31 Oct 2009

Ingin Naik Haji? Nabung Dulu Yuk!

Sore kemarin, pulang kerja aku tidak langsung ke rumah. Aku mampir dulu ke pasar yang tak jauh dari rumah untuk membeli celengan plastik, pesanan Sabila, putri semata wayangku. Dia memang hanya minta dibelikan satu buah celengan plastik untuk mengganti celengannya yang sudah dibuka kemarin, tapi aku membelikannya tiga buah celengan. Aku memiliki rencana khusus untuknya.

Banyak amat celengannya Bi, buat siapa saja ?” dia heran ketika kuberikan tiga buah celengan warna-warni itu kepadanya. Sesuai dugaan, dia pasti heran mengapa aku membelikannya tiga buah celengan, padahal dia hanya butuh satu.

Buat Bila semua “ jawabku mantap.

Putriku mengamati celengan plastik warna hijau, merah dan kuning itu satu persatu. Bentuknya sama, sebuah gentong berukuran sedang.

Yang satu untuk celengan kebutuhan sekolahmu, satu untuk kebutuhan kalau kita pulang kampung dan yang satunya lagi untuk celengan naik haji “ aku menjelaskan maksudku.

Dia kaget.

Celengan naik haji? Kapan kita bisa naik haji, sampai celengan ini penuh juga belum cukup Bi!” dia tidak percaya dengan rencanaku yang satu ini. Aku hanya tersenyum, aku sudah menduga kalau dia akan protes.

Siapa seorang muslim yang tidak ingin menyempurnakan Islamnya dengan menunaikan ibadah Haji?. Bahkan seorang fakir miskinpun, selama iman masih tertanam dalam dada pasti menginginkan dan mendambakannya. Hanya saja, ibadah haji memanglah berbeda dengan ibadah lainnya. Tidak cukup hanya beragama Islam, tapi juga harus memiliki kemampuan, baik kesehatan maupun biaya untuk perjalanan dan untuk keluarga yang ditinggalkan.

Awali sebuah ibadah dengan niat, maka ibadahmu akan diterima dan Allah akan memberikan kemudahan bagimu. Sejauh ini, menunaikan ibadah haji adalah keinginan terbesar kami, meski masih dalam jangka panjang. Namun niat itu sudah kami tanamkan sejak dini kepada putri kami.

Niat untuk sebuah ibadah ataupun kebaikan, meski belum dijalankan memanglah sudah dicatat malaikat sebagai sebuah amalan. Namun menjadi sempurna ketika dijalankan sesuai dengan aturan. Banyak diantara kita, yang kadang terjebak dan berhenti hanya sampai batas niat. Tak ada usaha untuk mewujudkannya, termasuk dalam hal pergi haji. Sering kita berniat, tapi tidak melakukan apa-apa. Kita tidak memiliki harta yang cukup tapi kita tidak juga menabung jauh-jauh hari. Kita terkadang terlalu percaya diri, menyerahkan kepada Allah tanpa usaha terlebih dahulu. Kita tahu untuk menunaikan ibadah haji kita memerlukan biaya yang cukup besar, tapi kita tidak memilikinya dan tidak pula menabungnya.

Kami tidak ingin niat kami menunaikan ibadah haji menjadi sebuah keinginan kosong belaka. Bukan tidak yakin dengan kemurahan Allah, tapi terus terang kami tidak percaya diri jika hanya menyerahkan begitu saja pada Allah sementara kami tak melakukan usaha apa-apa. Dari situlah kemudian aku mulai menanamkan kemauan menabung kepada putri kami. Memang, masuk akal jika kemudian dia meragukan apakah isi celengan kecilnya itu cukup untuk naik haji, harus sampai kapan dia mengisinya, apalagi sisa uang sakunya tidak seberapa jumlahnya. Bukan cukup tidaknya atau kapan waktunya sampai celengan itu mencukupi, tapi paling tidak dengan menabung sejak dini, kita sudah berada didepan beberapa langkah dibanding mereka yang baru sebatas berniat tanpa melakukan apapun untuk mewujudkannya.

Alhamdulillah, putri semata wayangku bisa memahami maksudku. Yang kulihat kemudian dia mengambil kertas, pulpen dan lem. Dipotongnya kertas itu menjadi tiga bagian kecil, ditulisnya ‘sekolah’, ‘pulang kampung’ dan ‘haji’ pada masing-masing kertas dan menempelkannya padi tiga celengan di depannya. Aku tersenyum lega melihat dia melakukannya dengan semangat.

Ya Allah, dengan kekayaan-Mu, kemurahan-Mu dan kuasa-Mu, izinkan kami ziarah ke Mekkah-Madinah, bersujud di depan Kabah dan bersimpuh di Arafah. Mudahkanlah perkara kami, lancarkanlah urusan kami dan perbanyak serta berkahilah rizki kami agar kami bisa mewujudkan harapan dan keinginan kami menunaikan ibadah haji. Amin, amin ya Allah ya robbal alamin.

24 Oct 2009

Karena Aku Memang Sudah Berkeluarga

Aku baru saja masuk kantor usai sholat Zhuhur di Masjid ketika hp di sakuku berdering. Kuperiksa hp ku, ternyata dari salah seorang teman sekolahku dulu , sebut saja namanya Heru. Saat itu dia sedang berada di warnet, da kebetulan menemukan blog ku hingga kemudian ingin ngobrol denganku. Cukup lama kami tak bertemu, mungkin hampir setahun. Ya, benar hampir setahun. Aku ingat pertemuan terakhirku dengannya, saat menghadiri undangan pernikahan Andri bulan Haji tahun lalu.

Setelah saling menanyakan kabar, kami mulai ngobrol soal blog. Kebetulan kami sama-sama memiliki blog, bedanya dia sudah mulai lebih dulu sedang aku baru belajar bahkan belum sempat memberi tahu dia perihal blogku. Beberapa masukan dan sedikit kritikan dengan lancar dia berikan, dan semuanya aku dengarkan dengan baik. Maklum, dibanding aku, dia lebih dulu mengenal dunia maya, dan tentunya dunia blog seperti yang sedang kami bicarakan.

Dari sekian saran dan masukan yang dia berikan, ada satu yang aku tak sejalan. Dia mengkritik soal profil dan headshot ku yang menurutnya terlalu polos. Menurutnya, profil dan photoku, selain kurang menguntungkan, menurutnya juga membahayakan.

Memang mestinya gimana ?” aku belum pahan dengan yang dia maksudkan.

Ya, di dunia maya tidaklah semuanya harus di isi dengan jujur. Status perkawiannmu misalnya, kamu kan bisa mencantumkan status lajang di situ. Parahnya kamu malah menulis polos banget, sudah gitu kamu perparah lagi dengan photo kamu bersama anakmu” jawabnya bersemangat.

Salah dimananya, kan aku menulis apa adanya. Aku sudah mempunyai istri, dan satu orang anak. Photo yang kupasangpun photo aku dan anakku, masa iya aku pasang photomu ? “ jawabku sambil tertawa, mencoba membuat suasana lebih santai.

Panjang lebar temanku ini kemudian bercerita tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi melalui dunia maya. Aku pikir dia bakal menceritakan kejadian-kejadian buruk yang berawal dari dunia internet. Tapi ternyata tebakanku salah, dia tidak menasihatiku dengan kemungkinan buruk dari sebuah blog, tapi menurutku malah dia yang berniat tidak baik melalui dunia maya ini.

Kalau kita mengaku lajang, akan banyak teman yang kita dapatkan. Dan, kita bisa lebih leluasa mencari kenalan “ kali ini dia yang tertawa.

Astaghfirulloh ………..! “ reflek aku menggelengkan kepala dan mengusap dada, seakan-akan temanku sedang duduk tepat di depanku, melihatku tak setuju dengan semua argumentasinya. Rupanya sahabatku yang satu ini masih belum berubah sifatnya. Dari dulu dia memang kukenal sebagai lelaki yang luas wawasan dan pergaulan, namun sayang seringkali kuanggap salah mengartikan sebuah pertemanan.

Aku baru paham, mengapa dia mengomentari profil juga photo yang kupasang diblogku. Rupanya pilihanku pada sebuah photo diriku bersama putri tunggalku yang menjadi penyebabnya. Dan ini berbeda prinsip denganku. Aku memang pernah membaca beberapa kejadian negatif yang terjadi berawal dari photo yang dipajang di internet, tapi toh tidak semuanya, tergantung materi foto dan juga tujuan publikasinya. Dan kalaupun saya memajang photo aku dengan anak atau istri, aku merasa tidak berlebihan karena memang aku sudah berkeluarga, memiliki istri dan seorang anak.

Soal teman atau sahabat, mungkin saja ada yang menjaga jarak dengan kita yang sudah berkeluarga, dan bagiku itu tidak masalah. Sebuah persahabatan ataupun sekedar pertemanan, menurutku tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan. Prinsipku, sebisa mungkin aku berlaku jujur dan apa adanya, tentang bagaimana pendapat orang lain, apakah mereka mau berteman denganku atau justru menghindar lantaran status perkawinan dianggap sebagai penghalang, jelas aku tak bisa memaksakan dan tak mau menyalahkan. Menurutku, mudah saja menebak jenis pertemanan atau persahabatan seperti apa yang diinginkan, dan untuk mendapatkan teman tak perlu aku harus memalsukan status, mengaku masih bujangan dengan memajang photo jaman dulu yang masih imut atau bahkan memakai gambar orang lain. Bagiku melakukan semua itu adalah sebuah penghianatan terhadap keluarga, terhadap istri dan anak. Insya Allah, aku tak mungkin melakukan hal itu apalagi hanya untuk hal kecil seperti ini.

Halo…” teriakan sahabatku ini membuyarkan lamunanku.

Satu lagi, nama yang kau pakai itu lho, keliatannya kamu tuh udah tua banget! “ ia masih terus meledekku. Kudengar dia terpingkal-pingkal di seberang sana.

Aku hanya tersenyum, aku sama sekali tidak marah, tersinggungpun tidak. Aku tahu persis sifat humor dan kebiasaan sahabatku yang kini sudah memiliki dua orang anak ini. Kami memang akrab, sewaktu sekolah kami teman dekat. Kami memang terlihat kompak, tapi sebenarnya tidak dalam segala hal. Seperti contohnya masalah di dunia maya, dia lebih suka mencitrakan dirinya sebagai lelaki lajang, sedang aku dengan lugunya mengaku sebagai seorang suami yang sudah mempunyai satu anak. Tak apalah itu urusan dia, aku tak menuduhnya melakukan penghianatan, tapi bagiku, keluarga, istri dan anakku adalah salah satu anugerah terindah yang telah Allah berikan kepadaku. Mereka keluargaku, mereka amanah bagiku. Mereka kini bagian dari hidupku, tak mungkin aku menganggap mereka tidak ada hanya untuk kepentinganku. Aku bangga mengakui mereka, dan aku akan berusaha untuk tidak melakukan penghianatan sekecil apapun dan dalam bentuk bagaimanapun terhadap mereka.

22 Oct 2009

Senangnya Bepergian Bersamanya

Lelaki yang ingin kuceritakan ini usianya baru 31 tahun, seusia denganku. Sebut saja dia Dimas, meski bukan itu nama yang diberikan orang tuanya saat dia lahir dulu. Dia sudah berumah tangga dan dikaruniai seorang anak, sama juga sepertiku. Kami berbeda tempat kerja dan tempat tinggal. Dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi sedang aku di perusahaan yang memproduksi kabel. Dia tinggal di RT 04 sedang aku di RT 02, sama-sama di RW 06. Pertemuan pertama kali terjadi di Mushola Baiturrohim saat mengikuti acara Yasiinan malam Jumat, empat tahun yang lalu. Semenjak itu, hampir setiap hari kami bertemu, dan terkadang kami malah pergi bersama untuk suatu urusan.

Dimas bekerja sebagai operator produksi di perusahaan farmasi. Dia hanya lulusan SLTA, sama sepertiku. Dimas adalah sosok seorang sahabat yang sederhana, sopan dan sangat menghargai persahabatan. Meski lulusan sekolah umum, namun Dimas memiliki pengetahuan agama yang luas. Sempat aku mengira dia alumni sebuah pondok pesantren. Setiap aku bertanya soal agama yang belum kupahami, selalu saja dia bisa menjawabnya dengan benar dan lancar.

Dimas memiliki hobi membaca dan rajin mengaji. Koleksi buku-buku Islaminya lumayan banyak, tak seperti diriku. Setiap hari, bada’ sholat Maghrib dia mengaji sampai waktu Isya tiba. Dia masih belajar mengaji, layaknya sepertiku padahal kutahu dia sudah berkali-kali khatam Al Quran. Setiap malam Rabu dia hampir tak pernah absen mengikuti pengajian di rumah Haji Nurdin. Juga setiap Minggu, pagi selama dia tidak masuk kerja dia selalu datang di pengajian yang diadakan di sebuah pondok pesantren di Pasar Kemis. Singkatnya, Dimas adalah sosok seorang hamba yang taat beribadah. Setiap aku datang ke mushola untuk sholat berjamaah, dia selalu sudah ada di sana. Bahkan, saat aku tak sholat berjamaah di Mushola karena hujan misalnya, aku yakin Dimas tetap sholat berjamaah di sana.

Banyak kelebihan yang ada pada diri Dimas yang juga ada pada sahabat-sahabatku yang lain, tapi rasanya ada satu keistimewaan yang hanya kutemui pada diri sahabatku yang memelihara jenggotnya dengan rapi ini. Aku senang jika bepergian bersama dengannya. Dia orangnya penuh perhitungan dan pertimbangan.

Perhitungan yang kumaksud di sini bukan perhitungan dalam arti pelit, sebab jika bepergian dengannya dia tak segan-segan mengeluarkan uang untuk ongkos dan jajan padahal aku yang mengajaknya jalan. Pertimbangan yang kumaksudkan di sini bukan berarti orangnya ragu-ragu dan cenderung tidak tegas. Sebelum memutuskan untuk pergi, dia akan mempertimbangkan, manfaat-mudharatnya, baik buruknya dan kapan waktunya yang tepat.

Ciri khas dia adalah jika akan bepergian dia lebih senang dengan menyebut sebelum atau sesudah sholat. Jarang sekali dia mengatakan kita berangkat jam sekian atau jam sekian, kecuali untuk keperluan atau acara yang sifatnya resmi dan tak bisa dirubah waktunya. Selagi hanya acara biasa apalagi tidak melibatkan banyak orang, dia selalu memberikan pilihan kita sholat di sini atau di tempat tujuan. Dia paling tidak suka jika waktu sholat tiba kami masih dalam perjalanan. Baginya sholat tepat waktu secara berjamaah harus diutamakan, baik di tempat asal maupun tempat tujuan. Jika dalam perjalanan, belum tentu bisa sholat berjamaah tepat waktunya, disamping tentunya menjadi kurang khusyuk.

Itu keistimewaan pertama, yang kedua jika bepergian bersamanya, Dimas selalu bisa menjaga pandangan, ucapan dan juga tingkah lakunya. Lirik sana sini, ngomentarin apalagi meledek cewek-cewek di jalan maupun di mall bukanlah tipe dia. Selama aku bersamanya belum pernah sekalipun dia menunjukan sikap seperti itu. Dimas adalah tipe suami yang tak perlu dicurigai oleh istri, dia bisa menjaga diri dan hati jika sedang berada diluar rumah.

Keistimewaan selanjutnya adalah kemanapun kami pergi, tempat yang paling dicarinya adalah keberadaan mushola atau masjid. Bepergian bersamanya tak perlu khawatir mencari masjid atau musholla, karena tanpa diminta dia akan menemukan dengan fillingnya yang tajam, aku tinggal mengekor dibelakangnya.

Pernah satu kali kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta. Itu adalah kunjungan kami yang pertama. Ketika masuk waktu zhuhur, spontan dia memberikan kode agar aku menunda memilih-milih barang dulu. Seakan sudah hafal dengan daerah situ, dengan santainya dia berjalan. Aku sempat bingung dan bertanya-tanya dalam hati, sampai akhirnya pertanyaanku terjawab dengan sendirinya ketika kami sampai di mushola yang tersedia di lantai dasar. Yang aku bingungkan, bagaimana dia tahu padahal kami sama-sama baru sekali ke tempat ini. Dengan santai dia mengatakan bahwa sejak masuk ke mall ini dengan diam-diam dia mengamati papan petunjuk yang menunjukan arah musholla. Dan dia berhasil menemukan sebuah papan kecil bertanda panah bertuliskan mushola di lantai dasar pada saat aku asyik melihat-lihat barang-barang yang dipajang di etalase toko. Astaghfirulloh! Sahabatku kau telah sukses membuatku malu tanpa pernah kau bermaksud begitu.

Bercerita tentang Dimas rasanya seakan-akan hanya sisi kebaikannya yang bisa aku berikan. Bukan tanpa cacat dan cela, bagaimanapun dia juga manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan dibalik semua kelebihan dan keistimewaannya. Namun, sejauh aku mengenalnya, rasanya lebih banyak kebaikan dan kelebihan yang kutemukan, paling tidak dibandingkan denganku. Kalaupun ada kekurangannya, itu masih terbilang wajar, bahkan aku sendiri seperti itu, lebih serign malah.

Sahabatku, aku tak berharap kau berubah, merasa tinggi hati jika kau membaca tulisan ini, tapi aku berharap bahwa orang lain bisa mengambil contoh dari sisi kebaikanmu terutama aku yang meski sekian lama mengenalmu tetap saja belum bisa mengikuti jejakmu apalagi menjadi sepertimu.



21 Oct 2009

Siapa Sebenarnya Presiden Yang Kita Inginkan

Selasa, 20 Oktober 2009 sekitar pukul 10.00 WIB pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono akhirnya dilantik menjadi presiden RI untuk periode 2009 – 2014. Selamat! Selamat! Sebagai warga negara saya hanya bisa mengucapkan itu, disamping tentunya berharap pada pasangan ini bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, baik dalam bidang ekonomi, hukum dan keamanan, pendidikan dan juga moral bangsa Indonesia tentunya.

Sepertinya harapan semacam ini tidaklah menjadi harapan seluruh bangsa Indonesia, terbukti dengan banyaknya aksi demonstrasi di berbagai kota saat pelantikan berlangsung. Berbagai elemen masyarakat, baik dari lingkungan politik maupun mahasiswa melakukan aksi penolakan terhadap pelantikan presiden dan wakil presiden yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia ini. Banyak alasan yang mereka bawa, mengapa mereka melakukan aksi penolakan terhadap pelantikan presiden ini. Paling menonjol mungkin karena pasangan ini dianggap atau dikhawatirkan pro dengan neo liberalisme sehingga kebijakannya tak lagi berpihak kepada rakyat. Satu yang mungkin berbeda pandangan denganku, melihat maraknya demonstrasi yang menolak pelantikan tersebut aku jadi bertanya dalam hati, sebenarnya presiden yang seperti apa yang diinginkan oleh bangsa ini. Tidakkah presiden dan wakil presiden terpilih ini cukup mewakili apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia yang majemuk. Kalau mencari yang sempurna, aku rasa mustahil. Bahkan siapapun yang menjadi presiden misalkan bukan SBY, aku rasa aksi demonstarasi masih mungkin terjadi.

Aku kemudian teringat dengan pelantikan presiden Barack Obama di awal tahun 2009 lalu. Berbeda dengan pelantikan presiden kita kemarin, pelantikan presiden Amerika itu meski ada yang kontra, namun kenyataannya disambut dengan meriah oleh sebagian besar rakyatnya. Bahkan, anehnya warga negara Indonesia pun ada yang latah, ikut-ikutan menyambutnya dengan meriah. Memang, kalau kita menolak jelas bukan pada tempatnya, karena kita bukan warganya, tapi mengapa kemudian sebagian kita ikut-ikutan gembira? Masih ingat, berbagai acara diselenggarakan di tempat-tempat keramaian mewah, bahkan beberapa stasiun televisi kita turut menyiarkan acara pelantikan itu secara langsung. Ini menunjukan besarnya minat rakyat Indonesia terhadap pelantikan seorang presiden yang bisa dibilang bukan siapa-siapa kita.

Siapakah dan seperti apakah presiden yang kita inginkan sebenarnya?

Apakah lantaran Amerika dipandang sebagai sebuah negara adidaya, maka sang presiden barunya dianggap akan membawa perubahan signifikan bagi kita. Nggak segitu-gitunya kali! Itu mungkin, tapi belum pasti. Beda dengan presiden kita, sudah bisa dipastikan setiap kebijakannya akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan bangsa dan negara kita. Ataukah lantaran Barack Obama semasa kecilnya pernah tinggal di Indonesia, maka sudah dipastikan kebijakannya juga akan menguntungkan Indonesia. Ah, lebay rasanya!

Terlepas dari pro dan kontra terhadap pelantikan pasangan SBY dan Boediono sebagai presiden RI periode 2009 – 2014 kemarin, saya tetap berharap dan berpikir positif. Entahlah, mungkin karena keawamanku terhadap politik, tapi yang jelas berpolitik adalah sebuah pilihan, dan aku lebih memilih tidak menyentuhnya, apalagi bersitegang karenanya, bukan bidangku. Peace man!

Foto-foto diambil dari Liputan6.com

17 Oct 2009

Kemana Rasa Syukur Mereka?

Ahmad baru tiga hari bekerja di perusahaan yang memproduksi berbagai macam kabel di kawasan industri Tangerang. Sebagai karyawan baru, tentu saja Ahmad harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya, termasuk saat istirahat dan makan siang. Meski waktu istirahat sudah tiba dan catering untuk makan siang sudah disiapkan, Ahmad tetap menunggu rekan-rekan sekantornya istirahat dan makan siang bersama.

Nak Ahmad, silahkan nak Ahmad makan terlebih dahulu “ Pak Wawan yang meja kerjanya bersebelahan dengan Ahmad menyuruh Ahmad untuk makan siang lebih dulu karena masih ada sedikit pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Saya nunggu Bapak dan yang lainnya saja “ jawab Ahmad sopan.

Nak Ahmad mulai saja dulu, saya nanti menyusul. Ada laporan yang harus segera saya sampaikan kepada Pak Direktur “ pak Wawan tetap bersikeras agar Ahmad makan lebih dahulu, dia tahu kalau Ahmad sudah merasa lapar, sedang dia harus segera menyelesaikan laporan untuk bahan rapat usai istirahat nanti.

Ahmad masih diam di depan meja kerjanya. Dia tetap merasa sungkan jika harus makan siang terlebih dahulu sementara rekan-rekan sekantornya masih duduk di depan komputer masing-masing.

Sudahlah Mad, kamu makan siang dulu nanti kami menyusul“ Pak Hadi yang tahu kecanggungan Ahmad mencoba meyakinkan Ahmad agar makan siang terlebih dahulu.

Merasa tidak enak jika tidak menuruti saran mereka, ditambah karena rasa lapar yang memang sudah ditahannnya sejak tadi, akhirnya Ahmad mengambil satu rantang catering yang sudah disediakan pihak perusahaan. Di perusahaan ini memang untuk makan karyawannya, pihak manajemen memesan makanan dari catering diluar perusahaan. Tidak ada kantin perusahaan, makanan akan diantar ke kantor sebelum waktu istirahat tiba dan karyawan makan ditempat kerja masing-masing.

Setelah berbasa-basi, Ahmad pun menikmati makan siangnya dengan lahap. Tanpa ia sadari, pak Hadi yang mejanya berada tepat di depan meja Ahmad memperhatikan Ahmad yang begitu menikmati makan siangnya.

Kalau Ahmad mau, ambil saja jatah makan siang pak Ricky, Wendi atau Anto.. Mereka siang ini tidak makan dikantor, mereka sudah keluar kantor sejak catering datang “ ucapan pak Hadi mengagetkan Ahmad yang sedang menikmati makan siangnya.

Ahmad menghentikan suapannya,
Terima kasih pak, ini sudah cukup. Maaf, kalau boleh tahu mengapa mereka tidak makan siang di kantor Pak?

Mereka mana mau makan siang dengan sayur lodeh, telor ceplok dan bakwan seperti itu

Mereka tidak selera dengan menu seperti ini?”

Bukan lagi tidak selera, tapi mereka tidak doyan. Mereka selalu memilih makan di luar setiap kali ketemu menu seperti ini. Menurut mereka, makanan seperti ini hanya cocok untuk operator, bukan staff seperti mereka “ jawab pak Hadi tanpa bermaksud berghibah, tapi memang begitu kenyataannya.

Astaghfirulloh, apa yang baru saja dikatakan pak Hadi benar-benar membuat Ahmad terkejut. Hampir saja Ahmad tersedak, beruntung dia bisa menutupi kekagetannya. Tanpa bertanya lagi, Ahmad kemudian melanjutkan makan siangnya yang hanya tinggal sepertiganya. Tapi kali ini Ahmad tak lagi selahap sebelumnya. Ia terus memikirkan kata-kata pak Hadi soal ketiga rekan kerjanya. Berkali-kali ia beristighfar. Benarkah mereka memilih tidak makan siang di kantor hanya lantaran menunya yang menurut mereka tak pantas untuk pekerja kantoran? Diamatinya makanan didepannya, ia mencoba memastikan lagi dan tak ada yang salah, sepertinya semua makanan itu dimasak dengan bersih, rasanyapun lezat.

Kalau sekedar tidak selera, masih masih bisa ia maklumi. Ahmad sendiri sama sekali tidak berselera dengan masakan jengkol, meskipun banyak orang bilang kelezatannya sebanding dengan daging, paling tidak begitu pendapat mereka yang menyukai jenkol. Tapi ini bukan masalah selera, mereka benar-benar tak memandang sebelah matapun pada makanan itu. Astaghfirulloh, tidak sadarkah mereka bahwa apa yang tersaji untuk makan siang kali ini adalah juga rizki dari Allah. Tidak berpikirkah mereka bahwa meski hanya nasi, sayur lodeh, telor ceplok, sambal dan bakwan, tidak semua orang bisa menjumpainya siang itu, bahkan mungkin banyak orang yang tidak menjumpai makanan apapun sejak pagi tadi atau malah sejak sore kemarin.

Ahmad hampir menyelesaikan makannya, ketika dilihatnya pak Wawan dan pak Hadi sudah mulai makan siangnya. Dan di atas meja,di sudut kantor barunya itu, dia melihat tiga rantang katering yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya tanpa disentuh sedikitpun. Mubazir! Ahmad membatin, ia tak tahu harus berbuat apa terhadap ketiga rantang makanan itu. Dia makan jelas tidak mungkin, akan ia tawarkan kepada karyawan lain ia tak merasa berhak.

Akhirnya Ahmad berpamitan kepada pak Wawan dan pak Hadi yang masih lahap dengan makan siangnya untuk sholat zuhur berjamaah di masjid perusahaan. Sepanjang jalan menuju masjid, Ahmad masih terus memikirkan nasib ketiga rantang yang diacuhkan para pemiliknya. Kemana rasa syukur mereka, Ahmad membatin.

Catatan: semua nama tokoh bukanlah nama sebenarnya.

14 Oct 2009

Tiadakah Maaf Bagiku?

Malam itu kami kedatangan tamu. Seorang lelaki berumur 31 tahun yang datang dengan wajah muram, menggambarkan sebuah kesedihan mendalam yang sepertinya hendak ia bagikan dengan kami. Kedatangan laki-laki ini tidaklah asing bagi kami, sebelumnya telah beberapa kali dia bertandang ke tempat kami, menceritakan segala keluh kesahnya, kesedihannya dengan kami. Dan kamipun tidak keberatan jika itu dianggap bisa meringankan beban pikirannya.

Dia belum bisa memaafkanku. Dia menepati omongannya untuk tidak memaafkan aku sampai tiga tahun lamanya “ dia memulai ceritanya setelah berbasa-basi sebentar dan segelas teh disuguhkan istriku yang kemudian segera masuk lagi ke dalam menemani putri semata wayang kami belajar.

Dia, kakak iparmu maksudmu? “ aku mencoba menerka seseorang yang lelaki ini maksudkan.

Benar! Sampai lebaran kemarin, dia masih belum mau memaafkanku. Aku sudah mencoba menelponnya berkali-kali tapi tidak diangkatnya. Bahkan smsku pun tak dibalasnya. Aku belum sempat bersilaturahmi langsung ke rumahnya. Aku masih ingat kedatanganku sebelum puasa yang tetap tak disambutnya, bahkan sekedar bersalamanpun aku lihat dia sangat terpaksa “ awalnya lelaki ini bercerita dengan cukup lancar, namun perlahan suaranya terbata bahkan terakhir dia tak bisa meneruskan ceritanya. Kulihat dia tertunduk, menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ada isakan terdengar darinya. Dari guncangan pundaknya aku bisa mengerti beratnya kesedihan yang sedang lelaki ini rasakan. Kesedihan dan penyesalan atas permusuhannya dengan kakak iparnya, atau lebih tepatnya lelaki ini dimusuhi sang kakak ipar.

Semua berawal dari kejadian dua tahun yang lalu. Lelaki ini, satu-satunya saudara yang bisa dijadikan tempat curhat, adalah tempat bagi kakak nomor empatnya menumpahkan segala duka dan laranya akibat kemelut rumah tangga yang sedang dihadapinya. Sang suami, yang berarti kakak ipar dari lelaki ini tengah tergoda dengan perempuan lain, padahal rumah tangga mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Meski bukti dan fakta sudah ada, namun sang suami tetap tidak mau mengakui perbuatannya, penghianatan terhadap keluarga dan kesetiaan istrinya.

Lelaki ini, meski dia anak bungsu dari enam bersaudara namun pikirannya diakui saudaranya lebih sering dewasa dibanding usianya. Lelaki ini yang selama ini bisa merubah tangisan sang kakak setiap kali menelpon menjadi sebuah senyuman, paling tidak ada ketegaran dan ketabahan baru. Lelaki ini pula yang selalu menasihati sang kakak untuk senantiasa bersabar, bersikap hormat dan santun kepada sang suami, bagaimanapun persoalan yang sedang dihadapi, tetaplah sang suami adalah kepala rumah tangga yang harus dihormati, dia seroang istri yang harus berbakti kepada suami. Lelaki ini pula yang selalu berpesan agar sang kakak memilih jalan yang lembut dan perlahan untuk mengingatkan suaminya agar kembali menyadari kekhilafannya, menyudahi sikap kerasnya, menghilangkan ucapan-ucapan kasarnya, kembali seperti semula, seorang lelaki yang penuh kasih sayang dan perhatian kepada keluarga juga kepada kakak dan adik-adiknya. Lelaki ini pula yang melarang keras sang kakak yang berniat melabrak perempuan yang dianggapnya pengacau rumah tangganya. Menurutnya tak ada guna, hanya akan memperpanjang masalah dan menambah permusuhan. Lebih baik benahi dari dalam, bagaimanapun sang suami lebih dia kenal dan bisa diajak berkomunikasi dibanding sang perempuan yang entah siapa dan berada di mana.

Batas kesabaran manusia ada batasnya. Begitu pula dengan lelaki ini dan juga kakaknya. Satu malam, usai pulang dari yasiinan malam Jum’at di mushola, lelaki ini menerima telepon dari sang kakak. Tak seperti biasanya, jika yang sudah-sudah sang kakak paling hanya terisak, kali ini tangisnya tak terbendung lagi. Beratnya beban perasaan tak mampu ditanggungnya sendiri lagi. Selama ini sang kakak memang hanya berbagi duka dengan lelaki ini, itupun hanya melalui telepon karena jarak mereka yang berjauhan, terpisah kota Jakarta. Begitupun dengan lelaki ini, dia yang selama ini mencoba bersabar, menahan diri untuk bersikap seolah tidak tahu dengn kemelut rumah tangga kakaknya terhadap sang kakak ipar, kali ini terpancing emosinya. Lelaki ini tak lagi memberikan nasihat-nasihat sabarnya, bahkan dia kini terpancing amarah dan meminta bicara langsung dengan sang kakak ipar. Hal yang tak pernah dilakukannya semenjak keluarga ini mengalmi guncangan.

Setelah tersambung dengn sang kakak ipar, lelaki ini benar-benar menumpahkan segala kekesalan yang selama ini dicoba dipendamnya, berusaha dia maklumi bahwa sebuah rumah tangga tak lepas dari cobaan. Entah datang setan dari mana, lelaki ini tak mampu lagi mengendalikan kata-kata. Cercaan, cacian dan makian mengalir begitu saja dari mulutnya, yang ditanggapi dengan tak kalah sengitnya oleh sang kakak ipar yang tak terima merasa diperlakukan tidak dengan sopan oleh lelaki yang jauh lebih muda, hanya seorang adik ipar lagi!

Singkatnya, pertengkaran hebat benar-benar terjadi melalui telepon malam itu. Astaghfirulloh! Jelas, lelaki ini tidak terima jika sang kakak diperlakukan semau sendiri oleh sang suami, dikhianati cintanya, dikhianati kesetiaannya dan dihancurkan hati dan perasaannya. Bagaimanapun lelaki ini tak rela jika sang kakak harus berurai air mata siang dan malam, apalagi berbulan lamanya. Lelaki ini berusaha untuk membela sang kakak, menjaga harga diri sang kakak yang diremehkan oleh suaminya. Beruntung pertengkaran ini tak berlangsung lama. Lelaki ini lebih dulu bisa mengendalikan emosinya, dia segera meminta maaf. Tidak mudah memang,tapi akhirnya sang kakak iparpun emosinya mereda dan memaafkan lelaki ini, meskipun dia sendiri tidak meminta maaf dan tak mau mengakui jika disebut telah menghianati cinta dan kesetiaan istri dan kelurganya.

Pertengkaran sengit, kata-kata kasar yang tak seharusnya, keluar untuk pertama kalinya, bahkan kepada siapapun kata-kata seperti itu tak pernah keluar dari bibir lelaki ini. Penyesalan mendalam yang kemudian tersisa. Berhari-hari, siang malam lelaki ini menyesali kekhilafannya, beristigfar dia menyesali berharap Allah akan mengampuni. Namun, berita menyesakkan dada harus diterima oleh lelaki ini. Kakaknya yang nomor dua memberi tahu kalau sang kakak ipar yang beberapa waktu lalu berseteru dengannya, sebenarnya tidak tulus memaafkannya, bahkan bersumpah tidak akan memaafkannya meski sampai tiga tahun lamanya. Astagfirulloh! Sebuah rumah serasa ambruk menimpanya yang sedang terlelap dalam tidur, menyakitkan dan membunuhnya secara perlahan. Tidak berhenti sampai di situ, bahkan sang kakak ipar melarang istri yang adalah kakak kandung lelaki ini untuk berhubungan dengannya, melalui telepon sekalipun. Hari-hari yang berat, penuh penyesalan dan kesedihan mendalam.

Begitulah, hari-hari lelaki ini kemudian dipenuhi dengan penyesalan. Hatinya perih, niatnya untuk memperbaiki kondisi rumah tangga kakaknya ternyata telah disambut dengan permusuhan oleh sang kakak ipar. Lelaki ini juga menyadari, jika dirinyapun bersalah. Bersalah karena telah berlaku tidak sopan, bersalah karena telah terbawa emosi hinnga memicu pertengkaran besar malam itu. Hanya kepadakulah lelaki ini bercerita. Menurutnya, meski tak ada saran ataupun solusi dariku, baginya itu sudah meringankan beban pikirannya.

Berbagai usaha terus dilakukan lelaki ini untuk memperbaiki hubungannya dengan sang kakak ipar. Jika dengan kakak kandung, hubungan mereka tetap baik saja, malah saring memberikan dukungan. Lelaki ini meminta sang kakak untuk mematuhi larangan sang suami menelpon dirinya, tapi jika ada hal yang perlu disampaikan dia bisa menyampaikannya lewat kakaknya yang lain, sehingga lelaki ini bisa mengetehui kabar sang kakak tanpa sang kakak melanggar larangan sang suami.

Dan sampai hari ini, meski lebih dari empat kali lelaki ini mencoba mendatangi keluarga sang kakak, berharap hubungannya dangan kekak ipar bisa diperbaiki, kenyataannya masih jauh api dari panggang. Bahkan setiap kali lelaki ini datang, setiap kali itu pula ia sama sekali tidak dianggap, tak ditegur apalagi diajak bicara. Kalaupun bersalaman, ia bisa merasakan sebuah keterpaksaan dari kakak ipar. Tapi lelaki ini tidaklah menyerah, ia ingin membuktikan itikad baiknya, ia ingin memperbaiki kesalahannya meski bisa dibilang tak semua kesalahan itu ada padanya. Satu yang membuat lelaki ini sedikit lega, tak lama setelah pertengkarannya dengan kakak ipar, titik terang dari carut marut rumah tangga sang kakak mulai muncul. Kakak ipar mulai kembali seperti semula, perlahan kepribadian aslinya kembali, dan meski belum sepenuhnya, tapi dia mulai sadar dan menjaga jarak dengan perempuan yang pernah mencoba merebut kedamaian hatinya dari keluarganya. Bahkan kini, anak keempat telah terlahir dari keluarga ini. Sejak kelahiran si kecil ini, keluarga ini seolah kembali seperti sedia kala, rukun dan tak pernah lagi terbersit kabar adanya perempuan lain. Lelaki ini bahagia dengan perkembangan keluarga sang kakak. Biarlah tak mengapa, ia akan tetap berusaha meminta maaf, meski sang kakak tak memaafkan dan tak mau meminta maaf. Biarlah semua beban batin ini dianggapnya sebagai penebus kesalahannya.

Benarkah kesalahanku ini tidak pantas untuk dimaafkan ?” lelaki ini bertanya dengan suara parau, matanya kulihat masih membasah, nafasnya terdengar berat.

Saudaraku, tiada dosa dan salah yang tak termaafkan, selama kita mau memperbaikinya. Allah saja Maha Memaafkan, tidak sepantasnya kita hambanya tidak memaafkan kesalahan sesama, apalagi kalian adalah saudara. Saya yakin kakak iparmu sudah memaafkanmu. Kembali rukun rumah tangganya adalah hasil dari semua usaha kakakmu yang tentunya juga ada jasamu di sana. Saya rasa, hanya soal waktu, mungkin kakak iparmu masih merasa gengsi atau malu dengan kesalahannya sendiri. Dia bukan tidak memaafkanmu, tapi dia menjaga jarak darimu. Dia butuh waktu untuk menata kembali sikapnya. Sudahlah, jangan turuti perasaan, apalagi prasaan kita seringkali berlebihan. Teruslah berusaha untuk memperbaiki hubungan, jangan sampai ada rasa dendam dan mohonlah kepada Allah agar kamu diberikan kesabaran, agar kakak iparmu diberikan kesadaran dan agar keluarga kakakmu diberikan kerukunan,kebahagiaan dan dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah”.

Terima kasih, Insya Allah saya sama sekali tidak dendam. Saya akan terus berusaha mencoba memperbaiki silataurahmi ini, saya akan menebus kesalahan saya. Sekali lagi terima kasih, hati saya tentram sekarang “ suara lelaki ini terdengar lebih ringan. Raut mukanya tak lagi semuram ketika dia datang. Sinar matanya tak lagi redup, ada secercah harapan kembali menyapanya. Lelaki ini kemudian berpamitan pulang, ia tetap menolak dengan halus tawaran makan malam istriku.

Seperginya lelaki ini, aku masih membayangkan betapa berat beban lelaki muda ini. Di usianya yang masih terbilang muda ini, berbagai masalah pernah ia hadapi, meskipun bukan masalahnya sendiri, tapi ketika orang membagi dengannya,ia tak mampu menolaknya. Ya Allah, berikan saudaraku ini kesabaran dan juga kesadaran, lindungilah ia, bimbinglah ia dan arahkan ia. Amin ya robbal alamin…

13 Oct 2009

Sebuah Ide Murahan

Kemarin sore kami berempat ( aku, kakak dan adik ipar serta seorang tetanggaku ) membezuk salah satu tetangga yang sedang dirawat di rumah sakit sejak dua hari lalu karena sakit cacar air. Alhamdulillah, sore itu kondisinya sudah membaik. Cacar air yang memenuhi wajah dan hampir seluruh badannya sudah pada pecah, bahkan banyak diantaranya yang sudah mulai mengering.

Pak Yudi, tetanggaku ini dirawat di ruang isolasi bersama satu orang pasien lainnya. Dalam ruang itu sebenarnya tersedia tiga tempat tidur, tapi hanya dua yang terisi. Layaknya ruang perawatan lainnya, ruang ini juga dilengkapi dengan sebuah televisi untuk memberikan hiburan bagi para pasien yang tentu saja jenuh harus berbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat banyak.

Secara kebetulan, sore itu televisi dihidupkan dan saluran yang dipilih adalah sebuah saluran televisi yang lebih sering menayangkan berita, tidak seperti saluran-saluran lain yang selalu mengunggulkan sinetron setiap harinya, membosankan!. Berita sore itu rupanya tentang kabar rencana kedatangan seorang artis film porno dari Jepang. Ah! mendengar namanya saja aku risih apalagi harus menyebut dan menulisnya disini. Rencana kedatangan ‘makhluk’ ini bukan untuk rekreasi layaknya turis-turis yang datang ke Indonesia, tapi atas sebuah kontrak untuk bermain film dengan sebuah rumah produksi di Indonesia. Astaghrfirulloh, sebuah ide murahan!

Kami yang semula sedang ngobrol santai dengan Pak Yudi, spontan langsung berpaling dan melihat ke televisi. Bukan untuk mengikuti beritanya, tapi tentu saja untuk melakukan penolakan layaknya mereka yang dalam berita itu melakukan demonstrasi, menolak kedatangan ‘makhluk’ itu ke Indonesia dengan alasan apapun. Berbagai komentar negatif muncul di ruangan itu. Kecaman tiba-tiba muncul dengan spontan. Aku yang sebelumnya tidak pernah mengetahui keberadaan ‘makhluk’ ini di bumi ini, baru tahu semenjak kegiatan demonstrasi penolakan kedatangannya banyak di siarkan di televisi. Seperti yang lain, geram juga rasanya dengan ide murahan seperti ini.

Memang, menurut pengakuan pihak rumah produksi yang mengontrak ‘makhluk’ itu dalam filmnya, mengatakan bahwa film yang bakal mereka buat bukanlah film porno, tapi siapa yang bisa menjamin kalau film ini bakal bersih dari ‘aroma neraka’. Jika hanya sebuah film komedi, apa tidak ada pemain-pemain film Indonesia yang bisa melawak lagi? Kenapa harus dia, yang tak merasa bersalah apalagi berdosa, risih saja tidak jika dicap sebagai pemain film porno?. Dia yang mungkin tak bisa menangkap kabar tentang surga dan neraka di akhirat, ataukah telinganya sudah tersumbat dengan uang. Nauzubillah!

Namanya sebuah film, tentu saja pemainnya tidaklah hanya satu, ada banyak pemain film lainnya, termasuk adalah pemain dari Indonesia. Dan diantara pemain itu, kemungkinan ada pemain film yang ‘mengaku’ seorang muslim. Lalu kemanakah akhlak mereka selama ini? Atau mereka sendiri telah kehilangan akal sehatnya terkena virus yang dengan angkuhnya mengatakan ‘ini sebuah seni!’ Seni macam mana yang ada dalam benak mereka, tentu saja seni yang bukan selayaknya apalagi seni yang bisa dibenarkan oleh agama, atau minimal tidak dilarang agama.

Makhluk itu memanglah belum datang, dan pembuatan filmpun belum dimulai, tapi demo penolakan terhadap rencana kedatangannya sudah terjadi dimana-mana. Mulai dari organisasi Islam sampai gerakan-gerakan anak sekolah, semua menolak keras kedatangannya apalagi sampai membuat film atas nama produksi Indonesia. Boleh jadi film-film bejat sang artis sudah banyak yang masuk di Indonesia dan dinikmati para ‘perindu neraka’, tapi jangan pernah sekalipun mengatas namakan Indonesia yang sebagian besar warganya beragama Islam. Atas nama Indonesia, jelas tidak rela apalagi atas nama Agama. Kalaupun seseorang datang untuk sebuah wisata, mungkin tidak menjadi masalah besar karena itu bagian dari hak asasi, tapi kalau untuk sebuah pekerjaan yang mengandung maksiat, hal itu jelas tidak bisa dibiarkan. Tanpa memproduksi karya-karya bejat saja, negeri ini sudah teracuni apalagi jika dibuat di negeri ini, oleh warga negeri dan tentunya untuk penduduk negeri ini. Nauzubillah!


2 Oct 2009

Karena Idul Fitri Begitu Berarti

Bulan Ramadhan yang penuh ampunan telah berlalu, menyisakan kerinduan sekaligus harapan untuk bisa kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang. Dan, lebaranpun datang, menggantikan Ramadhan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi kaum muslimin dan muslimat yang telah menunaikan kewajiban shaumnya selama sebulan.

Ramadhan dan lebaran tahun ini, dua hal yang sarat pelajaran, kenangan sekaligus pengalaman bagi kami sekeluarga. Jika dua lebaran sebelumnya kami ‘terpaksa’ merayakannya di perantauan, maka lebaran kali ini sengaja kami ‘paksakan’ untuk bisa merayakannya di kampung halaman bersama keluarga dan handai taulan.

Banyak hal yang kami temui, mulai dari kami pertama kali menginjakan kaki kembali di kampung tercinta hingga kami kembali lagi ke perantauan. Di awal kepulangan kami di kampung halaman, meski lebaran masih kurang seminggu, rupanya persiapan keluarga dan juga tetangga untuk menyambut datangnya Idul Fitri sudah dimulai.

Pak Kasto dibantu anak dan cucunya, Udin dan Azis bersama-sama mengecat rumahnya beberapa hari menjelang Idul Fitri.
“ Kami memang sudah lama ingin mengganti warna cat dinding rumah, dan sekarang inilah waktu yang tepat, karena kami ingin merayakan lebaran dengan suasana yang baru” begitu alasan pak Kasto ketika kutanya mengapa mengganti cat rumahnya yang cukup besar dan tentunya membutuhkan biaya serta tenaga yang tidak sedikit.

Pak Ali yang belum lama mengecat rumahnya merasa tidak perlu lagi mengecat tembok rumahnya. Dia dibantu anak laki-lakinya mengeluarkan seluruh kursi dan meja untuk dijemur, sebagian malah di cuci terlebih dulu.
“ Bangku dan meja ini jarang sekali di cuci dan di jemur, saya nda enak jika nanti tamu yang bersilaturahmi ke rumah merasa tidak nyaman” begitu jawabnya ketika kami lewat di depan rumahnya.

Jika Pak Kasto bersiap-siap menyambut datangnya Idul Fitri dengan mengganti cat rumahnya, pak Ali mencuci dan menjemur meja serta bangku-bangkunnya, lain lagi yang dilakukan oleh Pak Tarjo. Sebagai pamong desa, sekaligus imam di musholla Nurul Hikmah, minggu terakhir di bulan Ramadhan kegiatannya bertambah padat, mulai dari mengkoordinir zakat di lingkungan tempat tinggalnya sampai ikut menjadi paniti zakat mal atas permintaan seorang dokter sukses di RW sebelah.

Pak Warso, lain lagi. Sebagai orang yang dikenal ‘tuan sawah’ mengerahkan puluhan tetangganya untuk membantunya memanen kacang hijaunya yang sudah siap panen. Targetnya adalah sebelum Idul Fitri tiba, semua kacang hijaunya sudah dipanen, sehingga dia bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga besarnya yang rencananya akan mudik dari Jakarta, dan tetangga yang sudah membantunya juga bisa berlebaran dengan tambahan pemasukan dari bagian yang mereka dapatkan.

Bu Sri, ibu beranak dua ini sampai dua hari menjelang lebaran masih sibuk membuat kue dan makanan kering untuk sajian saat lebaran nanti. Biasanya kalau hari lebaran, banyak saudara dan juga tetangga yang bersilaturahmi ke rumahnya, jadi meski kue dan makanan buatannya tidak seenak makanan toko, tapi paling tidak dia bisa memberikan suguhan terbaik bagi tamu-tamunya.

Lain bu Sri lain pula bu Wati. Ibu muda yang ahli membuat kue dan makanan kering ini menjelang lebaran kebanjiran order. Mulai awal puasa, pesanan terus mengalir hingga sehari sebelum lebaran dia masih mondar-mandir ke pasar membeli bahan-bahan untuk membuat kue yang akan di sajikan para pemesannya di hari lebaran esok hari.

Sebenarnya banyak lagi persiapan-persiapan yang dilakukan oleh tetangga kanan kiri kami, dan hampir semuanya memiliki alasan yang sama yaitu karena lebaran atau idul fitri begitu berarti, tak mungkin dilewatkan dengan begitu saja.

Ketika Idul Fitri yang dinanti tiba, dan segala persiapan sudah selesai dilakukan, ada kepuasan tersendiri dalam merayakan hari kemenangan yang sudah dinanti-nantikan. Segala lelah dan kesibukan, tergantikan dengan senyum sumringah dan kehangatan canda tawa bersama keluarga dan sahabat.

Idul Fitripun berlalu, dengan sejuta kesan dan kenangan yang tak mudah dilupakan. Satu persatu para pemudikpun mulai kembali ke perantauan. Termasuk kami, seminggu setelah lebaran, dengan berat hati kami harus kembali ke Tangerang, mencoba menjemput rizki yang telah Allah persiapkan. Sampai di Tangerang, bersama dengan sahabat dan tetangga yang sebagian besar juga baru kembali dari mudik, kami kembali menjalani aktifitas rutin kami. Kelelahan memang tak dapat disembunyikan, tapi keceriaan diraut wajah masing-masing jelas tak bisa di tutupi. Meski lelah, meski hasil kerja yang telah dikumpulkan berbulan-bulan harus dikeluarkan untuk keperluan selama lebaran, yang jelas semua tidaklah berarti jika dibandingkan dengan keindahan silaturahmi bersama keluarga, menikmati anugerah Idul Fitri.

Buang waktu, buang biaya dan juga tenaga! Barangkali ada yang berpikir seperti itu, terutama mereka yang tidak merayakan Idul Fitri, tapi tidak bagi kaum muslim baik yang merayakannya di tempat asal atau yang harus mudik. Bagaimanapun, nikmatnya Idul Fitri, indahnya silaturahmi, dan meriahnya lebaran tidak bisa digantikan dengan materi, dan hanya bisa dirasakan oleh kaum muslimin. Persiapan menjelang lebaran memang melelahkan. Biaya yang harus dikeluarkanpun terhitung besar. Dan tenaga yang terkuraspun tidak perlu dipertanyakan. Tapi, semua sepakat. Semua sependapat, dan semua setuju bahwa melakukan semua ini karena Idul Fitri begitu berarti.

1 Oct 2009

Deritamu Adalah Dukaku


Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun……….

Belum sirna rasa duka akibat gempa yang menimpa saudara-saudara kita di Tasikmalaya dan wilayah Jawa Barat lainnya yang terjadi hari Rabu, 2 September 2009 sekitar pukul 14.55 WIB lalu, dengan kekuatan gempa mencapai 7.3 skala richter, tiba-tiba duka kembali menyapa. Kali ini saudara-saudara kita yang berada di wilayah Padang Pariaman, Sumatra Barat dan wilayah di sekitarnya ditimpa bencana serupa pada hari Rabu, 30 September 2009, sekitar pukul 17.00 WIB kemarin dengan kekuatan gempa mencapai 7.6 skala richter. Dan, belum kering air mata, belum reda cemas dan jantung berguncang, berita duka kembali datang dari saudara-saudara kita di Jambi-Bengkulu. Hari ini, Kamis 1 Oktober 2009, ketika duka masih begitu melekat, air mata masih mengalir, degup jantung masih tak menentu, gempa bumi kembali terjadi sekitar pukul 09.00 WIB dengan kekuatan yang tak kalah besar, 6.8 skala richter. Astaghfirulloh………….

Duka dan keprihatinan yang mendalam turut kita rasakan. Bagaimanapun mereka adalah saudara kita, saudara sebangsa dan senegara bahkan banyak diantaranya saudara seagama dengan kita. Mari, kita bantu ringankan beban, duka dan derita mereka dengan semampu kita. Dengan harta kita, dengan tenaga kita, atau paling tidak dengan doa kita.

Semoga saudara-saudara kita yang meninggal akibat gempa ini, kembali kepada Sang Maha Pencipta dalam keadaan khusnul khotimah. Bagi saudara-saudara kita yang menderita luka-luka, semoga lekas sembuh dan pulih seperti sedia kala. Bagi saudara-saudara kita yang kehilangan harta benda, semoga Allah SWT menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih barokah. Amin Ya Allah Ya Robbal Alamin.

Dan bagi saudara-saudara kita yang selamat dalam musibah ini, tetaplah bersabar, sadar dan senantiasa bersyukur. Bagaiamanpun bencana ini ( juga bencana-bencana lainnya ) belumlah tentu hukuman dari Allah, bisa saja ini sebuah teguran atapun ujian. Maka, tak ada hal lain yang harus kita lakukan, kecuali bersih dan ikhlaskan hati, benahi dan pasrahkan diri. Sudah waktunya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa, Maha Segalanya.

Saudaraku, tabah, tegar, sabar dan sadarlah selalu, karena deritamu adalah dukaku, duka kita semua………….

Sumber berita : detiknews.com

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri