19 Mar 2014

Mendadak Dekat, Mendadak Hangat

Mak, kok Emak nda pernah bilang kalau aku punya saudara sehebat dia?” tanya Thole satu ketika.

Lebih dari sepuluh menit bocah berbadan gempal menggemaskan itu sibuk memantaskan diri di depan cermin, berusaha mencari-cari kesamaan antara wajahnya dengan ‘saudara baru’nya yang tampak berwibawa dengan senyum  memesona di selembar kalender berlogo sebuah partai yang belakangan semakin banyak ia temui di sisi jalan kampungnya yang bertahun-tahun terbiarkan rusak namun mendadak banyak pihak yang mengaku peduli dan berjanji akan segera memperbaiki. 


Mak, kapan dia datang lagi? Apa dia mau  tinggal bersama kita di sini?” Thole tak peduli walau Emak tak sekalipun merespon celotehnya.

Bukan tanpa alasan, mengapa tiba-tiba Thole berlaku tidak biasa dari hari-hari sebelumnya. Semua berawal ketika bocah yang masih duduk di sekolah dasar itu membantu Emak berjualan es lilin di alun-alun kecamatan, seminggu yang lalu. Meski tak lengkap, ada bagian penting yang ia tangkap dari ucapan seseorang yang ketika datang, ratusan bahkan ribuan warga yang sejak pagi berkumpul dengan pakaian dan aksesoris sewarna dan senada mengelu-elukannya, serempak bertepuk tangan hampir di setiap jeda ucapannya, kompak menjawab “HIDUP!” sambil mengangkat tangan terkepal menimpali setiap teriakannya . Thole tak peduli dengan semua itu, selain es lilin dalam termos usang yang ditentengnya terjual habis, hanya ada satu yang ia pedulikan, dan itu membuatnya berlaku tidak biasa di rumahnya. Pengakuan sang tokoh, bahwa ia nan wibawa dan memesona itu ternyata adalah ‘saudara’nya. 

Tak jelas bagaimana runtutan ceritanya, tapi karena pengakuan itu, Thole rela bersitegang dengan Bejo, teman sepermainan sekaligus penjual es lilin saingannya, saling merasa  bahwa ialah yang sebenarnya di’akui’ sebagai saudara oleh sang tokoh. Bejo baru mengalah ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sang tokoh mengusap kepala Thole dengan lembut dan penuh kasih sayang, kelihatannya. 

Mendadak dekat, seperti sahabat. Mendadak hangat, layaknya kerabat. Sesungguhnya itulah yang terjadi namun tak juga Thole sadari. Ia terlalu polos mengartikan, atau bahkan terlalu membabi buta mempertahankan, arti kata saudara yang belum tentu sama – dan bisa dipastikan berbeda – dengan maksud yang sebenarnya, hanya basa-basi belaka, pemanis bibir semata. 

Tapi Thole adalah seorang bocah belia, usianya masih bisa dihitung dengan jari, bukan saja masih bisa dimaklumi, tapi terkadang membuat kita tersenyum geli. Lalu, bagaimana jika yang bertingkah laku seperti itu adalah seseorang yang usianya berkali lipat dari usia Thole? Rela melakukan apapun tanpa merasa dibohongi, bahwa karena kepentingannya, seseoranag tiba-tiba bersikap dekat, seperti sahabat, berlaku hangat, layaknya kerabat.

Mak,  Bejo benar-benar jahat! Dia bilang aku dan orang yang kemarin di alun-alun itu saudara lain ayah dan lain ibu”, Thole mengadukan rasa kesalnya pada Bejo yang menurutnya begitu tega mengatakan hal itu padanya. 

Bejo memang benar.  Kita dan orang yang berani meminta amanah dengan mencalonkan diri menjadi pemimpin itu memang tidak ada hubungan saudara, kecuali saudara seagama, sebangsa dan senegara!” Emak yang sejak awal diam, akhirnya menanggapi ocehan Thole, entah kesal atau bahkan karena geli dengan rajukan putra semata wayangnya.

Mak, kalau benar saudara, kenapa nda pernah nengok kita di sini? Kemana dia selama ini?”, Thole masih belum menyerah, bertanya pada Emak yang sudah mulai gerah.

Dan juga nanti!” Emak membatin.

Tak pernah kenal sebelumnya, lalu tiba-tiba datang, mengaku sebagai kerabat, berlaku seperti sahabat, lalu menghilang lagi, dan di siklus yang sama, kembali datang dan melakukannya lagi. Begitulah salah satu fakta di negeri ini.


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri