Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

15 Nov 2011

Jangan Salahkan Hujan

Musim penghujan telah tiba. Alhamdulillah, yang lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meski belum merata tapi hujan sudah mulai sering mengguyur beberapa kota. Sayangnya, di antara mereka yang juga menunggu turunnya hujan, setelah datang, bukannya bersyukur malah sebaliknya. Mereka kecewa, kesal dan bahkan ‘berani’ mengumpat hanya karena merasa hujan turun tidak pada waktu yang diinginkannya. Selain beberapa orang yang sedang menggelar hajatan dan pesta, si fulan adalah salah satunya.

“Sebel! Dari semalam hujan nggak berhenti-berhenti. Mana pakai mati lampu segala lagi!” jawab si Fulan ketika Bunda bertanya, mengapa ia belum juga mandi padahal hari sudah semakin siang. Bunda khawatir Fulan terlambat sekolah lagi, seperti tiga hari sebelumnya.

“Sabar, Nak. Bukan hanya kita  yang mengalami” jawab Bunda yang masih menyiapkan hidangan sarapan pagi di meja makan.


6 Nov 2011

Makan Malam Di Pinggir Istana ( reposting )

Tidak seperti biasanya, usai shalat sunah ba’diyah Isya Pak Komar langsung pulang. Tawaran merokok dari bapak-bapak jamaah lainnya yang sedang duduk santai di teras mushalla ditolaknya secara halus. Pak Komar terburu-buru pulang karena malam itu dia mendapatkan undangan istimewa. Sebuah undangan makan malam yang jarang sekali dialamatkan kepadanya.

Pemberi undangan makan malam istimewa itu adalah seorang perempuan cantik yang dikenalnya enam belas tahun silam. Perempuan yang dulu banyak digandrungi teman-teman sekolahnya. Perempuan berwajah teduh dan berhati lembut yang sepuluh tahun silam mengucapkan ikrar setia untuk mendampingi hidupnya dalam suka maupun duka. Perempuan penyabar yang membuat hidupnya tenteram, damai dan bahagia bersama seorang putri jelita mereka. Perempuan itu adalah istrinya, ibu dari Aisyah, putri tunggal mereka.



25 Oct 2011

Membiasakan Bersedekah

Hasan, bocah lima tahun yang baru duduk di kelas TK, merasa heran dengan kebiasaan Bundanya, mengumpulkan uang pecahan seribu, lima ribu dan sepuluh ribuan. Uang-uang itu disimpan di sela-sela buku, di halaman yang terpisah. Tidak seperti kebiasaan Bunda menyimpan uang, buku tersebut sepertinya sengaja Bunda simpan di tempat yang mudah untuk mengambilnya sewatku-waktu. Karena penasaran, Hasan pun bertanya.

“Bunda, untuk apa uang-uang itu? Kok, di pisah-pisah?”

“Ini untuk bekal kita di akhirat, sayang!” jawab Bunda sambil sekali lagi memastikan jumlah uang di tangannya. Tiga puluh satu lembar pecahan seribu, empat lembar pecahan lima ribu dan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Pas. Bunda terlihat lega.


29 Sept 2011

Sepanjang Jalan

Kasih ibu sepanjang jalan, begitu peribahasa menyebutkan. Banyak sudah kisah tentang ibu dituliskan. Namun, ijinkan aku menulis satu kisah mengharukan, yang kutemui dalam perjalanan dari Tangerang menuju Kebumen saat mudik lebaran kemarin.

Awalnya aku tidak begitu memperhatikan ibu dan dua orang anak perempuannya ini. Bertiga, mereka duduk di bangku untuk dua penumpang, sebelah kiri, satu deret di depanku. Seperti sebagian besar penumpang lainnya, mereka lebih banyak diam, ‘menikmati’ panasnya perjalanan siang hari dengan bus ekonomi yang penuh sesak dengan sepuluh orang penumpang tambahan. 

Memasuki kawasan Nagrek, kekhawatiran setiap pemudik akan kemacetan mulai jadi kenyataan. Laju bus yang semula kencang, mulai melambat hingga akhirnya tersendat-sendat. Di sinilah kisah mengharukan ini dimulai. 

23 Sept 2011

Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

“ Yah, aku boleh nanya nda?” tanya seorang anak pada ayahnya. Saat itu mereka baru saja sholat Ashar di mushola salah satu tempat wisata. 

Sang Ayah tersenyum. Ada yang tak biasa dengan putrinya. “ Kamu itu lho! Beli jajan nda pakai ijin Ayah dulu, giliran nanya pakai minta ijin segala. Mau tanya apa?”

“ Tapi Ayah janji, nda boleh marah ya?” sang bocah berusaha mensejajarkan langkahnya.

“ Insha Allah. Ayo, mau tanya apa?”

“ Ayah kalau nolong orang suka pilih-pilih, ya?” tanya sang anak, ragu-ragu.

Sang ayah menghentikan langkahnya, terkejut. “ Maksudnya?” 

16 Sept 2011

Siapkan Bekalmu!

Seorang anak berkata pada ayahnya, tak lengkap lebaran kalau belum jalan-jalan. Sesuai kesepakatan, lebaran hari ketiga adalah saatnya untuk jalan-jalan ke beberapa objek wisata. Karena itu, sejak pagi sang anak sudah berbenah, termasuk menyiapkan bekal makanan dan minuman. Saking asyiknya mengemas perbekalan, ia tak menyadari kalau Ayahnya telah lama berdiri di belakang, memperhatikan.

" Kamu tidak lupa membawa mukena, kan?" tanya sang Ayah, mengejutkan sang bocah yang kini beranjak remaja.

" Lupa sih tidak, tapi sengaja nggak bawa, Yah!" jawab sang anak santai, khas anak seusianya.

" Lho, kenapa?"

" Nanti pinjam saja, Yah. Di sana ada kan?" jawab sang anak dengan ciri khas lainnya, sok tahu.

" Mungkin!" jawab Ayah tak yakin. " Tapi sebaiknya kamu bawa mukena sendiri saja!"

" Ayah…tas ku sudah penuh!" sahut sang anak manja.

14 Sept 2011

Dari Rumah Ke Rumah

Seorang anak bertanya pada ayahnya, untuk apa repot-repot keliling kampung, mendatangi satu rumah ke rumah lainnya untuk saling bermaaf-maafan. "Bukankah setahun ini kita tidak pernah bertemu, otomatis kita tidak punya salah dengan mereka!" tambahnya.

Sang ayah tersenyum, maklum. Sulungnya memang kritis. Ini hanyalah awal dari rangkaian pertanyaan yang akan ia ajukan sepanjang hari ini.

"Kamu betul, anakku. Hampir setahun kita tidak bertemu dengan sanak saudara, juga tetangga. Kita mudik hanya setahun sekali, saat Idul Fitri. Tapi kamu salah jika beranggapan tidak bertemunya kita dengan mereka, berarti kita sama sekali tak mempunyai salah kepada mereka. Tidak bertemu bukan jaminan bersih dari kesalahan. Bisa saja, tanpa disadari kita pernah berburuk sangka, salah menduga, menyebut nama mereka dalam obrolan harian yang terkadang mengarah pada pergunjingan. Karena itu, ayah mengajak kamu mendatangi rumah mereka. Sebenarnya kita berkeliling dari rumah ke rumah bukan hanya untuk meminta maaf, tapi untuk silaturrahim sambil mengucapkan selamat Idul Fitri kepada mereka."

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri