26 Jan 2010

Dekat Tapi Tak Terlihat

Sore kemarin aku terpaksa pulang terlambat sampai hampir setengah jam, karena helm yang biasa kuletakkan di stang motor tak lagi berada ditempatnya. Sependapat dengan satpam, akupun tidak berpikiran bahwa helm bututku itu dicuri orang. Paling-paling ada yang sedang meminjamnya namun tak memberitahu satpam atau si peminjam lupa mengembalikan pada tempatnya semula. Atas saran satpam, akhirnya aku mengelilingi area parkir yang cukup luas itu untuk mencari helmku yang barangkali benar telah berpindah tempat.

Hampir lima belas menit aku mencari, namun tak kutemukan helm yang kuanggap itu adalah helmku. Tak kurang dari sepuluh helm yang serupa dengan helmku, dan aku sama sekali tidak bisa memastikan yang mana helmku. Aku hanya tahu helm ku berwarna hitam, namun aku tak tahu ciri khusus helm yang setiap hari kupakai untuk berangkat kerja bahkan kemanapun aku pergi karena helm itu adalah satu-satunya yang kumiliki. Dan sore itu terpaksa aku pulang melalui jalan alternatif yang arahnya memutar sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menghindari polisi.

Sebenarnya bisa saja aku pulang melalui jalur yang biasa kulewati, toh tak jauh dari tempatku bekerja ada beberapa penjual helm pinggir jalan. Aku bisa berhenti sebentar dan membeli helm di sana. Namun itu menjadi tidak mungkin karena aku tahu persis jumlah uang dalam dompetku tidak cukup untuk membeli sebuah helm meski untuk harga yang paling murah sekalipun. Ah, tiba-tiba helm menjadi begitu penting dan sangat mahal bagiku.

***
Seringkali, kita memandang remeh terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat kita perlukan hanya karena sebuah kebiasaan ataupun rutinitas. Kehilangan helm yang kualami adalah contoh nyatanya. Aku tak mengenali dengan baik sesuatu yang telah memberikan manfaat besar kepadaku. Setiap hari, kemanapun aku pergi, dia selalu memberiku rasa aman dan nyaman. Namun kenyataannya, aku tak tahu lebih banyak tentang helmku.

Hal lain yang juga sering terjadi adalah, kita kerap memandang sebelah mata pada orang-orang yang sebenarnya memberikan peran penting dalam keseharian kerja. Pembantu rumah tangga, office boy adalah mereka yang acapkali tak terlihat jasa besarnya dalam menyelesaikan berbagai macam tugas rumah dan kantor kita. Saat pembantu sedang sakit atau pulang kampung, kita baru sadar bahwa tak mungkin kita melakukan semua pekerjaan rumah sendiri dengan hasil dan waktu yang sama jika dikerjakan oleh pembantu kita. Begitupun saat office boy tidak masuk kerja, seakan semua pekerjaan menjadi tertunda karena kita harus mengerjakan semuanya sendiri, termasuk fotocopy dan mendistribusikan laporan ke departemen lain. Kita baru merasa sangat membutuhkan mereka pada saat mereka tak ada.

Tak hanya benda atau orang, kita juga sering tak bisa ‘melihat’ sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Kesehatan misalnya. Dengan nikmat sehat, segala aktifitas pekerjaan bisa kita lakukan dengan lancar. Namun sayangnya kita terkadang baru menyadari dan mensyukuri betapa besarnya nikmat sehat itu manakala kita tak bisa melakukan berbagai aktifitas harian kita karena sakit.

Dekat tapi tak terlihat. Itulah yang sering terjadi pada diri kita. Kita menganggap sesuatu, seseorang atau sebuah nikmat menjadi kecil, biasa, tidak bernilai hanya karena sesuatu, seseorang ataupun nikmat itu setiap hari, setiap saat ada di sekitar kita, bersama-sama kita. Bahkan terkadang kita merasa bahwa keberadaan mereka itu bukan sebuah anugerah melainkan sesuatu yang memang semestinya ada. Kebiasaan kita menganggap kecil dan biasa terhadap mereka, paling parah adalah akhirnya membuat kita lupa bersyukur kepada yang telah menganugerahkan mereka kepada kita, yaitu Allah SWT.

Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan adanya suatu barang atau fasilitas, kehidupan kita menjadi lebih aman dan nyaman. Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan kehadiran orang lain, pekerjaan dan urusan kita menjadi lancar dan ringan dikerjakan. Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan nikmat sehat, hidup kita menjadi bergairah. Kita terkadang lupa bersyukur kepada Allah dengan segala nikmatNya yang tak terhitung, hanya karena nikmat itu selalu ada, dekat dengan kita.

Jangan biarkan rasa penyesalan datang. Mari kita syukuri segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, salah satunya dengan memberikan perhatian yang berbeda dari biasanya ( peduli ) terhadap apapun di sekililing kita. Karena dengan peduli terhadap mereka, maka rasa syukur akan muncul. Betapa besar nikmat yang Allah berikan, tak ada satupun yang kebetulan ataupun sia-sia.

22 Jan 2010

Berlebihan dan Keterlaluan

Hujan yang turun sejak setengah jam yang lalu, AC yang disetel pada suhu 18 derajat, seharusnya memberikan kesejukan di hati dua rekan kerjaku ini. Apa yang terasa dalam kantor berukuran 8 x 3 meter ini justru sebaliknya, panas dan sama sekali tidak nyaman. Semua berawal dari perbincangan dua orang rekan kerjaku seputar tokoh yang sedang mengemuka. Tokoh yang sebagian orang mengatakan kontroversial, meski menurutku tak sampai seperti itu.

Mulanya mereka hanya saling memberikan pandangan terhadap sang tokoh. Namun karena keduanya berada di pihak yang berseberangan, maka akhirnya mereka terlibat perdebatan yang panjang dan sama sekali tak menyenangkan. Masing-masing mempertahankan pendapatnya, dan saling menyerang pendapat lawannya. Beberapa kali kucoba meredakan perdebatan yang mulai memanas, namun kesempatan itu tak pernah kudapat sepenuhnya karena mereka sama-sama ngotot.

Perdebatan yang cukup sengit itu akhirnya berhenti ketika salah satu dari mereka meminta pendapatku mengenai sang tokoh yang mereka perdebatkan.

Jujur, aku tidak ingin cepat menvonis seseorang sebelum aku tahu dengan pemahamanku. Aku melihat ada sisi positif dan negatif yang tidak bisa dikesampingkan atau dihilangkan begitu saja salah satunya “ jawabku singkat.

Alhamdulillah, akhirnya merekapun terdiam, Entahlah, apakah mereka membenarkan apa yang baru saja kukatakan ataukah mereka kecewa karena ternyata aku tak memihak ke salah satunya. Aku hanya berharap, mereka sadar bahwa tak sepantasnya dan tak seharusnya memperdebatkan sesuatu yang sifatnya relatif. Dan sang tokoh yang mereka perselisihkan adalah manusia biasa yang sudah pasti memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Berlebihan dan keterlaluan, begitulah mereka menurutku, dan hal ini sering terjadi pada kita. Saat merasa suka dengan sesuatu atau seseorang, kita mengaguminya, memujinya secara berlebihan. Apapun yang ada dan dilakukan olehnya, semuanya terlihat sempurna, tak ada cela. Pun ketika kita tidak menyukai sesuatu atau sesorang, kita membencinya, menghujatnya dengan keterlaluan. Apapun yang ada dan dilakukan olehnya, semuanya terlihat salah dan tercela. Sikap fanatik seperti ini masih sering kita jumpai, dimana sesorang merasa bahwa dirinya, orang yang dikaguminya atau juga kelompoknya adalah yang paling benar diantara yang lain. Merasa benar itu tidak salah, tapi merasa paling benar itu yang menjadi masalah.

Islam tidak menyukai apapun yang sifatnya berlebihan. Islam lebih mengajarkan umatnya untuk berbuat yang jujur, adil, proporsional dan objektif. Ketika kita tidak menyukai sesuatu hal, seharusnya hanya sekedarnya saja. Begitupun bila kita menyukainya, hendaknya sewajarnya saja. Bisa jadi dan sering terjadi, kita menyukai apa yang sebenarnya buruk dimata Allah, begitupun sebaliknya.

Orang yang luas ilmu dan wawasannya, tidak mungkin mengatakan dirinya, pendapatnya dan juga pandangannyalah yang paling benar sehingga meremehkan orang lain dan juga pendapatnya. Orang yang bijaksana akan menerima perbedaan pandangan orang lain, menghargainya dan menilainya sebagai sebuah wawasan baru karena perbedaan pendapat adalah sebuah hal yang nyaris terjadi dalam beberapa hal.

18 Jan 2010

Ketika Anak Belum Mau Berjilbab

( Sebuah jawaban atas pertanyaan pembaca tulisan Berjilbab Jangan Setengah-Setengah, "mengapa anakmu belum berjilbab?". Terima kasih masukannya, sungguh ini sebuah pengingat yang harus kami perhatikan. Sekali lagi terima kasih akhi, mohon doanya )

Tidak mau! Aku belum mau pakai jilbab sekarang!”

Begitulah jawaban putri tunggal kami, setiap kali kami memintanya untuk memakai jilbab. Bukan baru kali ini saja, sudah berkali-kali kami mengarahkannya, sejak beberapa tahun yang lalu saat dia memasuki usia sekolah. Dan pembicaraan serupa kembali terjadi malam itu, usai makan malam. Semua bermula ketika dia menceritakan pada uminya tentang apa yang dilihatnya saat di pasar kaget sore tadi. Dia masih merasa bingung dengan penampilan seorang ibu yang memakai kerudung namun pakaian yang dikenakannya sama sekali tidak nyambung, bahkan terlihat aneh. Pakai kerudung tapi celana dan baju yang dipakai semuanya menggantung alias pendek.

Mendengar pembicaraan mereka, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kembali kucoba mengingatkan dia agar segera mengenakan jilbab, mengikuti umminya. Tapi sayang, sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya, dia masih bersikeras untuk menunda mengenakan jilbab.


Aku mau memakai jilbab, tapi tidak sekarang. Nanti, kalau aku sudah baligh “ jawabnya selalu setiap kali kami meminta agar ia memakai jilbab secepatnya.

Bila, Bila itu sudah bukan anak kecil lagi, sudah kelas 4. Sebentar lagi Bila sudah memasuki usia remaja. Bila harus ingat bahwa setiap muslimah itu wajib menutup auratnya, caranya dengan memakai jilbab yang syar’I . Bila mau, kelak abi sama umi terhalang masuk syurga gara-gara anaknya tidak menutup aurat dengan benar?” istriku menimpali.

Aku sudah seringkali mendengar nasihat istriku seperti itu, namun meski akhirnya membuat indah mata putri kami berubah menjadi merah sendu menahan air mata, tetap saja dengan sifat kekanakannya dia mempertahankan egonya untuk mengenakan jilbab nanti setelah memasuki usia baligh.
Begitulah putri kami, selalu saja mencari-cari alasan untuk menunda berjilbab. Yang gerahlah, malu lah dengan teman-teman sekolahnya yang hampir semuanya tak berjilbab. Dan alasan utama yang selalu dia jadikan alasan adalah bahwa usianya sekarang masih anak-anak, maka memakai jilbab belum merupakan kewajiban baginya.

Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi, seandainya sejak kecil kami sudah membiasakannya mengenakan jilbab. Inilah salah satu kekhilafan kami sebagai orang tuanya. Kami terbuai dengan kemolekan seorang anak perempuan. Astaghfirulloh! Saat itu, pemahaman kami tentang agama masihlah dangkal. Sedih bila mengingat semua ini. Kami sangat menyesal, namun kami tak ingin rasa sesal kami kemudian memupuskan harapan untuk memperbaiki diri. Kami tak ingin larut dalam rasa penyesalan tanpa ada usaha perbaikan. kami mencoba menemukan sebuah pelajaran dari kesalahan yang telah terlanjur kami lakukan.

Mungkin kami kurang tegas dalam mendidik anak, sehingga di usia 9 tahun putri kami belum mau menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Bisa saja kami memaksanya untuk berjilbab saat ini juga, namun kami tidak ingin putri kami berjilbab karena terpaksa. Kami ingin putri kami mengenakan jilbab dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang benar dan mendalam akan pentingnya berjilbab, dan bagaimana tata cara serta konsekuensi yang harus dijaga oleh seorang muslimah yang mengenakan jilbab. Kami sama sekali tidak ingin melihat putri kami mengenakan jilbab secara asal-asalan, setengah-setangah atau bahkan tidak bisa menjaga perilakunya sehingga justru akan merusak citra jilbab itu sendiri.

Jika ditengok ke belakang, istrikupun sebenarnya belum lama mengenakan jilbab. Baru sekitar tiga tahun yang lalu. Saat pertama bertemu, kemudian memutuskan untuk menikah bahkan sampai anak kami memasuki usia 6 tahun, istriku belum mengenakan jilbab. Tapi Alhamdulillah, seiring dengan pemahaman kami tentang agama ini, maka sekarang istriku sudah mengenakan jilbab, bukan hanya ketika hendak bepergian, tetapi di rumahpun dia tetap mengenakannya. Dan, alhmadulillah juga, jilbab yang dikenakannya bukanlah jilbab yang sekedarnya. Tentunya masih banyak hal yang harus dia benahi dan terus pelajari tentang bagaimana berjilbab yang benar menurut agama.

Butuh proses, tidak bisa instan tetapi harus intens. Ketika anak belum mau berjilbab, maka sebagai orang tuanya kami senantiasa berdoa, berharap dan senantiasa memberikan arahan. Satu hal yang tak boleh kami lupakan adalah bahwa kita tidak bisa menyuruh anak tanpa kita sendiri terlibat di dalamnya. Memberikan contoh bagaimana memilih pakaian dan mengenakan jilbab yang benar menurut agama, juga bagaimana adab-adab yang harus dijaga oleh seorang muslimah yang berjilbab adalah tugas utama istriku. Sementara aku, selain terus melakukan berbagai pendekatan, juga perlahan menyiapkan baju-baju muslimah sebagai bukti nyata keseriusan kami. Kami optimis, bahwa dengan kesabaran, kelembutan dan contoh yang nyata dari umminya, maka satu saat nanti putri kami mau mengenakan jilbab dengan kesadaran dan kemauannya sendiri. Insha Allah.

13 Jan 2010

Berjilbab Jangan Setengah-Setengah

Minggu sore aku diminta istriku untuk menemaninya berbelanja sayuran dan bumbu dapur di salah satu pasar kaget, tak jauh dari tempat tinggal kami. Sore itu pengunjung pasar yang hanya ada setiap hari Minggu sore hingga sekitar pukul 9 malam itu sangat ramai. Saat istriku mulai memilih beberapa sayuran, aku dan putriku memilih tetap duduk di motor, menunggunya tak jauh dari penjual sayur yang terlihat kerepotan melayani calon pembeli yang memenuhi pinggir dagangannya yang dihamparkan di pinggir jalan.

Semula aku tak begitu memperhatikan pengunjung pasar sore itu, sejak datang aku tertarik dengan beraneka ragam kerajinan tangan yang terbuat dari bambu dan kayu yang dijajakan tepat diseberang penjual sayuran tak jauh dari tempatku menunggu istri berbelanja sayuran. Sampai akhirnya pandanganku beralih ketika putriku memanggil sambil mengguncangkan tanganku.

Bi, lihat ibu yang pakai kerudung hitam di samping ummi itu. Kok pakai jilbabnya begitu, aneh ya?

Aku mengikuti arah yang ditunjuk putriku. Rupanya yang putriku maksudkan adalah seorang ibu muda yang mengenakan kerudung pendek warna hitam. Benar yang putriku bilang, ada yang aneh dengan cara berpakaian ibu yang sedang asyik memilih sayuran itu. Dia memakai kerudung, tapi pakaian yang dikenakannya adalah kaos dan celana pendek. Astaghfirulloh, prihatin rasanya melihat pemandangan seperti ini.

Belum habis rasa heran kami melihat penampilan sang ibu yang berkerudung dengan celana dan kaos pendek itu, putriku kembali mencolek tanganku. Dengan berbisik dia kembali memberi tahu beberapa pengunjung pasar yang berpakaian aneh. Tak jauh dari ibu pertama tadi, terlihat seorang wanita muda dengan pakaian yang terlihat rapi. Wanita muda ini memakai jilbab putih, pakaian yang dikenakannya tidak seperti ibu pertama. Wanita ini memakai baju lengan panjang dan celana panjang. Sekilas, pakaian yang dikenakan wanita ini sudah memenuhi kriteria berjilbab, tapi tetap saja ada yang membuat tak nyaman bagi yang melihatnya. Pakaian yang dikenakan wanita ini memang menutupi seluruh kulit kecuali telapak tangannya, namun sama sekali tidak menutupi bentuk dan lekuk badannya. Pakaian yang dikenakannya terlalu ketat, hingga hanya dengan pandangan sekilas, semua orang tahu akan lekuk-lekuk tubuhnya.

Seperti kebetulan, tak lama kemudian lewat dihadapan kami dua orang perempuan muda yang berboncengan motor matic. Keduanyapun terlihat seperti menggunakan jilbab. Tapi astaghfirulloh, kedua perempuan abg ini terlihat sekenanya menggunakan pakaian. Kepala mereka memang tertutup oleh kerudung, tapi baju mini mereka tak mampu menutupi punggung mereka hingga semua orang yang kebetulan melihat mereka dapat melihat pemandangan tak nyaman ini. Terlebih perempuan yang dibonceng, cara dia membonceng persis seperti koboy di atas kudanya hingga rok panjang yang dikenakannya terangkat hingga setinggi lutut.

Tiga kali melihat pemandangan yang aneh, akhirnya aku alihkan kembali pandanganku pada sang penjual kerajinan bambu. Namun sayang, tepat di samping pejual kerajinan bambu kini telah berdiri seorang perempuan dengan pakaian longgar dan panjang, jilbabnyapun cukup panjang hingga menutupi seluruh bagian dadanya. Kalau dari segi berpakaian, jelas perempuan ini tahu betul caranya berjilbab, jauh berbeda dengan cara ‘berjilbab’ orang-orang yang tadi sempat ditunjukan oleh putriku. Namun sayang, meski perempuan itu berjilbab, namun dia tak cukup pintar untuk menjaga tingkah lakunya. Kulihat dia sedang bercanda dengan seorang laki-laki. Mereka terlihat akrab bahkan sesekali terdengar sang perempuan tertawa terbahak hingga suaranya terdengar dari tempatku berada, sekitar 20 meter. Aku memang tak begitu kenal dengan sang perempuan, tapi aku tahu persis bahwa laki-laki yang sedang bercanda dengannya bukanlah suaminya. Entah siapa, tapi yang jelas cara mereka berbicara dan bercanda sungguh membuat tak nyaman, dan menurutku tak semestinya hal itu dilakukan oleh sang perempuan.

Ada-ada saja yang kami lihat sore itu. Barangkali karena ini di pasar, sama seperti dagangan yang dijajakan, maka pengunjungnyapun beraneka ragam. Terhadap mereka yang masih mengenakan jilbab ‘ala kadarnya’, apapun alasan mereka aku tak ingin terburu-buru memvonisnya. Bagaimanapun mereka sudah berusaha untuk menutupi auratnya, namun caranya saja yang salah. Barangkali butuh waktu hingga akhirnya mereka bisa mengenakan jilbab yang syar’i. Yang disayangkan adalah apabila mereka berlindung dibalik jilbab untuk kepentingan tertentu. Atau juga mereka mengira bahwa cara berpakaian mereka, cara berjilbab mereka sudah benar padahal sebenarnya mereka sama sekali belum berjilbab. Kepala mereka boleh saja sudah ditutup dengan kerudung, tapi aurat lainnya tak mereka perhatikan. Seolah, aurat itu adanya hanya di kepala, hingga ketika rambut sudah ditutup maka aurat sudah tertutup semua.

Juga, bagi saudari-saudariku yang sudah paham bagaimana cara berjilbab secara syar’i sangat disayangkan jika hanya fisik saja yang mereka ‘selamatkan’ namun akhlak dibiarkan berbuat sekehendak hati. Jilbab sesugguhnya mampu menutup aurat fisik secara menyeluruh, juga mampu menjaga tingkah laku, perbuatan dan akhlak pemakaianya. Apa artinya jilbab, jika sang pemakainya tak mampu mengendalikan tutur sapa, tingkah laku bahkan nafsunya.

Mari, para muslimah semua untuk ‘belajar’ berjilbab yang sesungguhnya. Sangat memprihatinkan bila melihat kenyataan bahwa masih banyak muslimah yang belum atau tidak tahu bagaimana cara berjilbab yang sesuai dengan tuntunan agama. Mereka berjilbab setengah-setengah, sebagian di tutup tapi sebagian lainnya dibiarkan terbuka. Sangat menyedihkan bila melihat kenyatan bahwa masih banyak muslimah yang tak mampu menjaga akhlaknya sebagaimana mereka menjaga auratnya. Seharusnya ada perbedaan jelas antara yang berjilbab dengan yang tidak, namun apa bedanya jika jilbab yang mereka kenakan tak lebih dari penutup kepala sedang pakaian lainnya sama seperti non muslim yang merasa tak berkewajiban menutup auratnya. Tak ada yang tak bisa, mungkin agak sulit pada mulanya namun jika sudah diniatkan, ilmu dikumpulkan maka berjilbab akan menjadi hal mudah, dan sangat dibutuhkan, bukan sekedar kewajiban.


11 Jan 2010

Tugas Yang Berat, Tapi Menyenangkan

Biasanya, jam 4 sore tet - tak kurang tak lebih – aku sudah tak bisa lagi ditemui di kantorku yang lebih mirip dengan akuarium raksasa karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Tapi Kamis, 7 Januari kemarin aku masih duduk manis di kantor padahal jam sudah menunjukan jam 4 lebih 15 menit. Aku asyik membuka facebook di hp mungilku. Ada tiga pesan yang masuk di sana, satu diantaranya datang dari pak Bahtiar Hs.

Tumben neh, pak Bahtiar mengirim pesan khusus ke facebook, yang kutahu beliau bukan facebook mania. Sama sepertiku, beliau membuka akun di facebook hanya untuk sekedar menjaga silaturahmi dan komunikasi dengan beberapa facebooker. Pasti ada sesuatu yang penting” begitu pikirku sambil meng-klik pesan dari pria asal Ponorogo yang pertama kukenal dari tulisan-tulisann Oase Imannya di eramuslim.com ini.

Rupanya pesan itu baru dikirim siang tadi, beruntung aku membukanya sorenya, jadi belum begitu terlambat. Agak mengejutkan, ayah dari 6 orang malaikat kecil ini yang sudah beberapa hari ini tak meng-update blog bahtiarhs.net nya, memberi kabar bahwa buku keduanya akan segera diterbitkan, untuk itu beliau meminta aku memberikan endorsement di buku yang direncanakan akan diberi judul Doa Dan Bungkusan Yang Ruwet  ( kabar bahwa buku kedua ini akan diterbitkan sudah kudengar bebarapa bulan sebelumnya, namun belum tahu kapan pastinya ). Buku itu sendiri sebagian berisi kisah-kisah suri tauladan yang pernah ditulisnya di Oase Iman, jadi sudah pasti aku pernah membacanya karena memang aku mengumpulkan semua tulisan beliau di sana, juga penulis-penulis lainnya. Tapi jika diperlukan, beliau akan mengirim draftnya segera. Begitu beliau menambahkan di pesannya. Dan untuk itu belaiu memberikan waktu 4 hari untuk menyelesaikan endorsement yang dimaksud.

Endorsement? Jujur aku tak tahu apa yang dimaksud, bahkan rasanya sore itu adalah kali pertamanya aku membaca kata itu. Sempat berfikir juga, mungkin yang dimaksud adalah semacam komentar seperti yang biasa dijumpai di buku-buku best seller. Tapi, benarkah? Aku tak mau ke-ge er-an dengan sesuatu yang tidak aku ketahui kepastiannya. Tanpa merasa malu – memang begitu adanya – akupun membalas pesan pak Bahtiar,bukan untuk mengatakan iya atau tidak, tapi terutama untuk menanyakan apa itu endorsement. Satu yang kuyakini, endorsement tak ada kaitaannya dengan semen atau segala macam material bangunan. Hehehe...

Tak sabar menunggu jawaban di facebook, aku kirimkan sms ke nomor hp lelaki yang terasa sudah akrab meski belum pernah sekalipun tangan ini berjabat. Sama seperti balasan pesanku di facebook, kutanyakan pula hal itu melalui sms. Masih tak sabar menunggu jawaban, aku mencoba chat dengan temanku yang ada di kantor tepat di bawah kantorku. Sayang, sama sepertiku diapun tidak tahu. Kucoba bertanya ke teman lainnya, Alhamdulillah temanku yang satu ini wawasannya cukup luas. Sama seperti dugaanku, endorsement yang dimaksud adalah semacam dukungan, atau komentar yang biasa dicantumkan di buku, terkadang didepan atau juga dibagian belakang. O.......jadi benar, endorsement itu bukanlah salah satu merk atau nama perusahaan penghasil semen seperti yang kuduga semula. Ya iya lah! Hehehe...

Sungguh, tugas ini adalah tugas yang berat, tapi juga menyenangkan. Terasa berat, karena sampai umurku lebih dari 31 tahun ini, belum pernah sekalipun aku mengerjakan tugas semacam ini. Apalagi untuk sebuah buku yang nantinya akan diedarkan ke seluruh penjuru nusantara, ini pasti sangat berbeda dibandingkan ketika aku memberikan komentar di blog. Terasa menyenangkan, bukan karena ‘impian’ saya bahwa kata-kata sederhana saya nantinya bakal muncul di sebuah buku - bukan itu - sungguh aku tak berani bermimpi senekad itu. Aku merasa senang, karena tugas ini memberikan sebuah kesempatan untuk belajar.

Sebenarnya, kalau soal namaku tercantum di sebuah buku bukanlah sekedar mimpi. Di buku Jejak-Jejak Surga Sang Nabi , buku pertama yang ditulis Bahtiar Hs dua tahun lalu namaku tertulis dideretan orang-orang yang diberikan ucapan terima kasih atas dukungannya hingga buku pertama tersebut bisa diterbitkan dan diedarkan. Muhammad Nurudin, begitu nama itu tertulis di sana yang sempat membuat aku dan juga istriku bertanya, benarkah itu aku yang dimaksudkan?. Tak mau ber ge-er ria, akupun mengkonfirmasikan kepada sang penulis, dan ternyata benar nama itu yang dimaksudkan adalah aku. Ah, seperti melambung rasanya waktu itu. Sungguh, pak Bahtiar telah membuatku ‘terbang tanpa sayap’.

Dan, jika kali ini untuk buku keduanya, Bahtiar Hs kembali ingin membuatku terbang tanpa sayap, barangkali inilah cara beliau memberikan penghargaan terhadapku yang sebenarnya tak memberikan kontribusi apapun kecuali karena ‘kecerewetanku’ dalam mengomentari tulisan-tulisan beliau di blognya. Ini pula cara beliau mengekspresikan persahabatannya denganku yang selalu saja mengikuti kemana dan dimana saja beliau dapat ditemukan di dunia maya, mulai dari eramuslim, YM, multiply, wordpress, goodreader, facebook, flickr dan yang paling sering ku sowani adalah di Bahtiarhs.net

Alhamdulillah, meski diliputi rasa bimbang dan ragu akhirnya aku mampu menyelesaikan endorsement untuk buku beliau, dua hari lebih cepat dari waktu yang diberikan. Aku tak berani memastikan, apakah endorsement yang kuberikan dapat memenuhi harapan, yang terpenting aku melakukannya dengan penuh keikhlasan. Dan aku sudah sangat bersyukur karena mendapat kehormatan sekaligus kesempatan untuk belajar.

Semoga saja, buku ini segera diterbitkan dengan atau tanpa endorsementku tercantum disana. Semoga pula buku ini bisa segera sampai ke tangan para pembaca karena buku ini sangat bermanfaat bagi siapapun yang ingin mencari hikmah kehidupan yang tak selamanya berwujud tulisan. Menurutku buku ini ditulis berlandaskan sebuah kejujuran, bukan mengada-ada apalagi membesarkan hal-hal kecil demi sebuah sensasi. Buku ini ditulis dari sudut pandang yang tepat, sehingga pesan moral dan juga hikmah bisa terkuak dari sebuah peristiwa sederhana sekalipun. Buku ini disusun dengan bahasa dan gaya penulisan yang tepat, sehingga bukan hanya menarik untuk dibaca, namun mampu membangkitkan kesadaran dan semangat kita untuk mendekatkan diri kepada Nya. Buku ini banyak memberikan pencerahan dan pelajaran tanpa ada kesan menggurui. Jadi, jangan sampai lewatkan untuk membaca buku yang jujur dan inspiratif semacam ini.

8 Jan 2010

Saat Hidayah Datang Menyapa

Kabar tentang Abel Xavier – mantan pemain sepakbola Liverpool asal Portugal – yang memutuskan pensiun dari dunia sepak bola dan memeluk agama Islam yang pertama kuketahui dari Eramuslim, seketika mengingatkanku pada sosok bu “D”. Tak ada kaitannya memang antara pemain bola yang kemudian mengganti namanya menjadi Faisal Xavier tersebut dengan Bu D, kecuali keduanya adalah sama-sama mualaf.

Bu D adalah salah satu pembaca Oase Iman yang merasa tergugah hatinya setelah membaca salah satu tulisanku yang dipublish pertengahan Ramadhan tahun lalu. Seketika jiwanya terpanggil untuk berbagi rezeki dengan tokoh yang kujadikan inti dari tulisanku tersebut, namun sempat kutolak awalnya. Sebelumnya, ada pak K - yang dengan segenap kerendahan hati - juga kutolak niat baiknya dengan beberapa alasan, diantaranya karena aku tak ingin justru kesan ‘memelas’ yang lebih menonjol dibanding pesan moral dan hikmah yang ingin kusampaikan melalui kisah nyata tersebut.

Adalah pak Y- orang yang memperkenalkan Bu D padaku- yang kemudian meyakinkanku akan kesungguhan dan ketulusan Bu D untuk berbagi. Beliaulah juga yang memberitahuku bahwa Bu D ini adalah seorang mualaf. Singkat cerita, hanya dalam hitungan beberapa menit, Bu D telah mentransfer sejumlah uang yang menurutku jumlahnya cukup besar melalui rekeningku untuk kemudian kusampaikan pada keluarga yang kuangkat dalam tulisanku tersebut. Subhanallah! Tidak mudah memberikan sesuatu kepada orang yang belum dikenalnya, melalui orang yang tak dikenal pula kecuali dilandasi ketulusan berbagi dan keikhlasan beramal. Dan semua itu menjadi sulit apabila hidayah tak pernah datang dalam hatinya.

Sama seperti Faisal Xavier, akupun tak tahu persis bagaimana mula ceritanya Bu D ini menjadi seorang mualaf. Yang pasti, saat hidayah datang menyapa, ia akan datang dengan cara dan jalannya sendiri. Tak dapat dicegah, juga tak mudah dipinta. Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki Nya, dan tidak memberikan atau bahkan mencabut hidayah dari seseorang dengan kehendak Nya kapan saja dan bermacam caranya.

Seorang pengemis tua dan buta di salah satu sudut pasar di Madinah, mengucap dua kalimat syahadat setelah tahu bahwa orang yang selama ini dengan lemah lembut menyuapinya tiap hari dan orang itu kini telah tiada adalah rosululloh yang setiap hari, setiap saat dibencinya. Bahkan dia selalu menghasut orang-orang untuk ikut membenci dan memusuhinya. Namun sebaliknya, meski Abu Thalib adalah seorang paman rosululloh yang dengan jiwa raga dan hartanya selalu melindungi rosululloh dan dakwahnya, namun hidayah tidak juga datang padanya sampai akhir hayatnya.

Faisal Xavier, Bu D dan para mualaf lainnya, sangat beruntung karena telah dipilih Allah SWT untuk menerima hidayah Nya. Bu D bukan saja telah mendapatkan anugerah terbesar dalam hidupnya, namun beliau telah mampu membagi manisnya hidayah itu kepada orang lain. Selamat datang, selamat bergabung di keluarga Islam saudara dan saudariku. Hidayah telah datang padamu, rawatl dan pupuklah dengan ibadah, jagalah dan pertahankan dengan segenap jiwa dan raga agar jangan pernah terlepas sampai kapanpun juga, hingga nyawa berpisah dari raga. Do’aku, do’a kami semua untuk kalian saudara-saudara baruku.

5 Jan 2010

Rabu Bukan Kamis, 30 Bukan 13

Akhir bulan adalah hari-hari yang sibuk bagi Ahmad ( bukan nama sebenarnya ). Apalagi akhir bulan Desember, kesibukan Ahmad makin bertambah karena ia harus menyelesaikan beberapa laporan tambahan. Ahmad hampir tidak menyadari bahwa hari sudah siang jika saja teman sekantornya tak mengingatkan untuk istirahat dan makan siang. Sejak pagi Ahmad memang benar-benar disibukan dengan berbagai laporan yang harus segera diselesaikan sebelum tahun baru datang. Ia bahkan hampir tak istirahat sejak memulai pekerjaannya.

Ayo kita makan dulu “ ajak seorang teman yang sudah siap dengan katering makan siang di depannya

Oh silahkan, saya hari ini sedang berpuasa “ jawab Ahmad sambil membereskan tumpukan kertas di mejanya

Puasa? Kan ini baru hari Rabu, belum Kamis “ sang teman yang tahu kebiasaan puasa Senin Kamisnya Ahmad protes, dia sangka Ahmad salah mengira hari

Iya, aku tahu ini hari Rabu. Insha Allah saya puasa tanggal 13 “ jawab Ahmad sambil tersenyum. Dia sudah siap-siap untuk sholat dzuhur di masjid perusahaan yang terletak di samping kanan gedung yang dia tempati

Tanggal 13? Sekarang tanggal 30 Mad! Ah, kamu terlalu pusing dengan laporan kali, sampai-sampai kau lupa tanggal dan hari “ kali ini sang teman tertawa sambil menunjukan kalender meja di depannya

Ahmad menanggapi protes temannya dengan senyuman. Secara singkat dia jelaskan bahwa puasanya kali ini memang bukan puasa Senin Kamis seperti biasa setiap minggunya. Juga bukan tanggal 13 bulan Desember, melainkan tanggal 13 bulan Muharram, seperti yang biasa dia lakukan tiap bulannya. Selama ini Ahmad memang rajin berpuasa Senin Kamis dan puasa pertengahan bulan tanggal 13, 14 dan 15 bulan Hijriyah, kecuali tanggal 13 bulan Dzulhijjah yang masih termasuk hari Tasyrik.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya bukanlah kali pertama datang dari teman-teman Ahmad yang menganggap puasa Ahmad terkadang ‘aneh’ bagi mereka. Seperti kemarin, saat Ahmad berpuasa hari Minggu tanggal 10 Muharam, ada saja yang bertanya puasa apa yang Ahmad lakukan. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini justru datang dari orang-orang yang ‘mengaku’ beragama Islam. Apakah mereka belum tahu, tidak tahu, tidak mau tahu ataukah tahu tapi tidak mau menjalankan ajaran agama yang lurus ini?

Sangat disayangkan apabila seorang muslim sampai belum tahu atau tidak tahu akan berbagai ibadah sunah yang telah dicontohkan oleh rosululloh saw, diantaranya tentang berbagai puasa sunah. Bukankah alasan tidak tahu tidak akan menjadikan kesalahan dan dosa terhapus karenanya. Setiap muslim, laki-laki ataupun perempuan mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu semenjak lahir sampai masuk ke liang kubur, termasuk didalamnya adalah ilmu agama. Tak ada alasan untuk menggugurkan kewajiban atau mengabaikan sunah hanya lantaran tidak tahu.

Tidak mau tahu, barangkali itulah yang terjadi pada sebagian pemeluk agama yang haq ini. Mereka cukup nyaman dan merasa aman setelah menjalankan ibadah-ibadah wajib seperti sholat, zakat dan juga puasa di bulan Ramadhan. Mereka merasa ‘tak perlu’ mempelajari apalagi mengerjakan amalan-amalan sunah yang banyak dicontohkan oleh rosululloh saw. Puasa misalnya, mereka hanya tahu bahwa kaum muslimin diwajibkan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pertanyaan apa itu puasa 10 Muharram, puasa pertengahan bulan tanggal 13, 14 dan 15 adalah salah satu contoh dari ketidak mau tahuan mereka tentang amalan-amalan sunah.

Tahu tapi tidak mau mengerjakan, barangkali inilah yang paling ‘menyedihkan’. Ada sebagian orang yang sebenarnya sudah tahu tentang berbagai amalan baik wajib maupun sunnah, namun dengan berbagai alasan mereka tidak mau melaksanakan. Jangankan terhadap yang sunah, ibadah wajib saja terkadang mereka tinggalkan dengan sengaja. Atau ada yang terlalu ‘percaya diri’ dengan menyangka bahwa ibadah cukup yang wajib-wajib saja. Untuk semua bentuk ibadah sunnah, tidak mendatangkan dosa apabila ditinggalkan selalu mereka jadikan alasan untuk ‘melegalkan’ kemalasan mereka.

Kita diciptakan Allah swt adalah untuk beribadah, mengabdi kepada Nya. Ibadah sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu wajib dan sunnah. Hukum telah ditetapkan ketika ajaran agama ini sempurna diturunkan, sehingga yang wajib tidak bisa dirubah menjadi sunnah dan yang sunnah tidak bisa dijadikan wajib, masing-masing memiliki kedudukan sendiri-sendiri. Ibadah sunnah, meski tidak ada dosa ketika kita meninggalkannya, namun sungguh sayang sebenarnya apabila kita lewatkan apalagi kita sama sekali tak bisa menjamin bahwa ibadah-ibadah wajib yang telah kita lakukan diterima sepenuhnya oleh Allah swt. Kenyataannya, kita masih sulit untuk khusyuk dalam sholat, sulit ikhlas saat berzakat, sulit berpuasa lahir dan juga batin. Melalui ibadah sunnahlah, kita berharap kekurangan-kekurangan ibadah wajib bisa kita tutupi. Melalui ibadah sunnahlah kita berharap dosa-dosa kecil kita bisa diampuni. Dan puasa sunnah tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan Hijriyah adalah salah satu ibadah sunnah yang memiliki kedudukan yang kuat, sangat sayang apabila kita lewatkan.

Tangerang, 13 Muharram 1431 H


4 Jan 2010

Antara Nurudin, Muhammad Nurudin dan Abi Sabila

Ada beberapa sahabat di dunia maya yang bertanya kepada saya baik melalui email maupun chat di YM mengenai siapa sebenarnya saya. Nurudin, Muhammad Nurudin ataukah Abi Sabila?

Dapat saya jelaskan di sini bahwa Nurudin, Muhammad Nurudin dan Abi Sabila sebenarnya adalah satu orang, ya saya ini. Saya bisa memaklumi jika akhirnya ada yang bertanya seperti itu, karena memang saya pernah memperkenalkan diri sebagai Nurudin, Muhamad Nurudin atau juga Abi Sabila. Mengapa bisa demikian, mudah-mudahan penjelasan berikut bisa menjawab keraguan atau kebimbangan para sahabat akan identitas diri saya sebenarnya.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri