Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

15 Nov 2011

Jangan Salahkan Hujan

Musim penghujan telah tiba. Alhamdulillah, yang lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meski belum merata tapi hujan sudah mulai sering mengguyur beberapa kota. Sayangnya, di antara mereka yang juga menunggu turunnya hujan, setelah datang, bukannya bersyukur malah sebaliknya. Mereka kecewa, kesal dan bahkan ‘berani’ mengumpat hanya karena merasa hujan turun tidak pada waktu yang diinginkannya. Selain beberapa orang yang sedang menggelar hajatan dan pesta, si fulan adalah salah satunya.

“Sebel! Dari semalam hujan nggak berhenti-berhenti. Mana pakai mati lampu segala lagi!” jawab si Fulan ketika Bunda bertanya, mengapa ia belum juga mandi padahal hari sudah semakin siang. Bunda khawatir Fulan terlambat sekolah lagi, seperti tiga hari sebelumnya.

“Sabar, Nak. Bukan hanya kita  yang mengalami” jawab Bunda yang masih menyiapkan hidangan sarapan pagi di meja makan.


6 Nov 2011

Makan Malam Di Pinggir Istana ( reposting )

Tidak seperti biasanya, usai shalat sunah ba’diyah Isya Pak Komar langsung pulang. Tawaran merokok dari bapak-bapak jamaah lainnya yang sedang duduk santai di teras mushalla ditolaknya secara halus. Pak Komar terburu-buru pulang karena malam itu dia mendapatkan undangan istimewa. Sebuah undangan makan malam yang jarang sekali dialamatkan kepadanya.

Pemberi undangan makan malam istimewa itu adalah seorang perempuan cantik yang dikenalnya enam belas tahun silam. Perempuan yang dulu banyak digandrungi teman-teman sekolahnya. Perempuan berwajah teduh dan berhati lembut yang sepuluh tahun silam mengucapkan ikrar setia untuk mendampingi hidupnya dalam suka maupun duka. Perempuan penyabar yang membuat hidupnya tenteram, damai dan bahagia bersama seorang putri jelita mereka. Perempuan itu adalah istrinya, ibu dari Aisyah, putri tunggal mereka.



25 Oct 2011

Membiasakan Bersedekah

Hasan, bocah lima tahun yang baru duduk di kelas TK, merasa heran dengan kebiasaan Bundanya, mengumpulkan uang pecahan seribu, lima ribu dan sepuluh ribuan. Uang-uang itu disimpan di sela-sela buku, di halaman yang terpisah. Tidak seperti kebiasaan Bunda menyimpan uang, buku tersebut sepertinya sengaja Bunda simpan di tempat yang mudah untuk mengambilnya sewatku-waktu. Karena penasaran, Hasan pun bertanya.

“Bunda, untuk apa uang-uang itu? Kok, di pisah-pisah?”

“Ini untuk bekal kita di akhirat, sayang!” jawab Bunda sambil sekali lagi memastikan jumlah uang di tangannya. Tiga puluh satu lembar pecahan seribu, empat lembar pecahan lima ribu dan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Pas. Bunda terlihat lega.


29 Sept 2011

Sepanjang Jalan

Kasih ibu sepanjang jalan, begitu peribahasa menyebutkan. Banyak sudah kisah tentang ibu dituliskan. Namun, ijinkan aku menulis satu kisah mengharukan, yang kutemui dalam perjalanan dari Tangerang menuju Kebumen saat mudik lebaran kemarin.

Awalnya aku tidak begitu memperhatikan ibu dan dua orang anak perempuannya ini. Bertiga, mereka duduk di bangku untuk dua penumpang, sebelah kiri, satu deret di depanku. Seperti sebagian besar penumpang lainnya, mereka lebih banyak diam, ‘menikmati’ panasnya perjalanan siang hari dengan bus ekonomi yang penuh sesak dengan sepuluh orang penumpang tambahan. 

Memasuki kawasan Nagrek, kekhawatiran setiap pemudik akan kemacetan mulai jadi kenyataan. Laju bus yang semula kencang, mulai melambat hingga akhirnya tersendat-sendat. Di sinilah kisah mengharukan ini dimulai. 

23 Sept 2011

Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

“ Yah, aku boleh nanya nda?” tanya seorang anak pada ayahnya. Saat itu mereka baru saja sholat Ashar di mushola salah satu tempat wisata. 

Sang Ayah tersenyum. Ada yang tak biasa dengan putrinya. “ Kamu itu lho! Beli jajan nda pakai ijin Ayah dulu, giliran nanya pakai minta ijin segala. Mau tanya apa?”

“ Tapi Ayah janji, nda boleh marah ya?” sang bocah berusaha mensejajarkan langkahnya.

“ Insha Allah. Ayo, mau tanya apa?”

“ Ayah kalau nolong orang suka pilih-pilih, ya?” tanya sang anak, ragu-ragu.

Sang ayah menghentikan langkahnya, terkejut. “ Maksudnya?” 

16 Sept 2011

Siapkan Bekalmu!

Seorang anak berkata pada ayahnya, tak lengkap lebaran kalau belum jalan-jalan. Sesuai kesepakatan, lebaran hari ketiga adalah saatnya untuk jalan-jalan ke beberapa objek wisata. Karena itu, sejak pagi sang anak sudah berbenah, termasuk menyiapkan bekal makanan dan minuman. Saking asyiknya mengemas perbekalan, ia tak menyadari kalau Ayahnya telah lama berdiri di belakang, memperhatikan.

" Kamu tidak lupa membawa mukena, kan?" tanya sang Ayah, mengejutkan sang bocah yang kini beranjak remaja.

" Lupa sih tidak, tapi sengaja nggak bawa, Yah!" jawab sang anak santai, khas anak seusianya.

" Lho, kenapa?"

" Nanti pinjam saja, Yah. Di sana ada kan?" jawab sang anak dengan ciri khas lainnya, sok tahu.

" Mungkin!" jawab Ayah tak yakin. " Tapi sebaiknya kamu bawa mukena sendiri saja!"

" Ayah…tas ku sudah penuh!" sahut sang anak manja.

14 Sept 2011

Dari Rumah Ke Rumah

Seorang anak bertanya pada ayahnya, untuk apa repot-repot keliling kampung, mendatangi satu rumah ke rumah lainnya untuk saling bermaaf-maafan. "Bukankah setahun ini kita tidak pernah bertemu, otomatis kita tidak punya salah dengan mereka!" tambahnya.

Sang ayah tersenyum, maklum. Sulungnya memang kritis. Ini hanyalah awal dari rangkaian pertanyaan yang akan ia ajukan sepanjang hari ini.

"Kamu betul, anakku. Hampir setahun kita tidak bertemu dengan sanak saudara, juga tetangga. Kita mudik hanya setahun sekali, saat Idul Fitri. Tapi kamu salah jika beranggapan tidak bertemunya kita dengan mereka, berarti kita sama sekali tak mempunyai salah kepada mereka. Tidak bertemu bukan jaminan bersih dari kesalahan. Bisa saja, tanpa disadari kita pernah berburuk sangka, salah menduga, menyebut nama mereka dalam obrolan harian yang terkadang mengarah pada pergunjingan. Karena itu, ayah mengajak kamu mendatangi rumah mereka. Sebenarnya kita berkeliling dari rumah ke rumah bukan hanya untuk meminta maaf, tapi untuk silaturrahim sambil mengucapkan selamat Idul Fitri kepada mereka."

9 Sept 2011

Antara Biscuit dan Silaturahim Palsu

Awas! Menjelang lebaran banyak beredar biscuit palsu! Begitu bunyi sms yang kuterima dari beberapa sahabatku, pertengahan Ramadhan lalu. Astaghfirulloh! Sudah sedemikian parahkah pemalsuan / pembajakan di negeri ini, sampai-sampai produk biscuit pun dipalsukan?, aku membatin, prihatin. Tapi keprihatinanku segera berakhir karena biscuit palsu yang mereka maksudkan ternyata tidak sama dengan yang aku bayangkan. Berbagai makanan ringan - khas lebaran - seperti kerupuk, emping dan rengginang dalam kaleng bekas biscuit itulah yang mereka maksudkan.

Selain sms tersebut, beberapa sahabat blogger juga sempat menjadikan ‘biscuit palsu’ sebagai bahan tulisan mereka. Berbeda ketika pertama kali membaca sms, saat membaca judul tulisan aku sudah bisa menebak kemana arah tujuan mereka. Karena itu pula, saat silaturahim ke rumah beberapa sahabat dan kerabat lebaran kemarin, aku tidak lagi kaget melihat beberapa kaleng biscuit ‘palsu’ berjajar di meja. Yang membuat terkejut justru masih saja kutemukan silaturahim ‘palsu’.

24 Aug 2011

Maafkan Saudaramu, Maka Allah pun Memaafkanmu

Niat hati ingin menolong, tapi malah dimusuhi. Itulah yang Pak Sabar alami.

“ Merasa sakit hati, seseorang bersumpah tidak akan memaafkan saya” Pak Sabar memulai ceritanya.

“ Siapa? Dan apa sebabnya?” tanya Ahmad penasaran.

Kemungkinannya hanya ada dua. Pertama, seseorang - yang Pak Sabar tak mau menyebutkan namanya - itu adalah orang yang tidak punya sopan santun, tak tahu diuntung. Yang kedua, sebagai manusia biasa, Pak Sabar bisa saja khilaf, melakukan satu kesalahan yang cukup fatal hingga orang tersebut sulit untuk memaafkan. Ahmad menimbang dua kemungkinan ini. Namun, hati kecilnya tetap mengatakan bahwa kemungkinan kedua sangat kecil terjadi. Ia kenal baik laki-laki yang kesabarannya sesuai dengan namanya ini.


17 Aug 2011

Kepastian Yang Dirahasiakan

Aku masih memilih durian mana yang akan kupetik untuk berbuka saat seseorang mengetuk pintu, memutus mimpiku. Masih dalam keadaan setengah sadar, samar kudengar suara kakak ipar, memberi tahu bahwa Pak Anton - salah satu tetangga kami - baru saja meninggal.

Innalillahi wa ina Ilaihi rojiuun. Rasa kantukku sirna seketika. Baru kemarin sore aku membezuknya, tapi hari ini beliau telah pergi untuk selamanya.

Subhanallah! Inilah salah satu kepastian yang sebagian masih Allah rahasiakan. Maha Kuasa Dia untuk mematikan yang hidup dan menghidupkan kembali yang mati. Alhamdulillah, aku masih bisa melihat dunia lagi. Kerja malam telah membuatku tidur begitu pulas selepas Dzhuhur tadi.

4 Aug 2011

Walau Dekat dan Sebentar

Salah kostum, bisa dikatakan demikian. Salah tingkah, itu yang perempuan itu rasakan. Susah payah ia berusaha agar tak ( terlalu) kelihatan. Tapi sayang, penampilan anehnya terlanjur ‘menarik’ perhatian.

Ahmad baru saja pulang tadarus di mushola ketika tak sengaja ia melihat seorang perempuan dengan penampilan aneh di warung Bu Siti. Jelas perempuan itu tidak sedang ngelindur, tapi mengapa pergi ke warung dengan pakaian tidur? Bukan saja minimnya pakaian yang membuat Ahmad terkejut, tapi karena Ahmad mengenal siapa pemakainya. Selama ini Ahmad mengenalnya sebagai salah satu tetangga yang selalu menjaga cara berpakaian, kecuali malam itu, di warung itu.

Hanya dekat, cuma sebentar. Kurang lebih begitu alasan mengapa sang perempuan 'nekat' ke warung dengan pakaian ala kadarnya. Seolah terlupa bahwa warung yang ia datangi adalah salah satu tempat umum. Siapapun bisa datang, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa.


29 Jul 2011

Muliakan Tamumu, Tunaikan Kewajibanmu

Seorang anak bertanya pada ayahnya, “ Mengapa Ayah tadi ikut makan bersama tamu? Apakah Ayah lupa kalau hari ini sedang berpuasa?”

Ia terkejut dengan jawaban sang Ayah.

“ Ayah tidak lupa. Ayah sengaja berbuka.”

“Ayah pernah bilang, bahwa puasa itu harus karena Allah. Jelas-jelas Ayah berbuka karena ada tamu, mengapa Ayah bilang itu juga karena Allah?” Sang anak melipat dahi, berpikir, tak mengerti.

Dengan tenang Ayah menjawab kebingungan anak sulungnya. “ Ayah hari ini puasa sunnah. Dan Ayah sengaja membatalkan puasa karena Ayah ingin memuliakan tamu Ayah.”

25 Jul 2011

Tak Ada Rotan Akarpun Jadi

Pak Darmawan dan keluarga baru saja selesai sarapan ketika seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

“ Assalamu’alaikum…!” sang tamu mengucap salam.

“ Wa’alaikum salam!” Demi mendengar tamunya adalah seorang perempuan, Bu Darmawan segera beranjak ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Seorang perempuan setengah baya tersenyum saat pintu terbuka.

“ Siapa, Bu? Kok tamunya nda diajak masuk?” tanya Pak Darmawan dua menit kemudian saat sang istri kembali ke ruang makan.

“ Ibunya si Fulan, Yah. Beliau agak terburu-buru, jadi nunggu di teras saja katanya “

22 Jul 2011

Apakah Ada Bedanya?

Tak ada pilihan lain, kecuali harus segera pindah. Ali sudah mantap dengan keputusannya. Tak apalah harus repot, dua kali pindah kontrakan dalam sebulan, dari pada bertahan dalam ketidaknyamanan, bahkan rasa berdosa yang berkelanjutan.

Semua berawal dari obrolan dengan salah satu tetangga kontrakan, saat mereka sedang beristirahat usai kerja bakti di Minggu pagi. Ali yang baru dua minggu pindah merasa heran dengan listrik di kontrakan mereka yang tak pernah turun meski mereka memasak nasi menggunakan rice cooker dalam waktu yang bersamaan, sementara kulkas dan televisi tetap menyala. Bahkan, dalam waktu bersamaan pula, ada yang sedang menyeterika. Normalnya, menurut perhitungan Ali, daya listrik 900 VA tidak akan kuat menanggung pemakaian sebesar itu dalam waktu bersamaan. Seperti yang terjadi di tetangga mereka, seringkali turun ketika dua orang memasak nasi atau menyetrika dalam waktu yang bersamaan.

15 Jul 2011

Maafkan Bila Aku Mendahuluimu

Sombong! Egois!Soleh bukan tidak tahu kalau kata-kata tak mengenakan itu ditujukan kepadanya. Sungguh, sebenarnya Soleh pun merasa tidak nyaman dengan tuduhan semacam itu. Tapi ini soal prinsip. Ia yakin betul dengan kebenaran prinsip yang dipegangnya. Yang salah adalah mengapa mereka tak (mau) mengerti penjelasan yang ia berikan.

Adalah Soleh, pemuda berumur dua puluh lima tahun yang termasuk beruntung. Setahun bergabung, langsung diangkat sebagai karyawan tetap. Tapi bukan itu yang membuat beberapa rekan kerjanya sering menjadikan Soleh sebagai bahan perbincangan. Tak tahu tata cara pergaulan, begitu terkadang mereka menambahkan.

Bukan satu dua kali Soleh menjelaskan, mengapa ia (selalu) berjalan mendahului rekan-rekan perempuannya. Terlebih bila secara kebetulan bertemu di ujung tangga menuju kantor mereka yang terletak di lantai dua. Ia bukanlah manusia suci seperti sindiran rekan perempuannya. Ia laki-laki dewasa normal yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, tak terkecuali kepada teman kerjanya. Ia khawatir tak dapat menundukan pandangan (nafsu) bila berjalan di belakang perempuan. Bukankah setiap gerak perempuan selalu terlihat indah di mata laki-laki? Seandainya ia memiliki kekuasaan, pasti ia akan membuat aturan berpakaian bagi karyawan perempuan. Benar-benar menutup aurat, bukan sekedar mengikuti trend semata. Tapi ia hanyalah karyawan rendahan, jalan keluarnya adalah ia selalu berusaha untuk tidak berjalan di belakang perempuan.

Telah ia jelaskan, tapi sayang hanya dianggap sebagai alasan untuk menutupi kesombongannya, keangkuhannya. Dalam beberapa hal, Soleh tidak mempermasalahkan tata cara pergaulan yang mendahulukan perempuan, ladies first istilahnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, Soleh berprinsip sebaliknya.

Bukan tidak sopan, bukan pula sombong. Selain menjaga pandangan (nafsunya), justru karena Soleh menghormati mereka. Perempuan dengan segala daya pikatnya bukanlah objek yang bisa dinikmati (dilihat) oleh laki-laki selain yang berhak (suaminya). Sayang, belum semua perempuan menyadari tingginya agama ini menempatkan mereka. Karena nafsu, tak jarang perempuan sengaja tampil mencolok di depan laki-laki yang tidak berhak melihat auratnya. Astaghfirulllah!

Juga bukan satu dua kali Soleh mengatakan kenapa ia berusaha untuk shalat dengan jama'ah pertama dan mendapatkan tempat yang utama. Shaf pertama, tepat di belakang sebelah kanan sang imam, menjadi tempat favoritnya. Soleh sadar betul bahwa pahala terbesar adalah shalat yang dikerjakan secara berjama'ah di awal waktu. Dan soal tempat yang selalu ia incar – shaf pertama di belakang imam sebelah kanan – bukanlah milik atasannya, bukan pula milik pengurus mushala, tapi hak siapapun yang datang lebih awal.

Sudah Soleh katakan, tapi sayang beberapa orang justru menganggapnya tak punya tata krama. Bukan tak tahu tata krama bila Soleh berdiri di shaf pertama sementara atasannya justru di shaf kedua. Dalam sholat jelas tidak melihat jabatan seseorang dalam pekerjaan. Soleh tahu di belakangnya ada sang atasan, tapi ia merasa tak perlu menawarkan diri untuk bertukar posisi. Siapapun punya hak dan kesempatan yang sama, syaratnya hanya satu, datang lebih awal dibanding lainnya.

Soleh justru heran dengan beberapa rekan kerjanya yang datang lebih dulu tapi sengaja memilih tempat di belakang, bahkan ada yang harus diingatkan berkali-kali agar tidak membentuk shaf baru sebelum shaf di depannya terpenuhi. Soleh telah mengingatkan, tapi sayang mereka dengan penuh kesadaran dan dan kesengajaan melewatkan kesempatan untuk berdiri lebih dekat dengan pintu syurga.

Dalam hal lain, Soleh tentu tak berkeberatan bila ia harus mengalah, memberi kesempatan lebih dulu kepada sang atasan. Tapi untuk ibadah, Soleh tak mau menyia-nyiakan. Sudah dikatakan, urusan lain tidak masalah, tapi urusan ibadah, diri sendiri harus didahulukan.

Soleh memaklumi jika pada awalnya beberapa prinsip yang ia pegang terlihat aneh di mata rekan-rekannya. Semua karena mereka belum memahami. Baginya, tak harus ia merubah prinsip hanya karena orang lain belum atau tak (mau) mengerti penjelasannya.

Perlahan, seiring berjalannya waktu, rekan-rekan kerja Soleh mulai mengerti prinsipnya. Bererapa rekan perempuan mulai merubah cara berpakaian. Kalau kebetulan mereka bertemu di ujung tangga, tanpa diminta, rekan-rekan perempuannya memberi kesempatan untuk Soleh berjalan di depan. Mereka menyadari bahwa menaiki tangga sementara laki-laki di belakang, sama saja menciptakan kesempatan untuk mereka melihat apa yang tidak menjadi haknya, terlebih dengan model pakaian yang dulu mereka kenakan.

Begitupun dengan rekan kerja laki-laki, banyak yang mengikuti jejaknya. Mereka menyadari bahwa pahala shalat terbesar adalah ketika dilakukan berjama'ah, di awal waktu. Dan tempat yang tak boleh disia-siakan adalah shaf pertama. 

“Jadi, jangan terburu mengatakan egois, sombong, atau tidak sopan, bila dalam hal-hal tertentu aku (selalu) mendahuluimu. Maafkan.“ Soleh mengingatkan.

9 Jul 2011

Yang Dekat, Yang Terlewat

Tak ada yang lebih melegakan hati Ahmad saat itu selain melihat senyum Pak Didi, sahabatnya. Kemarin malam, sebelum mulai menghafal ayat ke 57 surat At Taubah, dengan wajah berseri Pak Didi mengatakan bahwa ia telah mengikuti saran Ahmad untuk ke dokter. Menurut hasil pemeriksaan dokter, tekanan darahnya normal. Tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu rendah. Barangkali keluhan yang dirasakan Pak Didi adalah efek dari cuaca yang meski tidak terlalu ekstrim tapi tidak cukup bersahabat bagi orang seusianya. Alhamdulillah, ucap Ahmad lirih. Kabar ini telah mengurangi rasa sesal dalam hatinya.

7 Jul 2011

Jangan Asal Membulatkan

SEPI. Untuk ukuran mall, suasana supermarket siang itu termasuk sepi. Hanya ada puluhan pengunjung yang terlihat santai dan lebih leluasa memilih barang-barang kebutuhannya. Aku yang pada dasarnya jarang berbelanja, lebih senang mendatangi pusat perbelanjaan tidak di awal bulan, saat umumnya orang-orang baru gajian. Sangat tidak mengenakan, berdesak-desakan, terjebak dalam antrian yang panjang hanya untuk membeli sedikit barang kebutuhan.

12 Jun 2011

Sedikit, Tapi Jadi Penyakit

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit, demikian peribahasa mengatakan. Meski peribahasa ini identik - sering dikaitkan dengan menabung, tapi menurutku bisa diartikan lebih luas lagi, sebagai ajakan sekaligus juga peringatan. Ajakan untuk melakukan kebaikan, juga peringatan untuk menjauhi dan meninggalkan keburukan. 

Sesederhana apapun, sedikit dan sekecil apapun, kebaikan yang dilakukan dengan niat yang lurus dan hati yang tulus ikhlas, insya Allah akan menjadi amal ibadah dengan pahala yang besar. Sebaliknya, sekecil apapun keburukan, bila dilakukan berulang-ulang maka dosanya akan terus bertumpuk. Sedikit, tapi jadi penyakit. 

**

Adzan Isya sudah tiga puluh menit berlalu ketika aku meninggalkan halaman parkir perusahaan tempatku menjemput rizki. Lelah, berbagai tugas mendadak telah memaksa badan dan pikiranku bekerja ekstra. Benar bahwa tubuh ini memiliki keterbatasan. Kerja lebih dari delapan jam dalam sehari membuat tubuh terasa kehabisan energi. Tak ada yang lebih kuinginkan saat itu kecuali segera sampai di rumah, beristirahat dan tentu saja bertemu putri semata wayangku yang telah dua kali mengirimkan sms, bertanya jam berapa aku pulang. 

2 Jun 2011

Doa dan Perbuatan

Bola dan taruhan, bagai pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran, sulit dipisahkan. Setidaknya, ini yang Ahmad ( bukan nama sebenarnya ) amati terhadap teman-teman kerja dan juga tetangganya.

Tanpa ragu dan malu, mereka membicarakan taruhan, membuat kesepakatan dengan saling berjabat tangan seakan taruhan bukan saja halal tapi juga sangat dianjurkan. Astaghfirulloh, sangat menyedihkan! Dan yang tak pernah bisa Ahmad pahami, mereka yang kalah kerapkali memasang tampang yang mengundang belas kasihan. Aneh, bukankah sebelumnya sudah mereka niatkan, termasuk resiko kalah dalam taruhan?

Sebenarnya Ahmad sudah berusaha mengingatkan, tapi mereka selalu dan terlalu mempunyai banyak alasan. Salah satunya, untuk seru-seruan. What? Apa masih kurang dosa atas maksiat yang sudah mereka lakukan? Kasihan! Semoga mereka mendapatkan hidayah dan sadar bahwa taruhan yang mereka lakukan bukan saja bisa bikin sengsara di dunia tapi juga di akhirat, Ahmad mendoakan.

“ Kamu taruhan juga ya?” tanya Ahmad pada Fulan.

“ Nggak! Cuman kopi doang” jawab Fulan linglung. Sejak kapan taruhan kopi dapat pengecualian? Mau kopi, mau roti, tetap saja taruhan itu haram. Bukan kopinya, bukan rotinya, tapi taruhannya yang diharamkan.

“ Katanya pengen punya anak, kok masih suka taruhan?” Ahmad jadi geregetan.

“ Lho, apa hubungannya taruhan sama punya anak? Aku dan istriku sama-sama sehat, nanti juga bakal punya anak!“ jawab Fulan enteng.

Senyum di wajahnya justru semakin menambah kesan amnesianya. Bagaimana bisa dia menjamin pasti punya anak? Dia tentu lupa, meski hasil pemeriksaan medis menyebutkan dia dan istrinya sama-sama sehat, tapi kenyataannya sudah tiga tahun lebih berumah tangga belum juga ada tanda-tanda mereka akan segera dapat momongan. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini, dan yang pertama terbantah adalah anggapannya sendiri, asal sehat maka pastilah punya anak.

Agak sulit memang menjelaskan, apalagi terhadap orang seperti Fulan yang plin plan. Ibadah jalan, tapi maksiat tak mau dia tinggalkan. Barangkali memang tidak terkait langsung antara taruhan dengan harapan punya anak, terutama bila sekedar sehat ( subur ) sebagai syarat untuk mempunyai anak, seperti yang ada dalam benak Fulan. Tapi Ahmad punya penjelasan, mengapa ia mengaitkan taruhan dengan tertundanya Fulan mempunyai momongan.

Dua minggu sebelumnya, Fulan curhat kepada Ahmad tentang keresahannya akibat belum juga dikaruniai momongan, padahal berbagai ikhtiar telah dia dan istrinya lakukan, mulai dari medis sampai ke alternatif, seperti pijat urut dan mengkonsumsi obat-obatan herbal. Bagaimanapun caranya, Fulan sangat mendambakan kehadiran seorang momongan, salah satunya agar ia merasa percaya diri ketika bergabung dengan rekan-rekan kerjanya yang rata-rata sudah berkeluarga dan telah dikaruniai anak.

Fulan mengaku, seringkali ia merasa minder, sedih bahkan terkadang sakit hati ketika rekan-rekan kerjanya asyik membicarakan anak masing-masing. Ia tahu bahwa mereka tak bermaksud untuk menyinggung apalagi menyakiti hatinya, tapi kenyataan bahwa obrolan mereka tentang anak, di telinganya terdengar seperti sebuah sindiran bahkan ejekan.

Agak bingung juga Ahmad memberikan nasihat waktu itu. Ahmad baru mengenal Fulan dua bulan. Tapi sebagai sahabat, Ahmad berusaha mengingatkan agar Fulan jangan pernah putus harapan. Teruslah berikhtiar, sertai dengan doa yang tulus dan tiada putus, juga tetaplah berbaik sangka bahwa belum dikaruniainya ia momongan hanya soal waktu semata dan Allah mempunyai rencana yang terbaik untuk mereka berdua, Fulan dan istrinya.

Ahmad menambahkan, sebelum memiliki momongan, nikmati saja masa-masa berdua. Jangan berhenti berharap, tapi juga jangan selalu memikirkan akan hal itu. Banyak hal yang bisa dilakukan. Jika hanya memikirkan soal momongan, dikhawatirkan Fulan jadi terlupa untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan. Momongan hanyalah satu dari sekian banyak nikmat, yang tentu tak ada manusia yang mampu menghitungnya.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Kehadirannya bisa melengkapi kebahagiaan rumah tangga, namun juga bisa sebaliknya. Orang tua bisa masuk ke syurga lantaran anak, namun juga bisa masuk neraka juga karena anak. Semua tergantung bagaimana orang tua menyikapi kehadiran seorang anak. Sebagai anugerah jelas harus disyukuri, baik dengan ucapan apalagi perbuatan. Sebagai amanah, anak harus dijaga, diarahkan dan dididik dengan baik dan benar. Salah besar bila orang tua beranggapan anak adalah miliknya, sehingga mereka merasa bebas melakukan apa saja terhadap anak-anaknya.

Kembali kepada awal permasalahan, mengapa Ahmad mengaitkan taruhan yang dilakukan Fulan sebagai salah satu penyebab ia belum dikaruniai keturunan. Salah satunya karena Fulan belum bisa berlaku amanah bila dikaruniai anak sekarang. Ia boleh saja berdoa siang malam, ia bisa saja melakukan berbagai ikhtiar agar segera diberikan momongan, tapi tingkah laku dan perbuatannya di luar itu justru tak sejalan.

Bagaimana bisa dikatakan ia telah siap lahir batin mempunyai momongan, bila harta yang ia miliki ia gunakan untuk taruhan. Jangan salahkan bila Allah meragukan keinginannya. Rejeki berupa harta yang Allah titipkan saja tak bisa ia jaga, bagaimana jika Allah berikan anak, apakah ia mampu mempertanggungjawabkannya?

Harta di tangannya, semestinya sebagian ia simpan sebagai persiapan untuk menyambut kehadiran buah hatinya. Untuk persiapan biaya mulai dari kehamilan, kelahiran hingga pendidikan sang anak kelak. Sebagian lagi ia gunakan untuk bersedekah, bukankah sedekah itu selain membuat rejeki barokah juga membuka pintu rejeki lainnya, termasuk mempunyai keturunan.

“ Masihkah kau ingin taruhan?” tanya Ahmad setelah menjelaskan panjang lebar.

“ Jika tidak, akankah segera mendapat anak?” tawar Fulan.

“ Wallohualam! Tapi setidaknya kamu tak membantah doa-doamu setiap hari. Mulut ke kanan, tapi kaki dan tanganmu bergerak ke kiri. Harus sejalan, antara hati, mulut juga tangan dan kaki. Semua bergerak dan mendekat kepada Allah, bukan berjalan masing-masing menuruti hawa nafsumu. Jika semua sudah mengarah pada satu tujuan yaitu Allah, bukan mustahil bila istrimu segera hamil. “ Ahmad menasihati.

“ Oh ya, kamu taruhan tapi kamu nda nonton pertandingannya. Kalau boleh tahu, apa kamu benar-benar suka dengan sepak bola ?” Ahmad penasaran.

Yang ditanya hanya senyum-senyum saja. Ternyata, sama seperti kebanyakan yang lainnya, sepak bola hanya satu dari sekian alasan untuk dijadikan taruhan. Tak heran bila ada orang yang justru tidak peduli sama sekali dengan jalannya pertandingan, dukungan yang ia berikan bukan karena ia berada di pihak salah satu grup kesebelasan, tapi lebih kepada keberuntungan atau kemalangan yang akan ia dapatkan.

Anda melakukan taruhan? Saya berharap anda mantap menjawab; TIDAK! Tidak kemarin, sekarang dan selamanya, dengan cara apapun dan dengan alasan apapun.

16 May 2011

Iseng-Iseng Bermaksiat

Di pangkalan angkutan kota, Minggu petang.

Sepuluh menit sebelum adzan Maghrib berkumandang, bus yang aku tumpangi dari Bekasi akhirnya menepi. Alhamdulillah, lega rasanya. Setidaknya setelah tiga jam duduk dalam bus yang penuh sesak, Insya Allah aku bisa shalat Maghrib di rumah.

Sesuai kesepakatan, turun dari bus aku langsung menuju warung kopi satu-satunya yang ada di pangkalan angkot tersebut. Bukan untuk memesan segelas kopi, bahkan masuk ke dalam warungpun tidak. Aku berdiri tak jauh dari warung kopi, menunggu keponakanku datang menjemput. Lima menit kemudian, dia baru datang. Dan saat menunggu inilah aku mendapati satu kenyataan yang memprihatinkan.

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat tak kurang dari lima orang laki-laki berkerumun di bawah rindang pohon mangga. Di bawah kaki mereka, banyak potongan kertas kecil berserakan. Juga butiran permen kecil warna-warni. Apa yang sedang mereka lakukan, aku jadi penasaran.

Ketika dua orang dari mereka pergi - dengan muka yang terihat kesal -, terlihat seorang laki-laki duduk dengan papan lotre yang sudah terjual lebih dari setengah tak jauh darinya. Di bagian atas papan lotre itu, tergantung beberapa bungkus rokok, mie instan, minuman suplemen, bahkan juga sebuah handphone. Aku baru sadar kalau orang-orang yang tadi berkerumun itu sedang ramai-ramai membeli lotre. Astaghfirullah!

***

Dua hari sebelumnya, usai makan siang di kantor.

Seorang rekan kerja - sebut saja Fulan - bercerita tentang gagasan yang diusulkan oleh salah satu anggota arisan keluarga yang baru ia ikuti.

"Sepertinya beberapa anggota mulai jenuh dengan arisan yang sudah berjalan selama belasan tahun. Itu terlihat dari kehadiran anggota yang semakin menurun meski arisan diadakan dua bulan sekali. Karena itulah, pengurus meminta pendapat kepada anggota bagaimana caranya agar para anggota kembali bersemangat untuk datang arisan. Seperti tujuan awal bahwa arisan ini sebenarnya hanya sampingan saja, utamanya adalah untuk mempererat silaturrahim," Fulan memulai ceritanya.

"Ada usulan dari salah satu anggota senior, agar para anggota kembali bersemangat, maka selain arisan diadakan, juga penjualan kupon berhadiah. Teknisnya adalah setiap anggota membeli satu buah kupon undian. Bagi yang beruntung akan mendapatkan hadiah berupa barang yang dibeli dengan uang hasil penjualan kupon," ia menambahkan.

Perlu beberapa waktu untuk mencerna, sebelum aku menanggapi ceritanya.

"Selain arisan uang, ada juga arisan berupa barang, begitu maksudnya?"

"Bukan! Justru kalau itu sih tidak aku permasalahkan. Begini, dengan meminjam dana kas, pengurus akan membelikan sebuah barang. Harga barang tersebut akan dibagi dengan jumlah anggota arisan yang datang. Berapa hasilnya adalah nilai yang harus dibayar untuk mendapatkan satu kupon. Dengan demikian, dana kas akan tertutup kembali. Dan bagi yang mendapatkan kupon dengan tanda khusus, maka ia yang berhak membawa pulang barang."

"Apa bedanya itu dengan membeli lotre?" Aku mulai paham dengan yang Fulan maksudkan.

"Aku juga berpendapat begitu!"

"Usulan ini disetujui?"

"Tidak. Memang awalnya aku ragu, tapi setelah ada satu anggota lain yang menyampaikan ketidaksetujuannya, akhirnya aku berani mengatakan bahwa jika begitu teknisnya, maka tak ada bedanya dengan taruhan. Aku memang tidak atau belum mempunyai ide untuk menyegarkan kembali semangat silaturrahim anggota arisan, tapi jika arisan akan ditambahi dengan taruhan meskipun itu tidak disengaja atau tidak diniatkan, maka aku akan menjadi orang pertama yang tidak setuju."

***

Iseng-iseng berhadiah, sering orang mengatakan. Barangkali mereka, orang-orang dalam cerita di atas berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah juga demikian. Iseng-iseng berhadiah. Tapi menurutku, seperti itu justru iseng-iseng bermaksiat. Bagaimana tidak, membeli lotre untuk mendapatkan hadiah adalah nyata-nyata sebuah perjudian. Kupon berhadiah atau apapun nama dan sebutannya, tetap saja itu taruhan.

Berbeda dengan arisan, meski diundi, tapi ini tidak termasuk taruhan atau judi. Hati-hati, sebab judi bukan semata dilihat dari cara melakukannya, tapi unsur yang terkandung di dalamnya. Meski melalui kegiatan yang diperbolehkan - baik oleh hukum negara maupun agama -, bila di dalamnya terkandung unsur taruhan, maka kegitan itu menjadi haram untuk dilakukan.

Pertandingan olahraga, lomba baca puisi, ataupun peragaan busana muslim sekalipun, adalah kegiatan yang tidak melanggar, baik aturan agama maupun negara. Tapi menjadi haram ketika hadiah yang diperebutkan adalah hasil dari iuran, patungan, atau sumbangan para peserta, baik sebagian atau seluruhnya, secara langsung ataupun tidak.

Sebagian atau seluruhnya maksudnya adalah bahwa bila untuk bisa mengikuti sebuah perlombaan, setiap peserta diwajibkan membayar uang pendaftaran, dimana dari uang pendaftaran tersebut digunakan sebagian atau seluruhnya untuk hadiah atau membeli barang sebagai hadiah.

Akan berbeda ceritanya bila hadiah disediakan oleh pihak panitia, baik atas dananya sendiri atau bantuan dari para sponsor tanpa mengambil sedikitpun dari uang pendaftaran calon peserta. Kalaupun mereka harus bayar, mungkin untuk keperluan kostum ataupun konsumsi yang tentu saja akan didapatkan oleh seluruh peserta, baik mereka menjadi juara atau tidak.

Setan tidak akan pernah berhenti menggiring manusia ke jalan yang sesat. Jika melalui togel, judi dadu ataupun kartu orang langsung sadar bahwa itu sebuah judi yang dilarang - baik oleh agama maupun negara -, maka setan tak pernah kehabisan cara untuk terus menyesatkan manusia. Salah satunya dengan menyamarkan perjudian dalam berbagai kegiatan. Manusia ditipu dengan berbagai bentuk hadiah yang bisa didapatkan dengan cara yang mudah dan harga yang murah. Jika kita tidak teliti, maka kita akan terjebak pada perjudian sementara kita terus mengira apa yang kita lakukan adalah halal. Na'udzubillah!

Yang patut diwaspadai jaman sekarang adalah banyaknya tawaran menggiurkan, hadiah jutaan rupiah hanya cukup dengan mengirimkan SMS. Mereka - penyelenggara kuis - bisa saja beralasan bahwa hadiah yang diadakan adalah murni disediakan oleh mereka dan para sponsor, tapi bisakah mereka memberi penjelasan dengan transparan mengenai biaya yang dikenakan untuk mengirim satu SMS? Ketika biaya satu kali pengiriman SMS sekitar seratus rupiah bahkan banyak operator yang bersaing dengan layanan SMS gratis, mengapa mereka mengenakan biaya SMS hingga ribuan rupiah? Ke manakah dan untuk apakah kelebihan dari biaya normal itu digunakan?

Juga hadiah dari promosi produk-produk tertentu. Ketika harga produk selama masa promosi atau tidak adalah sama, maka kita bisa percaya bahwa hadiah yang mereka siapkan adalah menjadi tanggungan pihak produsen sebagai salah satu resiko dalam rangka meningkatkan omset penjualan. Toh ketika omset penjualan mereka meningkat, mereka akan mendapatkan keuntungan yang berlipat. Tapi bila harga sebelum dan selama promosi berbeda (lebih tinggi ketika masa promosi), maka berhati-hatilah, karena bukan tidak mungkin selisih harga itu yang digunakan sebagai hadiah. Mereka ingin mempromosikan produk mereka dengan menarik minat konsumen melalui berbagai hadiah, tapi mereka tidak mau mengeluarkan modal. Bahkan celakanya, disadari atau tidak, konsumen yang membeli produk dengan harga ‘khusus’ tersebut telah turut serta dalam ‘iuran’ taruhan.

Dengan segala tipu dayanya, setan telah menjadikan judi dan taruhan kini bukan lagi hanya berupa nomor togel ataupun dadu dan kartu. Berbagai bentuk pertandingan, perlombaan, bahkan promosi telah disisipi taruhan. Maka, sudah menjadi kewajiban kita untuk berhati-hati dan waspada. Jangan sampai iseng-iseng berhadiah, tapi sebenarnya iseng-iseng bermaksiat.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri