25 Nov 2009

Setelah Ini, Siapa Lagi Yang Mengaku Nabi?


Sebuah aliran agama sesat kembali muncul di tengah masyarakat, kali ini seseorang di daerah yang terkenal agamis mengaku sebagai seorang rosul ..” begitu sang presenter memulai beritanya di salah satu tv swasta sore itu.

Ada-ada saja sekarang ya!” komentar istriku sambil meletakan segelas teh manis dan sepiring pisang goreng di meja.

Tanda-tanda akhir zaman “ jawabku singkat.

Kok bisa ya, orang itu mengaku sebagai rosul. Padahal kalau dilihat, aliran yang dia ajarkan mirip Islam-Islam juga

Aku tidak langsung menjawab, kuminum teh manis di depanku. Aku batalkan mengambil sepotong pisang goreng, masih terlalu panas karena memang baru diangkat dari penggorengan.

Lah, yang lebih mengherankan, kok masih ada orang yang percaya bahkan kemudian menjadi pengikut setianya “ jawabku selanjutnya.

18 Nov 2009

Sama Harinya, Beda Aktivitasnya


Hari Minggu adalah salah satu hari dalam seminggu yang aku tunggu, karena di hari Minggu aku bisa bisa beristirahat sejenak dari segala kesibukan di kantor selama seminggu. Di hari Minggu pula aku bisa berkumpul dengan keluarga, melakukan aktivitas bersama yang selama ini tak sepenuhnya bisa kami jalani karena pekerjaan dan kegiatan masing-masing.

Apa yang biasa anda lakukan di hari libur? Tentunya sebagian akan berbeda dengan yang biasa kami lakukan, dan berbeda pula dengan yang tetangga-tetanggaku biasa kerjakan saat hari Minggu tiba.

17 Nov 2009

Takut Kiamat? Bohong!


Abi………….sini deh! “ kudengar suara putriku memanggil dari dalam rumah, kemarin sore saat aku baru pulang kerja. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia tanyakan atau sampaikan secepatnya, sampai-sampai salamku tak dijawabnya.

Aku ulangi salamku sekali lagi. Kulihat wajah mungilnya tersenyum, keluar dari pintu. Dijawabnya salamku dan diciumnya tanganku.

Ada apa sayang, kayaknya ada yang penting banget? “ tanyaku sambil melepas sepatu di teras rumah.

Kata orang-orang tahun 2012 kiamat, abi percaya ngga? “

Percaya, tapi tidak! “ jawabku sambil tersenyum. Kuletakkan sepatuku di tempatnya. Kugandeng tangannya masuk ke dalam rumah. Aku tahu dia masih bingung dengan jawabanku tadi.

14 Nov 2009

Opera Cicak vs Buaya



Disana gunung, di sini gunung, tengah-tengahnya pulau jawa. Wayangnya bingung, dalangnya lebih bingung, yang penting bisa ketawa

Begitulah slogan salah satu acara komedi yang hadir setiap hari Senin – Jumat pukul 20.00 WIB di salah satu tv swasta nasional kita. Acara ini banyak diminati masyarakat ( termasuk keluarga kami ) karena acaranya cukup menghibur dengan guyonan-guyonan yang selalu segar dan tak terduga.

Ada lagi sebuah ‘opera’ yang belakangan juga sempat menyita perhatian masyarakat. Bedanya opera ini tidak hanya di tayangkan oleh salah satu stasiun tv dan pada jam-jam tertentu saja, tetapi ditayangkan oleh seluruh stasiun tv baik swasta maupun milik pemerintah, dalam dan luar negeri dengan jam tayang yang tidak menentu, hampir sepanjang hari, dari pagi hingga pagi lagi. Opera ini bernama opera cicak vs buaya.

Berbeda dari opera pertama, opera kedua ini sama sekali tidak menyuguhkan sebuah hiburan yang menyegarkan, melainkan sebuah teka teki besar yang tak berkesudahan. Kesan ruwet, tidak jelas, penuh prasangka dan sama sekali tak menghibur, membuat tayangan ini secara perlahan namun pasti menjadi basi dan tak menarik perhatian lagi.

di sana gunung, di sini gunung, tengah-tengahnya gunung juga. Wayangnya nda bingung, dalangnya nda bingung, yang bingung penontonnya

Barangkali itulah slogan yang pas untuk opera semacam ini. :))

13 Nov 2009

Bukankah Menjadi Tua Itu Wajar Dan Pasti?


Aku tetap tak bisa memahami alasan ibu satu orang anak ini yang dengan jelas-jelas menolak permintaan atau tepatnya perintah sang suami untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja demi anak tunggalnya yang kini sudah sekolah tk. Adalah alasan sang ibu muda ini yang tidak bisa kumengerti, tidak mau berhenti bekerja karena menurutnya menjadi ibu rumah tangga hanya akan membuatnya cepat tua. Astaghfirulloh! Andai saja yang menyampaikan alasan ini adalah istriku, maka saat itu juga aku sudah mempunya satu alasan kuat untuk melarangnya bekerja.

Sudah seminggu lebih bocah laki-laki kurus itu tidak mau sekolah jika tidak diantar dan ditungguin oleh ibu atau bapaknya. Begitu juga ketika bocah itu masih tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung. Setiap hari selalu saja ada alasan yang dibuatnya untuk tidak masuk sekolah. Alasan sakitlah yang selalu menjadi senjata bocah ini. Sakit perut lah, mata lah, pusing lah, dan berbagai macam alasan sakit lainnya. Bahkan untuk mendukung alasannya, bocah ini juga melakukan aksi mogok makan ( meski tidak total ). Tuntutannya pada sang kakek nenek saat itu hanya satu, diantar ke Tangerang berkumpul bersama ibu bapaknya, dan tentunya sekolah di sana.

Minggu kemarin, sang ibu akhirnya menjemput putra tunggalnya meskipun saat itu ia belum tahu pasti siapa nantinya yang akan mengasuh putranya jika ia dan suaminya pergi bekerja. Pertama kali melihat kedatangan bocah ini aku sempat kaget. Terakhir melihatnya lebaran kemarin, badannya gemuk, sehat dan ceria. Tapi kini, badannya kurus, ceking dan terlihat tidak bersemangat. Ini semua bukan karena sang bocah tak dirawat kakek neneknya dengan baik, tetapi karena sang anak terus ngambek, minta diantar ke ibu bapaknya di Tangerang. Bukan tidak peduli dengan tuntutan sang cucu, tapi kakek neneknya justru khawatir cucu kesayangan mereka tidak ada yang menjaganya jika ibu bapaknya pergi bekerja.

Hari kedua kedatangan bocah ini, sang ibupun mendaftarkannya ke salah satu tk Islam, tak jauh dari rumah. Namun sayang, bocah ini tidak mau sekolah jika tidak diantar dan ditungguin ibu atau bapaknya. Meski sang ibu sudah mendapatkan orang yang mau mengasuh bocah ini, namun sang bocah tetap bersikeras tidak mau sekolah tanpa ibu atau bapaknya. Setiap pagi aku melihat bocah ini menangis, bahkan berontak ketika kedua orang tuanya membujuknya untuk sekolah.

Adalah sang bapak bocah ini yang kemudian menyarankan sang istri untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Bagaimanapun anaknya harus lebih diutamakan, juga pendidikannya. Ia merasa yakin bahwa meski hanya dirinya yang bekerja, ia mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya meskipun secara sederhana.

Beberapa kali kudengar sang suami meminta sang istri untuk segera membuat pengunduran diri. Beberapa tetangga termasuk istriku pun ikut memberi masukan. Kami semua tak tega melihat bocah ini setiap pagi menangis dan meronta. Tapi, apa yang kami dengar saat itu sungguh tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Tidak! Saya tidak akan berhenti bekerja. Saya tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga, nanti cepat tua ! “ jawab sang istri enteng, tanpa beban, tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Semula kami mengira itu hanya gurauan belaka, meskipun saat itu tak ada tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda. Terlebih bahwa hari-hari berikutnya, sang istri tetap berangkat kerja sementara sang suami harus terus membujuk sang bocah agar mau sekolah diantar tetangga yang kini dimintanya untuk mengasuh sang anak.

***
Menjadi ibu rumah tangga, sebuah profesi yang hanya akan membuat cepat tua! Kata-kata itu yang membuatku geram, juga istriku atau bahkan semua tetanggaku yang mendengar waktu itu. Terlepas dari kodrat, bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah jihad terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah menikah. Bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu jalan yang bisa mengantarkannya ke syurga.

Menjadi cepet tua, teori dari manakah yang ia gunakan untuk alasan?!. Malah, jika kupikir motivasinya bekerja selama ini tidaklah murni untuk membantu sang suami memperbaiki ekonomi keluarga. Ada motivasi lain yang tentunya menurutnya bisa membuatnya awet muda. Astaghfirulloh, aku tak ingin berburuk sangka, apalagi terlalu jauh memasuki urusan rumah tangga orang lain. Aku hanya merasa bahwa alasan yang dia kemukakan, sangat-sangatlah tidak benar.

Menjadi apapun, entah itu seorang wanita karier, ibu rumah tangga atau pembantu sekalipun, menjadi tua adalah hal yang wajar, bahkan pasti. Terima atau tidak, seiring berjalannya waktu, proses menjadi tua bakal terjadi. Cepat atau lambat, bukan dari profesi sehari-hari, juga bukan dari bahan-bahan kosmetik yang digembar-gemborkan mampu memperlambat proses penuaan. Ada hal yang luput dari pemahamannya, bahwa bagaimana hidup ini, senang susah salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana kita menerima dan menyikapi hidup itu sendiri.

Saudariku, aku berharap apa yang terlanjur kau ucapkan, tidaklah seterusnya akan kau jalankan. Aku yakin hati kecilmu menolak perkataan mulutmu. Aku yakin, naluri seorang ibu masih ada padamu, hanya saja ego dan nafsumu masih mengusaimu. Ingat, setinggi apapun penghasilanmu, secemerlang apapun kariermu, dalam rumah tangga kau tetaplah seorang istri yang harus patuh dan taat pada suami, kau tetaplah sorang ibu yang akan diminta pertanggungjawaban atas anak dan keluarga. Buang jauh-jauh dari pikiranmu, bahwa setelah tua suamimu akan meninggalkanmu. Jika itu terjadi, itu bukanlah karena kau menjadi tua, tapi mungkin salah satunya karena kau tak menghormati mereka dan juga tak bertanggung jawab terhadap rumah tangga yang telah kau bina.

Saudariku, aku berharap kau menyadari kekeliruanmu. Turuti perintah suamimu, toh itu adalah perintah yang benar. Pikirkan masa depan anakmu. Selama ini dia sudah mengalah harus terpisah darimu, apakah kau masih tega membuat darah dagingmu sendiri merasa tak memiliki ibu, sementara kau ada, terlihat oleh matanya namun tak pernah menyentuh hatinya. Saudariku, sadarlah………….sadarlah………

****
Dan tadi pagi, sebelum berangkat kerja aku masih mendapati bocah itu merengek bahkan meronta ketika sang bapak membujuknya untuk sekolah. Sementara sang ibu, sudah berangkat ke tempat kerjanya setengah jam yang lalu. Astaghfirulloh…….!

12 Nov 2009

Di Balik Sebuah Pemberian

Jangan pernah meremehkan pemberian orang lain, apapun bentuknya, berapapun nilainya karena sangat mungkin dibalik wujudnya yang tak menarik, nilainya yang kecil bahkan terkesan tidak penting dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit bagi orang lain untuk mendapatkan dan memberikannya kepada kita. Itulah pelajaran yang kupetik dari kisah pak Muslim ( bukan nama sebenarnya ) yang ingin kuceritakan berikut ini.

Siang itu, hari terakhir bulan Ramadhan 1429 H yang lalu, pak Muslim dan sang istri mendatangi lebih dari sepuluh kios dan toko di sudut-sudut kampung bahkan sampai keluar kampung demi untuk mendapatkan sekedar jajanan yang akan mereka bawa sebagai buah tangan disaat silaturahmi lebaran. Mereka terpaksa berkeliling kampung hampir dua jam lamanya karena sudah banyak toko dan kios yang tutup, ditinggal mudik pemiliknya. Kalaupun ada yang masih buka, jajanan yang tersedia tidaklah memberikan banyak pilihan. Sebenarnya mereka bisa saja mendatangi agen atau supermarket yang tentunya banyak menjual kue dan makanan lebaran, tapi itu tidak mungkin mereka lakukan karena uang yang mereka miliki takkan bisa menjangkau harganya yang mahal.

Menjelang dzuhur, mereka akhirnya menemukan sebuah kios di dalam pasar di kampung sebelah yang masih menjual jajanan yang cukup beragam, termasuk seperti yang mereka cari, murah namun pantas dijadikan buah tangan saat silaturahmi lebaran. Namun masalah belum selesai, karena ternyata uang yang mereka anggarkan untuk membeli jajanan tersebut ternyata hanya mampu untuk membeli dua kilo jajanan, sedangkan keluarga yang akan mereka beri jumlahnya ada delapan.

Akhirnya, dengan keterbatasan uang yang mereka miliki, dua kilo jajanan tersebut mereka bagi menjadi delapan bungkus, masing-masing 250 gram. Sedikit tak mengapa yang terpenting bisa berbagi dengan famili saat silaturahmi nanti, begitu pertimbangan mereka. Tepat azan dzuhur berkumandang, mereka tiba dirumah dengan delapan bungkus jajanan yang akan mereka persembahkan untuk keponakan mereka esok hari saat lebaran yang dinantikan datang.

***

Apakah yang menjadi alasan pak Muslim dan sang istri rela bahkan terkesan memaksakan diri untuk mencari jajanan sekedar sebagai buah tangan saat silaturahmi, karena gengsikah atau mereka memiliki alasan lain? Pak Muslim sadar bahwa membawa membawa oleh-oleh saat silaturahmi bukanlah sebuah kewajiban, sebab kewajiban yang sesungguhnya adalah silaturahmi itu sendiri. Tapi bagi pak Muslim dan sang istri, bisa memberikan sesuatu bagi keponakannya adalah sebuah kepuasan batin tersendiri. Sama sekali tak ada kaitannya dengan sebuah gengsi, mereka hanya ingin sekedar berbagi. Jika sekedar jajanan sebagai buah tangan bisa membuat silaturahmi menjadi lebih berkesan, mengapa tidak!

6 Nov 2009

Bawang Putih Untuk Istriku


Aku baru saja memulai aktifitas kerjaku ketika HS, sahabat karibku datang ke kantor. Dari jaket yang dikenakannya, dan tas yang dibawanya aku tahu dia belum sempat masuk ke kantornya. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada hal penting apakah sehingga tidak biasanya dia langsung datang ke kantorku sepagi ini. Belum sempat aku bertanya, temanku yang jam masuknya lebih siang dariku ini membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan.

Ini bawang putih untuk obat istrimu “ begitu katanya sambil meletakkan bungkusan plastik berwarna putih yang ternyata berisi bawang putih itu di atas meja.
Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih, sambil tersenyum dia mengangguk dan meninggalkanku yang masih dipenuhi tanda tanya.

Setelah beberapa saat aku baru ingat, sehari sebelumnya aku bercerita tentang kesedihanku, kecemasanku memikirkan sakit darah tinggi yang diderita istriku. Malam sebelumnya, saat berobat di klinik yang ditunjuk perusahaan, hasil pemeriksaan dokter menyebutkan bahwa tekanan darah istriku mencapai 200/110, angka yang menurut dokter sangat tinggi untuk usia istriku yang baru 31 tahun dan sangat berbahaya jika tidak diobati dengan serius.

Meski dokter sudah memberikan obat dalam jumlah yang cukup, namun dokter juga memberikan saran agar istriku mengkonsumsi beberapa makanan untuk membantu mempercepat penurunan tekanan darahnya, seperti mentimun, jus seledri, mengkudu dan juga bawang putih yang dibakar. Rupanya dari obrolanku dengan sahabatku usai sholat zhuhur kemarin, yang menjadikan alasan mengapa hari ini dia membawakan begitu banyak bawang putih untuk istriku.

Bawang putih, tidaklah sulit dicari, banyak dijual di warung-warung bahkan aku yakin istriku juga menyimpannya di dapur. Tanpa bermaksud mengecilkan pemberian sahabatku ini, justru aku menjadi terharu atas perhatian dan kepedulian sahabat yang kukenal sejak enam tahun lalu ini. Aku mengenalnya ketika kami pertama kali bekerja di perusahaan yang memproduksi kabel ini. Dia yang lebih dulu masuk di perusahaan ini, tiga hari kemudian aku baru menyusulnya. Sejak mengenalnya, kami langsung akrab. Bukan saja karena kami sama-sama karyawan baru, tapi karena kesederhanaan, kesahajaannya yang membuatku senang bersahabat dengannya. Titel sarjana yang dimilikinya tak pernah membuatku yang hanya lulusan SLTA menjadi minder bersahabat dengannya.

Aku bukan memuji pribadinya lantaran hari ini dia memberikan sesuatu padaku. Jauh sebelum ini, aku sudah sering mendapatkan bantuan dan pertolongan darinya. Keakraban kami juga tidak sebatas rekan kerja, tapi sudah antar keluarga. Istri dan anak kami sudah beberapa kali bertemu, sama seperti kami mereka juga langsung akrab. Salah satunya karena sifat mereka yang care dan peduli, seperti yang mereka buktikan hari ini.

Sahabatku, aku tahu kau tak berharap aku menulis tentangmu hari ini, tapi kepedulianmu juga keluargamu membuatku terkesan. Aku tahu kau melakukannya penuh dengan ketulusan, sama sekali tak berharap imbalan, tapi kau kembali menyadarkan bahwa tak harus melakukan sesuatu yang besar, cukup hal yang kadang terlihat kecil dan luput dari pikiran justru bermakna besar untuk sebuah persahabatan. Dan, itu kembali kau tunjukan padaku.

Ya Allah, terima kasih telah kau anugerahkan aku seorang sahabat sebaik saudara. Jadikan persahabatan kami sebuah jalinan yang saling memberi kebaikan, persahabatan yang saling mengingatkan jika terlanjur berbuat kesalahan, persahabatan yang pada akhirnya mengarah pada jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Dan, apa yang telah sahabatku berikan hari ini, dengan ketulusan dan keikhlasannya yang Engkau berkahi, semoga bisa menjadikan obat untuk kesembuhan istriku. Amin, Ya Allah Ya Robbal Alamin.

Tetap Kokoh Dengan Satu Kaki

Mushola Baiturrohiim adalah mushola kebanggaan kami, warga RW 06, tampat ‘favorit’ kedua setelah rumah kontrakanku. Jika sebagian tetanggaku melewati sore hari dengan menonton televisi atau berkumpul di teras rumah salah seorang tetangga hingga menjelang malam, maka aku lebih memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang ada di mushola Baiturrahim ini.

Hampir setiap hari, selesai sholat Maghrib kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami berkumpul untuk mengaji Al Quran. Selebihnya jika masih ada waktu, kami biasa saling berbagi cerita hingga waktu sholat Isya tiba.

Saudara-saudaraku ini adalah mereka para jamaah mushola yang tinggal di sekitar mushola. Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda, ada yang dari Jawa, Sumatra namun sebagian besar adalah penduduk asli Tangerang. Umur mereka sebagian besar jauh diatasku, hanya beberapa yang seumuran denganku.

Dari jamaah musholla banyak sekali aku mendapat pelajaran berharga, yang memberiku semangat, inspirasi dan nasihat bijak dalam menjalani kehidupan. Juga pelajaran yang menggugah keimanan dan memberiku semangat untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Misalnya dari pak Didi, melalui rumus 90 langkahnya menuju musholla setiap pagi menjelang shubuh sebelum jamaah lainnya datang dalam kondisinya yang gelap gulita karena pengliatannya yang sudah tak berfungsi, menyadarkanku betapa besar nikmat yang Allah berikan melalui penglihatanku.

Juga dari pak Nana ( bukan nama sebenarnya ), banyak hal yang bisa aku jadikan untuk mengukur diri, seberapa besar rasa syukur yang sudah aku wujudkan, bukan sekedar syukur dalam lisan. Dan mengukur seberapa jauh ketekunanku beribadah, menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.

Pak Nana, lelaki kelahiran Bogor ini dimataku adalah jamah yang istimewa. Lelaki berumur 50 tahun ini berbeda dengan jamaah lainnya, beliau kini hanya memiliki satu kaki setelah kecelakaan lalu lintas memaksanya merelakan kaki kirinya di amputasi hingga batas lutut. Sungguh, bukan untuk membeberkan kekurangan fisik beliau, tapi justru dari situlah aku mendapat kekuatan dan semangat untuk lebih tegar menghadapi hidup dan berusaha lebih tekun beribadah dengan kondisiku yang alhamdulillah lebih beruntung dibanding dengannya.

Pak Nana adalah karyawan sebuah perusahaan produsen obat nyamuk, tak jauh dari tempat tinggal kami. Sampai saat ini sudah hampir 30 tahun beliau bekerja di sana. Dulu, sebelum tragedi kecelakaan menimpanya, beliau adalah kenek mobil box yang bertugas menemani sang sopir mengantar hasil produksi ke berbagai kota. Sebuah kecelakaan di jalan tol telah merenggut kaki kirinya, 22 tahun lalu ketika beliau masih lajang.

Diantara duka dan laranya, pak Nana muda ini melewati hari-harinya dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Selain memberikan santunan, pihak perusahaan juga masih memperbolehkan pak Nana bekerja meski kondisinya berbeda dengan karyawan lainnya, sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya.

Adalah kebesaran Allah SWT, meski cacat, meski berbeda dengan lainnya, pak Nana muda ini akhirnya dipertemukan jodohnya dengan seorang gadis asal Pandegelang. Sang istri menerima pak Nana dan keadaan fisiknya dengan penuh keikhlasan. Mereka kini sudah dianugerahi empat orang anak, kesemuanya laki-laki. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang sebagian mereka gunakan sebagai warung kecil-kecilan untuk menambah penghasilan pak Nana yang boleh dibilang tidaklah besar, cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya secara sederhana.

Pak Nana adalah sosok lelaki tangguh, begitulah beliau dimataku. Beliau adalah lelaki yang penyayang, penuh tanggung jawab juga seorang hamba yang taat beribadah. Kegigihannya menghidupi keluarga beliau tunjukan dengan tetap bekerja meskipun kemana-mana beliau harus dibantu dengan penopang kayunya. Sebagai sesama jamaah musholla, aku tahu persis ketekunan beribadah beliau.

Satu yang selalu membuatku kagum, hingga menjadikan satu kekuatan yang mendorongku untuk berbuat lebih giat dalam beribadah, adalah ketika setiap kali aku melihat pak Nana mendatangi musholla dengan berjalan tertatih, dibantu penopang kayunya. Kemudian dengan kegigihannya, kulihat beliau berusaha untuk menyempurnakan wudhunya. Bukan perkara mudah untuk beliau bisa membasuh kakinya yang kini tinggal sebelah. Tapi beliau tak pernah menyerah, beliau punya cara sendiri untuk membasuh kakinya dengan bantuan penopang kayunya. Subhanallah, aku selalu berdecak kagum, terharu setiap melihat beliau berwudhu. Meski repot, meski harus bersiap jika terpeleset di lantai yang licin, namun beliu tak pernah menyerah, baginya adalah yang penting bisa sholat, bermunajat kepada Allah dalam keadaan suci.

Tak berhenti rasa haru ini, rasa kagum ini, aku semakin takjub setiap kali melihat pak Nana memasuki mushola dengan cara meloncat-loncat diatas satu kakinya. Bukannya tak ada jamaah yang peduli,tapi beliau lebih senang jika tak merepotkan orang lain. Tanpa bantuan penopang kayunya lagi, beliau memasuki mushola dengan lincah dan tak khawatir terpeleset. Subhanallah, hatiku selalu terharu melihat ini, meskipun ini bukan yang pertama kali, mungkin ratusan bahkan ribuan kali. Dan ketika sampai didalam musholla, pak Nana selalu sholat dengan berdiri, diatas satu kakinya. Subhanallah. Meski kondisinya memberikan keringanan bagi beliau untuk sholat dengan duduk, namun beliau tidak mau menjadi cengeng. Dengan kokoh beliau sholat diatas kaki kanannya. Subhanallah, hati yang mana yang tak tersentuh melihat seperti ini. Begitulah yang kulihat, dan juga jamaah lainnya, sebuah pelajaran berharga kami dapatkan deri pak Nana yang mungkin ia sendiri tak menyadarinya.

Sungguh, kami tiada mencela pak Nana dengan keterbatasannya, bagaimanapun kondisi yang kini beliau hadapi adalah kehendak Allah SWT. Justru kami merasa mendapatkan pelajaran berharga, pelajaran tentang keteguhan hati seorang yang memiliki kekurangan fisik serta ketekunannya beribadah dengan segala keterbatasan fisik yang ada padanya.

Pak Nana, maaf jika aku menulis ini dan berbagi dengan yang lain, sungguh tiada niat hati untuk merendahkanmu, justru aku ingin orang lain mengambil hikmah dan pelajaran darimu tentang nilai keikhlasan yang engkau tunjukan, juga ketekunan beribadah yang engkau jalankan.


5 Nov 2009

Unik dan Menarik



Hari ini aku mendapat sebuah email dari seorang sahabatku. Bukan email istimewa sepertinya, sebab email ini juga ditujukan kepada beberapa orang yang sebagian kukenal dan sebagian lagi tak ku kenal. Email ini berisi gambar-gambar bagaimana cara mengikat tali sepatu yang unik. Gambar-gambar yang bagus, meskipun kurang atau minimal belum bermanfaat buatku, paling tidak untuk saat ini.

Mungkin sahabatku itu tidak tahu atau lupa kalau sudah belasan tahun aku tidak pernah memakai sepatu bertali. Tak satupun aku memiliki sepatu bertali semenjak masih sekolah dulu ( apalagi sekarang sepatu yang kumiliki hanyalah sepasang, hehehe ). Tapi, aku tak ingin mendelete email ini sia-sia, sebab bisa saja aku tak membutuhkannya sekarang, tapi dilain waktu mungkin aku membutuhkannya. Selain itu, mungkin saja ada orang lain yang membutuhkannya. Terima kasih sahabatku, jangan khawatir sebab niat baikmu aku teruskan. Semoga bermanfaat!


Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri