22 Feb 2010

Jauh Dekat

Sore yang mendung. Meski awalnya agak ragu, akhirnya aku dan sahabatku memutuskan untuk tetap ke rumah sakit sore itu juga. Sudah dua hari, anak salah satu rekan kerja kami dirawat di sana karena demam berdarah. 

Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit yang tak lebih dari lima belas menit, banyak hal yang kami bicarakan. Yang paling menarik adalah keinginan sahabatku untuk menutup akunnya di beberapa situs jejaring sosial. 

“ Saya akan menutup beberapa akun di situs jejaring sosial Mas “ sahabatku membuka pembicaraan saat melintas di depan sebuah warnet yang penuh dengan pengunjung.

“Lho, kenapa? Bukannya kamu lagi getol-getolnya menjalin pertemanan di dunia maya?” tanyaku agak terkejut. Setahuku, dia memang sudah lama memiliki akun di situs jejaring sosial, dan belakangan dia sedang ‘kecanduan’ lagi.

“ Iya sih, tapi akhir-akhir ini saya merasa ada yang hilang dari kehidupan saya. Mungkin karena terlalu asyik dengan teman-teman di dunia maya, saya menjadi asing dan jauh dengan teman-teman di kantor “

“ Tapi bagaimana dengan teman-temanmu yang jumlahnya sudah ratusan itu? Apa nanti mereka nda kehilangan kamu? Nda baik juga loh memutuskan silaturahmi begitu saja!“. Aku mencoba mengingatkan sebelum dia benar-benar melaksanakan keinginannya.

“ Saya sudah menulis status bahwa dalam waktu dekat akun-akun tersebut bakal saya tutup, jadi teman-teman tidak kebingungan. Dan jika mereka masih mau melanjutkan silaturahmi dan komunikasi masih bisa kok, saya masih menyisakan satu akun. Pokoknya saya sudah mantap untuk menutup akun, terutama di situs jejaring sosial yang paling popular saat ini. Saya tak ingin mengejar teman di dunia maya tapi akhirnya justru kehilangan teman-teman di dunia nyata. Mulai sekarang saya akan mengatur waktu saya untuk bersilaturahmi baik di dunia maya maupun di dunia nyata” panjang lebar temanku ini menjelaskan, dan kutahu bahwa kali ini dia benar-benar serius dengan keinginannya.

***

Apa yang dikatakan sahabatku memang ada benarnya juga. Tanpa kita sadari, terkadang kita terlalu ‘asyik’ menjalin pertemanan di dunia maya, sampai-sampai keluarga, teman dan lingkungan nyata justru kurang mendapat perhatian kita. Tanpa kita sadari pula, kita yang tergabung dalam situs jejaring sosial akhrinya lebih sering bersilaturahmi dan berkomunikasi dengan teman-teman kita yang entah dimana keberadaanya, sementara dengan teman di kanan kiri kita, jarang sekali kita berkomunikasi. Contoh nyatanya adalah apa yang sahabatku alami. Semenjak dia membuka akun di beberapa situs jejaring sosial, teman-temannya memang bertambah banyak tapi perlahan komunikasi dengan teman sekantornya menjadi berkurang, bahkan menghilang. Sahabatku jadi merasa asing di kantor sendiri, menjadi orang lain diantara teman-temannya sendiri.

Teknologi, setiap saat setiap waktu terus berkembang. Banyak hal yang dulu sekedar hayalan kini benar-benar sudah menjadi kenyataan. Teknologi, bisa membuat yang jauh menjadi terasa dekat, tapi juga bisa membuat yang dekat menjadi terasa jauh.

Bukan hanya internet, teknologi informasi yang lebih dulu populerpun ternyata selain membuat yang jauh menjadi terasa dekat, juga bisa membuat yang dekat menjadi terasa jauh. Handphone dan televisi adalah contoh nyatanya. Melalui telephone, kita bisa berbicara dengan orang yang jaraknya ribuan kilometer seolah kita sedang duduk bersebelahan. Ditambah dengan teknologi video call, kita bisa berbicara sambil saling menatap wajah masing-masing seolah kita sedang berhadapan di tempat yang sama. Keberadaan telephone benar-benar memberikan solusi untuk komunikasi jarak jauh, tapi sayangnya untuk komunikasi dengan tetangga sebelah rumah, terkadang kita lebih memilih melalui telephone ketimbang mendatangi rumahnya, mengetuk pintunya dan bertemu muka dengan sang pemilik rumah. 

Begitupun melalui televisi kita bisa tahu berbagai kejadian jauh di belahan bumi ini, tapi gara-gara keasyikan di depan televisi, terkadang kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di tetanga kanan dan kiri. Kita lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi ketimbang berkunjung ke tetangga dan saudara. Kejadian di luar negeri kita tahu, tapi kejadian di sebelah tembok kita tak tahu, atau bahkan tidak mau tahu. 

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar pada kebiasaan berkomunikasi dan bersilaturahmi. Persoalan jarak, waktu dan biaya menjadi kecil dengan hadirnya teknologi-teknologi canggih. Namun teknologi, bak dua mata pisau. Satu sisi membawa manfaat dan keuntungan, tapi di sisi lainnya bisa mendatangkan bahaya dan kerugian, terutama jika kita tak menggunakannya atau menyikapinya dengan benar. 

Sambunglah silaturahmi, begitu Islam mengajarkan kepada kita. Begitu pentingnya silaturahmi, sampai-sampai Allah mengancam orang yang memutuskan silaturahmi dengan sengaja. Kecanggihan teknologi hadir membawa sebuah solusi untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi, khususnya yang terkendala jarak yang jauh, waktu yang sempit dan juga biaya yang besar. Tapi terkadang kitalah yang salah memanfaatkan dan menyikapi kemajuan teknologi itu sendiri. 

Kecanggihan, kemudahan dan kenyamanan yang diberikan oleh teknologi, perlahan merubah kebiasaan kita dalam menjalin silaturahmi. Sesuatu yang dekat tiba-tiba menjadi terasa jauh lantaran kita lebih memilih bersilaturahmi dan berkomunikasi melalui teknologi. Padahal esensi dari silaturahmi sesungguhnya adalah ikatan batin dan kedekatan emosi yang terjadi dari sebuah pertemuan fisik. Melalui teknologi bisa saja kita saling memberikan informasi, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak didapat seperti ketika kita bersilaturahmi secara langsung. 

Kepedulian, kedekatan, rasa persatuan akan mudah muncul manakala kita saling bertemu. Kita tak hanya mendengar suara, tapi kita juga bisa melihat secara langsung kondisi orang lain, bahkan kita bisa merasakan apa yang sebenarnya tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. Berbeda ketika kita bersilaturahmi melalui teknologi, kepekaan emosi kita hanya sebatas apa yang kita dengar, atau apa yang kita baca.
Mari, kita lebih bijak dalam menyikapi dan memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi. Manfaatkan teknologi sebagai sebuah solusi, tapi yang lebih utama adalah komunikasi dan silaturahmi secara langsung, karena disanalah kedekatan, kepekaan, kebersamaan, kepedulian dan keberkahan akan lebih mudah tercipta dan lebih terjaga.

Artikel ini juga sudah bisa dibaca di kotasantri

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri