1 Feb 2012

Cinta Biru


      “Sepertinya aku pernah mengenal syair lagu ini, tapi di mana ya?” begitu katamu saat kuputar lagu kesukaanku.

“Tentu saja, lagu ini kan sering kuputar!” jawabku, berharap kau tak segera menyadari bahwa kau telah membaca syair lagu ini sejak empat tahun yang lalu, di buku diary yang kuhadiahkan di hari ulang tahunmu.

Dan harapanku terkabul. Meski kau berusaha keras untuk menemukan di mana kau pernah mengenal syair lagu romantis ini, tapi kau tetap tak bisa mengingatnya. Setidaknya untuk saat itu dan beberapa hari berikutnya. Tapi aku yang memang tak pernah bosan mendengarkan lagu itu, telah mengembalikan ingatanmu pada sebuah buku mungil yang kau simpan di lemari baju. Ketika kau ambil buku itu, terbongkarlah ‘rahasiaku’.


“Jadi…puisi yang kau tulis di buku diary ini bukan hasil karyamu?” tanyamu satu malam ketika kembali kuputar lagu kesayanganku. Saat itu kau seperti seorang detektif yang baru saja berhasil mengungkap sebuah misteri. Ya, misteri syair lagu yang dulu pernah kupakai untuk merayumu.


“Apa kau kecewa?” tanyaku was-was. Cukup lama kau terdiam, sengaja membuatku penasaran.


“Tidak juga! Tapi aku tak menyangka bahwa kau tak seromantis yang kukira” jawabmu sambil mencubit lenganku. 


“Tidak romantis? Yang benar saja!” aku melotot, pura-pura marah. “Apa ini bukan bukti bahwa aku seorang laki-laki yang romantis?” tanyaku sambil mengelus perutmu yang semakin membesar. Kukecup dengan lembut. “Anak kita bergerak, ia setuju denganku! mendukungku, ia bergerak ingin memelukku!” kataku heboh saat kurasakan janin berusia enam bulan di dalamnya bergerak kencang. Kau acak rambutku dan kubalas dengan mencium keningmu.


“Sayang…”

“Sudahlah, jangan memaksa berpuisi lagi. Lagu mana lagi yang akan kau pakai untuk merayuku?” kata-katamu mematahkan semangatku. Kucium lesung pipit yang menghias di pipi kirimu. Kau benar-benar menggemaskan!


“Baiklah. Aku memang bukan tipe pria yang romantis, setidaknya dalam kata-kata. Tapi bukankah aku selalu romantis dalam setiap perbuatan?” aku membela diri.


 “Ya, aku tahu!” jawabmu sambil kau sandarkan kepalamu di bahu kananku.


“Sebagai laki-laki, terkadang aku juga ingin mengungkapkan rasa sayangku padamu melalui kata-kata, tapi selalu saja gagal. Aku bingung! Aku tak juga menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan indah bila sedang bersamamu, hingga kutemukan syair lagu itu. Dan sangat kebetulan karena kau nyaris tak mengenal lagu dangdut. Kau yang terlalu ngepoptentu tak akan tahu bahwa puisi yang kutulis sesungguhnya adalah syair lagu. Kau terlalu menutup diri untuk jenis musik yang kusuka, walau kau tak pernah melarang aku memutarnya di rumah. Kau memang demokratis, tapi kau tak cukup jeli untuk membongkar rahasia ini sejak pertama kita menikah, dua tahun yang lalu.” Kuhentikan penjelasanku, kuluruskan kaki kananku agar kau nyaman berbaring di pahaku.


Sambil kuusap rambutmu yang sehalus sutera, kuteruskan penjelasanku. “Kau tahu mengapa kupilih lagu itu untukmu?" Kau diam, membiarkan aku menjawab sendiri pertanyaanku. "Tentu saja karena lagu itu mewakili perasaanku. Tiada hari-hari yang aku lalui tanpa ada bayangmu, hiasan senyummu mengikat jiwaku…


Diatas langit biru dan kedipan bintang, kucantum cita-cita hidup bersamamu...” 


Aku nyengir saat kau lanjutkan syair lagu itu. Dan berdua kita senandungkan lagu itu, cinta biru.

catatan:
* kisah ini fiktif belaka, dan tidak ada hubungannya dengan bulan 'Februari' kecuali bahwa postingan ini menjadi postingan pertama di bulan tersebut.

**gambar dipinjam dari sini

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri