Subhanallah, walhamdulillah! Dua kata inilah yang mendominasi
gerak bibir dan getar hati, terutama dalam kurun waktu dua minggu terakhir ini.
Betapa tidak, dua kejora bersinar terang di atas menara yang tinggi menjulang.

Kejora pertama kutemukan pada seorang wanita akhir jaman berhati
mulia, yang menerimaku
apa adanya, bukan
ada apanya, karena jika dibandingkan
dengan yang lain, aku
bukanlah siapa-siapa,
tak ada apa-apanya. Dia memang tak
semulia
Khadijah, tak setaqwa
Aisyah, pun tak setabah
Fatimah, tapi dia
mempunyai cita-cita - dan aku bercaya dia bisa - menjadi istri yang sholehah.
Subhanallah, walhamdulillah!

Dan kejora kedua kutemukan pada seseorang
yang memberiku banyak pembelajaran bagaimana
berdamai dengan kenyataan dan juga keadaan. Sebuah kebahagiaan sekaligus kebanggaan,
kembali dia persembahkan. Meski hanya menempati peringkat kelima dari seluruh
santri kelas satu pondok pesantren Daar El Qolam 3 ( 145 santri/wati ), namun
prestasi Sabila di semester kemarin adalah yang terbaik di kelasnya. Sebuah
pencapaian yang sangat kami syukuri mengingat latar belakang Sabila hanyalah dari
SD umum, bukan MI ataupun SDIT seperti
teman-temannya yang masuk sepuluh besar.
Subhanallah walhamdulillah!
Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat dan karunia yang
Engkau anugerahkan kepada kami. Terima kasih pula telah Engkau kabulkan apa
yang kami rencanakan, ikhtiarkan, dan yang kami harapkan. Semoga ini tiada menjadikan
kami kecuali semakin mendekat kepada Mu, mensyukuri setiap nikmat Mu, dengan kesabaran
dan juga keihlasan. Aamiin..