Showing posts with label kisah berhikmah. Show all posts
Showing posts with label kisah berhikmah. Show all posts

14 Oct 2011

Banyak Bukan Berarti Boleh

Seorang anak sedang berbincang dengan ibunya di teras rumah. Ia baru saja pulang sekolah.

“ Bunda, hari Minggu besok aku mau ikut teman-teman renang. Boleh ya, Bun? Buat refreshing. Kan sudah selesai mid semester.” sang anak membuka pembicaraan.

“ Renang? Dimana?” tanya Bunda sambil berjongkok di samping gadis kecilnya yang sedang melepas sepatu.

“ Biasa, Bunda!” Sang anak kemudian menyebut kolam renang yang ia maksudkan.

“ Jangan, sayang! Itu kan kolam renang untuk umum!” jawab Bunda setengah kaget.

“ Ya, memang. Terus kenapa, Bunda?” gadis kecil itu balik bertanya. 


30 Sept 2010

Catatan Lebaran 1: Persiapan Lebaran

Bulan suci Ramadhan, bulan penuh kemuliaan telah berakhir, ditandai dengan hadirnya Idul Fitri atau lebaran, hari penuh kemenangan. Dan perlahan lebaranpun berlalu, menyisakan banyak kenangan, pengalaman sekaligus pelajaran. Di antaranya yang pertama adalah tentang persiapan yang dilakukan menjelang datangnya hari lebaran.

Putri misalnya. Remaja modis ini melakukan persiapan menyambut datangnya lebaran dengan berburu pakaian ke pasar Tanah Abang. Lebaran kurang seminggu, lima setel baju baru telah berpindah ke dalam lemari pakaiannya. Putri begitu semangat menyambut lebaran, apalagi lebaran kali ini adalah lebaran pertama semenjak ia memutuskan untuk berjilbab. 

Begitupun Putra. Meski koleksi celana jeansnya sudah berjejal di lemari, dengan uang THR yang diterimanya Putra membeli dua buah celana jeans, satu baju batik, kaos dan sebuah jacket warna hitam, warna kesukaannya. Tak lupa pula, Putra membeli sepasang sepatu baru, sama seperti Putri yang juga melengkapi koleksi sepatu sendalnya khusus untuk lebaran.

Bila Putra dan Putri serta anak-anak remaja lainnya sibuk dengan baju dan sepatu baru untuk lebaran, maka berbeda halnya dengan bu Siti. Sejak pertengahan Ramadhan, bu Siti mulai membuat aneka kue kering untuk lebaran. Tak kurang dari sepuluh toples kue hasil buatannya sendiri tersimpan rapi dalam lemari. Selain itu, beberapa kaleng biscuit dengan merk-merk terkenal dan beberapa botol sirup aneka rasa juga telah menjadi penghuni baru di dalam lemari, siap untuk dijadikan kepada para tamu yang bersilaturahmi di hari lebaran. 

Tak mau ketinggalan, pak Anto juga melakukan persiapan menyambut datangnya hari lebaran dengan mengecat ulang tembok rumahnya agar terlihat lebih cerah. Beberapa perabot seperti sofa dan lemari hias dijemur dan dibersihkan. Bahkan pak Anto membeli lagi satu setel sofa baru untuk memastikan bahwa semua tamunya yang datang bisa mendapatkan tempat duduk. Setiap tahun, keluarga mereka memang selalu mengadakan open house, dan tamu-tamu yang datang bukan saja para tetangga, tapi juga rekan bisnis dan kerabat mereka yang tinggal di lain kota. 

Berbeda dengan persiapan yang dilakukan oleh si Adi. Bujangan yang setiap harinya berkerja sebagai operator di sebuah perusahaan ini tidak begitu repot dengan baju baru atau juga sepatu. Baginya baju dan sepatu baru tidaklah begitu penting. Begitupun dengan makanan, minuman dan juga perabotan, tak masuk dalam daftar yang ia persiapkan. Jauh lebih penting baginya adalah memastikan bahwa sepeda motornya siap untuk dibawa mudik ke kampung halaman, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ketika ia bekerja sore, pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke bengkel, ikut antri dengan puluhan orang yang menservice motornya untuk mudik lebaran. 

Persiapan mudik juga dilakukan oleh bu Ani dan keluarganya. Sebagai keluarga yang sangat sederhana, mereka memilih mudik dengan naik kereta api. Awal sepuluh hari ketiga, bu Ani mengajak anak-anaknya pulang kampung untuk menghindari kemacetan dan tingginya ongkos perjalanan. Resiko anak-anak bolos sekolah dan tertinggal pelajaran terpaksa mereka abaikan, yang terpenting bagi mereka adalah bisa berlebaran dengan keluarga di kampung dengan biaya yang terjangkau kantong mereka yang tipis. 

Hampir senada dengan persiapan yang dilakukan oleh keluarga pak Karyo. Suami istri yang berstatus karyawan kontrak sebuah perusahaan kecil, jelas tidak bisa pulang lebih awal sebelum hari libur perusahaan tiba. Sebagai solusinya, mereka rela antri tiket sejak subuh guna mendapatkan tiket bus ekonomi yang paling murah. Tak apalah berdesakan asalkan anggaran mudik dan balik nanti bisa mereka selamatkan. 

Kesibukan-kesibukan seperti di atas dengan mudah kita dapati di masyarakat menjelang datangnya hari lebaran. Bahkan, barangkali kita salah satu yang melakukannya. Meski tak ada tuntunan atau ketentuan agama yang mengharuskan melakukan itu, namun begitulah faktanya. Orang-orang begitu berantusias, bersemangat melakukan berbagai persiapan untuk menyambut datangnya Idul Fitri, hari yang sangat dinanti-nanti. Hari penuh ampunan, hari kemenangan setelah sebulah penuh melakukan puasa, menahan dan mengendalikan hawa nafsu. 

Semakin mendekati hari lebaran, persiapan yang dilakukanpun semakin terlihat nyata. Hampir setiap orang, di setiap tempat melakukan aktifitas yang berkaitan dengan hari lebaran. Seolah-olah, apapun yang dilakukan bisa dipastikan untuk lebaran. Apa-apa untuk lebaran, semuanya untuk lebaran. Bagitulah nyatanya. Namun semestinya persiapan yang dilakukan janganlah sampai dipaksakan, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Tanpa mengecilkan makna serta keagungan hari lebaran, perlu diingat bahwa kemeriahan hari lebaran hanya akan berlangsung satu atau dua hari saja. Hari ketiga dan selanjutnya, kemeriahan lebaran akan terus berkurang, berganti dengan kelelahan dan juga kesibukan baru seperti persiapan balik ke kota dan tempat kerja masing-masing. Begitulah adanya. Berhari-hari persiapan dilakukan, beratus ribu bahkan berjuta uang dibelanjakan, semua untuk melengkapi kebahagiaan di hari lebaran. Tidak sepenuhnya salah, selama dilakukan dalam batas wajar dan tidak melanggar aturan agama. 

Melihat ‘kehebohan’ orang-orang dalam melakukan persiapan menjelang lebaran, timbul sebuah pertanyaan yang agak menghawatirkan. Bagaimana dengan persiapan untuk masa depan di akhirat kelak, apakah ‘seheboh’ persiapan ketika menyambut hari lebaran. Kita tentunya tidak ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan di dunia saja, tapi di akhirat kelak kita ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan yang abadi. Semestinya persiapan yang kita lakukan jauh lebih matang dibanding dengan persiapan untuk kebahagiaan sesaat di dunia. 

Sangat disayangkan jika persiapan yang dilakukan masihlah berorientasi pada kenikmatan dunia saja. Sangat rugi bila kita hanya sibuk dengan sesuatu yang terlihat oleh mata, sesuatu yang dapat dirasakan di dunia, padahal sifatnya hanya sementara. Untuk meraih kemenangan, kebahagiaan di akhirat yang kekal, sangat dibutuhkan persiapan yang matang bahkan juga panjang. Bukan pakaian, makanan, minuman dan bukan pula perabot serta kendaraan, tapi amal ibadah yang harus dibenahi dan dicukupi. Semestinya, di tengah-tengah kesibukan persiapan lebaran tidak kemudian menjadikan lupa akan persiapan dan perbekalan untuk kemenangan di akhirat kelak. 

Jika sudah cukup pakaian, makanan dan minuman, untuk apa harus menambah lagi, membeli lagi. Dengan rizki yang kita miliki, semestinya kita berbagi dengan dengan orang lain. Jika kendaraan kita masih lega, mengapa tidak mengajak saudara yang terpaksa berebut tiket, berdesakan dalam kendaraan umum yang jauh dari rasa aman dan nyaman. Alangkah indahnya bila persiapan menyambut datangnya lebaran juga diorientasikan sebagai persiapan untuk menyambut kemenangan, kebahagiaan di akhirat. 

Bagaimana dengan persiapan yang anda lakukan kemarin, masihkah sebatas untuk yang terlihat mata, terasa di dunia saja, ataukah sudah mengarah pada persiapan untuk sebuah kemenangan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak? Jika bisa dua-duanya, mengapa hanya mengambil salah satunya? Jika yang diambil hanya untuk dunia saja, tentu sangatlah rugi. Semoga kita bisa meraih kemenangan, merasakan kebahagian bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat, di dalam syurga selamanya. Amin.

Catatan: nama-nama di atas bukanlah nama yang sebenarnya.

Gambar dipinjam dari sini

1 Sept 2010

Lebaran = Bermaafan, Silaturahmi = Berbagi

Berlama-lama di dalam pusat perbelanjaan bagiku bukanlah hal yang selalu menyenangkan, tapi malah menguji kesabaran dan juga keimanan. Betapa tidak, hanya untuk membeli satu dua kebutuhan, terkadang harus berdiri dalam antrian panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Kalau soal hemat - konon harga di pusat perbelanjaan lebih murah dibanding harga di warung sekitar rumah - rasanya tidak terlalu bisa dipastikan, sebab seringkali justru terpancing promosi hingga membeli sesuatu yang sebenarnya tidak atau belum terlalu dibutuhkan. Alasan yang sebenarnya mengapa kami sesekali berbelanja di supermarket hanyalah karena tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan aneka macam kebutuhan.

Tapi, saat itu aku bersyukur sekali berada diantara para calon pembeli yang berdiri dalam antrian panjang di depan kasir. Sebuah pelajaran berharga kudapat dari seorang laki-laki yang sederhana dan bersahaja.

“ Belanjanya banyak sekali Pak, persiapan untuk mudik ?” tanyaku berbasa-basi pada laki-laki berbaju biru yang berdiri di depanku. 

Sebelum menjawab, laki-laki itu tersenyum padaku. “ Tidak kok, Mas. Tahun ini kami tidak mudik “ jawabnya ramah. Di akhir jawaban, sebuah senyum ramah dan bersahabat kembali ia berikan. 

“ Kenapa Pak?” tanyaku spontan. Sesaat kemudian aku merasa menyesal dengan kelancanganku menanyakan hal ini pada seseorang yang baru pertama kali bertemu, bahkan namanyapun aku belum tahu. Sungguh, aku tiada bermaksud memasuki area privacinya, pertanyaanku hanya reflek saja. 

Aku ingin buru-buru meminta maaf, tapi laki-laki itu sudah lebih dulu menjawab. Dengan suara yang tak berubah – tetap ramah – laki-laki itu bercerita mengapa tahun ini dia dan keluarganya tidak merayakan lebaran bersama keluarga besarnya di kampung. 

Semula laki-laki yang menurut perkiraanku umurnya belum sampai empat puluh tahun ini berencana merayakan Idul Fitri di kampung halamannya, sebuah kota kecil di Jawa Tengah seperti tahun sebelumnya. Namun, indah yang mereka bayangkan sepertinya kali ini tidak akan menjadi kenyataan. Sebuah ujian hidup baru saja mereka jalani. Ujian yang erat kaitannya dengan biaya, hingga rencana yang sudah dipersiapkan berubah semuanya. Dan keputusan untuk tidak mudik adalah keputusan yang terbaik bagi keluarga mereka. Aku mendengar penuturan laki-laki ini seperti mendengarkan ceritaku sendiri. Ada kesamaan antara aku dan dia. Ada kemungkinan tahun ini aku dan keluargaku juga batal merayakan idul fitri bersama keluarga di kampung, dengan alasan yang senada.

“ Kalau tidak mudik, tapi kok belanja kuenya banyak banget. Apa mau dikirim lewat pos? “ Aku kembali bertanya, dan lagi-lagi bukan maksudku untuk tahu terlalu jauh tentang laki-laki ini. Pertanyaanku muncul karena aku melihat dua kardus biscuit dalam trolley yang didorongnya. 

Laki-laki itu mendorong kerangjang belanjaannya, merapat pada calon pembeli di depannya. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Posisi kamipun kembali berdekatan. Dengan tutur kata seramah yang pertama, laki-laki ini menceritakan untuk apa ia membeli biskuit sebanyak itu. Bukan untuk dikirim kepada keluarganya di kampung, melainkan untuk dibagi dengan saudara-saudaranya sebagai buah tangan saat mereka bersilaturahmi lebaran nanti. Selain keluarga besarnya di kampung, laki-laki ini juga mempunyai banyak saudara sepupu yang kebetulan tahun ini tidak mudik. Ada juga yang sudah beberapa tahun tidak pernah lebaran di kampung karena mereka sudah menetap di sini.

Ada satu yang menarik perhatianku saat laki-laki ini mengatakan bahwa kue-kue itu akan ia bagi-bagikan kepada saudaranya sambil bersilaturahmi nanti. Bukankah alasan dia tidak mudik karena masalah biaya, mengapa dia memaksakan diri membeli kue sebanyak itu? Bukankah silaturahmi tidak harus dengan membawa kue atau apapun sebagai buah tangan? Pastilah laki-laki ini seorang yang murah hati, senang berbagi.

“ Kami memang tidak mudik tahun ini karena biaya yang tidak mencukupi, atau kalau sedikit dipaksakan sebenarnya sih bisa saja, hanya kami memiliki pertimbangan lain. Insya allah, kami akan mudik setelah lebaran, segera setelah kondisi keuangan kami normal kembali. Dan kalau untuk sekedar membeli kue-kue ini, dengan rezeki yang ada kami masih bisa membelinya. Kami ingin sekali-sekali tangan kami berada di atas “ jawab laki-laki ini tanpa ada kesan sombong sedikitpun.

“ Ada beberapa saudara sepupu kami yang tahun ini juga merayakan lebaran di sini. Mereka mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Tak tega rasanya kalau kami datang tanpa membawa sesuatu buat mereka. Kalau dengan membawa buah tangan bisa membuat silaturahmi menjadi lebih berkesan, mengapa tidak? Bagaimanapun kami juga ingin berbagi rezeki, insya Allah kami ikhlas “ dia melanjutkan.

Aku menyimak semua yang dikatakan laki-laki ini dengan rasa kagum. Tak kusangka, dibalik kesederhanaanya, jiwa dan semangat berbaginya begitu tinggi. Jarang ada orang yang memikirkan orang lain sampai sejauh itu, apalagi ketika rencana-rencananya sendiri gagal karena masalah biaya.

Aku teringat dengan pak Karim dan istrinya yang berkeliling kampung demi mendapatkan sesuatu yang pantas mereka jadikan buah tangan saat silataurahmi lebaran. Saat itu hari terakhir puasa, tapi mereka belum memiliki apapun yang bisa mereka bawa saat bersilaturahmi esok hari. Sebenarnya bisa saja mereka bersilaturahmi tanpa membawa apapun, toh silaturahmi tidak mengharuskan itu dan saudara-suadara merekapun paham dengan kondisi keluarganya. Namun pak Karim dan sang istri bersikeras untuk membeli kue ala kadarnya, meski harus mendatangi beberapa toko hingga ke pelosok kampung. Kalau mereka punya uang lebih, tentunya mereka tidak perlu mendatangi toko hingga ke sudut kampung. Mereka tinggal datang ke minimarket atau supermarket, pilih kue mana yang diinginkan. Tapi masalahnya adalah uang yang mereka miliki tidak cukup untuk kue berkelas semacam itu. Dalam keterbatasan, mereka tetap ingin berbagi, dengan cara mereka, sesuai dengan uang yang mereka miliki. 

Bukan, sama sekali bukan karena gengsi. Apa yang mereka lakukan adalah sama, ingin sesekali merasakan tangan di atas. Mereka tidak mau keterbatasan ekonomi menghalangi mereka untuk memberikan rasa bahagia pada orang lain. Mereka memaknai lebaran sebagai saat yang tepat untuk saling memaafkan sekaligus mempererat silaturahmi. Dan silaturahmi yang mereka inginkan adalah silaturahmi yang berkesan, salah satunya dengan memanfaatkan silaturahmi sebagai momen untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan, kebaikan dan juga berbagi rezeki. Bagaimana menurut anda?

27 Aug 2010

Tiket Mudik, Tiket Balik

Tak terasa bulan Ramadhan yang penuh nikmat dan barokah ini telah kita lewati setengah perjalanan. Bagaimana dengan puasa anda? Semoga tetap lancar dan makin sempurna, bukan sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan di siang hari saja. Amin, insya Allah.

Meski masih di pertengahan bulan Ramadhan, sebagian orang mulai mengumpulkan makanan, minuman dan juga pakaian untuk menyambut datangnya hari lebaran, hari kemenangan. Bagi mereka yang berencana merayakan lebaran di kampung halaman, persiapan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari bahkan ada yang menyiapkan sebelum datang bulan Ramadhan. Mendatangi bengkel untuk memastikan kelayakan kendaraan yang akan dipakai untuk mudik atau ‘berburu’ tiket kendaraan umum bagi calon pemudik yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Salah satu yang melakukan hal itu adalah Ahmad. Dia sudah menyiapkan tiket bis untuk balik, jauh sebelum ia dan keluarganya berangkat mudik. 

“ Tiket balik? Mungkin yang dimaksud tiket mudik kali!” protes Anto saat itu. Anto mengira Ahmad salah menyebut tiket mudik dengan tiket balik.

“ Benar, tiket balik!” Ahmad meyakinkan. “ Aku baru saja nelpon kakakku di kampung agar memesankan tiket bus untuk kami balik ke sini usai lebaran nanti “ lanjutnya. 

Anto semakin heran.

“ Tiket untuk mudik, kamu sudah punya kan? “ tanya Anto memastikan.

“ Belum! “ jawab Ahmad santai. Dan kami semua yang mendengar pembicaraan mereka jadi tertawa melihat Anto kebingungan, sementara Ahmad justru tenang-tenang saja.

Apa yang dilakukan Ahmad sebenarnya tidaklah berlebihan. Aku pernah melakukan hal yang sama saat akan mudik lebaran tahun lalu. Di awal-awal puasa, aku sudah meminta kakakku memesankan tiket bus untuk kami kembali ke Tangerang. Alasannya hanya satu, kami ingin berlebaran di kampung halaman dengan suasana yang benar-benar tenang dan nyaman, tanpa terbebani masalah tiket untuk balik. 

Bagi calon pemudik yang memiliki kendaraan pribadi, jelas tidak ‘mengerti’ dengan persoalan ini. Juga bagi calon pemudik yang berkantong tebal, tiket kendaraan bukanlah hal yang terlalu mencemaskan. Mereka bisa memesan kendaraan kelas VIP atau eksekutif atau ikut rombongan tanpa harus berdesak-desakan. Konsekuensinya mereka harus membayar harga tiket berlipat-lipat dibanding harga tiket kendaraan umum lainnya. Tapi itu bukan masalah, kalau duit di dompet habis, tinggal datangi ATM, tarik duit dan semua masalah teratasi.

Tapi bagi calon pemudik yang memiliki dana terbatas, tiket kendaraan adalah hal yang perlu dipersiapkan dengan matang. Tiket mudik dan tiket balik, pentingnya sama. Memang, banyak agen bus atau panitia rombongan yang sudah menawarkan tiket jauh sebelum datang bulan Ramadhan. Tapi ya itu, harganya bisa dua hingga tiga kali lipat dibanding tiket kendaaraan umum kelas ekonomi. Bagi Ahmad dan termasuk aku tentunya, kendaraan untuk mudik yang kami cari adalah yang mengutamakan keselamatan. Soal kenyamanan bonus sifatnya. Tak masalah mudik dengan bus kelas ekonomi yang panas, penuh bahkan berdesakan, asal bisa sampai tujuan dengan selamat, merayakan hari kemenangan bersama keluarga di kampung halaman.

Bagi kami, para pemudik yang memiliki dana terbatas, memikirkan tiket mudik dan tiket balik jauh lebih penting dan menarik ketimbang memikirkan kue-kue lebaran, minuman atau pakaian. Sebelum berangkat, kami harus memperhitungkan biaya untuk mudik, biaya hidup selama mudik dan biaya untuk kembali setelah lebaran. Semua biaya itu biasanya sudah dipisah-pisahkan sejak uang THR diterima.

Berburu tiket mudik bagiku sedikit lebih mudah dibanding mencari tiket balik setelah lebaran. Jelas keduanya berkaitan dengan uang yang ada di tangan. Untuk mudik kami bisa sedikit memilih bus mana yang akan kami naiki, maklumlah saat itu dompet di kantong masih cukup tebal. Tapi ketika hendak balik, dimana dompet sudah semakin menipis, maka kesempatan memilih sudah tak ada lagi. Bus kelas ekonomi jadi satu-satunya pilihan kami. Dan selain identik dengan panas, penuh, pengap dan berdesakan, resiko lainnya adalah kami harus bersaing mendapatkan tiket dengan sesama calon penumpang lainnya jika kami membeli tiket setelah lebaran di hari atau beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan.

Berdasarkan pengalaman mudik tahun sebelumnya, lebaran tahun kemarin aku sengaja meminta kakakku yang di kampung untuk memesan tiket balik sejak awal puasa. Aku tak mau mengulang pengalaman tahun sebelumnya, dimana aku harus balik ke agen bus dua hari berturut-turut karena di hari pertama aku hanya mendapatkan satu tempat duduk, sedang dua lainnya hanya tiket cadangan. Tiket cadangan dalam suasana lebaran adalah kata ganti untuk tiket berdiri. Akhirnya tiket aku batalkan, tak kuat rasanya harus berdiri selama sepuluh hingga dua belas jam. Hari kedua aku kembali mendatangi agen bus sebelum subuh, kali ini dengan mengajak dua orang ponakan karena pemilik agen bus membuat peraturan satu orang satu tiket tempat duduk. Boleh membeli lebih dari itu asal rela mendapatkan tiket cadangan alias berdiri. 

Mengapa kami harus berangkat sepagi itu? Karena kami harus mengambil nomor antri, beradu cepat dengan calon pembeli tiket lainnya. Sebenarnya agen bis itu bukanlah satu-satunya. Tapi agen bus yang menjual tiket dengan harga terjangkau kantongku hanya itu. Selain itu harapan untuk mendapatkan tempat duduk lebih besar asal kita mau datang lebih awal. Ada banyak agen bus yang menjual tiket, tapi kalau bukan karena tempat duduknya sudah habis ya harganya jauh lebih mahal karena menggunakan bus carateran. Dan agen bus di pinggir rel kereta api inilah yang menjadi pilihanku. Agen ini tidak melayani pemesanan, hanya menjual tiket untuk keberangkatan sore harinya. Siapa cepat dia dapat. Dan meski saat menjalani terasa pahit, namun pengalaman ini justru menambah kesan mudik lebaran, menjadi kenangan yang tak mudah terlupakan. 

Berdasarkan pengalaman itulah, maka tahun berikutnya aku menyiasati persoalan tiket dengan cara memesan tiket balik sejak awal bulan Ramadhan. Alhamdulillah persoalan tiket bisa kami atasi. Dan strategi inilah yang kini diikuti Ahmad.

“ Ternyata mudik lebaran itu repot banget ya?” Anto berkomentar.

“ Dibilang repot, ya memang repot. Tapi repotnya tak seberapa bila dibanding dengan apa yang kami dapatkan, yang kami rasakan “ jawab Ahmad. Angannya melayang pada kampung halamannya, pada keluarga yang sudah sangat dirindukannya.

Ada dua hal yang menyebabkan Anto tidak bisa merasakan serunya mudik sehingga yang terbayang olehnya hanya repotnya saja. Pertama, Anto adalah warga asli Tangerang dan dia berasal dari keluarga yang berada. Kalau mudik diartikan pulang ke rumah atau kampung halaman, setiap hari Anto mudik dari tempatnya bekerja. Dan kalaupun Anto berminat mudik ke tempat saudaranya, dia tak memiliki masalah dengan biaya. Dengan uang jajannya dia bisa membeli tiket bis atau kereta eksekutif. Atau bahkan dia bisa mengajak sekalian teman-temannya mudik dengan mobilnya. Yang kedua, Anto adalah non muslim sehingga dia tidak bisa merasakan indahnya silaturahmi saat Idul Fitri. Bagaimanapun mudik lebaran berbeda suasana dan rasanya dengan mudik-mudik di bulan biasa. Silaturahmi di hari lebaran jauh lebih berkesan dibandingkan hari-hari biasa. 

Mudik lebaran memang repot, tapi jarang orang yang merasa kapok. Mudik lebaran memang capek dan menguras tenaga, tapi badan cepat kembali segar setelah berkumpul dengan keluarga. Mudik lebaran memang banyak menghabiskan uang, tapi sungguh menyenangkan. Waktu, tenaga, uang menjadi kecil bila dibandingkan dengan keindahan merayakan hari lebaran, bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat. 

Bagaimana, apakah anda sudah memutuskan tahun ini akan merayakan lebaran di mana, dengan siapa? Sekedar mengingatkan, bagi anda yang berencana mudik, merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman, persiapkan segala sesuatunya dengan matang agar mudik dan liburan anda menjadi nyaman. Tetap berhati-hati dan waspada serta utamakan keselamatan. Dan yang tak kalah penting adalah gunakan mudik dan liburan ini untuk menyambung silaturahmi. Silaturahmi bukan ajang untuk pamer kekayaan, kesuksesan, jangan sampai melukai perasaan orang lain. Tapi silaturahmi adalah kesempatan untuk berbagi kebaikan, kebahagiaan , informasi dan lebih bagus lagi kalau bisa berbagi rejeki. Dan bagi yang tidak bisa mudik lebaran tahun ini, semoga tidak mengurangi kebahagiaan di hari kemenangan. Jangan terlalu dirasa sedih sebab masih banyak sahabat, kerabat, tetangga dan saudara seagama. Jangan merasa sendiri di dunia ini, karena teman kerjapun sesungguhnya adalah keluarga.

* Postingan ini akhirnya diikutkan juga dalam kontes mudik ke blogor dalam rangka ulang tahun Blogor yang ke dua.

23 Aug 2010

Puasa Itu Menahan, Bukan Menunda

Hari terus berganti, waktupun berlalu. Tak terasa puasa kita sudah memasuki putaran sepuluh hari yang kedua. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kepada kita nikmat umur, nikmat sehat, dan terutama nikmat iman, islam dan hidayah sehingga kita bisa meneruskan puasa hingga genap sebulan, insya Allah.

Sebagai bekal menjalani sepuluh hari kedua dan ketiga, penting kiranya kita menginterospeksi, mengukur diri, seberapa sukses puasa kita di sepuluh hari pertama. Apakah di mata Allah puasa kita bernilai ibadah, ataukah hanya sekedar mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Adalah sangat rugi bila perjuangan menahan lapar, haus dan tidak berhubungan badan sepanjang siang tidak bernilai ibadah. Banyak orang yang benar-benar hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena ketika berpuasa anggota tubuh mereka lainnya melakukan hal-hal yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan pahala sama sekali. Mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan juga hati mungkin tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, tapi melakukan hal dan perbuatan yang bisa membakar pahala puasa.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari).

Kita memang tidak bisa mengetahui secara pasti seberapa besar nilai ibadah puasa kita di mata Allah. Tapi kita bisa mengusahakan agar puasa kita mendekati sempurna, bukan sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan di siang hari. Kita bisa mengoreksi diri sendiri, seberapa banyak dan seberapa jauh kemampuan kita menahan nafsu, mengendalikan emosi sepanjang hari - siang dan malam - dari hari ke hari. Apakah puasa kita di siang hari telah membawa perubahan di malam hari? Ataukah keduanya masih berjalan berlawan arah, berpuasa di siang hari namun tetap bermaksiat di malam hari?

Prihatin rasanya, ketika satu waktu sepulang dari mushola mendapati sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan. Meski bukan di tempat sepi, tapi tetap saja yang mereka lakukan tidak dibenarkan agama. Sepertinya sholat taraweh di mushola hanya dijadikan alasan untuk melegalkan agenda keluar rumah. Rencana yang sebenarnya adalah janji bertemu dengan pujaan hati. Bila diingatkan, mereka berkilah. “Kita juga tahu kalau orang puasa tidak boleh pacaran, bisa mengurangi pahala puasa. Tapi ini kan malam, kita tidak sedang berpuasa kok!” begitu alasan mereka. Astaghfirulloh! Larangan berpacaran itu bukan saja ketika sedang berpuasa, di dalam bulan puasa. Tapi berlaku sepanjang masa, baik siang maupun malam, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Tak ada alasan yang bisa digunakan untuk membenarkan apa yang kalian lakukan.

Juga sedih rasanya ketika mendapati orang-orang yang asyik bergunjing selesai tarawih atau mengakses situs-situs porno di warnet dan hp. Mana, kemana efek puasa yang telah mereka jalani sepanjang hari tadi? Astaghfirulloh! Hampir tak terlihat sama sekali. Seakan-akan puasa dan segala hal yang dijaganya berakhir ketika datang waktu berbuka.

Puasa itu menahan, mengendalikan, bukan menunda. Sehingga ketika waktu berbuka telah tiba, semestinya kita tetap mampu menahan dan mengendalikan nafsu, bahkan hingga ketika bulan Ramadhan telah berlalu. Puasa bukanlah menggeser waktu, dari siang menjadi malam. Siang berpuasa, malam hari puas-puasin. Siang di tahan-tahan, ketika malam layaknya orang balas dendam.

Kata “puasa” dalam bahasa Arab, adalah “Ash-Shaumu” atau “Ash-Shiyaamu”. Sedangkan kata “Ash-Shiyaamu” menurut bahasa Arab adalah semakna dengan “Al-Imsaku” artinya : menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, menahan bicara, menahan tidur, atau dengan kata lain: mampu mengendalikan diri dari segala sesuatu (Al-Imsaaku wal-kaffu ‘anisy-syai) Sedangkan puasa (Ash-shiyaamu) menurut istilah (syari’at) agama Islam ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (membukakan) selama satu hari penuh, sejak dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. ( Dari berbagai sumber )

Mari kita jaga dan hormati bulan Ramadhan yang suci dan mulia ini. Kita manfaatkan bulan penuh barokah dan ampunan ini untuk mendidik diri kita menjadi pribadi yang taqwa. Puasa memang di siang hari, tapi Ramadhan bukan hanya siang, termasuk juga malam. Sayang sekali jika selama dua belas jam lebih kita menahan lapar, haus dan dorongan nafsu yang ketika di luar puasa halal kita lakukan, tapi ketika waktu berbuka datang, kita seolah lupa dengan segalanya. Kita seperti seorang pendendam yang bertemu setelah sekian lama menunggu. Meski makan, minum dan berhubungan suami istri halal di malam hari, tapi semestinya tetap dilakukan dengan terkendali.

Puasa yang sukses semestinya membawa perubahan sikap dan kepribadian seseorang. Ketika puasa dijalankan sebulan penuh, seharusnya cukup untuk mendidik kita dalam menghadapi sebelas bulan berikutnya. Sangat sayang jika puasa yang kita kerjakan tidak menghasilkan apa-apa. Puasa perut dan syahwatnya, tapi mata, telinga, tangan, kaki dan hatinya berlaku seperti biasa, mengikuti nafsu belaka. Jangankan sebelas bulan berikutnya, sehari-harinya saja tak lebih dari sekedar perubahan gaya hidup, pengalihan waktu dari siang ke malam saja. Astaghfirulloh! Sungguh, semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian. Amin.

16 Aug 2010

Semerah Agustusan, Seputih Ramadhan

Bulan Agustus, bagi bangsa Indonesia terasa istimewa dibanding sebelas bulan lainnya karena setiap bulan ini tepatnya pada tanggal tujuh belas, seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Bulan Ramadhan, bagi kaum muslim sedunia adalah bulan yang sangat istimewa karena kesucian dan kemuliaannya. Selain diwajibkan berpuasa, segala amal ibadah yang dikerjakan di bulan ini akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda dibanding ibadah yang dikerjakan di bulan-bulan lainnya. Juga Allah membukakan pintu maghfirah selebar-lebarnya bagi siapapun hambaNya yang bertaubat.

Bagi kaum muslim Indonesia di manapun berada, bulan Agustus tahun ini terasa lebih istimewa karena berbarengan dengan bulan suci Ramadhan. Dua anugerah besar dari Allah SWT yang harus disyukuri, bukan saja melalui ucapan, tapi juga tindakan dan perbuatan.

Keistimewaan bulan Agustus tahun ini juga dirasakan oleh Aziz dan teman-teman remaja mushalanya. Untuk pertama kalinya, Aziz dan teman-temannya dipercaya menjadi panitia peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan tempat tinggal mereka. Bukan sekedar membantu panitia yang biasanya terdiri dari bapak-bapak, tapi mereka benar-benar menjadi panitia intinya. Warga mempercayakan kepanitian ini kepada mereka karena gagasan mereka yang dianggap cemerlang, menggabungkan semangat Agustusan dengan kemuliaan Ramadhan.

Seperti peringatan hari kemerdekaan pada umumnya, warga di lingkungan tempat tinggal Aziz setiap tahunnya juga mengadakan berbagai lomba dan permainan untuk anak-anak, kaum ibu, dan juga bapak. Tahun ini hampir saja tidak ada acara tujuh belasan karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Tak mungkin mengadakan lomba makan kerupuk, gigit duit dalam jeruk, panjat pinang, dan lain-lainnya di saat warga sedang menjalankan ibadah puasa. Hingga akhirnya muncul gagasan dari Aziz dan remaja mushala Baiturrohim untuk tetap mengadakan acara tujuh belasan namun dalam konsep yang berbeda, tetap menarik namun tidak mengurangi kemuliaan bulan Ramadhan.

Aziz beserta panitia tujuh belasannya telah menyusun berbagai acara yang akan mereka adakan tepat pada tanggal tujuh belas ini. Tentu saja waktu dan acaranya tidak sama seperti acara tujuh belasan tahun-tahun sebelumnya. Pagi hari mereka akan mengajak warga untuk melakukan kerja bakti di mushala Baiturrohim. Target mereka adalah membersihkan mushola dan lingkungannya termasuk mencuci karpet-karpet yang panjang dan tebal. Acara kerja bakti ini akan dimulai setelah shalat Shubuh dan diharapkan sudah selesai sebelum matahari meninggi.

Sore harinya, bada’ shalat Ashar, rangkaian acara tujuh belasan kembali dilanjutkan. Berbagai perlombaan diadakan, di antaranya lomba membaca puisi, lomba hafalan surat-surat pendek, lomba hafalan do'a harian untuk anak-anak, lomba memasak hidungan buka puasa untuk remaja putri dan ibu-ibu, serta lomba ceramah kultum untuk remaja putra dan bapak-bapak. Sebagai puncak acara, Aziz dan teman-temannya akan mengajak warga buka puasa bersama secara gratis. Semua acara akan diadakan di tanah lapang milik salah satu warga. Pengumuman mengenai lomba tujuh belasan dan buka puasa bersama ini sudah ditempel di tempat-tempat strategis sejak awal bulan dan langsung mendapat sambutan positif dari warga. Beberapa warga langsung mendaftarkan diri dan keluarganya untuk mengikuti lomba yang diadakan karena tertarik dengan hadiah yang disediakan.

Seperti acara tujuh belasan tahun sebelumnya, acara peringatan tujuh belasan versi remaja mushala kali ini juga menyediakan hadiah yang menarik. Sarung, sajadah, mukena, baju koko, kerudung, aneka kue dan minuman khas lebaran telah mereka persiapkan. Satu yang tidak biasa adalah bahwa warga yang ikut dalam lomba tidak dipungut biaya satu rupiah pun. Semua hadiah disediakan oleh para dermawan yang bersedia mendanai acara mereka.

Inilah yang sebenarnya sudah lama ingin diperjuangkan Aziz dan remaja mushala. Mereka ingin mengadakan acara tujuh belasan yang bersih dari taruhan. Selama ini Azis dan teman-teman remaja mushalanya merasa prihatin dengan perlombaan yang diadakan untuk memeriahkan acara tujuh belasan. Hanya untuk alasan kemeriahan dan hiburan, tak jarang para warga melakukan taruhan. Sekilas memang tidak terlihat bahwa mereka sedang melakukan taruhan, mereka hanya mendaftar dan mengumpulkan sejumlah uang yang nantinya akan dijadikan hadiah. Selanjutnya mereka mengikuti permainan atau perlombaan yang sekedarnya saja. Di sinilah masyarakat sering tidak sadar bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah sebuah taruhan, hanya caranya saja yang berbeda. Sungguh, setan tak pernah kehabisan akal untuk menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa.

Bagaimana dengan perayaan Agustusan di lingkungan anda? Segala perlombaan, permainan, dan kemeriahan Agustusan barangkali patut untuk dilestarikan sebagai bentuk tradisi dan ekspresi kebahagiaan, namun harus disadari bahwa semua itu bukanlah sebuah kewajiban.

Jauh lebih utama adalah memperingati hari kemerdekaan sebagai sebuah anugerah besar yang telah Allah berikan. Juga jauh lebih penting bagaimana menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan untuk kemaslahatan bangsa, sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan harta, tenaga, jiwa, dan raga para pejuang kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah sebuah anugerah sekaligus amanah. Allah memberikan kemerdekaan kepada bangsa ini atas perjuangan yang panjang dan menyakitkan para pahlawan. Allah memberikan nikmat kemerdekaan hingga saat ini sebagai wujud nyata kemurahanNya. Semakin kita syukuri, maka Allah akan menambah kenikmatan lebih banyak lagi. Jangan ingkari nikmat merdeka, jangan khianati para pahlawan bangsa, jangan hancurkan bangsa ini dengan hawa nafsu pribadi dan golongan.

Bulan Agustus tahun ini berbarengan dengan bulan suci Ramadhan. Mari syukuri kemerdekaan dengan penuh keimanan. Mari kita teladani semangat para pahlawan, untuk kita berjuang menegakan agama Allah. Mari kita tiru semangat 45 para pejuang untuk semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Jangan hanya semangat untuk urusan dunia, untuk urusan akhirat pun seharusnya kita lebih semangat. Untuk meraih kemerdekaan, diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang keras. Untuk meraih kemerdekaan akhirat, diperlukan kesungguhan dan keikhlasan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Dirgahayu negeriku, semoga Allah memberkahi bangsaku. Syukuri kemerdekaan sebagai sebuah anugerah, jaga dan isi dengan penuh keimanan sebagai sebuah amanah. Insya Allah.

Gambar dipinjam dari sini

9 Aug 2010

Ujian Cinta

“Apakah Manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan benar-benar ALLAH mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui pula orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut Ayat 2-3).

Tak pernah kami bayangkan jika suatu saat keberadaan kami di rumah sakit bukanlah untuk membezuk keluarga, tetangga, sahabat, ataupun kerabat yang sedang dirawat, tapi sebaliknya, kamilah yang dibezuk mereka. Dan ini terjadi pada hari Selasa, 27 Juli 2010 lalu, dimana ‘semestinya’ kami sedang berbahagia karena empat hari lagi usia pernikahan kami genap sebelas tahun. Indah yang kami bayangkan rupanya tak menjadi kenyataan. Allah memberi kami sebuah ujian untuk membuktikan seberapa besar keimanan dan rasa cinta kami berdua.

Karena aku ‘mengaku’ beriman, maka Allah memberiku ujian.
Karena aku ‘mengaku’ cinta keluarga, maka Allah ‘meminta’ buktinya.

Berurusan dengan rumah sakit adalah satu hal yang sangat ditakuti istriku. Itu sebabnya meski hampir setahun menderita hipertensi, istriku selalu menolak bila kuajak memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam guna memastikan penyebab tekanan darahnya selalu tinggi. Satu-satunya klinik yang ‘berani’ dia datangi hanyalah sebuah klinik kecil yang ditunjuk pihak perusahaan tempatku bekerja. Itupun harus menunggu jadwal dokter yang sama, tidak mau dokter yang lainnya. Jika hari itu bukan jadwal sang dokter, maka dia rela menahan sakitnya hingga tiba hari sang dokter langganannya yang berjaga. Meski dokter Sion – dokter yang jadi langganannya – berkali-kali menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam, tetap saja istriku tidak mau bila kuajak ke sana. Takut nanti jadi tahu kalau penyakitnya parah, itu yang selalu jadi alasannya. Sebuah anggapan yang salah namun lumrah terjadi pada masyarakat kita, bahkan terkadang aku pun begitu.

Tapi hasil pemeriksaan dokter Rai Kosa Sp. PD sore itu adalah sebuah harga yang tak bisa ditawar lagi. Kadar hemoglobin istriku rendah. Istriku harus segera menjalani transfusi darah, dan itu berarti mau tidak mau istriku harus rawat inap di RSIA Dinda ini. Tak tega rasanya melihat air matanya menetes saat sang dokter menyampaikan kabar ini. Aku bisa memahami makna tetesan air matanya. Tapi demi kebaikannya, aku bujuk dia untuk menerima saran dokter dengan ikhlas dan sabar. Meski tidak mudah, akhirnya istriku pasrah untuk dirawat dan menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan.

Dari hasil tes darah, diketahui bahwa kadar HB istriku hanya 4, jauh dibawah angka yang direkomendasikan, yaitu 9 – 12. Dari hasil foto rontgen diketahui bahwa jantung istriku mengalami pembengkakan, ini akibat jantung bekerja melebihi kapasitas dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dari hasil USG Abdomen diketahui bahwa kedua ginjal istriku kecil (mengecil). Dan dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui kadar ureum istriku sangat tinggi, 206 (angka rekomendasi 10 – 50) dan kadar kreatininnya juga sangat tinggi 8.77 (angka yang direkomendasikan 0.7 – 1.3). Semua ini disampaikan dokter Rai saat aku diminta menghadapnya secara khusus, tanpa sepengetahuan istriku.

Innalilahi wa inna ilaihi raaji'uun. Meski sang dokter sudah sangat hati-hati memilih kata-kata, namun di telingaku semuanya terdengar bagai petir di saat matahari tengah terik-teriknya. Meski sebelumnya sudah kupersiapkan hati untuk menerima apapun penjelasan dokter, kenyataannya aku tetap shock mendengarnya. Berkali-kali kuucapkan istighfar dalam hati. La haula wala quwwata ila billah.

Meski dada terasa sangat sesak, kupaksa untuk tampil wajar dan tegar di hadapan istriku. Sesuai pesan sang dokter, aku pun ‘terpaksa’ berbohong kepada istriku. Aku katakan bahwa tidak ada masalah dengan ginjalnya. Seperti kata dokter yang melakukan USG Abdomen bahwa Allah memberikan dua ginjal kepadanya dalam ukuran yang ‘kecil’, berbeda dengan orang pada umumnya. Alhamdulillah, istriku bisa menerima ini dengan ikhlas, meski jujur hatiku hancur mengingat penjelasan dokter yang sebenarnya.

Untuk beberapa waktu, ketabahanku selalu naik turun. Di depan istriku aku merasa tegar, tapi bila kuingat penjelasan dokter, semangatku menguap. Astaghfirullah, ampuni hamba. Ya Allah, kuatkan hamba. Meski tidak mudah, perlahan aku bisa menerima kenyataan ini sebagai sebuah ujian bagi kami. Ketegaran istriku benar-benar memberikan semangat padaku. Juga kehadiran anggota keluarga, tetangga, sahabat, dan kerabat yang selalu datang memenuhi ruang perawatan kelas 3 yang sempit. Mereka datang bergantian memberikan dukungan, do'a, dan juga bantuan. Seminggu istriku dirawat, tak pernah sehari pun kosong dari jengukan saudara, tetangga, sahabat, dan kerabat, baik jauh maupun dekat. Alhamdulillah, aku merasakan pertolongan Allah begitu dekat, begitu nyata. Kami tak merasa menghadapi ujian ini sendiri. Begitu banyak pihak yang peduli dengan yang kami alami.

Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali bersama dengan penyembuhnya. Siapa yang bersabar pasti akan mendapatkan jalan keluar. Kami berusaha memupuk keyakinan ini. Apapun yang terjadi pada diri kami, adalah atas izin dan kehendak Allah. Ikhlas, sabar, ikhtiar, dan tawakal, itulah yang harus kami lakukan. Alhamdulillah, meski berat, ujian ini satu per satu bisa kami lewati.

Seminggu lamanya istriku harus menjalani rawat inap di RSIA Dinda. Empat kantong darah berukuran 240 ml telah ditransfusikan ke tubuhnya. Alhamdulillah, pemeriksaan darah Senin siang menunjukan kadar HB istriku sudah naik menjadi 9.5. Dokter Rai pun mengijinkan istriku pulang, dengan catatan lima hari berikutnya kami harus melakukan kontrol. Senyum bahagia terus menghiasi wajah istriku sepanjang sore itu. Perasaan sesak yang selama ini menghimpit dada sedikit berkurang namun belum sepenuhnya hilang karena menambah kadar HB itu baru langkah pertama yang dilakukan dokter Rai, belum menyentuh penanganan intinya, yaitu gangguan ginjal istriku. Pemeriksaan terakhir menunjukan kadar ureumnya naik dari 206 menjadi 218 dan kadar kreatininnya turun dari 8.77 menjadi 8.71. Sebuah data yang sama sekali tidak bisa membuatku lega. Astaghfirullah, aku hanya bisa pasrah. Semua ini atas izin dan kehendak Allah, dan Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kami.

Tidak menyalahkan dokter jika akhirnya aku merasa sangat terpukul dengan hasil analisa mereka. Memberitahukan keadaan pasien yang sebenarnya adalah kewajiban mereka, demi kebaikan pasien sendiri tentunya. Untuk meyakinkan hatiku, aku mencari informasi tentang ginjal melalui internet, namun hasilnya tak jauh berbeda dengan yang dokter katakan. Aku kecewa, lagi-lagi medis mengatakan hal yang sama. Kondisi ginjal istriku sudah parah.

Bukan mengecilkan peranan medis atau informasi tentang kesehatan, tapi setiap membaca, mendengar, dan mengingat hasil pemeriksaan medis, ketabahanku selalu goyah. Akhirnya aku putuskan untuk sementara ‘tidak peduli’ dengan apa kata medis. Medis boleh bilang kondisi istriku sudah sangat parah, tapi aku bisa melihat sendiri bahkan juga saudara dan tetangga mengakui bahwa kondisi istriku jauh lebih baik. Aku bisa melihat kalau istriku kuat, tegar. Aku merasakan kekuasaan Allah ada dalam diri istriku yang tak terjangkau oleh medis. Bagaimana pun, upaya medis adalah sebuah ikhtiar, hakikatnya Allah-lah yang menentukan apakah istriku akan sembuh atau tidak. Obat-obatan, injeksi, atau tindakan medis lainnya adalah juga sebuah upaya yang dilakukan oleh makhluk, tapi Allahlah yang Mahakuasa menentukan hidup dan mati hambaNya. Aku tidak meragukan pemeriksaan medis, tapi aku ‘harus’ lebih yakin dengan kekuasaan Allah. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Kun fayakun, jika Allah berkehendak, maka tak ada yang tak mungkin, termasuk kesembuhan istriku meski tanpa melalui tahapan-tahapan seperti yang medis katakan.

Ikhlas, sabar, ikhtiar, dan berdo’a serta tawakal, itu kuncinya. Kami telah berusaha ikhlas dan sabar menjalani ujian ini. Kami juga telah melakukan ikhtiar untuk mencari kesembuhan. Tiada henti kami berdo'a untuk kesembuhan orang yang sangat kami sayangi, maka tawakallah yang akhirnya bisa kami lakukan. Kami yakin, Allah tak akan menyia-nyiakan keikhlasan, kesabaran, do'a, dan usaha yang kami lakukan. Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali dengan penyembuhnya. Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Bismillaahirrahmaanirrahiim, lilahi ta’ala.

***

Rasa syukur dan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh keluarga, tetangga, sahabat, dan kerabat juga sahabat-sahabat nara blog yang telah memberikan saran, dukungan, do'a, dan juga bantuan. Semoga Allah berkenan mencatatnya sebagai sebuah amal kebajikan dan memberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda, amin. Mohon terus do’akan agar Allah berkenan memberikan kesembuhan dan kami tetap tegar, sabar, ikhlas, dan tabah.

Atas nama pribadi dan keluarga, kami juga memohon maaf yang sedalam-dalamnya apabila selama ini ada tulisan-tulisan yang keliru, kurang tepat, atau membuat pihak-pihak tertentu merasa dirugikan atau minimal merasa tidak nyaman. Sungguh, tiada maksud untuk melakukan semua itu. Namun sebagai manusia, tentunya kami tak luput dari salah dan khilaf. Sekali lagi mohon maaf atas kekurangan dan kelemahan diri. Dengan saling membebaskan diri dari kesalahan, semoga kita bisa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan lebih berkualitas, lebih khusyuk, dan pada akhirnya kita akan menjadi hamba yang muttaqin, amin.

Allahuma bariklana firajaba wa syabana wabalighna ramadhana, Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta berikanlah kami kesempatan untuk sampai pada bulan Suci Ramadhan. Amin.

Selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1431 H, semoga kita bisa memanfaatkan bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya dan semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT, amin.

Gambar dipinjam dari sini

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri