“ Ma! Aku…” Aku tak sempat mengucapkan apa yang sudah kupikirkan sejak tadi malam. Kata-kataku terhenti oleh sebuah jawaban yang menuntut pengertianku. Sayangnya, justru membuatku sangat kecewa.
“ Sayang, kita bicara nanti malam saja ya! Sekarang mama sama papa harus buru-buru berangkat. Sudah siang, nanti mama sama papa telat! “
Aku tahu kalau jawaban itu yang akan kuterima. Selalu begitu, seperti hari-hari yang lalu. Terburu-buru mereka menginggalkanku. Bahkan seringkali tak sempat lagi menoleh ke arahku.
“ Sayang, kita bicara nanti malam saja ya! Sekarang mama sama papa harus buru-buru berangkat. Sudah siang, nanti mama sama papa telat! “
Aku tahu kalau jawaban itu yang akan kuterima. Selalu begitu, seperti hari-hari yang lalu. Terburu-buru mereka menginggalkanku. Bahkan seringkali tak sempat lagi menoleh ke arahku.

