Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

9 Jan 2014

Smart Itu...

Seorang sahabat pernah bertanya, apa arti smart menurutmu?
Pintar, cerdas. Barangkali kita semua sepakat dan sependapat jika smart diartikan demikian. Tapi mengenai kriteria, mungkin saja masing - masing kita berbeda. Ada yang mengatakan smart itu begini begitu, ada juga yang menyebutkan smart jika ini dan itu, tapi bagiku smart itu …

Bisa menjaga keseimbangan hak dan kewajiban

Seorang yang smart akan menempatkan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban, tidak juga melaksanakan kewajiban tetapi yang menjadi hak justru diabaikan.Ada kalanya memang kewajiban harus didahulukan, diutamakan, tapi ketika hak yang lebih dulu didapat tidak lantas membuat lalai akan kewajiban. Seorang yang smart mengerti bahwa setelah melaksanakan kewajiban, ada hak yang akan dia dapatkan. Seorang yang smart memahami bahwa setelah hak didapat, ada kewajiban yang harus dijalankan.

4 Oct 2011

Andai Berkah Yang Mereka Cari

Aku sedang membaca buku ketika sebuah sms masuk ke handphoneku. Lihat **tv, sekarang! begitu isi sms yang ternyata dikirim oleh salah satu sahabatku di Surabaya. Penasaran, segera kuhidupkan televisi dan memilih saluran yang ia sebutkan. Astaghfirullloh! Ucapku beberapa detik kemudian.

Bukan satu atau dua kali, tapi berkali-kali. Setidaknya dua kali dalam seminggu, setiap Sabtu dan Minggu, stasiun tv ini menayangkan berita semacam ini. Kecurangan para pelaku usaha ( bahan ) makanan dan minuman semakin sering terjadi, membuat miris di hati.

Rekondisi. Selama ini aku mengenal istilah ini hanya untuk barang-barang elektronik, selain itu tak ada lagi. Tapi hasil investigasi reporter yang kusaksikan di televisi sore itu mengungkap fakta bahwa rekondisi bukan saja untuk barang-barang elektronik, tapi juga pada makanan. Daging rekondisi, begitu istilahnya. Astaghfirulloh!

21 Aug 2011

Mengejar Lalilatul Qadar


“ Pa’e..Pa’e..! Kapan sih Lailatul Qadar itu?” tanya Genduk pada Pa’e yang baru selesai tadarus Al Quran. Rupanya Genduk masih penasaran dengan ceramah sang ustadz tadi sebelum sholat tarawih.

“ Wallohualam. Hanya Allah yang tahu secara pasti “ jawab Pa'e. “ Tapi kanjeng nabi Muhammad SAW pernah memberitahu sahabat tentang tanda-tanda datangnya lailatul qadar. Diantaranya, malam itu terlihat cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Sebuah suasana yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dan itu terjadi di malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan“ Pa'e menambahkan.

“ Apakah kita bisa bertemu dengan lailatul qadar?"

30 Jun 2011

Bacalah, Kemudian Tulislah!

Seorang rekan kerja bertanya, hal apa yang membuatku betah duduk menghadap layar komputer meskipun semua tugas sudah selesai dikerjakan?

"Aku senang membaca!" jawabku apa adanya.

Membaca adalah hobiku sejak lama, dan semakin tertarik setelah merasakan manfaat postifnya. Bukan saja membuka wawasan, tapi dengan membaca juga bisa meningkatkan keimanan, menambah keyakinan, dan juga memperluas kesabaran.

"Saya jarang melihat Mas membawa buku?" tanya dia yang baru bergabung di perusahaan ini tiga bulan yang lalu.

"Tentu saja! Aku memang hobi membaca, tapi tidak hobi membeli buku!" jawabku sambil tertawa. "Harga buku baru cukup mahal, kadang setara dengan harga beras untuk satu minggu!"

22 Jun 2011

Di Atas Kertas

Ade, bocah laki-laki yang masih duduk di kelas tiga SD, pulang sekolah dengan wajah ceria. Ia ingin segera sampai di rumah dan menunjukan nilai ulangannya kepada sang Bunda.

“Bunda, Bunda! Lihat, Ade dapat nilai sepuluh!” teriak sang bocah di depan pintu.

Mendengar teriakan Ade, Bunda yang sedang memasak di dapur segera keluar dan mendapati sang anak sedang melepas tali sepatunya.

“Ade dapat nilai sepuluh? Alhamdulillah, pinter sekali anak Bunda!” puji Bunda tak kalah gembira. “Pelajaran apa, coba Bunda lihat!”

“Budi pekerti, Bunda. Nih!“ Ade menyodorkan selembar kertas ulangan. Ada nilai sepuluh tertera di sana.

20 Jun 2011

Antara Kebutuhan dan Keinginan

GENDUK baru saja mengambil handphone ketika samar-samar terdengar suara motor Pa’e. Suara itu semakin mendekat, dan Genduk tak perlu lagi menelpon karena yang ia tunggu telah datang.

“ Aku ranking berapa, Pa’e? “ tanya Genduk usai menjawab salam dan mencium tangan Pa’e.

Genduk sangat optimis bakal naik kelas, tapi ia agak ragu apakah masih bisa mempertahankan peringkatnya atau tidak. Ada Denok dan Thole yang bersaing ketat, ingin mencicipi peringkat yang tak pernah lepas darinya. 

“ Alhamdulillah, selamat ya! “ jawab Pa’e sumringah.

Pa’e menyodorkan raport yang baru saja diambilnya. Genduk terlihat lega, wajahnya begitu ceria. Ia cukup puas nilai yang tertera di sana. 

“ Siapa saja yang masuk sepuluh besar, Pa’e?” 


Pa’e sudah menduga kalau Genduk bakal menanyakan ini, karena itu Pa’e tak lupa mencatat nama-nama yang masuk peringkat sepuluh besar. Tidak seperti jaman Pa’e sekolah dulu, kini ranking tidak ditulis di raport, tapi diumumkan atau dicatat di papan tulis sesaat sebelum raport dibagikan. Itupun hanya untuk sepuluh siswa yang menduduki peringkat teratas. 

Pa’e membuka catatan di handphone dan memberikannya pada Genduk.

“ Kasihan si Denok, dia belum bisa ranking satu “ gumam Genduk setelah membaca nama teman-temannya yang masuk sepuluh besar. 

“ Lho, ranking dua kan sudah bagus. Apa kamu mau bertukar tempat dengan dia ?” tanya Pa’e heran.

“ Nda ngono, Pa’e! Kemarin, sebelum tes Denok bilang kalau bapak dan ibunya berjanji akan membelikan sepeda motor baru jika dia bisa ranking satu !”

“ Sepeda motor?” Pa’e terkejut. Pa’e tahu Genduk tidak berbohong, setidaknya itulah yang dikatakan Denok, temannya. Tapi Pa’e bingung, apakah perlu sejauh itu memberikan rangsangan kepada anak agar lebih semangat belajar? Barangkali orang tua Denok memang mampu, bahkan lebih dari itu. Tapi bagi anak kelas lima, sepeda motor belumlah ia butuhkan, meskipun itu yang ia inginkan.

“ Tadi Denok ikut mengambil raport nda, Pa’e?” pertanyaan Genduk membuyarkan lamunan Pa’e.

“ Ya, dia datang bersama ibunya. Pantas saja ia terlihat kecewa, Pa’e pikir hanya karena belum bisa ranking satu, bukan karena kehilangan harapannya dibelikan sepeda motor baru. Memangnya teman-temanmu sampai segitunya dijanjikan akan diberikan hadiah jika bisa dapat ranking satu? Menurut Pa’e kok kurang tepat ya, bahkan sedikit berlebihan.” 

“ Iyo, Pa’e. Si Denok memang dijanjikan akan dibelikan sepeda motor jika dia bisa ranking satu. Karena itulah sejak awal semester dia sudah ikut berbagai les, termasuk les privat dengan bu guru. Kalau si Putri lain lagi, dia akan dibelikan Blackberry kalau bisa ranking satu, sedang si Thole yang doyan ngegame akan dibelikan PS 3. Pokoknya, kemarin pada heboh nyritain hadiah yang bakal mereka terima bila target ranking satu tercapai “

“ Tapi sayang, tak pernah mereka dapatkan. Iya, kan?” potong Pa’e. “ Yang ada mereka justru lebih kecewa, sudah ranking tak dapat, hadiahpun lewat. “

“ Nggih, betul Pa’e !”

“ Boleh saja orang tua merangsang semangat belajar anak-anaknya dengan menjanjikan hadiah ini dan itu, tapi semestinya jangan sekedar menuruti apa yang mereka inginkan, harus dipertimbangkan apakah benar itu yang mereka butuhkan. Jangan sampai juga, anak-anak terpacu semangat belajarnya hanya karena mengejar hadiahnya saja. Iya kalau berhasil, kalau gagal? Pa’e khawatir mereka akan sangat kecewa dan ujung-ujungnya mereka jadi malas belajar .“

Tak ada tanggapan dari Genduk. Genduk bisa mengerti mengapa Pa’e tak pernah menjanjikan hadiah yang muluk-muluk. Tapi meski begitu, Pa’e selalu punya hadiah kejutan. Pa’e tahu apa yang ia butuhkan, selain yang ia inginkan.

“ Atau diam-diam kamu juga ingin hadiah seperti mereka? “ Pa’e khawatir, jangan-jangan cerita teman-temannya telah mempengarui pola pikir si Genduk.

“ Ndak kok, Pa’e! Seperti yang Genduk bilang kemarin, aku minta dibelikan buku cerita saja .”

“ Pink Berry, maksudmu?”

“ Nggih, Pa’e. Dua, ya!” Genduk nyengir.

Belakangan selera baca Genduk memang mulai berubah. Seiring usianya, ia mulai senang membaca cerita bergenre remaja, salah satunya Pink Berry club. Awalnya Pa’e agak ragu, apakah buku semacam ini cocok untuk Genduk. Tapi setelah membaca sekilas, Genduk sudah layak untuk membaca buku seperti ini, dengan satu syarat harus lulus sensor Pa’e dulu sebelum membeli dan boleh membaca asal tidak mengganggu kegiatan belajar maupun ngajinya.

“ Menurut Pa’e, ada satu yang kamu butuhkan, tapi Pa’e nda tahu apakah kamu menginginkannya atau tidak “

“ Ya, kalau buku, tas, sepatu dan alat-alat tulis kan sudah kewajiban, Pa’e “ Genduk kembali nyengir.

“ Bukan! Bukan itu maksudku “

“ Lha, opo meneh tho Pa’e! “ Genduk bingung.

“ Mm….” Pa’e berhenti sebentar, sengaja agar Genduk penasaran. “ Selain buku dan perlengkapan sekolah, apa kamu tidak butuh ibu baru ?” 

“ Gimana ya? Aku memang membutuhkan, tapi sepertinya saat ini aku belum menginginkan “ jawab Genduk diplomatis.

“ Hahaha….kamu bisa saja! Ya sudah,lupakan! Lagian Pa’e juga cuma bercanda saja “ Pa’e terbahak.

“ Kapan kita ke toko buku?” Genduk mengalihkan pembicaraan.

“ Inysa Allah besok, sekalian kita ke perpustakaan, mengembalikan buku-buku yang kemarin kamu pinjam. Tapi untuk sementara jangan pinjam lagi, minggu depan Pa’e masuk pagi, nda ada waktu untuk mengembalikan ke perpustakaan. Sebaiknya kamu gunakan liburanmu untuk melengkapi rangkuman pelajaran kelas lima yang belum selesai kamu kerjakan. Jadi, pas masuk sekolah nanti kamu sudah siap untuk merima pelajaran kelas enam. Ok?”

“ OK! “

21 Jan 2011

Gratis, Benarkah?

Laki-laki sederhana itu bernama Hasan. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang mengesankan. Sopan, ramah dan hampir tak pernah membuat masalah. Meski cenderung pendiam, sebenarnya Hasan cukup terbuka untuk sebuah persahabatan. Kita hanya perlu sedikit lebih aktif mengajaknya bicara, maka hilanglah semua kesan cuek, sombong dan angkuh yang sempat disangkakan orang-orang padanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Hasan memang dikenal pendiam. Ia hanya berbicara seperlunya saja. Begitupun saat bercanda, dia akan hati-hati memilah dan memilih agar tidak menyinggung apalagi merugikan orang lain. Hampir tak ada catatan hitam di masyarakat tentang Hasan. Dia sosok yang santun dan taat beribadah. Satu-satunya yang dianggap minus sebagian tetangganya adalah jarangnya Hasan berada di tengah-tengah kaum bapak yang senang melewati malam libur dengan begadang bersama.

Kalau Hasan dibilang terlalu tertutup dengan para tetangganya, menurutku tidaklah sepenuhnya benar. Hasan tetap hadir bila ada musyawarah warga. Begitupun saat ada warga yang hajatan atau tertimpa musibah, Hasan juga hadir di tengah-tengah mereka. Hanya saja memang Hasan akan segera pulang begitu acara selesai. Hampir tidak pernah Hasan terlihat diantara mereka yang sedang bermain catur atau kartu remi, bahkan hanya sekedar melihat sekalipun. Hasan tidaklah menutup diri sama sekali, Hasan hanya berpegang pada prinsipnya, dan ia sudah siap bila prinsipnya itu tidak sama dan akhirnya ‘dipermasalahkan’ oleh sebagian tetangganya.

Tidak suka nongkrong, begadang, menghabiskan malam saat esok paginya libur seperti yang dilakukan kebanyakan kaum laki-laki di lingkungan tempat tinggalnya, terkadang menjadikan Hasan sebagai bahan gunjingan. Takut istri, sombong, kuper, sok alimlah, macam-macam pandangan orang. Tidak semua, tapi ada juga yang mengiyakannya. Dan, pandangan mereka yang demikian bukan sama sekali tidak disadari Hasan. Namun yang aku salut, Hasan tetap tenang. Ia merasa tak perlu marah, tak perlu emosi, juga tak perlu sakit hati. Setiap orang berhak menilai dirinya. Ia tak boleh dan juga tak mungkin memaksa semua orang berpihak kepadanya. Berbeda pandangan dan penilaian baginya adalah sesuatu yang wajar dan pasti. Yang terpenting baginya adalah prinsip hidup yang ia jalani itu benar dan tidak merugikan siapapun, maka biarkan saja orang bicara apa.

“ Biasa saja. Orang bisa mengatakan apa saja, tak mungkin dan tak bisa aku mengaturnya. Ketika kita berdiri di sini, sangat mungkin telihat berbeda oleh mereka yang berdiri di sana. Kita begini, mereka akan berkomentar. Kita begitu, mereka juga akan berkomentar. Bahkan, ketika kita tidak atau belum melakukan apapun, mereka tetap berkomentar “ Mantap Hasan memberikan jawaban ketika aku bertanya bagaimana caranya menyikapi omongan miring sebagian tetangga. 

“ Satu lagi, mereka ada yang rajin memberikan komentar karena mereka sangka itu gratis alias tidak bayar “ Hasan menambahkan.

“ Gratis? Tidak bayar? Maksudnya? ” aku meminta penjelasan lebih padanya.

Hasan tersenyum santai. 

“ Ya, gratis! Mereka tak perlu mengeluarkan hartanya untuk membiayai dan menanggung resiko dari apapun yang kita kerjakan, melakukan apa yang mereka katakan. Kita berhasil, mereka berkomentar dan tak perlu kehilangan apapun. Demikian pula bila kita gagal, mereka akan berkomentar dan tak perlu menanggung kerugian sedikitpun”

“ Berkomentar tak harus bayar. Itu kelihatannya, tapi tidak sebenarnya. Saat itu mereka memang tidak perlu membayar dengan apapun, berapapun. Tapi sebenarnya mereka akan membayar tunai semua omongan, semua tuduhan yang mereka katakan. Di akhirat kelak, mereka akan diminta pertanggungjawabannya, membayar semua omongannya bahkan mungkin ditambah bunga-bunga akibat dari omongannya.”

“ Kita tidak boleh menutup telinga sama sekali terhadap orang lain, tapi tidak juga kemudian mengikuti, menuruti semua perkatan mereka seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kita memiliki prinsip hidup, termasuk saat bergaul dengan tetangga. Bukan untuk sombong, cuek, angkuh atau menutup diri sama sekali, tapi kalau tidak bermanfaat dan tidak membawa kebaikan, tak perlulah kita terlibat, bergabung dengan mereka. Tak apalah menjadi bagian kecil dari masyarakat bila sebagian besar sudah menempatkan dunia dan nafsunya diatas hati dan akalnya “

“ Ini juga bukan perkara toleransi. Hidup bermasyarakat nyaris tidak mungkin tanpa perbedaan pendapat, juga kepentingan. Tapi bagaimanapun ada hal-hal yang tak bisa orang lain paksakan. Hak kita untuk menentukan, ikut atau tidak dengan kemauan mereka. Kita harus pandai memilah dan memilih mana yang perlu, mana yang baik dan mana yang sebaliknya”

Aku mulai memahami apa yang Hasan maksudkan. Memang benar bahwa mendengarkan orang lain memang perlu, tapi mengikuti apapun kata orang lain tidaklah selalu. Kita harus memiliki sebuah prinsip. Apa jadinya bila kita selalu dan terlalu mengikuti apa kata orang lain. Tentu kita akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Apa yang Hasan katakan memang ada benarnya. Orang memang sering memberikan komentar atau sebuah penilaian yang terkadang tidak didasarkan pada kebenaran. Terkadang hanya menuruti prasangka belaka. Begitu mudah mereka berkomentar, salah satunya – mungkin - karena merasa tidak harus bayar, juga tak perlu menanggung resikonya. Kadang ada yang terlupa, bahwa tidak bayar itu di dunia, tapi di akhirat? Tak ada yang terlewatkan, termasuk setiap kata yang diucapkan. 

Mari, kita lebih berhati-hati dalam menilai dan memberikan komentar. Jangan karena merasa gratis, kita bebas berkata dan berkomentar apa saja. Ingatlah di akhirat kelak kita akan mempertanggungjawabkannya, membayar semua omongan berikut bunga-bunganya.

Gambar dipinjam dari sini

1 Nov 2010

Dan Mbah Maridjan pun Meninggal

'Tiap-tiap yang yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu kembali'(Surah Al-Ankabut: 57)

Sudah menjadi sunatullah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, apapun dan siapapun termasuk mbah Maridjan, orang yang dikenal publik sebagai juru kunci gunung Merapi. Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun.

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu”.( QS. Ali Imran : 185 )

Mbah Maridjan, sosok yang fenomenal karena ‘dianggap’ berhasil menunda letusan gunung Merapi beberapa tahun yang lalu ditemukan sudah tak bernyawa di dalam rumahnya ( kabarnya ) dalam keadaan bersujud. Wallohualam.

Beberapa hari setelah meninggalnya tokoh yang identik dengan gunung Merapi – hingga saat menyebut gunung Merapi maka yang teringat selanjutnya adalah nama mbah Maridjan, begitupun sebaliknya – muncul berbagai komentar di masyarakat, termasuk komentar teman-teman kerja yang sempat saya dengar langsung. Bagi yang simpatik dengan mbah Maridjan berpendapat bahwa meninggalnya mbah Maridjan di tempat kediamannya dalam keadaan bersujud merupakan seseuatu yang membanggakan, pengabdian yang sempurna. Tapi berbeda dengan pandangan beberapa orang lainnya yang menganggap tindakan mbah Maridjan dan beberapa tetangga serta pengikut setianya merupakan sebuah tindakan ‘konyol’ bahkan mengarah pada perbuatan bunuh diri. Wallohualam, Allah lah Yang Maha Tahu segalanya. 

Terlepas dari berbagai komentar dan pandangan tentang meninggalnya mbah Maridjan dan musibah yang terjadi di Indonesia saat ini, saya lebih memilih untuk tidak memberikan penilaian berlebih. Saya tidak ingin memberikan sebuah penilaian yang seperti menghakimi, padahal tidak ada pengetahuan akan hal itu. Saya lebih melihat semua kejadian termasuk musibah yang melanda negeri ini terjadi atas izin dan kehendak Allah, dengan tujuan tertentu. 

Banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai, meletusnya gunung Merapi serta beberapa musibah yang terus melanda negeri ini, tidak bisa dikatakan seluruhnya sebagai sebuah hukuman, meskipun ada keraguan jika ini masih kita anggap sebagai ujian atau teguran. Segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah, dengan maksud dan tujuan tertentu. Dan orang yang beruntung adalah yang bisa mengambil hikmah serta pelajaran dari setiap kejadian untuk kemudian memperbaiki diri. Andaikan ini bermakna ujian, jalani ini dengan sabar dan ikhlas. Ambil hikmah dan jadikan ini sebagai pelajaran agar tak terulang kesalahan yang sama jika ini bermakna teguran. Dan benahi diri, perbanyak istighfar serta lakukan tauabatan nasuha jika ini bermakna hukuman.

Kembali ke masalah meninggalnya mbah Maridjan yang bagi sebagian orang masih asyik dijadikan perbincangan dibanding mengambilnya sebagai pelajaran. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, itu pasti. Siapapun orangnya, apapun pangkat, jabatan serta kedudukannya dalam masyarakat tetap akan bertemu dengan kematian. Entah kapan, dimana dan dengan cara apa kematian akan menjemput kita, tak ada yang tahu pasti. Yang pasti terjadi adalah kita akan mati. Mati itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi dipersiapkan. Takut atau tidak, kematian akan datang dan rasa itu tidak akan mempengaruhi ‘nasib’ kita selanjutnya di akhirat kelak. Jika takut akan kehidupan setelah mati, semestinya kita mempersiapkan diri dengan bekal sebaik mungkin, sehingga kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun kita siap dijemput maut. Ingat, siap tidak siap, kematian akan tetap datang, selanjutnya tergantung pada amal dan perbuatan pribadi masing-masing.

Mbah Maridjan, juga korban bencana alam lainnya, sudah ditetapkan takdirnya semenjak masih dalam kandungan. Kapan akan meninggal, dimana dan karena atau dalam keadaan bagaimana sudah ditetapkan, tak ada yang bisa merubah, menggeser atau menunda, kecuali atas kehendak Allah sendiri. Sayang, jika ada sebagian orang yang menanggapi kematian dengan masih menyalahkan pihak-pihak tertentu, atau malah berangan-angan seandainya si fulan begini begitu pasti tidak mati sekarang, seandainya..seandainya... Astaghfirulloh, pemikiran seperti ini jelas tidak benar dan tidak akan membawa perubahaan, yang mati tetap mati bahkan yang masih hiduppun akan mati.

Duka mereka yang menjadi korban bencana adalah duka kita semua. Mereka saudara sebangsa, ada juga yang seagama. Mereka berhak atas do’a kita, semoga Allah menerima mereka, menerima iman dan islamnya, menerima amal dan ibadahnya, mengampuni salah dan dosanya serta memberikan tempat yang layak untuk mereka. Amin. 

Mari, kita sama-sama belajar dari setiap kejadian. Kita baca pesan dan pelajaran yang Allah berikan dalam setiap kejadian – termasuk musibah. Semua terjadi atas izin dan kehendak Allah dengan sebuah maksud dan tujuan. Kalaupun musibah itu terjadi sebagai balasan atas perbuatan beberapa orang, yakinlah bahwa Allah yang mengizinkan dan berkehendak. Dan meski yang dirasakan sama, sesungguhnya maknanya berbeda. Apakah musibah ini sebuah ujian, teguran atau hukuman, mari kita bertanya pada diri sendiri, dan jawab dengan hati.

* gambar dipinjam dari sini

28 Oct 2010

Ketika Sumpah Menjadi Sampah

Merpati tak pernah ingkar janji, begitu sebuah ungkapan akrab di indra pendengaran meskipun jujur sampai saat ini saya tidak tahu pasti kebenarannya, sejak kapan dan bagaimana awal mula hingga muncul ungkapan semacam ini. Juga mengapa merpati yang dipilih, tidak adakah makhluk lain yang lebih bisa menepati janji dibandingkan merpati?. Manusia misalnya? Atau barangkali manusia malah dianggap sebagai makhluk yang paling sulit menepati janji? Manusia yang berjanji, manusia pula yang mengingkari. Tidak semua, tapi juga tidak bisa dibantah sepenuhnya.

Betapa banyak pemimpin negeri ini yang mengobral janji pada saat kampanye, namun ingkar setelah mendapatkan apa yang diincarnya. Betapa banyak pejabat yang mengangkat sumpah bahwa ia akan mengutamakan kepentingan rakyat, tapi kenyataannya hanya kepentingan pribadi dan rakyat satu ataplah yang diutamakannya. Tidak semua, tapi memang ada. Rakyat mungkin tak bisa memberikan data lengkapnya, tapi sangat merasakan akibatnya. 

Janji tinggal janji, hanya sebatas mimpi. Sumpah tinggal sumpah, tak lebih dari sekedar sampah.

Dalam kehidupan bernegara, kita mengenal adanya Sumpah Pemuda. Sebuah tekad dan cita-cita mulia untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. Sumpah berisi tiga point penting yang mampu menumbuhkan semangat juang bagi para pemuda pembela tanah air kala itu. Delapan puluh dua tahun sudah sumpah itu diucapkan. Sebuah cita-cita mulia mempersatukan beraneka ragam perbedaan menjadi satu kesatuan, bukan menjadikan satu hal sebagai pemicu perpecahan. Bagaimanakah sumpah – keinginan – mulia itu, adakah kini telah terwujud menjadi kenyataan ataukah sekedar selogan yang hanya cukup untuk dikenang, tak perlu lagi diperjuangkan kemudian tercampak bagaikan sampah dan tak lagi dipandang sebelah mata?

Sumpah Pemuda memang diucapkan oleh tokoh-tokoh pejuang bangsa kala itu, bukan pemuda masa kini. Meski diucapkan oleh mereka, tapi tujuan yang ingin mereka capai sangatlah mulia dan untuk masa yang akan datang ( masa kini dan nanti ), jauh setelah kehidupan mereka. Sangat tidak beralasan jika kita selaku generasi muda masa kini merasa tidak berkepentingan dan bertanggungjawab dengan cita-cita mereka yang tertuang dalam Sumpah Pemuda. Kita berbangsa satu, hidup di tanah air yang satu dan menggunakan bahasa yang satu, mengapa memilih bercerai berai dibandingkan bersatu? Jika kita satu kesatuan, mengapa kita hanya memikirkan dan mementingkan pribadi atau kelompok sendiri-sendiri?

Sumpah Pemuda dulu berbeda dengan sumpah para pemuda dan pemudi masa kini. Itu kenyataannya, dalam pergaulan, dalam beragama, bermasayarakat, berbangsa dan bernegara sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Berapa banyak pemudi hancur karena sumpah para pemuda. Berapa banyak pemuda rusak karena sumpah dan janjinya. Janji dan sumpah masa kini tak lebih sebagai sebuah cara untuk meraih apa yang diinginkannya. Asal hasrat tercapai, apa susahnya mengucap janji dan sumpah. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka bahwa janji dan sumpah yang diucapkan bakal diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah. Tidak semua, tapi kita mudah menemukan contoh nyatanya. Astagfirulloh! 

Beribu janji melambung tinggi, sedikit sekali yang ditepati. Aneka sumpah terucap setiap saat, namun hanya menumpuk bagaikan sampah. Jika sadar akan bahaya sumpah dan janji yang tak ditepati, rasanya kita akan berpikir berulang kali sebelum membuat janji dan sumpah. Begitu menakutkan ancaman Allah terhadap pelanggar janji dan sumpah.

“Mereka jadikan surnpah-sumpah rnereka jadi perisai, lalu mereka halangi dari jalan Allah; maka untuk mereka adalah azab yang sangat menghinakan”.( QS 58:16 )

Setiap yang terucap membawa konsekuensi. Janji adalah hutang yang harus dibayar. Begitupun sumpah, bukanlah permainan kata-kata yang bisa diucapkan kapan saja, dimana saja dan untuk kepentingan apa saja. Ingatlah sabda rosululloh tentang orang munafik, salah satu tandanya adalah ingkar janji.

"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan ancaman bagi orang munafik sangatlah menakutkan, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat An Nisa, ayat 145:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka".

Semoga kita lebih bijak dan berhati-hati sebelum membuat janji dan mengangkat sumpah. Masih dengan semangat Sumpah Pemuda, mari kita teruskan perjuangan dan cita-cita pejuang bangsa dengan dilandasi keimanan dan ketaqwaan. Insya Allah.

Gambar dipinjam dari sini

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri