Lebih dari sepuluh menit bocah berbadan gempal menggemaskan
itu sibuk memantaskan diri di depan cermin, berusaha mencari-cari kesamaan antara
wajahnya dengan ‘saudara baru’nya yang tampak berwibawa dengan senyum memesona di selembar kalender berlogo sebuah
partai yang belakangan semakin banyak ia temui di sisi jalan kampungnya yang bertahun-tahun
terbiarkan rusak namun mendadak banyak pihak yang mengaku peduli dan berjanji
akan segera memperbaiki.
“Mak, kapan dia datang lagi? Apa dia mau tinggal bersama kita di sini?” Thole tak
peduli walau Emak tak sekalipun merespon celotehnya.
Bukan tanpa alasan, mengapa tiba-tiba Thole berlaku tidak
biasa dari hari-hari sebelumnya. Semua berawal ketika bocah yang masih duduk di
sekolah dasar itu membantu Emak berjualan es lilin di alun-alun kecamatan, seminggu
yang lalu. Meski tak lengkap, ada bagian penting yang ia tangkap dari ucapan
seseorang yang ketika datang, ratusan bahkan ribuan warga yang sejak pagi
berkumpul dengan pakaian dan aksesoris sewarna dan senada mengelu-elukannya,
serempak bertepuk tangan hampir di setiap jeda ucapannya, kompak menjawab “HIDUP!”
sambil mengangkat tangan terkepal menimpali setiap teriakannya . Thole tak
peduli dengan semua itu, selain es lilin dalam termos usang yang ditentengnya
terjual habis, hanya ada satu yang ia pedulikan, dan itu membuatnya berlaku
tidak biasa di rumahnya. Pengakuan sang tokoh, bahwa ia nan wibawa dan
memesona itu ternyata adalah ‘saudara’nya.
Tak jelas bagaimana runtutan ceritanya, tapi karena
pengakuan itu, Thole rela bersitegang dengan Bejo, teman sepermainan sekaligus
penjual es lilin saingannya, saling merasa bahwa ialah yang sebenarnya di’akui’ sebagai
saudara oleh sang tokoh. Bejo baru mengalah ketika dengan mata kepalanya sendiri
ia melihat sang tokoh mengusap kepala Thole dengan lembut dan penuh kasih
sayang, kelihatannya.
Mendadak dekat, seperti sahabat. Mendadak hangat, layaknya
kerabat. Sesungguhnya itulah yang terjadi namun tak juga Thole sadari. Ia terlalu
polos mengartikan, atau bahkan terlalu membabi buta mempertahankan, arti kata
saudara yang belum tentu sama – dan bisa dipastikan berbeda – dengan maksud
yang sebenarnya, hanya basa-basi belaka, pemanis bibir semata.
Tapi Thole
adalah seorang bocah belia, usianya masih bisa dihitung dengan jari, bukan saja
masih bisa dimaklumi, tapi terkadang membuat kita tersenyum geli. Lalu,
bagaimana jika yang bertingkah laku seperti itu adalah seseorang yang usianya
berkali lipat dari usia Thole? Rela melakukan apapun tanpa merasa dibohongi, bahwa karena
kepentingannya, seseoranag tiba-tiba bersikap dekat, seperti sahabat, berlaku
hangat, layaknya kerabat.
“Mak, Bejo benar-benar
jahat! Dia bilang aku dan orang yang kemarin di alun-alun itu saudara lain ayah
dan lain ibu”, Thole mengadukan rasa kesalnya pada Bejo yang menurutnya begitu tega
mengatakan hal itu padanya.
“Bejo memang benar. Kita
dan orang yang berani meminta amanah dengan mencalonkan diri menjadi pemimpin itu memang tidak ada
hubungan saudara, kecuali saudara seagama, sebangsa dan senegara!” Emak yang
sejak awal diam, akhirnya menanggapi ocehan Thole, entah kesal atau bahkan
karena geli dengan rajukan putra semata wayangnya.
“ Mak, kalau benar saudara, kenapa nda pernah nengok kita di
sini? Kemana dia selama ini?”, Thole masih belum menyerah, bertanya pada Emak
yang sudah mulai gerah.
“Dan juga nanti!” Emak membatin.
Tak pernah kenal sebelumnya, lalu tiba-tiba datang, mengaku
sebagai kerabat, berlaku seperti sahabat, lalu menghilang lagi, dan di siklus
yang sama, kembali datang dan melakukannya lagi. Begitulah salah satu fakta di negeri ini.