2 Dec 2010

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms masuk ke hp ku, dari salah satu teman sekolahku. Kalian yang ia maksudkan adalah aku dan putriku. Sedang hal yang membanggakannya adalah bahwa kami - aku dan putriku - bisa mengikuti prosesi pemandian hingga pemakaman jenazah tanpa tetesan air mata.

Beberapa orang kerabat sempat melarangku untuk ikut memikul jenazah ke pemakaman. Mereka khawatir aku tak mampu menguasai diri. Tapi aku bersikeras. Kuyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya meminta pada salah satu kakak ipar untuk mengawalku, berjaga-jaga apabila ternyata keyakinanku keliru.

Juga ketika sampai di pemakaman, beberapa kerabat kembali melarangku turun ke liang lahat. Kekhawatiran yang sama, bahwa aku tak akan mampu menahan diri saat jenazah diturunkan. Kembali kuyakinkan pada mereka, bahwa aku baik-baik saja dan dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Aku jamin tidak akan ada air mata apalagi pingsan segala.

Aku sepakat dengan dua kakak iparku yang ikut turun ke liang lahat. Aku mengambil posisi di sebelah utara. Aku ingin membuka sendiri kain kafan yang menutupi wajah almarhumah. Kuakui, bergetar juga hatiku saat itu. Ini adalah pengalaman pertamaku turun ke liang lahat, dan itu terjadi pada pemakaman istriku sendiri. Bismillahirrohmanirrohim, aku kuatkan hati untuk tidak menuruti perasaanku. Kupusatkan perhatian pada arahan yang diberikan ustadz yang memimpin acara pemakaman.

Perlahan kubuka tali pengikat kain kafan jenazah istriku. Ada rasa yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata saat mulai membuka kain yang menutupi bagian wajahnya. Subhanallah! Allahu akbar! Seraut wajah yang sangat tenang dan damai terlihat di sana. Bahkan, senyum di wajahnya adalah senyum yang pertama kali membuat aku jatuh cinta padanya.

Aku berikan kesempatan pada putriku yang berdiri di pinggir liang lahat untuk melihat wajah sang ibu terakhir kalinya. Ada mendung menggantung di kedua matanya, namun kupastikan tak ada air mata yang menetes darinya. Meski kenyataan ini begitu berat ia terima, namun ia bisa membuktikan bahwa ia bisa tegar dan tabah.

Kuhadapkan wajah istriku ke arah kiblat, kupastikan wajahnya menyentuh dinding kubur yang basah. Kuganjal bagian belakang jenazahnya dengan bantal bulat yang terbuat dari tanah. Setelah jenazah berada pada posisi yang baik dan benar, barulah kutinggalkan jenazah istriku. “ Selamat tinggal sayang, beristirahatlah dengan tenang. Semoga keikhlasanku, keridhoanku akan memudahkan langkahmu menghadap Sang Pemilik Cinta Sejati. Insya Allah, di dalam syurga kelak kita kan bersama lagi. Amin “

Hanya sampai di sinilah kewajiban fisik yang bisa kupenuhi pada orang yang sangat kami cintai dan sayangi. Proses selanjutnya kuserahkan pada mereka yang sudah biasa memakamkan. Satu persatu bambu dipasang di atas jenazah, memberikan ruang agar jenazah tak tertimbun tanah secara langsung. Dalam hitungan menit, jenazah istriku tak terlihat lagi. Itulah saat terakhir aku melihat jenazah istriku di dunia ini. Perlahan tanahpun dimasukan, menimbun bambu-bambu yang terpasang rapi. Terdiam, aku dan putriku menyaksikan cangkulan demi cangkulan tanah basah ini tanpa kata, dan juga tanpa air mata.

Usai pemakaman, sebagian besar pelayat langsung pulang ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa yang sengaja menunggu kami kembali untuk kemudian berpamitan. Berbagai dukungan dan nasihat datang dari keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat yang menyempatkan diri, meninggalkan segala aktifitas rutin mereka untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhumah. Mereka yang tak sempat berpamitan langsung padaku, menitip salam pada bapak dan ibu. Ada juga yang berpamitan melalui telepon atau sms. Salah satunya adalah teman sekelasku. Ketika ku telpon, terbata ia memohon maaf. Sengaja ia tak menemuiku lagi karena ia takut mengusik ketabahanku. Ia bangga sekaligus terharu melihat kesabaran, ketegaran dan ketabahanku, juga putriku. Jelas kudengar suara isak di seberang sana, sebelum ia berjanji akan datang beberapa hari lagi. Ia butuh waktu untuk menata hati kembali.

Berbagai dukungan, ungkapan haru sekaligus bangga, senada dengan sms temanku terus berdatangan sampai beberapa hari setelah pemakaman. Rata-rata, baik keluarga, tetangga ataupun kerabat ‘mengakui’ ketabahan dan ketegaran kami. Bahkan ada diantaranya yang berterus terang mengatakan ingin mencontoh ketabahan dan ketegaran kami kelak bila ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Namun ada juga beberapa orang yang agak ‘mempertanyakan’ ketabahan kami. Paling tidak ada yang mengatakan demikian, “ Waktu istrinya meninggal, si Fulan boro-boro memikul jenazah dan turun ke liang lahat, justru berkali-kali ia histeris dan jatuh pingsan. Mungkin karena saking cintanya, sehingga Fulan tidak bisa menerima kepergian sang istri yang tiba-tiba “

Aku mencoba bersikap wajar dan berpikir positif terhadap apapun yang orang katakan. Aku tidak merasa istimewa ketika beberapa orang mengaku bangga dan ingin mencontoh ketabahan kami. Memang sudah demikian mestinya keikhlasan dan keridhoan diwujudkan. Juga aku tidak ingin berburuk sangka apabila ada yang memandang tingkat kecintaan pada hysteria saat kehilangan. Mereka tentu tidak bermaksud meragukan kesungguhan cinta serta besarnya rasa kehilangan, hanya saja mereka melihat sesuatu yang tak biasa.

Menangis memang salah satu refleksi dari rasa kehilangan sekaligus kecintaan. Jangankan kita, seorang rosululloh pun menangis sedih saat putranya – Ibrahim – meninggal dunia. Setabah apapun yang orang lihat saat acara pemakaman, sebelumnya kami juga tak kuasa menahan tangisan. Saat istri dalam keadaan kritis, dzikir dan doa kami berbaur dengan deraian air mata. Begitupun ketika sang dokter mengatakan bahwa nyawa istri tak tertolong lagi, tangispun pecah. Juga ketika rombongan kami tiba di rumah, tangis kami luruh terbawa suasana. Bahkan saat membaca ayat-ayat suci Al Quran di samping jenazah, beberapa kali aku tak dapat meneruskan karena panglihatan yang kabur akibat air mata yang menggenang.

Bila orang mengartikan tangisan sebagai ekspresi rasa cinta, mereka tidaklah salah. Demikianlah adanya, meski juga tidak selamanya. Dalam pandangan kami, terkadang sebaliknya. Cinta tak harus menangis. Almarhumah tidak membutuhkan tangisan kami, ratapan kami. Yang almarhumah harapkan adalah keikhlasan, keridhoan serta doa-doa dari kami.

Ada banyak hal yang bisa kami lakukan untuk menunjukan rasa cinta kepada almarhumah. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, keridhoan. Mendoakan almarhuhan di setiap kesempatan. Menyelesaikan kewajiban serta menjaga dan menjalankan amanah yang almarhumah tinggalkan. Kami tak ingin cinta – tangisan dan ratapan - kami justru membebani langkah-langkah almarhumah. Kami tidak ingin termasuk orang yang menangis histeris, meratap di hari pertama, tapi sudah sama sekali lupa di hari kedua. Apalagi hari-hari berikutnya, terlupa mendoakan karena sibuk berebut warisan. Na’uzubillah!

Gambar dipinjam dari sini

30 comments

02 December, 2010

saya bacanya aja sudah berlinang. ghehehe. ah, sedih memang kalo ditinggal orang disayangi.

02 December, 2010

salam saabat...

saya jadi sedih setelah membaca artikel ini ,jadi ingat saat ibu saya meninggal , jadi bagi yang masih punya ibu berbaktilah kepadanya buat dia menjadi bangga.....sebelum pamit salam kenal

02 December, 2010

Setiap orang yang bersabar dan berhasil melalui sebuah ujian dengan kesabaran dan ketabahan maka balasannya tidak lain adalah surga, terimakasih abi atas semangatnya

02 December, 2010

Abi ...
Maaf abi ...
Justru mata saya yang berkaca-kaca sepanjang postingan ...
Subhanallah ...
Kecintaan Abi Pada NYA
Kecintaan Abi pada almarhumah ...
luar biasa ...

ini menimbulkan rasa ikhlas dan ridho di hati Abi dan Sabila ... untuk melepas kepergian Umi kembali pada NYA ...

Salam Saya Abi ...

02 December, 2010

Salam kenal Bi.. baru saja mampir balik sudah baca cerita haru.
Semoga Almarhumah Istri Abi diberikan tempat terbaik disisiNya..
Salut buat Abi dan Sabila yang tetap tabah :)

03 December, 2010

waduh atmosfer sedihnya berasa banget...

04 December, 2010

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ Sms ini sngt bermakna,!!

Semoga kakak tetap mempertahnkan rasa itu.!

05 December, 2010

Innalillahi wa innalillahi rajiun.. segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.. termasuk Istri, Anak, dan Kerabat.. Abi telah mengajarkan itu semua dengan tulisan ini.. termasuk sikap ikhlas dan tabah..

05 December, 2010

Innalillahi wa innalillahi rajiun..


Semoga Mas diberi ketabahan dan Ummi mendapatkan tempat yang mulia di sisiNya...aamiin

07 December, 2010

subhanallah...saya terharu atas ketabahan dan ketegaran abi sabila...semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. salam untuk putri manis Sabila,
saya juga sudah beberapa kali kehilangan orang-orang terdekat yang tercinta, Ibu dan Papahku...semoga mereka, Ibu, Papah dan Umi Sabila selalu dalam kasih sayang Allah. Amin,

07 December, 2010

Abii...
masya Allah...inspiratif banget...

trima kasih yah Abi....^^

10 December, 2010

Saya membacanya sambil berlinang air mata. Almarhumah pasti di berikan tempat yg Terbaik di sisi Allah SWT, apabila suaminya ikhlas dg kepergiannya.
Salam buat Sabila, abi...
Salam kenal juga dari kami sekeluarga

10 December, 2010

sumpahhhhhhhhh
aq salut banget sama keluarga kaliannnn
aq gak sanggup ngebayangin,,
kalau suatu hari nanti aq harus kehilangan yang aku sayang,,
pasti rasanya menyedihkan..
terlebih buat sabila...
di usia nya yang masih kecil..harus kehilangan bundanya,,,
Malaikat kecil yang kehilangan pelindungnya...
titip salam ya mas buat sabila.....
semoga keluarga mas selalu di berikan kesabaran..
dan semoga selalu mendapatkan yang terbaik...

11 December, 2010

Subhanallah... ini luar biasa Abi...
Jujur, saya tak kuasa membendung aliran hangat di sudut mata ketika membaca ini.
Terima kasih yang tak terhingga atas inspirasinya..
Salut saya yang tak terhingga atas ketabahan dan keikhlasan Abi

11 December, 2010

sabar abi...
duka itu pendek luntur oleh hangatnya air mata. tp cinta sungguh tak layak ditakar dr banyaknya tetesan yg tertumpah. salam kenal buat abi & sabilah. jadilah penjaga amanah yg terbaik bg sabila selamanya....abi

Anonymous
15 December, 2010

Semmoga rahmad n ridho Allah SWT selalu menyertai keluarga bapak abi sekalian.
Semoga amal ibadah ibu abi d terima Allah SWT dan syurga yg telah d janjikan menjadi tempat istirahat abadi baginya.Amin

28 December, 2010

Subhanallah. Saya baru baca postingan ini. Saya rasa tak kuasa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Melihat orang meninggal saja saya sering menangis. Saya membayangkan ketika saya yang meninggal, saya akan sendiri, mungkin merasa sepi, takut, dan saya pasti akan mengalami itu.

28 July, 2011

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...

maaf abi, bukannya saya bermaksud membuka apa yg telah terjadi, tapi maaf sekali, saya tadi lagi asik baca2 semua tulisan2 abi dan menemukan tulisan ini. Begitu saya baca, sungguh mata saya berkaca-kaca. Karena apa yang Abi rasakan mungkin juga sama seperti apa yg saya rasakan saat Allah memanggil almarhumah adik saya, seperti yg saya sudah ceritakan waktu lalu.

Saya pun alhamdulilaah dari dirawatnya dia, sampai meninggal, mengurus jenazahnya, sampai pemakaman, alhamdulillah bisa melakukannya. Perasaan sedih sudah pasti ada, dan air mata pun juga perlahan membasahi pipi. Tapi dengan skuat hati saya yakinkan diri bahwa ini adalah kehendakNya. Tangisan boleh saja, asal jangan berlebihan, namun hati tetap yakin kepadaNya. Karena betul apa yang dikatakan Abi, yg dibutuhkan almarhumah adalah bukan ratapan dan tangisan, namun keihlasan kita untuk melepasnya.

Maaf bi, ko jadi panjang gini yah. Sudahlah, kita doakan saja almarhumah mendapat tempat yg terbaik di sisi Allah SWT. Teriring doa untuk Almarhumah istri Abi...

30 July, 2011

Saya membacanya sambil berlinang air mata. Almarhumah pasti di berikan tempat yg Terbaik di sisi Allah SWT, apabila suaminya ikhlas dg kepergiannya.
Salam buat Sabila, abi...
Salam kenal juga dari kami sekeluarga

30 July, 2011

waduh atmosfer sedihnya berasa banget...

keluarga zulfadhli
18 October, 2011

Dear.

Innalillahi wa innailaihi rojiun...... memang yang harusnya nkita lakukan adalah keiklhasan dan ridho atas apa yang terjadi... karena hal tersebut adalah sunatullah dan natural.... semoga almarhumah menempati posisi terbaik di surga-Nya..... amienenn...


regards.
... Ayah Double Zee ...

18 October, 2011

Amin, Ya Allah Ya Robbal 'Alamin.
Salam hangat untuk keluarga tercinta.

Mugniar
19 October, 2011

Subhanallah ... baru membaca paragraf pertama air mata saya sudah keluar. Semoga keikhlasan abi Sabila sekeluarga berbuah manis untuk anda semua di alam sana. Barakallah.

20 October, 2011

alhamdulillah trimakasih afwan sangat menggugah hati dan perasaan

21 October, 2011

Amin, insha Allah.
Terima kasih, Mbak.

21 October, 2011

Sama-sama, semoga bisa diambil hikmah dan manfaat dari kejadian ini.

annie
26 October, 2011

saya sudah baca beberapa artikel dari ms'abi, tapi kok yg ini bisa terlewatkan, setelah membaca nya hati saya ikt bergetar, trimakasih sudah berbagi pengalaman, dan mudah2n amal dn ibadah almarhumah diterima di sisi Allah swt....amin.

27 October, 2011

Amin, ya Rabb. Terima kasih atas doanya.

Semoga bisa diambil hikmah dan pelajaran dari apa yang kami alami ini.

22 August, 2012

Dr postingan "lebaran kesekian', akhirnya saya sampai di sini. Sebab CInta tak harus menangis, Saya sependapat tapi mungkin belum bisa sperti Mas Abi dan Sabila. Pengalaman pertama saya mengantar jenazah sampai ke pemakaman adalah saat seorang adk sepupu meninggal karena kecelakaan di TAngerang. Dan saat itu, meski sdh saya tahan tetap sj masih ada air mata yg menetes.

Turut mendokan smeoga Almarhumah mendpatkan tempat terbaik di sisiNYA. Sungguh luar biasa bagaimana MAs Abi mencintainya karena ALLAH Ta'ala...semoga keikhlasan dan keridhoan Mas ABi dan Sabila dalam melepaskan kepergian almarhumah, kelak akan akan berlanjt dengan kebersamaan di Syurga NYA. Amiin

Sama-sama, semoga bisa diambil hikmah dan manfaat dari kejadian ini.

Post a Comment

 
© Copyright 2035 Bacalah, lalu Tulislah!
Theme by Yusuf Fikri