Terinspirasi dari ide Kang MT, untuk menghidupkan kembali tradisi berbagi PR dalam rangka menjalin dan mempererat silaturahim di antara sesama blogger, Mbak Puteri Amerilis pun memberikan PR kepada 5 sahabat, salah satunya aku. Jika PR yang kudapat dari Ibu Mugniar tentang kenangan SD, maka mbak Puteri tentang kenangan SMP dan lebih leluasa karena tidak ditentukan poin-poinnya.
Berikut adalah lima kenangan saat SMP yang masih kuingat bahkan mungkin tak pernah terlupakan;
1. Gaduh saat pelajaran kosong
Sejak kelas satu, kelas kami ( kelas F ) langsung ‘terkenal’ diantara enam kelas lainnya. Kelas terheboh, tergaduh dan terbandel secara mufakat disematkan pada kelas kami. Begitulah kenyataannya, hingga sering memancing emosi guru yang sedang mengajar di kelas sebelah. Salah satunya adalah ketika guru yang semestinya mengajar kami berhalangan hadir. Layaknya pelajaran kosong pada umumnya, kegaduhan pun terjadi hingga suaranya menyeberang ke kelas sebelah ( kelas 1G ) yang hanya terpisah dinding triplek. ( sebelum kelas baru untuk kami selesai dibangun, selama beberapa bulan kami menempati gedung serbaguna yang disulap menjadi dua kelas dengan dinding triplek sebagai pemisahnya ). Kegaduhan terus terjadi sampai kami dikejutkan suara dari arah dinding pemisah yang disertai dengan jebolnya salah satu bagian dinding pemisah. Ternyata, jebolnya dinding triplek tersebut dikarenakan tendangan sang guru yang tak mampu lagi menahan emosi mendengar kegaduhan kelas kami.
2. Dipulangkan kepala sekolah
Masih di kelas satu, pernah satu hari kami sekelas dipulangkan lebih awal, langsung oleh kepala sekolah. Gara-garanya, papan absensi yang tergantung di depan kelas dicorat-coret dengan entah tulisan apa, yang jelas demi melihat tulisan tersebut, Pak Kepsek langsung naik pitam dan memulangkan kami semua sebelum jam istirahat pertama.
3. Panik gara-gara mesin ketik
Lagi-lagi masih di kelas satu. Saat pelajaran ketrampilan mengetik, aku dan beberapa teman-teman pria dibuat panik gara-gara beberapa tust menumpuk dan tidak mau kembali ke posisi semula. Kejadian berawal ketika Pak Karsodo ( guru mengetik waktu itu ) meninggalkan kami untuk satu keperluan di kantor. Aku dan beberapa teman yang penasaran berebut menekan papan tust. Hasilnya, tangkai huruf menumpuk dan kami hanya bengong tanpa tahu harus melakukan apa. Beruntung saat kembali Pak Karsodo tidak mempermasalahkan karena ternyata hal itu biasa terjadi, terutama jika beberapa tust ditekan secara bersamaan dan sembarangan. Sungguh, kelakuan kami benar-benar memalukan.
4. Hobi baca Lupus dan Lima Sekawan
Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritku sejak SMP. Terlebih setelah pihak sekolah menambah koleksi perpustakaan dengan buku bacaan remaja. Hampir setiap istirahat dan jam pelajaran kosong, kami berbondong-bondong datang ke perpustakaan yang berada di sebelah timur sekolah. Sejak saat itu, serial Lupus dan Lima Sekawan menjadi bacaan favoritku. Bahkan ketika semua koleksi Lupus dan Lima Sekawan di perpustakaan habis dibaca, aku dan beberapa teman sekelasku berburu buku-buku tersebut ke taman bacaan yang ada di sebelah barat pasar. Kalau tidak salah ingat, cukup dengan tiga ratus rupiah kami bisa meminjam satu judul buku untuk tiga hari lamanya.
5. Kelas ter…
Meski sejak kelas satu kami terkenal sebagai kelas terheboh, tergaduh, terbandel, namun fakta membuktikan bahwa kelas kamilah yang terbaik. Bintang-bintang pelajar bertebaran di kelas kami. Juara umum selalu menjadi milik kami. Bahkan dari enam semester yang kami jalani, satu diantaranya namaku pernah tercatat di urutan pertama. Alhamdulillah...
Alhamdulillah, akhirnya PR dari mbak Puteri selesai kukerjakan. Semoga tidak mengecewakan. Dan sesuai amanah dari penggagas PR ini, maka dengan kerendahan hati PR ini aku teruskan kepada;
Mohon maaf jika tidak berkenan. Sungguh tiada maksud untuk membebani, hanya sekedar ikhtiar untuk mempererat silturahmi. Dan jika tidak dianggap merepotkan, mohon teruskan kembali PR ini kepada lima sahabat lainnya, begitu pesan dari mbak Puteri.