17 May 2010

Jangan Mau Rugi

Kemarin malam, seperti biasa setiap dua minggu sekali, aku menemani istri memeriksakan tekanan darahnya di klinik yang ditunjuk oleh perusahaan. Meski agak jauh, namun fasilitas gratis ditambah hubungan dekat istriku dengan ‘dokter pribadinya’, membuat kami memilih klinik ini untuk berikhtiar menyembuhkan tekanan darahnya yang tergolong ‘super’ tinggi.


Pasien yang berobat di klinik malam itu cukup banyak. Biasanya jika kami berangkat ba'da Isya, kami tak perlu antri. Tapi malam itu, saat kami datang, masih ada lima pasien yang sedang menunggu panggilan untuk diperiksa dokter. Sementara istri dan putriku menunggu di dalam, aku memilih menunggu di luar saja, duduk di bangku panjang berwarna putih, warna khas klinik dan rumah sakit.

Kulihat bangku panjang di teras sebelah kanan hanya ditempati lelaki setengah baya bersama seorang anak kecil yang kuperkirakan itu adalah anaknya. Melihat langkahku mengarah kepadanya, laki-laki yang kutaksir berumur empat puluh tahun itu menggeser duduknya, memberikan tempat yang sebenarnya masih cukup lega untukku. Dari cara dia mengangguk dan tersenyum, dapat kusimpulkan bahwa laki-laki ini adalah tipe orang yang sopan dan ramah.

Obrolan ringan pun mengalir. Tanpa saling menanyakan nama, obrolan pun berjalan dengan lancar, seolah kami sudah lama kenal. Sama sepertiku, laki-laki ini juga hanya menemani sang istri berobat.

Dari obrolan sekitar lima belas menit, ada banyak pelajaran berharga kudapat darinya.

“Kalau keluarga kita ada yang sakit, kita jangan mau rugi,“ begitu laki-laki ini mengawali kalimat-kalimat bijaknya malam itu.

“Maksudnya?“ tanyaku tak paham dengan kata ‘jangan mau rugi’-nya.

“Maksud saya begini. Apabila kita, atau anggota keluarga kita ada yang sakit, sudah tentu semua akan merasakan efeknya. Seperti yang saya alami, istri saya sudah lima bulan menjalani pengobatan secara rutin di klinik ini. Selama itu, saya tahu dia merasa sangat tidak nyaman. Susah tidur dan selera makan yang menghilang membuat berat badannya menurun drastis. Bukan hanya dia, saya dan anak-anak juga merasakan akibatnya. Pekerjaan rumah yang selama ini diselesaikan istri, sekarang harus dikerjakan berbagi dengan saya dan anak-anak. Perhatiannya terhadap anak-anak pun menjadi berkurang. Dan kalau dihitung-hitung, biaya yang kami keluarkan pun sudah cukup banyak.“

Laki-laki ini menghentikan sebentar ceritanya, mengambil hp dari saku celananya dan memberikan kepada sang anak yang mulai jenuh karena lama menunggu. Tak lama kemudian bocah gemuk itu sudah asyik bermain game di hp.

“Tapi, saya dan keluarga tidak mau rugi dengan kejadian ini. Saya selalu mengingatkan kepada istri, anak-anak, dan juga diri saya sendiri bahwa sakit yang kini sedang diderita istri adalah juga atas kehendak dan izin Allah SWT. Saya terus mengingatkan agar senantiasa sabar dan sadar bahwa ini belum tentu hukuman, tapi bisa juga sebuah ujian. Jika kami ikhlas menerima ujian, maka ini akan menjadi ladang amal bagi kami. Saya selalu mendukung istri agar senantiasa sabar dan tabah, jangan menyerah dan merasa lelah untuk berikhtiar. Saya juga selalu berpesan kepada anak-anak agar bersikap mandiri, terutama karena kondisi ibunya yang tak memungkinkan mengurus segala keperluannya. Saya tak memperhitungkan berapa biaya yang harus kami keluarkan, karena itu adalah bagian dari ikhtiar kami. Yang terpenting adalah kesembuhan istri, dan dalam berikhtiar kami tidak melakukan hal-hal yang melanggar syar’i. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya, jika kami ikhlas, sabar, dan berikhtiar, maka Allah akan menunjukan tempat dan obat untuk kesembuhan istri saya. Kalaupun Allah berkehendak lain, insya Allah semuanya tidak akan sia-sia karena Allah akan menghargai semuanya dengan pahala.“

Aku mendengarkan lelaki ini tanpa berkomentar. Dalam hati, aku membenarkan semua perkataannya, dan itu kutunjukan dengan mengangguk, tanda setuju dengan apa yang disampaikannya.

“Saya harap, Mas juga begitu. Terima ujian ini dengan ikhlas, jalani dengan sabar dan tetap sadar bahwa apa pun yang terjadi pada diri kita adalah atas izin Allah. Jadikan ini ladang amal bagi kita. Jangan sampai badan kita sudah merasakan sakit, urusan keluarga terbengkelai, biaya yang dikeluarkan sudah banyak, tapi kita tak mendapatkan apa-apa kecuali justru murka Allah karena kita tidak sabar atau bahkan mencari cara pengobatan yang dilarang oleh Agama. Na'udzubillah! Saya yakin, Mas paham dengan yang saya maksudkan, dan saya juga yakin Mas bisa seperti yang saya harapkan,” laki-laki ini mengakhiri perbincangan malam itu dengan menjabat tanganku.

“Terima kasih, Pak. Nasihat Bapak akan selalu saya ingat dan insya Allah akan saya jalankan.“ Hanya itu yang sempat aku katakan karena bocah gendut yang tadi asyik bermain game kini telah duduk di atas motor, memanggil-manggil bapaknya untuk segera pulang. Sebelum berlalu, laki-laki itu kembali mengangguk dan tersenyum kepadaku.

Alhamdulillah, berkali-kali aku mengucapkan syukur dalam hati. Tak disangka, di sebuah klinik kecil ini aku mendapatkan pelajaran berharga dari seseorang yang baru pertama kali berjumpa, bahkan tak sempat aku bertanya nama.

Apa yang dikatakan laki-laki itu memang betul. Bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah atas izin dan kehendak Allah, termasuk juga sakit. Beruntunglah orang-orang yang mampu bersabar dan senantiasa sadar serta ikhlas dalam menerima ujian. Kita memang bukan nabi Ayub AS, tapi kita bisa mencontoh ketabahan dan kesabaran beliau, paling tidak sampai batas maksimal kemampuan kita.

Untuk saudara-saudaraku yang sedang diuji dengan sakit, senantiasa sabar dan sadarlah. Terima ujian ini dengan ikhlas, jalani dengan tabah, dan berikhtiarlah untuk mendapatkan kesembuhan melalui cara-cara yang dibenarkan oleh agama. Insya Allah, kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu pahala dan juga kesembuhan.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri