29 Aug 2009

Sahur, Bukan Sekedar Urusan Makan Dan Minum

Bulan puasa baru berjalan beberapa hari, namun bagi sebagian orang semangat sahur yang semula membara, perlahan mulai menurun. Saat awal puasa, jam 2.30 dini hari sudah banyak orang yang lalu lalang membeli makanan di warung nasi samping kontrakanku, kini mulai sepi kembali. Kemanakah mereka?

Rupanya sebagian ada yang masak sendiri, ada yang kebetulan giliran masuk kerja malam, sebagian sudah sahur tapi langsung tidur lagi, sebagian lagi belum bangun bahkan ada yang sengaja tidak bangun untuk sahur.

Mas Joko, sudah dua hari ini piket malam. Pak Danang dan keluarganya sudah bangun sejak pukul 2.00, langsung sahur dan tak sampai 1 jam mereka sudah tidur lagi. Sementara mbak Tari sebenarnya pukul 3.15 sudah bangaun, tapi hanya matikan alarm dan tiduran lagi hingga akhirnya benar-benar tertidur pulas. Lain lagi dengan Om Yanto, bujangan satu ini memang sengaja tidak bangun sahur. Menurutnya dia kuat puasa tanpa harus sahur. Hampir sama dengan Om Yanto, Om Nana yang suka begadang, menukar sahurnya dengan cara makan dulu sebelum tidur, agar tak perlu ‘repot-repot’ bangun untuk sahur.

Puasa tanpa sahur, bisa jadi puasanya tetap sah apabila sudah niat sejak malamnya, sebab berbeda dengan niat, sahur memang tidak menjadi syarat sahnya puasa. Tapi tidak mungkin Rosululloh menjadikan makan sahur itu sebuah sunnah apabila tidak ada ‘rahasia’ dibaliknya.

Sahur sebenarnya bukanlah sekedar urusan makan dan minum. Ada banyak hal yang bernilai ibadah yang bisa kita lakukan di waktu sahur. Ketika terbangun, tidak mungkin kita langsung menyantap hidangan. Biasanya kita masih merasa ngantuk hingga tak berselera untuk makan. Sambil menunggu selera makan kita muncul, atau menunggu makanan dan minuman selesai disiapkan , kita bisa sholat tahajud terlebih dahulu. Sebenarnya bangun sahur ini kesempatan yang bagus sekali untuk melatih kita bangun malam. Jika diluar Ramadhan kita merasa berat, maka di bulan Ramadhan ini kita bisa jadikan sebagai latihan. Dengan latihan selama sebulan penuh, semestinya kita akan menjadi terbiasa untuk bangun dan sholat malam di bulan-bulan berikutnya. Bukankah pola hidup kita terbentuk dari sebuah kebiasaan yang kita lakukan.

Bagi yang belum bisa melepaskan diri dari menonton televisi, acara santap sahur bisa kita gunakan sambil menambah ilmu dan wawasan keagamaan kita. Ada saluran televisi yang membuat acara khusus yang bisa menambah ilmu agama kita, yang tidak ada di luar Ramadhan. Tayangan seperti apa, itu tergantung pada pilihan kita, apakah tayangan yang bersifat tontonan ataukah tuntunan.

Rosululloh menyunahkan untuk mengakhirkan waktu sahur kita. Kenapa? Salah satu hikmah dibaliknya adalah, dengan mengakhirkan waktu sahur kita, maka kita tidak akan tertinggal untuk sholat subuh berjamaah di masjid maupun mushola. Ketika waktu imsak datang, meski masih bisa kita gunakan untuk makan maupun minum, namun setidaknya ini adalah rambu bahwa waktu subuh , batas dimulainya puasa sudah dekat. Jeda antara sahur dan subuh yang pendek, bisa kita gunakan untuk membaca Al Qur’an sambil menunggu datangnya waktu shubuh. Dan jika azan sudah dikumandangkan, jangan sampai lupa untuk melaksanakan sholat sunah fajar, sholat sunah yang lebih baik dibanding dunia dan seisinya. Hal ini menjadi susah apabila kita tidak mengakhirkan sahur. Jarak yang panjang antara sahur dengan waktu shubuh, membuat kita menunggu dengan bersantai-santai atau tiduran yang seringnya malah menjadi tidur beneran, hingga akhirnya sholat subuhpun kesiangan.

Jadi, apakah anda akan bangun sahur malam nanti? Kita bisa saja kuat menjalankan puasa tanpa harus makan sahur. Tapi bagiamanapun sahur adalah hak badan kita. Ibadah puasa tidaklah sama seperti sholat yang tidak boleh melakukan gerakan-gerakan atau aktifitas lain kecuali sholat itu sendiri. Akan berlipat ganda pahala puasa bagi orang yang berpuasa dan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan rutinnya dibanding mereka yang melewati puasa hanya dengan tidur dan berdiam diri. Kegiatan dan ibadah kita akan lebih khusyuk jika kondisi badan kita sehat dan fit. Dan salah satu cara menjaga kondisi badan tetap sehat adalah dengan makan sahur.

Dan bagi yang sudah rutin bangun sahur, apakah sahur kita hanya sekedar makan dan minum? Seharusnya tidak. Jangan lewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia. Gunakan waktu sahur ini untuk mencari keberkahan, sekaligus menambah amalan-amalan. Bukankah setiap amal di bulan Ramdhan akan dilipat gandakan pahalanya?

( Catatan: nama-nama di atas adalah nama samaran, bukan nama yang sebenarnya )



26 Aug 2009

90 Langkah Menuju Mushola

Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushola Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushola, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun dimataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.

Pertama, beliau ini aktif sholat berjamaah di mushola Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk sholat Shubuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan sholawat dari pengeras suara mushola yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya itu? Tidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.

Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushola sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘ekslusif’ Pak Didi.

Saat datang untuk sholat maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai sholat maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada ditempatnya, berzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai sholat isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushola.

Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushola untuk sholat subuh ketika belum satupun jamaah lainnya hadir di mushola ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushola, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan sholawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushola.

Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushola, membangunkan warga sekitar untuk sholat shubuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?

Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.

Selama ini, untuk sholat subuh saya lebih sering datang ke mushola sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang

Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.

Insha Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukan rasa tersinggung sedikitpun atas pertanyaanku.

Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran.

Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushola ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset kedalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushola. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada disepanjang jalan menuju mushola.).

Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushola dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushola, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushola.

Begitulah, setiap pagi disaat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushola dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushola, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan sholawat atau mengumandangkan azan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan sholawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!

Aku tertegun mendengar cerita pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqomah mendatangi jamaah sholat shubuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.

Terima kasih pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushola, sholat berjamaah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu.


21 Aug 2009

Lebih Baik Imitasi, Atau Tidak Sama Sekali

Pak Salim ( bukan nama sebenarnya ) tidak bisa mencegah, ketika sang istri perlahan melepaskan anting, satu-satunya perhiasan yang ia kenakan.

Jual anting ini Pak, dan langsung belikan gas” sang istri menyerahkan anting seberat 1 gram itu kepada sang suami yang duduk terdiam dibangku kayu tak jauh dari kompor yang tak lagi menyala karena kehabisan gas.

Apa harus dengan menjual antingmu Bu. Apa nda ada jalan lain, ngutang dulu ke warung Bu Yati kan mungkin bisa” Pak Salim mencoba memberikan jalan keluar.

Bagaimanapun sebagai seorang suami, hatinya tak tega melihat sang istri yang sangat dicintainya harus merelakan satu-satunya perhiasan yang tersisa untuk menutup kebutuhan hidup, paling tidak sampai dua minggu kedepan, saat ia mendapatkan gaji dari pekerjaannya yang hanya sebagai seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan kecil.

Masih terbayang jelas, ketika sebulan yang lalu gelang satu-satunya yang dikenakan sang anak, terpaksa dijual untuk membeli buku-buku sekolah. Juga bulan sebelumnya, kalung sang istri, satu-satunya mas kawin yang masih bisa dipertahankan, dengan sangat terpaksa dijual, karena orang yang mereka hutangi membutuhkan biaya persalinan anaknya yang keempat.

Pak Salim menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa sesak memenuhi dadanya. Sudah dua tahun ini kehidupannya memang nyaris tak lepas dari kesulitan keuangan. Gali lobang tutup lubang adalah jurus terakhir yang selalu diandalkan demi kelangsungan hidup keluarganya, juga pendidikan anak satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Namun Pak Salim adalah orang yang tegar. Hidup kekurangan sudah akrab ia jalani sejak ia memutuskan menikah muda, demi menyelamatkan cintanya agar tak terjerumus ke lembah dosa. Sepuluh tahun hidup sebagai pasangan muda, dengan sang istri yang tak lagi bekerja saat anak pertamanya berusia satu tahun, hidup pas-pasan selalu ia jalani dengan sabar dan senantiasa berusaha untuk bersyukur. Jangankan memiliki tabungan, untuk membuat anggaran belanja sang istri agar tidak minus saja rasanya tak pernah bisa, paling tidak untuk lima bulan terakhir. Gaji dari tempat dia bekerja hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga sampai diminggu kedua, selebihnya ia cukupi dengan hasil pinjaman dari saudara ataupun rekan kerja yang selalu iba dan percaya dengannya. Pak Salim memang dikenal oleh sahabat maupun kerabat sebagai orang yang jujur dan amanah, hanya saja cobaan hidupnya selalu berkutat di persoalan keuangan.

Bu, aku masih pegang uang kas DKM, mungkin kita bisa dulu pakai sebagian. Bulan depan kalau aku sudah gajian langsung kita ganti. Nanti aku akan bilang ke haji Nurdin, Insya Allah beliau akan mengijinkan. Kita benar-benar terdesak “ Pak Salim mencoba memberikan solusi, meskipun hati kecilnya menolak keras apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri.
Kesulitan hidup memang sering menggodanya untuk memakai uang kas DKM yang dipegangnya, namun sejauh ini selalu bisa dia singkirkan jauh-jauh. Kalaupun kali ini keinginan itu terucap dari bibirnya, hati kecilnya sama sekali tak menyetujuinya,dan berharap istrinya akan menolak.

Jangan Pak, jangan sekali-kali menggunakan uang yang bukan hak kita. Daripada memakai uang kas musholla, sebenarnya ibu masih bisa ngutang dulu ke warung bu Yati. Tapi kebutuhan kita bukan hanya gas. Semua kebutuhan dapur kita habis, padahal puasa tinggal beberapa hari lagi. Kita tak mungkin selalu ngutang, apalagi yang sudah-sudah kebutuhan di bulan puasa meningkat “ sang istri langsung tak setuju dengan usulan Pak Salim.

Pak Salim terdiam, dalam hatinya dia bersyukur karena sang istri menolak usul yang dia sendiri juga tak menyetujuinya.

Sudahlah Pak, segera bawa anting ini ke toko. Pulangnya langsung mampir beli gas, untuk kebutuhan lainnya biar nanti ibu yang belanja diwarung Bu Yati. Lupakan soal uang kas, bagaimanapun kita tak punya hak meskipun kita meminjamnya dan sanggup mengembalikannya bulan depan. Ibu sudah ikhlas menjual anting ini. Lebih baik ibu memakai anting imitasi atau tidak sama sekali, dari pada harus memaksakan diri memakai sesuatu yang bukan hak kita” sang istri kemudian memasukkan anting beserta surat kedalam plastik kecil, dan menyerahkan kepada Pak Salim yang masih terdiam ditempatnya.

Dengan senyum yang tulus, sang istri memberikan isyarat agar Pak Salim segera berangkat, agar tempe goreng yang baru setengah matang itu bisa dijadikan lauk untuk makan siang mereka yang teramat sederhana. Tanpa bisa menolak, akhirnya Pak Salim pun menuruti sang istri. Betapapun sedih dan hancur hatinya, tapi dia bersyukur memiliki istri yang begitu setia dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya yang tak kunjung lepas dari belitan ekonomi. Dia bersyukur, karena kali ini sang istri kembali menyelamatkan dia dan keluarganya. Ia merasa diselamatkan dari menggunakan uang yang bukan menjadi haknya.

Tanpa sepengetahuan sang istri, Pak Salimpun meneteskan air mata. Begitupun sang istri, tanpa sepengetahun Pak Salim, air matanya tak mampu dia tahan lagi. Bagaimanapun dia adalah seorang perempuan, sama seperti yang lain, ingin mempercantik diri dengan perhiasan. Tapi baginya, itu bukanlah hal yang harus ada, jauh lebih penting adalah kelangsungan hidup keluarga. Tak masalah kalaupun tanpa perhiasan, yang ia jaga adalah jangan sampai dia memakan sesuatu yang bukan menjadi haknya.

( Diambil dari kisah nyata seseorang yang dekat dengan saya).





20 Aug 2009

Marhaban Yaa Ramadhan


Meski tak harus menunggu datangnya bulan suci Ramadhan untuk meminta maaf, namun tak ada salahnya apabila moment yang baik ini kita gunakan untuk membersihkan hati dan jiwa kita, dengan saling memaafkan.

Saya, atas nama pribadi dan juga keluarga besar Abi Sabila memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan, kekhilafan ataupun kekeliruan dalam memposting ataupun memberikan komentar di blog ini. Sungguh, tak ada niat sedikitpun untuk melakukan itu, kalaupun terjadi,itu semua semata karena kekurangan dan kelemahan diri ini.

Selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini bisa kita isi dengan ibadah dan puasa yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, puasa kita sehingga kita termasuk dalam golongan hamba-Nya yang bertakwa.Amin.

18 Aug 2009

Alhamdulillah, Akhirnya Tulisanku Dimuat Di Eramuslim Juga


Jauh sebelum mengenal dunia blog, saya adalah pembaca setia eramuslim.com khususnya rubrik oase iman. Dan sampai sekarang, ketika saya sudah ‘ikut-ikutan sibuk’ ngeblog, mengunjungi eramuslim.com tetap saya sempatkan meskipun memang waktunya tidak seleluasa dulu. Jika waktunya mepet, saya berusaha untuk tidak ketinggalan meng ‘copy-paste’ artikel di oase iman untuk dibaca dilain waktu sekaligus menambah koleksi artikel yang saya kumpulkan dan jumlahnya mungkin sudah ratusan bahkan mungkin tak kurang dari seribu.

Tulisan-tulisan Bahtiar Hs , M Arif Assalman, M Rizqon, Sus Woyo, Bayu Gautama adalah tulisan favorit saya. Bahkan khusus tulisan mereka saya membuatkan folder tersendiri untuk membedakan dengan tulisan lainnya. Terinspirasi dari tulisan mereka, saya akhirnya mencoba untuk menyumbangkan tulisan saya di eramsulim ini. Namun sayang, sekian kali saya mengirimkan, belum satupun yang dipublikasikan. Saya sadar, hal ini bukan karena pihak admin eramuslim yang ‘pilih kasih’ tetapi pasti karena tulisan-tulisan saya belum memenuhi kriteria-kriteria yang telah mereka tetapkan. Bagaimanapun eramuslim bukan situs yang asal-asalan, ada nilai tanggung jawab dalam setiap materi yang disajikan.

Sampai akhirnya tulisan saya yang saya beri judul Tetap Semangat Tanpa Maksiat dimuat di eramuslim edisi 13 Agustus 2009. Entah dengan pertimbangan apa, mungkin isinya, tema yang saya kemukakan atau karena tak tega dengan kegigihan saya mengirim tulisan-tulisan yang selama ini tak layak dipublikasikan, yang jelas saya sangat bersyukur dan bahagia sekali. Saya berharap, sedikit apapun, sekecil apapun ada hikmah ataupun pelajaran yang bisa diambil dari tulisan tersebut.

Bagi orang lain, apalagi seorang yang memang penulis, hal ini biasa-biasa saja, dan sama sekali tak ada istimewanya. Dan kebahagiaan saya menjadi terkesan berlebihan. Tapi bagi saya, ini adalah semangat baru, untuk terus mencoba berbagi melalui sebuah tulisan. Tak ada maksud pamer, tinggi hati apalagi sombong, sebab memang tak ada alasan untuk itu. Saya mengungkapkan perasaan ini lebih kepada mengajak yang lain yang tertarik dengan dunia tulis menulis, jangan pernah berhenti menulis apapun, demi sebuah kebaikan. Berbagilah ilmu, nasihat ataupun hikmah melalui tulisan. Bisa jadi tulisan yang kita anggap sederhana dan biasa saja, justru bermanfaat dan memiliki arti besar bagi orang lain.




13 Aug 2009

Tetap Semangat Tanpa Maksiat


Semarak! Begitulah yang nampak setiap kali datang bulan Agustus, bulan kemerdekaan kita semua, bangsa Indonesia. Warna merah putih begitu dominan menghiasi jalan-jalan dan juga gang-gang pemukiman. Bendera besar kecil, berbahan kain maupun plastik sudah mulai dipasang sejak awal bulan Agustus ini. Bahkan umbul-umbul, aneka hiasan dari kain perca warna-warni ataupun air dalam plastic-plastik kecil yang diberi warna-warna menarik menyerupai es lilin sudah terlihat menghiasi gang-gang di lingkungan tempat tinggalku. Keadaan malam haripun terlihat lebih indah dengan lampu-lampu hias yang menyala kelap kelip.

Tapi, dibalik semaraknya warna warni bendera, umbul-umbul dan lampu-lampu hias, ada satu kekhawatiran dalam hatiku mendekati puncak perayaan Agustusan. Aku mengkhawatirkan perjudian terselubung yang mengatasnamakan perayaan Agustusan kembali terulang tahun ini.

Setiap tahun, usai perlombaan anak-anak, pihak panitia selalu mengadakan acara bagi bapak-bapak bahkan ibu-ibu untuk ikut meramaikan perayaan Agustusan. Bentuk acaranya adalah lomba memasukan bola plastik ke dalam gawang. Seakan tak mau ketinggalan dengan anak-anak, tak sedikit bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengikuti acara ini, tapi tentunya tidak termasuk aku ataupun istriku. Kenapa? Apa karena tidak ada hadiahnya? Justru, karena hadiahnyalah yang membuat kami tak mau mengikuti acara ini. Sebenarnya kami sudah meminta panitia untuk tidak mengadakan acara semacam ini, namun sayang sejauh ini panitia lebih memilih tanpa menyertakan kami ketimbang menghilangkan ‘tradisi’ yang kata mereka seru dan menghibur.

Ada apa dengan hadiahnya? Tak lain karena hadiah yang diperebutkan didapat dari iuran para peserta yang mengikuti lomba ini. Sebelum perlombaan dimulai, panitia akan mendata para peserta sekaligus mengumpulkan uang ‘pendaftaran’ yang nantinya akan dibagi untuk juara 1, 2 dan 3.

Bukan sekali aku mengingatkan, dan bukan hanya kepada satu-dua orang, tapi acara ini tetap saja ada dan pesertanya cenderung bertambah. Astaghfirulloh!. Aku sudah mengingatkan bahwa acara seperti ini tak ada bedanya dengan perjudian. Namun sayang, sekian kali aku mengingatkan, sekian kali pula mereka selalu menyanggah bahwa ini hanya hiburan, seru-seruan sebagai pelengkap kemeriahan acara Agustusan. Kalau sudah begini, jika acara perlombaan anak-anak selesai, kami lebih ( aku, istri dan anakku ) memilih pulang ketimbang harus melihat orang berjudi apalagi terlibat di dalamnya.

Bermain bola, adu pinalti, atau permainan apapun bisa jadi bukan hal yang diharamkan oleh agama, karena itu termasuk olah raga. Dan memang bukan itu yang aku permasalahkan, tapi hadiah yang diperebutkan. Hadiah itu didapat dari hasil iuran para peserta. Kalau bukan judi apalagi namanya? Lain ceritanya apabila untuk menarik minat peserta, hadiah tetap disediakan, tetapi bukan dari hasil iuran para anggota, melainkan disediakan oleh pihak lain diluar peserta, donator atau sponsor misalnya. Selama yang dijadikan hadiah adalah hasil dari patungan para peserta, apa bedanya dengan taruhan, togel dan sejenisnya. Bedanya hanya di pasang nomor, kocok dadu atau nendang bola.


Minuman keras, tetap saja haram entah itu diminum dengan cara ditenggak dari botolnya, diminum dengan gelas, cangkir, sendok atapun sedotan. Juga dengan alasan untuk hiburan atau sekedar menghormati teman, tetap saja meminumnya adalah dosa, karena memang bukan haram dari cara dan alasan serta tujuan meminumnya, tapi mutlak haram dari barangnya. Begitupun judi, mau dengan cara olah raga, kesenian atau apapun bentuknya, taruhan tetap saja judi, dan judi tetap saja haram apapun alasan dan caranya.

Jadi, mari kita perhatikan, apakah kegiatan-kegiatan perayaan kemerdekaan ( juga kegiatan lainnya ) di sekitar kita benar-benar bersih dari segala bentuk perjudian? Cegahlah semampu kita. Lindungi keluarga kita, jangan sampai perayaan Agustusan yang semestinya dengan diisi dengan kegiatan yang lebih menunjukan rasa syukur kita akan kemerdekaan yang sudah dipersembahkan para pejuang, justru diisi dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan wujud syukur kita pada Allah SWT, sang pemberi kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita bisa kok mengisi perayaan Agustus dengan tetap semangat tanpa harus maksiat.

Featured post

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

“ Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan! “ sebuah sms mas...

 
© Copyright 2035 Ruang Belajar Abi
Theme by Yusuf Fikri