertamaya. Beserta hasil warga Warung Blogger lainnya, antologi
ini dipasarkan dengan harga Rp. 35.000 per eksemplar dan bisa sahabat dan
kerabat Abi pesan dengan menghubungi Rudi G.Aswan melalui akun facebooknya, Belalang Cerewet

Yang ketiga, ini yang masih
‘hot’- baru diangkat dari penggorengan J - yaitu antologi Di Setiap
Sujud Ibu, Terselip Doa Untukku”. Bermula dari event menulis dengan tema
dahsyatnya doa ibu yang diadakan Dive Press – penerbit ini tentu sudah tak
asing lagi bagi para pecandu buku -, antologi ini terlahir. Sebanyak 60 peserta
berhasil lolos seleksi sehingga kemudian dipecah menjadi dua buku, satu
berjudul Di Setiap Sujud Ibu, Terselip Doa Untukku dan Restu Ibu adalah Restu
Allah. Tulisan berjudul “Sekolah atau Menikah Kataku, Menikah dan Sekolah
Katamu” berada di halaman 24 – 29 buku Di Setiap Sujud Ibu, Terselip Doa
Untukku. Tulisan ini dilatar belakangi pengalaman pribadi yang selain
mengilhami tulisan ini juga insya Allah memberikan inspirasi untuk buku penyusunan buku saya yang kedua. Insya Allah, mohon doanya. Sahabat dan kerabat Abi yang
menginginkan kedua buku ini, silahkan kunjungi akun Diva Press untuk keterangan
lebih lanjut.
Terakhir, mohon maaf
apabila ada salah kata, kalimat ataupun bahasa – termasuk pemilhan judul yang
mungkin tidak menimbulkan persepsi yang berbeda. Setelah cukup lama absen dari belajar
merangkai kata, mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan manfaat, membawa kebaikan
dan mengajak pada perbaikan. Amiin.
Wassalamu’alaikum….